Primata Baru Misterius: Monyet “Tak Berhidung” di Myanmar

Spesies Primata Baru Misterius: Monyet “Tak Berhidung” Ditemukan di Myanmar

Burma – Para ahli primata Internasional menemukan spesies monyet baru yang hidup di pedalaman hutan Myanmar utara. Monyet jenis baru ini berhidung pesek, bahkan sama sekali terlihat hampir tidak mempunyai hidung.

Ahli primata yang tergabung dalam Internasional Flora dan Fauna (IFF) memberi nama monyet spesies baru ini dengan nama Rhinopithecus Strykeri (snub-nosed monkey) atau lebih dikenal dengan monyet pesek Myanmar termasuk ke dalam genus Rhinopithecus.

Genus ini terdiri dari 5 species, di antaranya adalah Rhinopithecus roxellana yang berwarna emas yang hidup di pegunungan Qin Ling, China, seperti yang ditulis oleh Jennifer S. Holland di National Geographic Indonesia, edisi Februari 2011 silam.

Rhinopithecus roxellana, the golden monkey

Jumlah populasi monyet emas yang masih tersisa di bumi saat ini hanya tinggal 4.000 ekor.

Namun belum lama ini, para ilmuwan telah menemukan spesies baru monyet hidung pesek lainnya, yang bulunya berwarna hitam tetapi jenggot dan daun telinga putih, serta ekor yang panjang yang ada di kawasan hutan Myanmar bagian Utara hingga ke wilayah Cina.

Pencarian dimulai pada awal tahun 2001 saat pemburu melaporkan telah menemukan seekor monyet berbibir tebal dan berhidung mengarah ke atas. Ciri-ciri yang tidak ditemukan pada spesies manapun di daerah tersebut membuat tim pencari yang dipimpin oleh Asosiasi Konservasi Alam Myanmar mulai menyisir hutan di negara bagian Kachin.

Monyet hidung pesek Myanmar ini berbeda dengan monyet hidung pesek yang sebelumnya pernah ditemukan di China dan Vietnam. Monyet ini berbulu lebat berwarna hitam dengan bibir yang tebal. Ekornya sangat panjang, hampir dua kali ukuran tubuhnya.

Rhinopithecus Strykeri (snub-nosed monkey)

Dan ternyata jumlahnya lebih tragis lagi dibanding yang berwarna emas. Populasi monyet ini menurut Frank Momberg, Koordinator Fauna dan Flora International, hanya berkisar antara 260-330 ekor.

Sebuah jumlah yang sangat sedikit, dan benar-benar sangat terancam punah. Hal ini bisa dimengerti karena habitatnya yang terisolasi dikelilingi oleh Sungai Mekong dan Sungai Salween.

Selain itu juga akibat penebangan hutan untuk keperluan proyek bendungan di wilayah tersebut dan perburuan liar untuk diambil daging dan bulunya serta tulang untuk pengobatan.

Penduduk  Myanmar menyebut monyet ini dengan sebutan Mey Nwoah (monyet berwajah terbalik). Thomas Geissmann, seorang ahli Antropologi dari Universitas Zurich-Irchel memberikan nama ilimiah: Rhinopithecus strykeri, sebagaimana yang ditulis di American Journal of Primatologi bulan lalu.

Bentuk hidung yang pesek dan terangkat ke atas serta moncong yang datar membantu mereka bertahan dalam udara yang dingin, yang dapat menyebabkan radang dingin (frostbite) pada hidung biasa.

Distribution: Kachin State, Northern Burma (Myanmar), in black, contains the range of R. strykeri.

Tapi menurut saya pendapat tersebut justru salah, karena dengan bentuk hidung seperti itu maka justru banyak kehilangan panas pada tubuhnya.

Mekanisme pengaturan suhu tubuh itu dikontrol oleh hypothalamus yang bekerja agar suhu tubuh tetap optimal.

Jika terjadi kelebihan panas, maka system akan bekerja untuk melepas panas tubuh keluar.

Demikian juga sebaliknya, tubuh akan bekerja menahan panas dan berusaha menghasilkan panas dengan perubahan perilaku.

Perilaku Rhinopithecus dalam menghadapi hujan adalah dengan duduk dan posisi kepala yang diselipkan di antara dua lutut.

Perubahan perilaku yang seolah melindungi lubang hidungnya ini, jelas bertentangan dengan pendapat Jablonski tersebut.

Hidung yang pesek dengan lubang yang besar menghadap ke atas menyebabkan air masuk ke dalam hidung kera, sehingga dia kerap bersin.

Monyet ini dipercaya menghabiskan waktunya pada musim panas di dataran tinggi dan mendekat ke pemukiman warga ketika musim dingin untuk mencari makan. Dari aktifitas dan perilakunya tersebut, bisa jadi hidung seperti itu justru berguna untuk mengambil oksigen jauh lebih banyak akibat berada di ketinggian.

Selain itu, dengan aktifitasnya yang sangat agresif hampir tak pernah diam, bentuk hidung seperti itu juga dapat digunakan untuk bernafas secepat mungkin tanpa adanya kondensasi di bagian luar hidungnya.

Rhinopithecus Strykeri (snub-nosed monkey) (foto: Dr. Thomas Geissmann)

Habitatnya yang dikelilingi oleh Sungai Mekong dan Sungai Salween membuat monyet ini terisolasi dengan monyet lainnya dan sulit dijumpai. Karena spesies ini hanya terdapat sekitar 300 ekor di alam liar maka Internasional Flora dan Fauna (IFF) dan Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memasukkan spesies ini ke dalam kategori terancam punah.

Sayangnya, perburuan untuk konsumsi serta penebangan liar mengancam keberadaan spesies ini. Kepala lembaga ini, Mark Rose mengatakan adanya kemungkinan monyet ini punah sebelum informasi soal monyet langka ini diketahui.

“Kami berkomitmen untuk segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan spesies baru dan penting ini secara bersamaan dengan mitra dan komunitas lokal di Burma,” ujar Rose.(sm//fki/vs/IndoCropCircles.com)


VIDEO:

A New Species of Monkey Found – National Geographic Documentary


Artikel Lainnya:

Aneh! Monyet Ini Lama Punah, Lalu Ditemukan Lagi di Indonesia!

Mitos Monster Terbang Misterius Yang Mendunia Ini Ada Di Indonesia

Misteri Katak Sulawesi: Satu-Satunya Spesies Katak Melahirkan Kecebong

Inilah Satwa-Satwa yang Punah Dalam 2 Abad Terakhir


http://wp.me/p1jIGd-11L

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Flora Fauna Cryptozoology. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s