Pesawat N-219 Buatan Indonesia, Sudah Kantongi 100 Pesanan

hi high tech rechnology header

Pesawat N-219 Buatan Indonesia, Sudah Kantongi 100 Pesanan

N219 model header

“Habis gelap, terbitlah terang”, mungkin ungkapan ini cocok untuk industri penerbangan di Indonesia. Sejak Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang ditutup paksa oleh IMF, maka jiwanya digantikan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI), berusaha untuk bangkit kembali.

PT. Dirgantara Indonesia (nama bahasa Inggris: Indonesian Aerospace Inc.) adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara.

Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur.

Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

N-250 buatan Indonesia yang telah mengudara pada 10 Agustus 1995. (wikipedia)

IPTN telah menelurkan pesawat buatan Indonesia pertama yaitu pesawat N250 advanced turboprop, berteknologi fly by wire untuk 50-70 penumpang. Pesawat ini merupakan karya putra-putri Indonesia dengan Chief Designer Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, yang melaksanakan penerbangan perdananya pada tanggal 10 Agustus 1995 sebagai persembahan tahun emas Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pesawat N250 ini telah pernah terbang hingga ke Paris Airshow, dan memiliki akumulasi jam terbang 800 jam, sebelum program pengembangan pesawat N250 dihentikan oleh Letter of Intent IMF pada masa krisis ekonomi Asia tahun 1997.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kini bangkit kembali, untuk membuat pesawat berbadan kecil dan dapat mengudara dalam jarak yang pendek. Hal ini difokuskan karena di Indonesia, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara.

BUMN strategis PTDI telah mengantongi 100 pesanan pesawat N219 yang rencananya akan diproduksi tahun depan untuk transportasi udara di dalam negeri.

N-219

Menperin MS Hidayat dan Menteri Perencanaan Pembangunan Negara (PPN) / Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, mengatakan sebagian besar pesanan berasal dari maskapai di dalam negeri dan pemerintah daerah.

Diakui Budi, pesanan tersebut masih berupa nota kesepahaman (MoU). “Biasanya MoU dulu, kalau sudah terbang baru ‘bikin’ kontrak,” ujarnya.

Pesawat N219 yang mampu mengangkut penumpang sebanyak 19 orang, memiliki potensi yang besar di Indonesia. Ia memperkirakan kebutuhannya bisa mencapai 100–150 unit pesawat kecil.

“Target (penjualan) kami minimum 100 pesawat, terutama untuk domestik dulu, baru kemudian ekspor ke negara tetangga,” kata Budi.

Ditambahkan VP Marketing PTDI Arie Wibowo, sampai saat ini pihaknya telah menandatangani 120 MoU yang terdiri dari 50 unit sudah pasti pesan dan 50 unit lagi masih potensi beli, serta 20 unit pesanan PT Merpati Nusantara yang kini sedang tidak beroperasi.

PT Dirgantara Indonesia  kantongi 100 pesanan  N219

Menteri Perindustrian RI Mohamad S Hidayat bersama Menteri PPN/Kepala BAPPENAS RI Armida Alisjahbana mendengarkan penjelasan dari Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengenai pembuatan salah satu komponen pesawat di Hanggar Metal Forming Shop PT. Dirgantara Indonesia, Bandung, 7 Maret 2014. (kemenperin.go.id/antara)

“Pesawat N219 ini sangat bersaing harganya dengan pesawat sejenis Twin Otter dan Cessna Caravan,” katanya. Harga N219, lanjut dia, hanya sekitar 4-5 juta dolar AS/unit, sementara Twin Otter dan Cessna Caravan bisa mencapai 6-7 juta dolar AS/unit.

Menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi mengungkapkan pesawat N219 sangat cocok dengan kondisi di Indonesia yang membutuhkan penerbangan jarang pendek dengan landasan kecil.

“Awalnya pesawat ini didesain untuk Papua yang alamnya banyak pegunungan, dan sulit ditembus transportasi darat,” katanya.

Pesawat tersebut, kata dia, hanya membutuhkan landasan pacu sekitar 500 meter, sehingga cocok untuk penerbangan perintis yang jarang tempuhnya paling lama dua jam.

https://indocropcircles.files.wordpress.com/2014/05/03c85-n-219.jpg

Pembuatan pesawat N-219 PT Dirgantara Indonesia

Profil N-219

N-219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia (D.I.) dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil.

Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan juga pintu fleksibel. Selain itu, pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo.

Sebelum memasuki serial production, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit purwarupa untuk Uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012.

Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp300 miliar.

N-219 akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010.

Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015.

N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI dibawah lisensi CASA.

