[GALLERY & VIDEO ISTIMEWA] PENERBANGAN SUKHOI KE-2: Sebelum Jatuh di Gunung Salak

Misteri Jatuhnya Sukhoi Super Jet 100:
Dari Data Satelit Cuaca, Sukhoi Dikepung Awan Tebal 37 Ribu Kaki Sebelum Jatuh!!

*

VIDEO ISTIMEWA SEBELUM PENERBANGAN KEDUA PESAWAT SUKHOI ADA DIBAWAH HALAMAN INI

*

Tiga Kesalahan Teknis Dalam Musibah Sukhoi di Gunung Salak:

Klaim Sukhoi Civil Aircraft Corporation, perusahaan yang membangun Sukhoi Superjet (SSJ) 100, bahwa pesawatnya memakai teknologi canggih patut diragukan. Gelar pilot terbaik Rusia untuk Alexander Yablontsev pun dipertanyakan.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap selama evakuasi korban kecelakaan SSJ 100 di Gunung Salak, Bogor dilakukan, terungkap tiga kesalahan teknis yang menyebabkan pesawat sipil pertama buatan Rusia itu mengalami crash, berikut adalah tiga kesalahan teknis tersebut:

1. Pertama, pesawat SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak, ternyata bukanlah pesawat yang dipersiapkan untuk demonstrasi penerbangan di Indonesia. Pesawat tersebut merupakan pesawat pengganti, karena pesawat sebelumnya yang digunakan tur promosi di sejumlah negara mengalami kerusakan.

Inilah pesawat Sukhoi Superjet-100 yang dipakai demonstrasi di Kazakhstan yang diklaim mengalami kerusakan dan grounded sementara, berbeda dengan yang dipakai di Indonesia. (courtesy:vivanews.com)

“Pesawat yang mengalami kecelakaan bukan pesawat yang sama dalam tur promosi di Kazakhstan dan Pakistan,” kata Olga Kayukova, jubir Sukhoi Civil Aircraft.

Pesawat yang awalnya digunakan demonstrasi terbang menggunakan mesin dengan nomor model 95005.

Namun saat di Pakistan, pesawat tersebut mengalami masalah sehingga dia terpaksa dipulangkan ke Rusia.

Kemudian, pesawat lainnya yang menggunakan mesin nomor 954005 diterbangkan ke Indonesia, tiba di Jakarta pada Selasa 8 Mei 2012. Media Rusia menyebut, pesawat itu aslinya tidak disiapkan untuk demonstrasi penerbangan.

2. Kesalahan kedua, alat emergency locator transmitter (ELT) di SSJ 100 tak berfungsi, yang menyebabkan posisi bangkai pesawat tidak terdeteksi karena ELT tak memancarkan sinyal. Ternyata, ELT di pesawat nahas tersebut menggunakan frekuensi lama yang berbeda dengan alat penerima sinyal di ATC (air traffic control) Indonesia.

ELT Sukhoi Superjet100

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengatakan, ternyata ELT yang dipakai pesawat buatan Rusia itu masih menggunakan model lama dengan frekuensi di kanal 121.5,203 MHz.

Sedangkan peralatan terbaru, frekuensinya berjalan di 121.5,406 MHz. “Padahal, Indonesia sudah pakai frekuensi terbaru,” ujar Tatang.

Perbedaan frekuensi itulah yang membuat alat tersebut tidak berfungsi dengan baik. Terlebih, pesawat jatuh di dalam jurang yang membuat sinyal di frekuensi lama tidak bisa keluar.

Bahkan, Juru Bicara Basarnas Gagah Prakoso mengungkapkan, tidak hanya satelit Indonesia yang gagal menangkap frekuensi SSJ 100 itu. Dua satelit milik negara tetangga, yakni Singapura dan Australia, yang menjadi backup satelit Indonesia juga sama. Seharusnya, begitu kecelakaan terjadi, pesawat langsung memancarkan ELT.

3. Kesalahan ketiga, terkait dengan manuver yang dilakukan pilot Alexander Yablontsev yang menurunkan ketinggian pesawat dari 10.000 ke 6000 kaki. Padahal ketinggian Gunung Salak adalah 7.200 kaki. Ditambah lagi, Alexander baru pertama kali mengudara di langit Indonesia.

