Ada Unsur Nikel, Crop Circles Sleman Bukan Buatan Manusia! [BLT Research Team, Cambridge, MA USA dan Michigan University serta Peneliti Undip]

Perbedaan Crops Circles Sleman CC1–11 (kiri) dan Crop Circles Bantul CC2–11 (kanan)

Ada Unsur Nikel, Crop Circles Sleman Bukan Buatan Manusia!
[BLT Research Team, Cambridge, MA USA dan Michigan University serta Peneliti Undip]

Hari Minggu, 30 Januari 2011, tim BETA-UFO yang terdiri dari Nur Agustinus, Radityo Djadjoeri, Bondan Ph, Abu Mashud dan Alex Satrio meninjau langsung ke lokasi crop circle di Berbah, Sleman dan Piyungan Bantul. Berikut beberapa temuan yang diperoleh BETA-UFO dari hasil observasi dan wawancara.

Temuan di lokasi CC1-11 (Berbah Sleman):

1. Suara nging-nging

Basori mendengar suara nging-nging sekitar jam 4 sampai 5 pagi (setelah subuh) sekitar hanya semenit dan saat jam 7 pagi sudah melihat ada pola terbentuk di sawah milik kakeknya tersebut (yang diwawancara tim BETA-UFO).

Video wawancara bisa dilihat disini :

2. Lingkaran hanya satu rumpun yang rebah

Ada satu lingkaran besar yang ternyata lebarnya hanya 20 cm dan ini hanya satu rumpun padi yang rebah. Posisi lingkaran ini adalah setelah lingkaran paling luar yang lebarnya 1,5 meter. Lingkaran yang tergolong tipis ini merupakan lingkaran kedua (seakan sebuah “border” dengan dua lapis, yang satu tebalnya 150 cm dan satu lagi di sebelah dalamnya hanya 20 cm).

Apa yang menarik dari lingkaran yang lebarnya hanya 20 cm ini? Ternyata yang rebah hanya satu rumpun saja dan tidak ada jejak kaki saat pertama kali ditemukan. Sampai saat inipun tidak ada jejak kaki karena lingkaran yang lebarnya hanya 20 cm ini tidak bisa dilewati. Jika melewatinya pasti akan merusak rumpun padi di sebelah-sebelahnya (kiri dan kanannya).

Menjadi agak sulit dibayangkan jika manusia yang membuatnya secara manual, hanya merobohkan satu rumpun padi tanpa mengganggu rumpun di sampingnya. Lebar 20 cm tentu sulit untuk dilalui, menginjak tanah sawah yang cenderung mudah ambles.

Lihat gambar di bawah ini untuk mengetahui lingkaran yang hanya lebar 20 cm namun cukup jelas terlihat sebagai sebuah “border” di bagian dalam lingkaran yang paling luar.

Crop Circles pertama di Sleman CC1-11 di foto dari atas

Temuan di lokasi CC2-11 (Piyungan, Bantul):

1. Bekas masih ada

Banyak orang yang mengatakan bahwa percuma datang ke lokasi crop circle di Piyungan Bantul karena sudah dipanen. Tapi ternyata ada temuan yang menarik, yaitu masih ada bekas di ladang berupa perbedaan warna antara padi yang rebah dengan yang tidak. (Lihat gambar dibawah)

Walau sudah dipanen, bekas pola masih kelihatan di Crop Circles kedua di Bantul, CC2-11

.

2. Padi yang rebah lebih segar

Sisa-sisa padi yang telah dipanen, menunjukkan adanya perbedaan antara yang rebah (crop circle) dengan yang tidak. Uniknya yang rebah ini kondisinya lebih baik daripada yang tidak rebah. Yang tidak rebah sudah kecoklatan dan kering, sementara yang rebah masih ada bagian yang masih hijau. (lihat gambar)

Ada perbedaan pada batang padi di Crop Circles Bantul CC2-11, yang tertekuk justru masih lebih segar. (Courtesy by: Nur Agustinus on Thursday, February 3rd, 2011 at 5:24pm – BETA-UFO)

* * * * *

Undip Kejar Angin Ion Nitrogen di Crop Circle Magelang

Crop circle Magelang menarik minat Universitas Diponegoro untuk menelitinya. Senin (31/1/2011) sore, tim peneliti dari Fakultas Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam mengambil sampel padi di dusun Kumbangan, Tegalrejo, Magelang.

Anggota tim peneliti Bidang Fisika & PlasmaUndip sedang mengambil sampel di lokasi penemuan crop circle, Magelang, Senin (31/1/2011)

Tiga anggota tim terlihat mencabut dan memotong padi-padi di dalam crop circle dan di luarnya.

Dengan menggunakan plastik, mereka memasukkan padi-padi itu ke dalamnya.

Muhammad Nur, peneliti di bidang fisika plasma dari  Universitas Diponegoro menuturkan, timnya sedang mengambil sampel untuk dibawa ke laboratorium di Undip. “Kami akan mengukur kadar Nitrogen yang terperangkap di dalam padi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika terdapat  kadar nitrogen yang terperangkap di dalam melebihi kadar normal maka ada kemungkinan pola itu terbentuk oleh angin. “Lebih tepatnya angin ion nitrogen,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, angin ion Nitrogen tersebut bisa membentuk pola-pola tertentu seperti yang terjadi di sawah Dusun Kumbangan. “Jika ada muatan positif di angin itu, maka bisa terbentuk pola,” ujarnya.

Saat ada penggabungan muatan atau yang ia sebut interverensi, pola yang terbentuk akan lebih rumit, tidak sesederhana pola di dusun Kumbangan.

