Inilah Alat Pendingin Alami Yang Sudah Ada Sejak Dulu

flora fauna

Inilah Alat Pendingin Alami Yang Sudah Ada Sejak Dulu Yang Kini Mulai Dibutuhkan Kembali

Albert EinsteinTeknologi kuno apapun itu, kini mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Padahal, selama tak merusak lngkungan dan alami maka teknologi itu pastinya ramah lingkungan.

Termasuk cara pengawetan pangan dengan penciptaan alat yang dapat menurunkan suhu menjadi rendah secara alamiah, tanpa listrik dan tanpa freon.

Konsep kuno dan nyaris dilupakan ini, kini menjadi trand kembali. Beberapa konsep cara mendinginkan pangan dengan menurunkan suhu ruangan diantaranya adalah:

Alat Pendingin “Coolgardie safe”

Kulkas ini awalnya populer di Australia dengan nama Coolgardie safe.  Kulkas alami tanpa listrik ini, berasal dari kota Coolgardie di Australia. Ada sumber yang menyebutkan bahwa teknologi ini sudah ada sejak lama dan lazim digunakan pada zaman ‘demam emas’ dan wild west, sebagai cara mendinginkan makanan dan minuman tanpa listrik pada masa lalu.

kulkas tanpa listrik dan freon iceless-fridgeCara membuat coolgardie safe sangat sederhana yaitu hanya membutuhkan kawat atau kayu atau bambu dan karung goni serta ember atau alat tampung air lainnya.

Caranya diawali dengan membuat rangka lemari dari kawat kemudian ditutupi karung goni yang menghubungkan ke ember berisi air sehingga dapat menyerap air. Jadi, ujung karung ini harus tercelup ke dalam air.

Maka karung goni ini lama-kelamaan akan basah dan akan menyerap udara panas yang dikeluarkan sayuran dengan konsep Evaporative Cooling atau mendinginkan dengan cara penguapan air, sehingga sayuran mampu bertahan hingga 1 minggu.

Langkah terakhir adalah menaruh coolgardie safe ditempat yang berangin. Angin akan membantu proses penguapan yang menyebabkan isi dari kulkas ini mengalami penurunan suhu dan menjadi dingin.

Alat Pendingin “Metode Pot in Pot”

Ada lagi teknologi kuno untuk mengawetkan pangan dengan menggunakan pasir juga. Disebut Pot in Pot atau “pot di dalam pot” yaitu dengan menggunakan pasir yang dimasukkan diantara kedua pot yang ditumpuk dan pernah dikembangkan di beberapa negara pada masa lalu.

Alat ini sangat sederhana bahkan anda sendiri bisa membuatnya di rumah. Bahan yang dibutuhkan antara lain Dua Buah pot, satu berukuran besar dan satu berukuran kecil, pasir, kain dan air.

kulkas Pot_in_pot_cooler

Kulkas Pasir “Pot in Pot”

Masukan pot yang berukuran kecil kedalam pot yang berukuran besar, isi bagian antara pot kecil dan pot besar dengan pasir kemudian basahi dengan air. Tutup pot kecil dengan kain basah.

Prinsip kerja dari Kulkas Pasir Pot in Pot adalah sama juga seperti pada masa lalu yang tak memiliki listrik, yaitu konsep Evaporative Cooling atau pendinginan melalui penguapan.

Cara kerja kulkas ini adalah dengan memanfaatkan proses penguapan untuk mengambil panas dalam pot kecil sehingga temperaturnya menjadi lebih rendah.Pembutan Kulkas Pasir sangat simpel, dengan mengisi pot besar atau guci dengan pasir setinggi 3 cm.

Kemudian masukan pot kecil ke dalam pot yang telah diberi pasir dan padatkan pasir di sela-sela pot besar dan kecil itu. Panas dari luar pot akan menyebabkan air dalam sela-sela pasir menguap dan mengalir ke luar melalui pori-pori pot besar dan bersirkulasi dengan udara kering disekelilingnya. Pot akan mengeluarkan panas dan menurunkan suhu mencapai 15 derajat Celcius di dalam pot kecil.

Metode atau konsep pendinginan ala Pot in Pot ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno, namun pertama kali diperkenalkan kembali oleh Mohammad Bah Abba dari Nigeria pada tahun 1990-an. Bah Abba mengembangkan sistem pendingin ini yang terdiri dari pot gerabah kecil ditempatkan di dalam yang lebih besar, dan ruang antara dua diisi dengan pasir.