Sekretaris Jendral Indonesia National Air Association (INACA), Tengku Burhanuddin menduga, Alexander Yablontsev mengabaikan keselamatan penumpang dengan melakukan manuver, memperlihatkan kemampuan pesawat yang dikemudikannya. “Mereka ingin membuktikan seberapa baik Superjet 100 itu. Itulah yang dilakukan orang ketika mereka mencari pelanggan potensial,” ujarnya.

Burhanuddin mengatakan, pilot turun dari ketinggian jelajah untuk ‘pamer’ kinerja jet, gerakan manuver sehingga penumpang dapat melihat daratan lebih dekat, dalam kondisi menyerupai pendaratan. “Itu adalah perjalanan fantastis. Sebagai orang yang mencintai pesawat, saya bisa mengatakan bahwa saya masih merasa nyaman duduk di kursi penumpang,” ungkapnya.

Approximate analysis seconds from disaster of Sukhoi Super Jet 100 on May 9th 2012 (analyses by: IndoCropCircles.wordpress.com)

Karena adanya angin yang searah dengan pesawat, maka pesawat kehilangan tenaga untuk naik (lost power) dan gagal melintasi gunung Salak .Approximate analysis seconds from disaster of Sukhoi Super Jet 100 on May 9th 2012 – Sukhoi super jet 100 approching salak mountain and trying to increasing altitude but fail and crash (analyses by: IndoCropCircles.wordpress.com)

***

Dari Data Satelit Cuaca, Sukhoi Dikepung Awan Tebal 37 Ribu Kaki Sebelum Jatuh!

Sebelum hilang kontak, pilot pesawat Sukhoi Superjet 100 sempat minta izin turun ke 6.000 kaki dari ketinggian 10.000 kaki. Mengapa permintaan itu muncul masih belum terkuak. Yang jelas, data satelit menunjukkan saat peristiwa itu ada awan setinggi 37 ribu kaki atau setinggi 11, 2 kilometer!!

Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen,” ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Jumat (11/5/2012).

Awan Cumulo Nimbus diatas langit Jakarta.. Kira-kira seperti inilah jenis awan Cumulo Nimbus yang menghalangi pesawat Sukhoi, namun awan Cumulo Nimbus yang menghalangi pesawat sukhoi jauh lebih besar dibanding awan ini yang hanya tebal dan tingginya beberapa kilometer saja.

Analisis indeks konveksi menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan adanya awan jenis “Cb” alias Cumulo Nimbus yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki atau 11,2 kilometer.

“Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi,” sambung Djamaluddin.

Jika dilogikakan dengan sederhana, maka pilot akan berupaya mencari jalan keluar dari kepungan awan itu dengan cara teraman.

Kemungkinan pilot berpikir dari ketinggian pesawat yang 10.000 kaki harus terbang melebihi 37 ribu kaki mungkin terlalu tinggi.

Karena itu pilihannya terbang ke kanan, kiri, atau ke bawah.

“Pilihan minta izin menurunkan ke 6.000 kaki, mungkin juga didasarkan pertimbangan ada sedikit celah yang terlihat di bawah, tetapi terlambat memperhitungkan risiko yang lebih fatal dengan topografi yang bergunung-gunung,” papar alumnus Universitas Kyoto, Jepang, ini.

Djamaluddin menegaskan apa yang dia sampaikan hanyalah analisa berdasarkan sata satelit cuaca. Dia berharap analisa ini bisa memberi jawaban sementara atas spekulasi yang tidak berdasar.

Sebab ada pula kalangan yang menghubungkan kecelakaan pesawat ini dengan sesuatu tanpa dasar.

“Analisis komprehensif tentang faktor lainnya tentu kita nantikan dari analisis rekamanan penerbangan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), walau tentu saja faktor cuaca tetap tak dapat dikesampingkan,” terang Djamaluddin.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak saat melakukan uji terbang di sekitar Gunung Salak yang berbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor (lihat lokasi jatuhnya Sukhoi Super Jet 100 via satelit).

Sementara itu Humas LAPAN Elly Kuntjahyowati dalam rilisnya, mengatakan hasil pantauan satelit MTSAT menujukkan Gunung Salak sedang tertutup awan hingga mencapai 100 persen saat kecelakaan terjadi.