Fitur Utama

  • Fungsi: angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
  • Kapasitas: 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
  • Kinerja lepas landas dan mendarat: jarak pendek/STOL (600 m)]
  • Biaya operasional: rendah
  • Mesin: 2 x 850 shp

Kinerja

  • Kecepatan jelajah maksimum: 395 km / jam (213 KTS)
  • Kecepatan jelajah ekonomis: 352 km / jam (190 KTS)
  • Rata rata feri Maksimum: 1580 Nm
  • jarak lepas landas (halangan 35 kaki): 465 m, ISA, SL
  • jarak mendarat (halangan 50 kaki): 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan jatuh (stall): 73 KTS
  • Berat lepas landas maksimum (MTOW): 7270 kg (16,000 lbs)
  • Muatan Maksimum: 2500 kg (5511 lb)
  • Tingkat panjat 2300 kaki / menit (semua mesin operasi)
  • Jarak: 600 Nm

Menristek: Indonesia Akan Produksi Pesawat N219, N245 dan N270

CN-235NG-Jika N-219 model pesawatnya telah sering dipamerkan, maka pesawat N-245 diperkirakan sebagai CN-235NG sedangkan N-270 diperkirakan merupakan pengembangan dari pesawat N-250. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, Indonesia akan memproduksi pesawat N219 pada 2014.

“Tahun 2012 lalu masih dalam tahap desain, kemudian 2013 dibuatkan prototype dan 2014 akan diproduksi,” ujar Menristek dalam lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta.

Pesawat yang mempunyai kapasitas 19 penumpang tersebut, akan melayani wilayah pegunungan dan sulit dijangkau. Pesawat N219 adalah pesawat yang mempunyai dua baling-baling dan hanya membutuhkan landasan 500 meter.

Ketiga jenis pesawat buatan Indonesia: N-219 N-245 dan N-270

Ketiga jenis pesawat buatan Indonesia: N-219 N-245 dan N-270

“Angkutan udara memang diperlukan karena cepat, sarana mempersatu bangsa, menjangkau daerah terpencil, dan juga menunjang sektor lain.”

Kemristek sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp310 miliar yang digunakan untuk pembuatan prototype. Untuk memproduksi pesawat tersebut melibatkan sejumlah lembaga seperti Lapan, PT DI, dan BPPT, katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tejasukamana, mengatakan bahwa pada tahun 2013 akan diproduksi empat pesawat prototype yang digunakan untuk uji terbang dan uji struktur.

“Hampir 70 persen bandara di Indonesia mempunyai landasan di bawah 800 meter,” ujar Bambang. Pesawat N219 tersebut, lanjut dia, sudah dipesan oleh sejumlah maskapai penerbangan sebanyak 50 unit. Namun sebelum dijual, kata Bambang, pihaknya akan melakukan sertifikasi terhadap pesawat tersebut.

Bambang mengatakan, pesawat yang dibuat tersebut lebih murah dibandingkan pesawat sejenis yang diproduksi negara lain. Selain itu, pada tahun 2016 juga menargetkan akan memproduksi N245 dan pada 2017 memproduksi N270, katanya.

Angkatan Laut Thailand Minati 20 Pesawat PT DI

Angkatan Laut Kerajaan Thailand (RTN) saat ini dalam diskusi dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk kemungkinan pembelian hingga 20 pesawat transportasi twin-turbo N219, IHS Jane melaporkan.

Pejabat dari PT DI (tidak disebutkan namanya) menghadiri pameran Pertahanan dan Keamanan 2013 di Bangkok, dan pada 5 November mengatakan kepada IHS Jane bahwa pihak PT DI berharap kontrak dengan Thailand bisa ditandatangani pada tahun 2014, yaitu kontrak untuk membangun dan memasok pesawat N219 dengan bekerjasama dengan perusahaan lokal Thailand Aviation Industries (TAI).

Pejabat PT DI itu mengatakan bahwa kemungkinan kontrak ini adalah produksi pesawat tetap dilakukan di Indonesia, dan dengan transfer teknologi pemeliharaan dan perbaikan kepada Thailand Aviation Industries (TAI).

http://1.bp.blogspot.com/-bljpXl4iWSI/UnqHFDbRIQI/AAAAAAAAUdM/qJfdC21HVm0/s1600/n219(1).jpg

PT DI Targetkan Jual 200 Pesawat N-219

PT Dirgantara Indonesia (Persero) menargetkan menjual 200 pesawat angkut komersial N-219 selama 6 tahun mulai tahun 2016. Sasaran utama penjualan pesawat itu adalah sejumlah maskapai penerbangan asal Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara yang lain.

”Tahun 2016, kami menargetkan mulai memproduksi pesawat N-219. Target penjualan kami adalah 200 unit selama enam tahun,” kata Kepala Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) Sonny Saleh Ibrahim, Selasa (24/12/2013), di Bandung.

