Ini Dia, Beberapa Penyebab Jatuhnya Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-3)

missing airplane header

Beberapa Teori Jatuhnya Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-3)

Beberapa Teori Jatuhnya Air Asia QZ 8501

Tim SAR menemukan jasad yang masih memakai jaket pelampung, juga ditemukan tangga peluncur turun darurat (excavation slide) yang sempat dilepas, juga pompa hidrolik, serta tabung selam. Selain itu ditemukan pula 3 jasad yang masih berjajar dikursi penumpang lengkap dengan Safety Belt yang masih terpasang, bahkan ada 3-4 jasad yang masih berpegangan tangan. Terlihat pula mirip bayangan pesawat di dalam air, namun kenapa seolah-olah bangkai pesawat itu hilang lagi?

Ini menimbulkan sejumlah pertanyaan tentang bagaimana kejadian yang sebenarnya ketika pesawat berpenumpang 162 orang itu jatuh ke laut. Apakah pesawat berhasil mendarat di laut? Apakah para penumpang sempat selamat? Lalu memakai jaket pelampung? Lalu menurunkan tangga darurat? Semua jawaban dari pertanyaan itu masih menjadi misteri selama black box belum ditemukan untuk dapat diteliti lebih lanjut.

Kebenaran soal jatuhnya pesawat rute Surabaya-Singapura itu baru bisa diungkap melalui black box atau kotak hitam yang terdiri dari cockpit voice recorders (CVR) atau percakapan di kokpit dan flight data recorder (FRD) atau rekaman data penerbangan.

Satu pertanyaan besar yang belum terjawab adalah mengapa pesawat yang mengangkut 162 orang tersebut bisa jatuh ke perairan Selat Karimata, antara Pulau Belitung-Sumatera dan Pulau Kalimantan tak ada sinyal darurat (distress call) atau ELT (emergency locator transmitter) yang dipancarkan? (dengarkan contoh sinyal ELT disini) Tiada petunjuk, hanya ada perairan luas untuk disisir dan beragam tanda tanya besar.

Banyak analisis yang mencuat dari ahli penerbangan. Tapi satu yang pasti. Kebenaran soal jatuhnya pesawat rute Surabaya-Singapura itu baru bisa diungkap melalui black box atau kotak hitam yang terdiri dari cockpit voice recorders (CVR) atau percakapan di kokpit dan flight data recorder (FRD) atau rekaman data penerbangan.

Terbang Dibawah Peringatan dari Federal Aviation Administration (FAA) yang dirilis 10 Desembar 2014.

Melalui laporan dari European Aviation Safety Agency (EASA), Federal Aviation Administration (FAA) telah memperingatkan seluruh maskapai di dunia yang menggunakan pesawat Airbus tipe tertentu (termasuk A320) agar mewaspadai potensi pesawat lepas kendali ketika menanjak (stall warning).

Dokumen Emergency Airworthiness Directive (AD) itu dirilis pada 10 Desember 2014 dengan nomer AD #: 2014-25-51, ditujukan kepada seluruh pemilik Airlines:

“….Kejadian telah dilaporkan di mana pesawat Airbus  A321 mengalami penyumbatan pada dua probe Angle of Attack (AoA) saat mendaki, menyebabkan aktivasi ‘Perlindungan Alpha’ (Alpha Prot) ketika angka Mach (kecepatan) meningkat. Flightcrew berhasil mendapatkan kembali kontrol penuh dan penerbangan dapat mendarat tanpa kesulitan (uneventfully).

Ketika Alpha Prot aktif karena diblokir oleh sensor probe AoA, aturan kontrol penerbangan (flight control laws) memerintahkan hidung pesawat kebawah secara terus-menerus, dalam skenario terburuk, tidak dapat dihentikan dengan input mundur kembali pada tongkat kemudi (backward sidestick inputs), bahkan dalam posisi mundur penuh. Jika kecepatan (Mach) meningkat selama hidung pada posisi ke bawah, nilai AoA dari Alpha Prot akan terus menurun. Akibatnya, aturan kontrol penerbangan (flight control laws) akan terus memerintahkan hidung ke bawah dalam tingkat kelajuan, bahkan jika kecepatan yang dipilih ada di atas kecepatan minimum, yang dikenal sebagai VLS.