Indeks konveksi menunjukkan nilai berkisar 30, yang berarti lokasi tersebut kemungkinan besar sedang terjadi hujan. (vit/asy/news.detik.com/icc.wp.com)

Awan tebal saat Sukhoi jatuh – Fraksi Liputan Awan Per Jam

Awan tebal saat Sukhoi jatuh – Indeks Konveksi Per Jam

***

Mengapa Setelah Jatuh, Sinyal Pesawat Tak Terdeteksi? Ini Dia Jawabannya!

Ada banyak teka-teki yang belum terjawab terkait jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 di tebing Gunung Salak, Rabu 9 Mei 2012 lalu. Salah satunya, Roy Suryo, pengamat teknologi, mempertanyakan alat emergency locator transmitter (ELT) yang tidak menyala saat kecelakaan.

Hari ini Senin 14 Mei, alat ELT ditemukan 600 meter di bawah tebing jurang. Roy menjelaskan ELT dulu bernama ELBA (emergency location beacon-aircraft). “Itu sudah merupakan standar penerbangan sipil, kalau ada pesawat jatuh dengan tekanan impact yang tinggi, dia otomatis akan memancar frekuensi sehingga ketika dia jatuh. Bisa dicari,” kata Roy di posko evakuasi Pasir Pogor, Bogor, Senin 14 Mei 2012.

ELT Sukhoi Superjet100 (Foto: Andri Haryanto/detikcom)

Ada tiga jenis ELT yakni untuk pendaki gunung, kapal laut, dan pesawat. Saat pesawat ini jatuh, dia otomatis on. Yang jadi pertanyaan kenapa ELT tidak terdengar sama sekali, ternyata terjawablah sekarang.

Anggota DPR ini menjelaskan, yang selama ini dijadikan panduan adalah monitor satelit yang bekerjasama dengan Basarnas, yang memonitor di frekuensi di 406 VHF.

Logo Sukhoi ditemukan dipuing pesawat

“Ternyata ELT yang digunakan pesawat Sukhoi ini masih menggunakan frekuensi lama di 105 VHF,” jelas Roy.

Sehingga, perbedaan frekuensi itu membuat pesawat tak termonitor. “Karena 105 VHF itu jenis pancarannya line offline, lurus,” kata dia.

Ibarat seperti pancaran radio FM yang tidak bisa memancar jika terhalang gunung. “Kemarin andaikan sempat on, ELT tidak terdengar karena terhalang gunung, Setidaknya satu misteri sudah terbuka,” kata Roy.

Dia menambahkan, perbedaan frekuensi ini menjadi catatan penting dari musibah ini. “Indonesia rata-rata pakai frekuensi 406 VHF. Ini akan menjadi koreksi kalau pesawat ini masih dipasarkan,” tambah dia.

Sebelumnya, Tim SAR menyatakan tak bisa melacak keberadaan pesawat ini sesaat setelah hilang kontak pada Rabu 9 Mei 2012. Radar yang dimiliki Basarnas tidak bisa menangkap sinyal dari ELT ini.

Sementara itu, Kepala KNKT, Tatang Kurniadi, mengatakan alat ini bisa saja tidak berfungsi karena sejumlah hal.

Tim SAR pencarian bangkai pesawat Sukhoi Super Jet 100. Courtesy: Antara

“ELT ini high frequency, bisa tidak berfungsi karena rusak, bisa juga tidak terdeteksi karena terhalang bukit,” kata Tatang.

Emergency Locator Transmitter (ELT) Sukhoi Superjet 100 yang sudah ditemukan Tim SAR ini juga berbeda dengan yang biasa. Karena ELT dalam Sukhoi yang ditemukan itu didesain bukan untuk dideteksi satelit.

“Iya ELT itu kan yang tadi frekuensinya 121,5/243 Mhz sama itu. Sinyalnya tidak dipantulkan ke satelit. Makanya kenapa tidak memancarkan sinyal,” jelas Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo.

Hal itu disampaikan Daryatmo dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (14/5/2012).