Pot in Pot Mohammad Bah Abba, Nigeria

Mohammad Bah Abba, dari Nigeria, penemu kondep “Pot in Pot”

Lalu pasir diantara kedua pot disiram air hingga lembab. Kemudian gerabah yang berada dibagian paling dalam layaknya sebagai kulkas dan dapat diisi buah, sayuran atau minuman ringan.

Setelah itu pada bagian atas ditutupi dengan kain basah, kemudian barulah paling atasnya, ditutup dengan penutup gerabah.

Letakkan kulkas pot dari gerabah ini pada tempat yang teduh atau di dalam rumah. Untuk hasil terbaik pastikan kulkas berada ditempat yang berangin.

Tunggulah sehari. Pastikan juga bahwa pasir jangan sampai kering, agar pasir selalu lembab siram pasir dengan air secara berkala.

Metode Evaporative Cooling ini efektif untuk daerah kering. Di Nigeria utara, pot gerabah telah digunakan sejak zaman kuno sebagai memasak dan penyimpanan air di kapal, di dalam peti mati atau lemari bahkan di dalam bank. Alat ini telah dipakai secara luas di Afrika sebagai teknik pengawetan makanan yang murah dan sederhana.

Profil Bah Abba dimuat di laman situs rolexawards.com. Abba lahir pada tahun 1964 dalam sebuah keluarga pembuat pot. Sejak sejak kecil Bah Abba sudah akrab dengan berbagai pot tanah liat tradisional dan belajar tentang dasar-dasar tembikar

Bukti konsep ‘Evaporative Cooling’ digunakan sejak ribuan tahun lalu

Ada beberapa bukti bahwa konsep Evaporative Cooling digunakan pada zaman Kerajaan Lama Mesir, sekitar 2500 SM. Terdapat lukisan dinding yang menggambarkan budak mengipasi botol air, yang akan meningkatkan aliran udara di sekitar guci berpori dan membantu penguapan dan pendinginan.

Bahkan dari peradaban sekitar 3.000 SM, sitemukan banyak pot gerabah di Lembah Indus yang diduga digunakan untuk menyimpan dan mendinginkan air yang sama untuk sebuah sajian pada Hari Ghara atau Matki yang digunakan di India dan Pakistan.

Jika di Indonesia sudah terkenal olah anda pastinya, yaitu apa yang sering kita sebut sebagai ‘kendi‘ yang pada masa kuno berguna untuk menyimpan air minum agar menyadi lebih dingin.

evaporative-cooling

Evaporative cooling reduces air temperature and adds moisture through the evaporation of water. This technique dates back at least to ancient Egypt, where people would hang wet mats over their doorways and slaves would fan clay jars filled with water. Similarly, Native Americans dug water trenches beneath their huts, while settlers in the American West kept cool during hot nights by hanging wet sheets on their sleeping porches. In 19th-century New England, evaporative cooling was used to temper the blazing heat inside textile mills. Some modern air conditioning systems, often known as swamp coolers, still rely on this ancient method.

Sementara di Spanyol populer disebut botijos, yaitu wadah tanah liat berpori yang juga mirip kendi, yang digunakan untuk menjaga serta mendinginkan air dan telah digunakan selama berabad-abad.

Remaja Indonesia menang lomba ilmiah dunia, ciptakan “Green Refrigerant Box“, Kotak Pendingin Tanpa Listrik dan Freon

Dari penemuan-penemuan cara penurunan suhu untuk pengawetan pangan pada masa lalu itu, kini disebut kulkas. Tapi jelas menggunakan listrik atau daya listrik. Tapi dua orang remaja puteri ini berhasil menemukan alat pendingin buah dan sayur tanpa menggunakan litrik atau baterai

Dan ternyata kulkas tanpa listrik  yang dikembangkan oleh kedua remaja puteri itu mampu mendulang prestasi ke tingkat dunia. Teknologi pengawet pangan sederhana dan nyaris dilupakan ini, kembali dipopulerkan. Mereka dalah Muhtaza Aziziya Syafiq (Monza) dan Anjani Rahma, siswa kelas 11 dan 12 SMA Negeri 2 Sekayu, Sumatera Selatan.

