Misteri Pulau Paskah: Banyak Patung “Moai”, Tapi Kemana Penduduknya?

Misteri Pulau Paskah: Banyak Patung Raksasa “Moai”, Tapi Kemana Suku Tersebut Pergi?

Pulau Paskah atau disebut juga sebagai Easter Island, Rapa Nui, Isla de Pascua, adalah sebuah pulau milik Chili yang terletak di selatan Samudra Pasifik. Walaupun jaraknya 3.515 km (2.000 mil) sebelah barat Chili Daratan, secara administratif ia termasuk dalam Provinsi Valparaiso.

Jika dilihat dari udara, Pulau Paskah yang terletak pada kordinat 27°06′11.3″S 109°21′38.4″W ini berbentuk seperti segitiga, dan diduga pertama kali dijajah oleh Polinesia di abad ke-13.

Pada masa kini, Pulau Paskah sudah memiliki Bandara yang bernama Mataveri International Airport /Isla de Pascua Airport (IATA: IPC, ICAO: SCIP) yang berguna sebagai sarana transportasi agar memudahkan para turis ke sana.

Daerah yang paling berpenduduk ada di wilayah barat pulau dengan kota kecil bernama Hanga Roa, dimana bandara tersebut berada.

Daratan terdekat yang berpenghuni ialah Pulau Pitcairn yang jaraknya 2.075 km sebelah barat. Luas Pulau Paskah sebesar 163,6 km².

Menurut sensus 2002, populasinya berjumlah 3.791 jiwa yang mayoritasnya menetap di ibukota Hanga Roa. Pulau ini terkenal dengan banyaknya patung-patung (moai), yaitu patung berusia 400 tahun yang dipahat dari batu yang kini terletak di sepanjang garis pantai.

Sejarah Pulau Paskah

Orang yang pertama kali menempati Pulau Paskah adalah keturunan imigran dari Polinesia yang kemungkinan berasal dari Pulau Mangareva atau Pitcairn di sebelah barat. Sejarah pulau ini dapat dihubungkan berkat daftar raja Pulau Paskah yang telah direkonstruksi, lengkap dengan rangkaian peristiwa dan tanggal perkiraan sejak tahun 400.

Lokasi Easter Island ditengah Samudera Pasifik jauh dari daratan

Lokasi Easter Island ditengah Samudera Pasifik yang jauh dari daratan

Penghuni asal Polinesia tersebut membawa sejumlah pisang, talas, ubi manis, tebu, bebesaran kertas (paper mulberry) dan ayam.

Pada suatu masa, pulau ini menopang peradaban yang relatif maju dan kompleks.

Ahli navigasi asal Belanda Jakob Roggeveen menemukan Pulau Paskah pada Hari Paskah tahun 1722.

Roggeveen memperkirakan sekitar 2.000-3.000 orang menghuni pulau ini, tetapi ternyata jumlah penduduk mencapai 10.000-15.000 jiwa pada abad ke-16 dan 17.

Peradaban Pulau Paskah telah merosot secara drastis semenjak 100 tahun sebelum kedatangan Belanda, terutama akibat terlalu padatnya jumlah penduduk, penebangan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang terbatas di pulau yang amat terisolasi ini.

Namun, hingga pertengahan abad ke-19 lalu, populasi pulau ini telah bertambah hingga mencapai 4.000 jiwa. Hanya berselang waktu 20 tahun kemudian, deportasi ke Peru dan Chili serta berbagai penyakit yang dibawa oleh orang Barat hampir memusnahkan seluruh populasi, dengan hanya 111 penduduk di pulau ini pada tahun 1877.

Patung Moai yang digali di Easter Island

Patung Moai yang digali di Easter Island

Pulau ini dianeksasi Chili pada tahun 1888 oleh Policarpo Toro. Jumlah penduduk asli suku Rapa Nui perlahan-lahan telah bertambah dari rekor terendah yang berjumlah 111 jiwa.

Perlu diketahui bahwa nama “Rapa Nui” bukan nama asli Pulau Paskah yang diberikan oleh suku Rapanui.