“Yang bisa (dipancarkan ke satelit) itu frekuensi 406 MhZ. Tapi saya yakinkan ini ELT, alat ELT ini (di Sukhoi Superjet 100) memang didesain bukan untuk yang bisa dideteksi satelit. Itu sistem lama yang mengeluarkan sinyal kemudian kita homing,” jelas Daryatmo. (umi/vivanews.com/detik.com)

PICTURES:

Rescue team carry boxes from a helicopter at Pasir Pogor in Bogor, West Java, Indonesia, on Friday. Rescue teams used climbing gear to scale the nearly sheer slopes of a dormant Indonesian volcano, to reach the wreckage of a Russian-made jetliner Sukhoi Superjet-100 that crashed with 45 people onboard during a display flight for potential buyers. Photo: AP / SL

Puing pesawat Sukhoi Super Jet100 di Gunung Salak – The wreckage of a Russian Sukhoi aircraft lies on the slopes of Mount Salak, near Bogor May 11, 2012. A rescue team found no survivors but several bodies on Thursday when it arrived at the wreckage of the Sukhoi Superjet 100 passenger plane that crashed into Mount Salak during an exhibition flight with 45 people on board. REUTERS/Duyeh Cidahu, Indonesia.

Documents and the passport of a passenger of the Sukhoi Superjet-100 is held by a rescue worker at Mount Salak in Bogor, Indonesia, Friday. Search teams who scaled a volcano’s steep slopes found at least 12 bodies Friday near the wreckage of a Russian-made jetliner that crashed in Indonesia during a demonstration flight for potential buyers, an official said. All 45 aboard the Sukhoi Superjet-100 that crashed Wednesday are feared dead. Photo: Crack Palinggi, AP / AP

Passport of a pilot on the Sukhoi Superjet-100 is held by a rescue worker at Mount Salak in Bogor, Indonesia, Friday. Search teams who scaled a volcano’s steep slopes found at least 12 bodies Friday near the wreckage of a Russian-made jetliner that crashed in Indonesia during a demonstration flight for potential buyers, an official said. All 45 aboard the Sukhoi Superjet-100 that crashed Wednesday are feared dead. Photo: Crack Palinggi, AP / AP

Wreckage of a Sukhoi Superjet-100 Superjet-100 at mount Salak in Bogor, Indonesia, Friday. Search teams who scaled a volcano’s steep slopes found at least 12 bodies Friday near the wreckage of a Russian-made jetliner that crashed in Indonesia during a demonstration flight for potential buyers, an official said. All 45 aboard the Sukhoi Superjet-100 that crashed Wednesday are feared dead. (AP Photo/Crack Palinggi) Photo: Crack Palinggi, ASSOCIATED PRESS / AP2012

Indonesian police take pictures of the wreckage of a Sukhoi Superjet-100 at mount Salak in Bogor, Indonesia, Friday, May 11, 2012. Rescue teams used climbing gear to scale the nearly sheer slopes of a dormant Indonesian volcano, Friday, to reach the wreckage of the Russian-made jetliner that crashed Wednesday with 45 people aboard during a demonstration flight for potential buyers. The crash of a Russian-made passenger jet into the flanks of an Indonesian volcano has put a spotlight on the notoriously informal atmosphere aboard new aircraft during manufacturer demonstrations. Photo: AP / SL

Indonesian police and marines carry the body of a victim of a plane crash at Salak mountain in Bogor, Indonesia , Friday, May 11, 2012 . Rescue teams used climbing gear to scale the nearly sheer slopes of a dormant Indonesian volcano, Friday, to reach the wreckage of the Russian-made jetliner that crashed Wednesday with 45 people aboard during a demonstration flight for potential buyers. The crash of a Russian-made passenger jet into the flanks of an Indonesian volcano has put a spotlight on the notoriously informal atmosphere aboard new aircraft during manufacturer demonstrations. Photo: AP / SL

Indonesian soldier closes a plastic body-bag over the unidentified dead victim of a plane crash at Salak mountain in Bogor, Indonesia , Friday, May 11, 2012. Rescue teams used climbing gear to scale the nearly sheer slopes of a dormant Indonesian volcano, Friday, to reach the wreckage of the Russian-made jetliner that crashed Wednesday with 45 people aboard during a demonstration flight for potential buyers. The crash of a Russian-made passenger jet into the flanks of an Indonesian volcano has put a spotlight on the notoriously informal atmosphere aboard new aircraft during manufacturer demonstrations. Photo: AP / SL