Muhtaza-Aziziya-Syafiq-tengah-dan-Anjani-Rahma-Putri-kanan-pemenang-lain-dalam-acara-penerimaan-penghargaan-Intel-ISEF-2014-di-Los-Angeles-Amerika-Serikat

Muhtaza Aziziya Syafiq (kiri) dan Anjani Rahma Putri (kanan) bersama pemenang lain dalam acara penerimaan penghargaan Intel ISEF 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat. (pict: Intel)

Keduanya melakukan penelitian dan pengembangan kulkas tanpa listrik dan tanpa freon. Hasil kerja kerasnya membuahkan dua penghargaan pada ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 11-16 Mei 2014 lalu.

Ide mengembangkan teknologi tersebut didasari atas potensi sumber daya alam buah-buahan dan sayur-sayuran yang melimpah saat mereka mengunjungi daerah pelosok di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, tempat kedua remaja itu. Namun, daerah itu memiliki masalah yang berkaitan dengan keberadaan akses listrik yang terbatas.

Akibatnya, sayur dan buah dirumah-rumah penduduk hanya dimasukkan kedalam karung lalu mulut karung diikat, kemudian digeletakkan begitu saja diatas lantai. Maka timbul ide dari siswa kelas 11 dan 12 itu untuk membuat kulkas portable tanpa listrik dan freon.

Raih Dua Penghargaan Internasional

kulkas-tanpa-listrik-dan-freon

Moza dan Anjani, bersama guru pembimbingnya Dimas Chandra A, SPd, MT.

Sebagaimana dilansir sebuah situs, event tersebut diikuti lebih dari 1.700 ilmuwan muda yang dipilih dari 435 kompetisi di lebih dari 70 negara di seluruh dunia.

Melalui karya ilmiah berjudul “Green Refrigerant Box“, keduanya siswi SMA Negeri 1 Sekayu, Sumatera Selatan itu berhasi meraih penghargaan Development Focus Award dan hadiah senilai 10.000 dollar AS dari US Agency for International Development (USAID).

Mereka juga meraih penghargaan ketiga senilai 1.000 dollar AS di kategori Engineering: Materials & Bioengineering. Karya ilmiah kulkas tanpa listrik dan freon ini terfokus pada pemanfaatan Kayu Gelam atau Kayu Putih, sebagai solusi alternatif untuk pendingin buah dan sayur.

“Kami memanfaatkan kayu gelam karena daerah Musi Banyuasin memiliki sumber daya alam berupa kayu gelam yang biasa dimanfaatkan untuk material bangunan. Namun setelah digunakan untuk biasanya sisanya dibuang dan menjadi limbah. Untuk itu kami mencoba memanfaatkan kayu gelam untuk dijadikan arang aktif dalam penelitian kami” ungkap Muhtaza yang akrab disapa Moza.

kulkas-tanpa-listrik dari kayu galam 02

Terlihat termometer menunjukkan suhu dibawah 1 derajat celcius!

Dari pengembangan teknologi ini, suhu awal 28 derajat celsius di kulkas tanpa listrik dan freon itu, ternyata mampu turun menjadi 5,5 derajat celsius dalam waktu 2 jam 20 menit.

Tak ingin puas dengan karya ilmiah yang hanya bermodal kurang dari Rp.100 ribu saja, namun Moza dan Anjani ingin terus mengembangkan kulkas tanpa listrik dan freon ciptaannya agar bisa diproduksi.

“Kami ingin teliti terus agar bisa diproduksi dan bisa digunakan oleh masyarakat luas sehingga dapat membantu masyarakat luas terutama yang berada di daerah pelosok yang belum terfasilitasi jaringan listrik” jelas Anjani, salah satu dari kedua siswi yang berhasil bersaing dengan 1700 peserta dari 70 negara lainnya dalam Intel ISEF 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 11-16 Mei 2014 lalu.

Untuk membuat kulkas alami itu, mereka terlebih dahulu membuat kotak penyimpanan berikut tutupnya dan juga evaporator dari kaleng. Kemudian mereka memakai bahan-bahan tambahan lainnya yang mudah didapat seperti arang dari Kayu Gelam yang kebetulan banyak didaerah mereka, kaleng bekas, botol plastik bekas, selang, etanol (alkohol) dan alat suntik untuk menyuntikkan etanol 70% ke evaporator yang berada di dalam kotak kulkas hasil ciptaannya.

kulkas evaporatorUntuk memulai pendinginan, etanol disuntikkan ke sebuah lubang pada evaporator yang berada di dalam kotak dan terhubung dengan selang ke arah luar kotak.