Nama itu diciptakan oleh para imigran pekerja dari suku asli Rapa di Kepulauan Bass yang menyamakannya dengan kampung halamannya.

Nama yang diberikan suku Rapanui bagi pulau ini adalah Te pito o te henua (“Puser Dunia”) karena keterpencilannya, namun sebutan ini juga diambil dari lokasi lain, mungkin dari sebuah bangunan di Marquesas.

Peristiwa-peristiwa baru-baru ini telah menunjukkan peningkatan yang signifikan pada sektor pariwisata, ditambah dengan besarnya jumlah orang yang datang dari daratan Chili sehingga mengancam keidentikan Polinesia di Pulau Paskah.

Masalah kepemilikan tanah telah menciptakan ketegangan politik pada 20 tahun terakhir, dengan beberapa suku asli Rapanui menentang properti pribadi melainkan setuju dengan tanah tradisional milik bersama.

Arkeolog masa lalu sedang memperhatikan Moai di Pulau Paskah

Arkeolog masa lalu sedang memperhatikan Moai di Pulau Paskah

Lingkungan Hidup

Pulau Paskah yang modern memiliki sedikit pepohonan. Pulau ini dulunya pernah mempunyai hutan pohon palem. Menurut pemikiran populer yang berkembang, para penghuni pertama pulau ini telah mengeksploitasi pepohonan di seluruh pulau untuk membuat tempat moai serta membangun perahu nelayan dan bangunan.

Bukti yang menunjukkan gundulnya pulau ini bertepatan dengan runtuhnya peradaban Pulau Paskah. Konteks Midden pada waktu itu menunjukkan penurunan yang mendadak pada jumlah tulang ikan dan burung ketika para penduduk kehilangan akal untuk membangun kapal nelayan dan burung-burung kehilangan tempat sarang. Ayam dan tikus menjadi sarapan utama para manusia. Berdasarkan sisa-sisa manusia, ada bukti bahwa kanibalisme sempat berlangsung.

Penduduk lokal Easter Island mengikuti Tapati Festival di Easter Island

Penduduk lokal wanita Easter Island sedang mengikuti Tapati Festival di Easter Island

Populasi kecil yang masih hidup berhasil mengembangkan tradisi baru untuk membagi-bagikan sumber yang tersisa sedikit.

Pada grup pemuja manusia burung (Manutara), sebuah pertandingan dibentuk manakala setiap tahunnya sebuah wakil dari setiap suku, yang dipilih oleh pemimpin masing-masing, menyelam ke laut dan berenang menuju Motu Nui, sebuah pulau kecil tetangga, untuk mencari telur pertama yang ditetaskan oleh seekor Sooty Tern pada musim menelur.

Perenang pertama yang kembali dengan telur itu dapat mengontrol sumber pulau untuk sukunya selama tahun itu. Tradisi ini masih diterapkan pada saat bangsa Eropa mendarat di pulau ini.

Namun, penelitian baru memunculkan dugaan bahwa keadaan yang sesungguhnya justru lebih kompleks. Luasnya pulau yang dibersihkan dari pepohonan hanyalah salah satu ujung akhir dalam sebuah seri ketidak-beruntungan yang dialami Pulau Paskah. Sebuah studi mengenai faktor-faktor lingkungan di 69 pulau-pulau di Pasifik mengatakan bahwa meskipun dipenuhi batu-batu pemujaan, para dewa ternyata marah terhadap pulau ini.

Pulau Paskah adalah daratan luas yang tidak subur dan kering. Tanahnya terlalu tandus untuk ditanami pohon-pohon kembali setelah tanaman asli dipanen. Pulau ini tidak mendapat keuntungan dari debu vulkanik yang subur seperti pulau-pulau lain. Jadi, sekali pulau itu dibersihkan, tidak ada harapan untuk pemulihan.

Rano Raraku,Easter-Island, Chile.

Tampak patung Moai berderet dari kejauhan di daerah Rano Raraku, Easter-Island, Chile.