Indonesian rescue teams close plastic covers over the bodies of victims Friday after a Sukhoi Superjet-100 plane crashed at Mount Salak in Bogor, Indonesia Rescue teams used climbing gear to scale the nearly sheer slopes of a dormant Indonesian volcano, Friday, to reach the wreckage of the Russian-made jetliner that crashed Wednesday with 45 people aboard during a demonstration flight for potential buyers. The crash of a Russian-made passenger jet into the flanks of an Indonesian volcano has put a spotlight on the notoriously informal atmosphere aboard new aircraft during manufacturer demonstrations. Photo: AP / SL

Anggota SAR membawa mayat korban Sukhoi Gunung Salak – Soldiers carrying the body of a victim from the Sukhoi Superjet 100 crash, arrive at Halim Perdana Kusuma airport in Jakarta May 12, 2012. A rescue team found no survivors but several bodies on Thursday when it arrived at the wreckage of the Sukhoi Superjet 100 passenger plane that crashed into Mount Salak on Wednesday, during an exhibition flight with 45 people on board. REUTERS/Supri, Indonesia.

*

[PHOTO GALLERY] Beberapa Benda yang Ditemukan di Lokasi Jatuhnya Sukhoi, COURTESY by MAPALA UI:

Kartu Tanda Penduduk milik seorang penumpang yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

Kartu identitas karyawan Sky Aviation yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

Kartu ATM atas nama Ganis Arman Zuvianto di Lokasi Jatuhnya Pesawat Shukoi di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

Serpihan pesawat Sukhoi yang ditemukan di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

Serpihan pesawat Sukhoi yang ditemukan di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

Proses evakuasi korban jatuhnya Sukhoi di Gunung Salak, 11 Mei 2012. Foto: dok. Mapala UI

*

Photo Gallery Tim Russia turut bergabung dengan tim evakuasi Indonesia:

Tim rescue Russia datang membawa peralatan pendukung evakuasi (photo: AP / Achmad Ibrahim)

Rescuers from Russian ministry of emergency situation walk on the way to the crash site of the Sukhoi Superjet-100 at Mount Salak in Bogor, West Java, Indonesia, Sunday, May 13, 2012. The Russian-made jetliner had 45 people aboard when it crashed into Mount Salak on Wednesday during a flight intended to woo potential Indonesian airline buyers. Photo: Jefry Tarigan / AP ctpost.com

Rescuers from Russian ministry of emergency situation walk on the way to the crash site of the Sukhoi Superjet-100 at Mount Salak in Bogor, West Java, Indonesia, Sunday, May 13, 2012. The Russian-made jetliner had 45 people aboard when it crashed into Mount Salak on Wednesday during a flight intended to woo potential Indonesian airline buyers. Photo: Jefry Tarigan / AP / ctpost.com

*

[VIDEO ISTIMEWA] Sukhoi SuperJet 100 – Joy Flight #2 (Before Crash)

*

Video saat Sukhoi Super Jet 100 yang jatuh di Gunung Salak tersebut sedang mendarat dan lepas landas di Halim Perdanakusuma

*

Artikel Terkait:
Akhirnya, Black Box atau Kotak Hitam Pesawat Sukhoi Super Jet SSJ-100 Ditemukan Di Jurang Dekat Ekor Pesawat Dalam Keadaan Hangus

Artikel Terkait Sebelumnya:
Misteri Gunung Salak Dan Beberapa Kecelakaan Pesawat
Misteri “Segitiga Masalembo”, Segitiga Bermuda di Wilayah Indonesia

Penyelidikan Terbaru: Fakta Nyata Misteri Segitiga Bermuda

Foto-Foto Terkait:
(Hours from Disaster) Foto-foto Komplit, Krew dan Para Penumpang Pesawat Sukhoi Super Jet 100 Saat Akan Terbang “Joy Flight” yang Sempat Diabadikan Oleh Sergeydolya

*****

((( IndoCropCircles.wordpress.com )))

Tulisan ini dipublikasikan di Misteri Indonesia dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke [GALLERY & VIDEO ISTIMEWA] PENERBANGAN SUKHOI KE-2: Sebelum Jatuh di Gunung Salak

  1. Cynthia berkata:

    innalilahi wa innailaihi rojiun. semoga proses evakuasi dan identifikasi segera rampung.

  2. Kviklån berkata:

    I constantly spent my half an hour to read this webpage’s articles daily along with a cup of coffee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s