Pesawat N-219 merupakan pesawat angkut komersial berkapasitas 19 penumpang. Pesawat itu memiliki jarak jelajah sekitar 1.000 kilometer dengan kecepatan 150 knot dan mampu beroperasi di landasan pendek sehingga cocok melayani rute perintis seperti di kawasan timur Indonesia.

PT Dirgantara Indonesia (DI) mengembangkan pesawat N-219 sejak beberapa tahun lalu. Menurut Sonny, pada akhir 2014, prototipe pesawat N-219 ditargetkan selesai.

Tahun 2015, sertifikasi atas pesawat itu diharapkan rampung. ”Dengan begitu, tahun 2016 kami sudah bisa mulai menjual ke customer,” ujarnya.

Tahun 2016, PT DI ditargetkan mampu memproduksi 8 pesawat N-219 per tahun. Tahun 2017, jumlah pesawat N-219 yang bisa diproduksi mencapai 16 unit.

Sonny menambahkan, berdasarkan analisis PT DI, kebutuhan pesawat angkut berukuran kecil di dunia sekitar 800 unit. Dari jumlah itu, PT DI menargetkan bisa menjual 200 pesawat N-219.

Sasaran utama penjualan pesawat itu adalah beberapa maskapai penerbangan dalam negeri dan beberapa negara Asia Tenggara yang lain.

”Sejauh ini kami sudah melakukan roadshow ke enam negara di Asia Tenggara, yakni Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, Brunei, dan Vietnam,” kata Sonny.

Menurut rencana, pesawat N-219 bakal dijual 4 juta dollar AS sampai 4,5 juta dollar AS. Sonny menuturkan, N-219 memiliki sejumlah saingan, misalnya pesawat Twin Otter produksi Kanada dan Cesna Caravan buatan Amerika Serikat.

Secara terpisah, Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan, PT DI mulai bangkit. Hal itu terwujud antara lain karena kuatnya dukungan pemerintah dalam investasi dan pesanan pesawat. ”Target kami adalah menjadi perusahaan yang mampu berkiprah di pasar regional,” katanya.

PT DI: Tahun 2017 Pesawat N219 Masuk Pasar Internasional

Pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ditargetkan masuk pasaran internasional dan meramaikan persaingan kelompok pesawat kecil mulai 2017.

“Saat ini rintisan pesawat N219 sudah dilakukan dan ditargetkan pada 2016 sudah diproduksi dan perizinannya keluar sehingga 2017 kami bisa masuk pasaran internasional,” kata Asisten Direktur Bidang Jaminan Mutu dan Humas PT DI Sony Saleh Ibrahim di Bandung, Selasa (24/12/2013).

Pesawat N219 merupakan pesawat propeler atau baling-baling ukuran kecil, tetapi dengan daya angkut maksimal.

Pesawat itu menurut dia akan cocok untuk penerbangan perintis. Indonesia sendiri memiliki sejumlah perusahaan penerbangan perintis sehingga bisa menjadi pasar bagi produk terbaru PT DI tersebut.

http://3.bp.blogspot.com/-MNIq02MulVw/UnqHFF0McPI/AAAAAAAAUdI/RRW5SV8Zl4w/s1600/n219(2).jpg

“Pesawat itu masuk pesawat kecil. Namun, N219 memiliki kapasitas penumpang lebih banyak dari pesawat sejenisnya yang ada saat ini. Pesawat ini akan mampu mendarat di landasan pacu yang pendek dan juga di daerah pegunungan,” kata Sony.

Lebih lanjut, Sony menyebutkan bahwa proyek pesawat N219 tersebut sudah hampir dipastikan menjadi primadona bagi penerbangan perintis dan jarak pendek.

Ia mengatakan, produsen pesawat sejenis itu di dunia tidak lebih dari lima negara, yakni Twin Otter (Kanada), Cessna Caravan (AS), dan White Line (China). “Kebutuhan pesawat kecil di dunia pada 2012 saja contohnya 800 pesawat, dan PT DI berharap bisa memenuhi 20 persennya, sangat optimistis,” katanya. Sony menyebutkan, dari sisi teknologi, para insinyur PT DI sangat siap. Sistem produksi dan jaminan mutu sudah tersertifikasi.

Di sisi lain, pasar pesawat sekelas N219 masih sangat terbuka. Hanya, pihaknya menyasar pasar Asia dan Afrika. “N219 bisa bersaing dengan keunggulan dari sisi kualitas dan juga harga yang jauh lebih ekonomis. Harganya di kisaran 4 juta dollar AS hingga 4,5 juta dollar AS. Keunggulan lainnya, daya angkut lebih besar,” katanya.