Ekologi Pulau Paskah

Pulau Paskah, bersama dengan Sala-y-Gomez, sebuah pulau kecil tetangga yang tidak dihuni, dikenal oleh para ekologis sebagai kawasan ekologi yang disebut hutan berdaun lebar subtropis Rapa Nui.

Hutan basah berdaun lebar subtropis yang asli kini telah lenyap, tetapi studi paleobotanis mengenai fosil tepung sari dan jamur pohon yang merupakan peninggalan aliran lava mengindikasikan bahwa pulau ini tadinya berupa hutan lebat, dengan berbagai jenis pohon, belukar, pakis dan rumput.

Sebuah pohon palem besar, yang berhubungan dengan pohon palem anggur Chili (Jubaea chilensis) merupakan jenis mayoritas pepohonan, begitu juga dengan pohon toromiro (Sophora toromiro).

Pohon palem tersebut kini telah punah, dan toromiro punah di alam liar, sehingga kini pulau ini keseluruhannya hampir dipenuhi oleh padang rumput. Para ilmuwan sedang memperkenalkan kembali toromiro di Pulau Paskah.

Easter-Island-Chile

Artefak kebudayaan

Patung Moai

Patung-patung besar dari batu, atau moai, yang menjadi simbol Pulau Paskah dipahat pada masa yang lebih dahulu dari yang diperkirakan. Arkeologis kini memperkirakan pemahatan tersebut berlangsung antara 1600 dan 1730, patung yang terakhir dipahat ketika Jakob Roggeveen menemukan pulau ini.

size Moai easter islandMenurut para peneliti, di Pulau Easter Island terdapat lebih dari 600 patung batu monolitis besar yang bernama Moai ini.

Walaupun bagian yang sering terlihat hanyalah “kepala”, moai sebenarnya mempunyai batang tubuh yang lengkap.

Namun banyak moai yang telah tertimbun hingga lehernya. Sedangkan kebanyakan dipahat dari batu di Rano Raraku.

Tambang di sana sepertinya telah ditinggalkan dengan tiba-tiba, dengan patung-patung setengah jadi yang ditinggalkan di batu.

Teori populer menyatakan bahwa moai tersebut dipahat oleh penduduk Polinesia (Rapanui) pada saat pulau ini kebanyakan berupa pepohonan dan sumber alam masih banyak yang menopang populasi 10.000-15.000 penduduk asli Rapanui.

Mayoritas moai masih berdiri tegak ketika Roggeveen datang pada 1722. Kapten James Cook juga melihat banyak moai yang berdiri ketika dia mendarat di pulau pada 1774. Hingga abad ke-19, seluruh patung telah tumbang akibat peperangan internecine.

Moai Easter Island 02

Rongo-rongo

Ada berbagai lembaran (tablet) yang ditemukan di pulau yang berisikan tulisan misterius. Tulisan, yang dikenal dengan Rongorongo, belum dapat diuraikan walaupun berbagai generasi ahli bahasa telah berusaha untuk menguak misteri ini.

Tulisan Rongorongo

Tulisan Rongorongo

Seorang sarjana Hongaria bernama Wilhelm atau Guillaume de Hevesy, pada tahun 1932 lalu, telah menarik perhatiannya tentang Rongorongo ini.

Hal yang menarik dari Rongorongo adalah tentang kesamaannya, antara beberapa karakter Rongorongo Pulau Paskah dan tulisan pra-sejarah Lembah Indus di India, yang menghubungkan lusinan (sedkitnya 40 lusin) Rongorongo dengan tanda cap dari Mohenjo-daro. Hubungan ini telah diterbitkan kembali di berbagai buku.

Arti Rongorongo kemungkinan ialah damai-damai, dan tulisannya mungkin mencatat dokumen perjanjian damai, misalnya antara yang bertelinga panjang dan penguasa bertelinga pendek. Namun, penjelasan tersebut masih dalam perdebatan.