Lalu ujung selang yang berada diluar kotak dimasukan ke dalam botol plastik yang berguna sebagai alat pompa manual (lihat gambar disamping).

Kemudian, botol plastik itu ditekan-tekan sebagai pompa (lihat gambar dibawah), untuk menurunkan uap etanol pada evaporator yang berada di dalam kotak, sehingga dapat diserap oleh karbon aktif dari arang kayu Gelam yang berada dibawah kotak kulkas.

Moza kini giat belajar dan sudah bersiap karena ia mencecar kuliah yang dijanjikan di empat Univesitas impiannya jika nilai sekolahnya bagus, diantaranya Stanford, Massachuset M.I.T., Edinburgh dan Cambridge. Tapi ketika ditanya mau yang mana, ia lebih menginginkan kuliah di Massachuset M.I.T.

Sedangkan Anjani suka melihat film X-Man dan Iron Man, yang mana robot kadang dianggap akan menghancurkan manusia, maka ia bercita-cita ingin membuat robot yang “memilik hati” di tahun 2050 nanti. Jika cita-cita mereka tercapai, mereka tak ingin bekerja diluar negeri karena mereka harus pulang dan ingin memajukan Indonesia.

Aziziya-Syafiq-tengah-dan-Anjani-Rahma-Putri-kanan

Aziziya Syafiq (kiri) dan Anjani Rahma Putri (kanan)

Memang inspirasi dapat muncul dari mana saja. Untuk mendapatkan inspirasi, kita harus melihat suatu permasalahan terlebih dahulu dan tak bolah malas.

Karena ketika anda malas untuk mencari “masalah”, maka anda tak akan mendapatkan ide apapun.

Itulah ide yang terinspirasi dari zaman dulu yang masih dianggap kuno oleh banyak orang, yang ternyata pada masa kini justru semakin banyak digunakan kembali, menjadi trendy, karena back to nature akibat tak tergantungnya alat tersebut terhadap aliran listrik.

Itu artinya, bahwa alat-alat pada masa lalu telah terbukti lebih canggih karena dapat berfungsi walau tanpa listrik. Low tech is high tech! (suaramerdeka/ berbagai sumber/ olah kata & data: icc).

Pustaka:

– pangeatoday.com – High school students invent fridge with no electricitya
– history.com – Keeping Cool Through the Ages
– rolexawards.com – Mohammed Bah Abba, 2000 Laureate, Applied Technology
– wikihow.com – How to Make a Pot in a Pot Refrigerator

kulkas-tanpa-listrik dari kayu galam 01

Botol plastik yang berfungsi sebagai pompa manual, ditekan-tekan untuk menurunkan uap etanol pada evaporator yang berada di dalam kotak.

kulkas-tanpa-listrik dari kayu galam MOZA-dan-ANJANI

Moza dan Anjani berfoto dengan piagam penghargaan yang berhasil mereka dapatkan dari persaingan mereka terhadap 1700 peserta lainnya dari 70 negara.

[PART-1] SMAN 2 Sekayu Sumatra Selatan – Kulkas Tanpa Listrik

[PART-2] SMAN 2 Sekayu Sumatra Selatan – Kulkas Tanpa Listrik

SMK Ungaran Semarang Jateng – Kulkas Tanpa Listrik

Artikel Lainnya:

Peralatan-Peralatan Canggih Yang Tak Lama Lagi Mengubah Dunia

Senjata-Senjata Berteknologi Canggih Dimasa Depan

Penelitian Ilmiah: Inilah Fenomena Yang Dialami Usai Meninggal

*****

http://wp.me/p1jIGd-5Om

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Ilmu & Teknologi, Penemuan-Penemuan Misterius. Tandai permalink.

3 Balasan ke Inilah Alat Pendingin Alami Yang Sudah Ada Sejak Dulu

  1. zeromin0 berkata:

    Manusia berkembang karena keterbatasan, bila terbuai dengan kenikmatan teknologi maka akan hanyut

  2. Mentari Pagi berkata:

    keberhasilan dr luar Jawa apa diperhatikan oleh Pemerintah ?

  3. ilmudes berkata:

    menarik sekali, saya juga mau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s