PT DI juga menggenjot produksi dan pemasaran pesawat N295, CN235 MPA, helikopter NBell 412 EP, pesawat N212, baik versi sipil maupun militer. “Sejumlah negara sudah menyampaikan minatnya, bahkan segera melakukan kontrak. Salah satunya dengan Filipina untuk pesawat N212 dan N295. Selain untuk keperluan militer, juga disiapkan untuk program hujan buatan,” kata Sony.

Meski demikian, Sony menyebutkan bahwa sekitar 60 persen produk PT DI saat ini merupakan pesawat pesanan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertahanan, untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Teknisi PT Dirgantara Indonesia tengah melakukan pengerjaan pesawat N 219 di hanggar PT DI, Bandung (republika.co.id)

Sejarah Singkat PTDI

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah melalui sejarah panjang pembangunan industri strategis di Indonesia. Berawal pada 1953 didirikanlah Seksi Percobaan AURI, di mana 4 tahun kemudian berubah menjadi Sub Depot Pembuatan, Penelitian, dan Perkembangan di bawah Komando Depot Perawatan Teknik Udara yang dipimpin Mayor Nurtanio Pringgoadisurjo.

Pada 1960, Sub Depot tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), yang pada 1964 berubah menjadi KOPELAPIP.

Pada 1966, KOPELAPIP digabung dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR). Produksinya antara lain Sikumbang, Belalang 85/90, Kunang, Super Kunang, Gelatik/PZL Wilga, dan LT 200.

Pada 23 Agustus 1976, didirikanlah PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Program utama perusahaan ini memproduksi helikopter NBO105 (lisensi MBB Jerman) dan pesawat NC-212-200 (lisensi CASA Spanyol).

Sampai saat ini telah diproduksi 122 unit NBO105 dan 102 unit NC212-200, militer maupun sipil. Tapi, saat ini PT DI tak lagi memproduksi NBO105, sedangkan NC212-200 digantikan pesawat sejenis yang lebih maju yaitu NC212-400.

Pada 1984, PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN). Setahun sebelumnya, tepatnya pada 30 Desember 1983, CN235 terbang untuk kali pertama.

PT IPTN berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia pada tahun 2000. Hingga saat ini, PT DI telah melakukan kerjasama baik suplai komponen maupun maintenance (MORA) dengan industri dirgantara dunia seperti Boeing, Airbus, serta Eurocopter.

(sumber:  AntaraNews 1 2 / Kompas 1 2 )

Video Pesawat N-219 PT. Dirgantara Indonesia

Ketika IPTN Dimatikan Oleh IMF (BJ Habibie on Mata Najwa)

Artikel Lainnya:

Pesawat R80 Buatan Indonesia Yang Canggih Di Kelasnya, Langsung Terima 125 Pesanan!

Inilah Drone & Pesawat Terbang Tanpa Awak (UAV) Buatan Indonesia

Kontroversi Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia

Eropa Heboh! Tahun 1935: Pesawat ‘Made In’ Bandung Mendarat Di Belanda!

TOP SECRET: “Operasi Alpha” Sangat Rahasia Era Rezim Orde Baru, Terkuak!

Wow! PKR 10514, Kapal Perang Buatan PT PAL Surabaya Mulai Dibangun

Misteri Gunung Salak Dan Beberapa Kecelakaan Pesawat

Kontroversi Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia

Takkan Pernah Ditemukan: Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines Jurusan KL – Beijing

Diduga Tabrak UFO: Hidung Pesawat Air China Penyok di Ketinggian 8 Km!

KRI Klewang 625 Buatan Anak Negeri Terbakar Misterius, Sabotase?

[GALLERY & VIDEO ISTIMEWA] PENERBANGAN SUKHOI KE-2: Sebelum Jatuh di Gunung Salak

Inilah Penyebab Jatuhnya Lion Air di Bali

Depopulasi Dunia: Pesawat Semprot Zat Kimia Berupa “Chemtrails” di Angkasa

Artikel ini juga di forward oleh forum kaskus.co.id pada 23 Agustus 2014 dan menjadi HOT THREAD!

kaskus hot thread n-219 buatan indonesia

kaskus hot thread anim animation

*****

http://wp.me/p1jIGd-54d

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Ilmu & Teknologi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pesawat N-219 Buatan Indonesia, Sudah Kantongi 100 Pesanan

  1. Kakmoly berkata:

    Bookmarked 😀
    Numpang menjejak ya.

  2. Kebangkitan industri dirgantara kita! Salut tuk para engineer anak bangsa yg ikut serta!

  3. Made kastiawan berkata:

    harus maju. Majulah Ondonesiaku. Jangan mau terus diperdaya bangsa bangsa picik, dan politikus gombal..

  4. mahmud berkata:

    habis gelap pln mati, habis buat langsung jatoh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s