Demografi Pulau Paskah

Menurut sensus 2002, populasinya berjumlah 3.791 jiwa. Angka ini naik dari 1.936 jiwa pada 1982. Kenaikan populasi yang besar ini terutama disebabkan oleh kedatangan orang-orang keturunan Eropa dari daratan Chili. Akibatnya, pulau ini terancam kehilangan identitas asli Polinesia. Pada 1982, sekitar 70% populasi berupa suku Rapanui (penduduk asli Polinesia).

Wanita suku Rapanui Pulau Paskah

Wanita suku Rapanui Pulau Paskah

Namun pada sensus 2002, Rapanui hanya mencakup 60% dari populasi Pulau Paskah.

Bangsa Chili keturunan Eropa mencakup 39% populasi, dan sisanya 1% adalah etnis Amerika Asli dari daratan Chili. Hampir seluruh populasi tinggal di kota Hanga Roa.

Suku Rapanui telah bermigrasi dari pulau ini. Pada sensus 2002, ada 2.269 Rapanui yang tinggal di pulau ini, sedangkan 2.378 lainnya tinggal di daratan Chili (setengahnya tinggal di daerah metropolitan Santiago).

Kepadatan penduduk Pulau Paskah hanya 23 penduduk per km²; jumlah itu lebih kecil dari masa gemilang pemahatan patung (abad ke-17) ketika antara 10.000 dan 15.000 penduduk asli Rapanui tinggal di pulau. Populasi telah menurun hingga 2.000-3.000 penduduk sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Pada abad ke-19, penyakit yang timbul akibat kontak dengan kaum Eropa, serta deportasi 2.000 Rapanui ke Peru sebagai budak, dan keberangkatan paksa sisa suku Rapanui ke Chili menyebabkan kemerosotan populasi Pulau Paskah hingga mencapai rekor terendah 111 penduduk pada 1877. Dari 111 Rapanui, hanya 36 yang mempunyai keturunan, dan mereka adalah nenek moyang seluruh 2.269 penduduk Rapanui sekarang.

Easter Island peoples

Easter Island peoples

Mencari Jejak Masa Lalu Penduduk Pulau Paskah

Hidup di tanah terisolasi Pasifik timur, kita tidak dapat menyalahkan Rapanui berakhir di tenggorokan satu sama lain. Namun, bertentangan dengan kepercayaan populer tentang kematian penduduk kuno misterius Easter Island atau Pulau Paskah ini, data arkeologi terbaru menunjukkan bahwa mereka, mungkin tidak menghapuskan generasinya melalui peperangan kekerasan atau kanibalisme.

Meskipun lanskap pulau ini tampaknya terpencil, kekurangan sumber daya alam, masyarakat Rapanui bermunculan dari sini, dan berkarya dalam menciptakan hampir 1.000 moai atau batu berbentuk kepala ikonik besar, yang identik dengan pulau Paskah.

Banyak peneliti menyarankan bahwa efek berkelanjutan seperti kehancuran lingkungan, memicu konflik antar penduduk, menyebabkan sebagian dari mereka keluar pulau, dan akhirnya menimbulkan kehilangan banyak penduduk.

Sementara pandangan ini telah menjadi cerita yang paling diterima secara luas dari kejatuhan Rapanui, beberapa bukti terbaru menantang kejadian ini. Misalnya, sebuah catatan sejarah miliki orang Eropa pertama yang mencapai Pulau Paskah pada tahun 1722.

Easter.Island.original

Suku Rapanui Pulau Paskah

Beberapa peneliti juga menunjukkan bahwa Rapanui, pada kenyataannya, memiliki hubungan yang seimbang dan berkelanjutan dengan lingkungan mereka, dan mungkin hancur karena penyakit dari Dunia Lama (Afro-Eurasia).

Para peneliti tersebut mengkombinasi bukti dengan studi arkeologi artefak kuno. Selain itu, makalah yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity meragukan pandangan populer terkait skenario runtuhnya Rapanui.