Ia lalu menyebut crop circle di Berbah, Sleman, sebagai contohhnya. “Pola yang terbentuk di sana sangat rumit,” jelasnya kepada Tribun Jogja di lokasi crop circle Magelang.

Video contoh pembuatan Angin Ion (Ion Wind) oleh Van der Graaff Generator :

Pria berkacamata itu menyesalkan kondisi crop circle Magelang yang sudah rusak terjamah pengunjung. “Meski begitu, akan tetap kita teliti,”tegasnya.

Di dalam penjelasannya ia mengungkapkan ada hal yang  menarik perhatiannya  di Berbah, yaitu melengkungnya batang padi yang membentuk crop circle. Menurutnya, batang padi dapat melengkung karena ada panas dan tarikan. “Pasti ada proses heating (pemanasan) saat pola di berbah terbentuk,”ujarnya.

Sementara ini, ia belum bisa mengatakan hasil penelitiannya karena masih dalam proses penelitian. “Kami akan mengumumkan hasil penelitian dalam waktu dekat,” katanya tanpa memerinci kapan persisnya waktunya.

* * * * *

Peneliti Undip: Ada Unsur Nikel, Crop Circle Sleman Bukan Buatan Manusia

Fenomena misterius crop circle di Sleman dan Magelang, Jawa Tengah, hasil penelitiannya sudah dipublikasikan. Peneliti Universitas Diponegoro (Undip) memastikan crop circle itu tidak dibuat manusia.

Memang, siapa pembuat crop circle di sawah Sleman dan Magelang masih misteri dan masih menjadi pro dan kontra. LAPAN misalnya, dari awal, sudah yakin bahwa crop circle itu buatan manusia. Namun, bila itu memang buatan manusia, anehnya sampai sekarang siapa pembuat crop circle itu tidak jelas.

Nah, berbeda dengan LAPAN, para peneliti di Undip menyimpulkan :

“Fenomena crop circle atau lingkaran misterius di Magelang dan Sleman, Jawa Tengah, bukan buatan manusia. Alasannya, tidak ada batang padi yang patah karena terinjak. Bahkan, ada temuan unsur nikel di batang padi.”

“Kalau yang diinjak-injak manusia, pasti ada bagian batang padi yang patah. Yang kami temukan tidak patah di bagian batang,” kata Dr Muhammad Nur, pengajar ilmu fisika plasma Universitas Dipenogoro, Senin (16/5/2011).

Nur tergabung dalam tim peneliti crop circle yang dibentuk beberapa waktu lalu. Hasil penelitian kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul ‘Menguak Misteri Crop Circle di Indonesia‘ Maret 2011 lalu.

Saat itu, tim yang bekerjasama dengan peneliti dari BLT Research Team, Cambridge, MA USA dan professor dari Michigan University mengeluarkan kesimpulan bahwa crop circle di Sleman dan Magelang tidak dibuat oleh manusia secara mekanik.

“Kami juga menggunakan scanning elektron mikroskopik di bonggol itu. Ternyata lapis bonggol pada circle itu hancur. Sedangkan dari luar biasa saja. Dari sampel itu berarti yang sesuatu yang menghancurkan itu bukan mekanik dan bukan karena diinjak,” urainya.

Selain itu, ada unsur yang cukup aneh di batang padi. Saat dilihat dengan mikroskop, ada kandungan nikel yang cukup banyak di dalamnya. Selain itu, kadar nitrogen dalam padi juga naik empat kali lipat.

“Ada nikel, sekitar dua persen. Itu sudah lumayan banyak di batang padi. Aneh makanya,” ucap Nur.

Meski begitu, Nur dan tim tidak mau menyimpulkan UFO sebagai penyebab munculnya fenomena aneh tersebut. Bagi tim, apa yang terjadi di Sleman dan Magelang hadir karena angin ion dan plasma vortex.

“Dugaan sementara terbentuknya CC disebabkan oleh angin ion dan plasma vortex. Dugaan ini ditindaklanjuti dengan penelitian yang mendalam oleh sebuah Tim Peneliti dengan memanfaatkan peralatan canggih dan standar saat ini. Data dan fakta ilmiah terungkap dari hasil penelitian ini, bahwa telah terjadi peristiwa fisika, kimia, plasma kimia, berakhir dengan perubahan biologi pada padi di area CC,” simpulnya.

Untuk kasus yang di Cikarang, Nur dan beberapa anggota tim lain masih menunggu sampel dari komunitas Beta UFO yang sudah terjun ke lokasi. Pihaknya berjanji akan mempublikasikan hasil penelitian jika sudah ada kesimpulan yang didapat.

“Kalau patahan saja cepat, tapi kalau sampai scanning, bisa sampai seminggu,” jawabnya saat ditanya kapan waktu penelitian selesai. (detiknews)

Artikel Lainnya:

7 Crop Circles Terbesar di Dunia

Fenomena Crop Circles dan UFO “Ball of the Lights”

[VIDEO] Angin Ion (Ion Wind) Kemungkinan Teknologi UFO dan Pembuat Crop Circles

Sejak tahun 70-an di Indonesia ada 2 Crop Circles Salahsatunya Berbentuk Segitiga

Inilah Bunyi Pesan dari Crop Circles

3rd Crop Circles, Magelang, Central Java, Indonesia

2nd Crop Circles, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

1st Crop Circles in Indonesia, Sleman, Yogyakarta

Alien Pernah Mampir di Crop Circle Inggris

10 Bantahan Crop Circle Buatan Manusia, Dibantah

*****

http://wp.me/p1jIGd-2w

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Pos ini dipublikasikan di Crop Circles Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s