Mereka mengungkapkan bahwa perang yang meluas di pulau Paskah mungkin terjadi karena kesalahan sejarah. Para penulis meneliti sejumlah alat obsidian disebut Mata’a.

mata'a easter-island-spearsMata’a yang ditemukan dalam jumlah besar di Pulau Paskah, dan sebelumnya telah diidentifikasi sebagai mata panah yang digunakan dalam konflik kekerasan untuk mencapai kesimpulan ini.

Setelah memeriksa 118 mata’a yang dikumpulkan dari empat lokasi terpisah di pulau Paskah dan mempelajari 305 foto-foto lebih lanjut, para peneliti akhirnya mengambil suatu keputusan.

Para peneliti tersebut mencatat, bahwa barang-barang tersebut pada kenyataannya tidak berfungsi sebagai senjata, melainkan perkakas multifungsi.

Misalnya, mereka menggambarkan cara sampel bervariasi dalam bentuk, dibanding mengikuti bentuk tombak definitif yang diperkirakan dari sebuah mata panah.

Bahkan, tak satu pun dari mata’a yang termasuk dalam studi ini telah dibentuk menjadi sebuah panah. Sehingga, para peneliti menyimpulkan bahwa Rapanui membuat senjata yang tidak berbahaya, tidak mampu menusuk kulit, dan tidak lebih mengancam daripada batuan lainnya.

Moai Easter Island 03

Selanjutnya, setelah memeriksa luka dan tanda pada permukaan mata’a, para peneliti menemukan bukti bahwa mereka telah digunakan untuk berbagai keperluan seperti menggores, pemotongan dan penggilingan, karena itu menunjukkan bahwa mereka tidak digunakan sebagai alat perang, tetapi umumnya sebagai  perkakas sehari-hari.

Sebelumnya, penemuan mata’a di pulau Paskah menjadi potongan yang paling menarik dari bukti terjadinya peperangan luas di kalangan Rapanui, namun seluruh versi sejarah mereka sekarang bisa didiskreditkan oleh studi terbaru.

Hanya saja, penulis penelitian mencatat bahwa, meskipun temuan mereka bertujuan untuk mengesampingkan penggunaan mata’a sebagai senjata mematikan, ini tidak menutup kemungkinan adanya kekerasan dan pertempuran di antara Rapanui. (Natgeo / portalrapanui.cl / ine.cl / icc.wp.com)

Moai Easter Island 04easter-island-nightsky-stars milky way

VIDEO:

Secrets of the Lost Empire: Easter Island 

Artikel Lainnya:

Tiada Yang Berani Masuk: “Sentinel” Pulau Paling Misterius Dihuni Suku Buas!

Teori Darwin Terputus, Manusia Tidak Primitif

Misteri Suku Lingon: Bermata Biru di Belantara Hutan Indonesia

Misteri Ras Manusia Berekor dan Suku Kanibal di Borneo

[Gallery] Suku Cia-cia Indonesia, Sejak Dulu Memakai Huruf Korea Hangeul

Dusner, Bahasa Langka Dari Papua Coba Diselamatkan Ilmuwan

Suku Maya Tak Pernah Ramalkan Dunia Berakhir Tahun 2012

Misteri Pulau Jawa: Bentuk Selatan Pulau Bingungkan Penjelajah Samudra Abad 16

Inilah Pulau Terpencil Paling Utara Jakarta Yang Indah, Berhantu dan Angker

Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Jakarta

Warga Takjub, Pulau Heboh Ini Nongol Setelah Gempa!

Pulau Heboh Nongol Setelah Meletusnya Gunung Api Bawah Laut

10 Fenomena Misterius di Lautan

*****

http://wp.me/p1jIGd-192

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Dunia. Tandai permalink.

3 Balasan ke Misteri Pulau Paskah: Banyak Patung “Moai”, Tapi Kemana Penduduknya?

  1. Tyo aja berkata:

    kerenn gann

  2. sy menyukai crt nya bgs de biar pun sdkt srm uga

  3. Zack berkata:

    keren pulaunya…. jadi pengen main ke sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s