Kondisi ini jika tidak diperbaiki bisa mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat.…”

Berikut kutipan asli, dalam bahasa Inggris. Untuk kutipan komplit silahkan lihat pada keempat halaman yang dikeluarkan Federal Aviation Administration (FAA) pada bagian bawah halaman:

DATE: December 10, 2014
AD #:2014-25-51

“Emergency Airworthiness Directive (AD) 2014-25-51 is sent to owners and operators of Airbus Model A318, A319, A320, and A321 series airplanes.

An occurrence was reported where an Airbus A321 aeroplane encountered a blockage of two Angle of Attack (AoA) probes during climb, leading to activation of the Alpha Protection (Alpha Prot) while the Mach number increased. The flightcrew managed to regain full control and the flight landed uneventfully.

When Alpha Prot is activated due to blocked AoA probes, the flight control laws order a continuous nose down pitch rate that, in a worst case scenario, cannot be stopped with backward sidestick inputs, even in the full backward position. If the Mach number increases during a nose down order, the AoA value of the Alpha Prot will continue to decrease. As a result, the flight control laws will continue to order a nose down pitch rate, even if the speed is above minimum selectable speed, known as VLS.

This condition, if not corrected, could result in loss of control of the aeroplane.”

Listen to audio (click Play icon):

FAA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam

Penampakan sebagian dari Halaman-1 dari peringatan FAA pada tanggal 10 Desember 2014 yang mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam.

 EASA (European Aviation Safety Agency) mengalami kejadian ini dan diteruskan oleh Federal Aviation Administration (FAA) yang mengeluarkan dokumen yang terdiri dari 4 halaman itu pada tanggal 9 Desember 2014 dan dirilis pada tanggal 10 Desember 2014 atau 18 hari sebelum kecelakaan Air Asia QZ8501.

EASA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam

HALAMAN SATU. FAA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam yang dikeluarkan pada tanggal 9 Desember 2014. (KLIK PADA GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR).

Mereka memperingatkan tentang bahaya jika pesawat terbang jenis Airbus model A318, A319, A320, dan seluruh seri Airbus A321 terbang menanjak dengan tajam.

Memang hal itu bisa dibilang sebagai sebuah keputusan pilot yang sangat jarang terjadi, bahkan tak pernah.

Namun jika terjadi sebuah situasi darurat atau sangat darurat atau harus ditempuh, maka bisa saja manuver seperti itu dilakukan oleh krew cockpit.

Namun nantinya bukan pemecahan masalah yang didapat, tapi justru terjadi hal yang jauh lebih fatal terhadap pesawat dan keselamatan seluruh penumpang terancam.

Dokumen yang terdiri dari 4 halaman itu diterbitkan pada tanggal 9 Desember 2014, dan dirilis pada tanggal 10 Desember 2014 atau 18 hari sebelum Air Asia QZ8501 “terjun” ke lauat Jawa, dan ditujukan untuk Airbus termasuk jenis A320-216 seperti yang dipakai Air Asia tersebut.

Berikut lanjutan dari halaman-1 (yang ada diatas), yaitu halaman 2 sampai dengan 4 dari dokumen yang dikeluarkan Federal Aviation Administration (FAA) tentang Emergency Airworthiness Directive (AD) dengan nomer AD #: 2014-25-51, mengenai bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam yang dikeluarkan pada tanggal 9 Desember 2014:

EASA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam_2 EASA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam_3 EASA mengeluarkan dokumen tentang bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam_4

Keterangan tiga gambar diatas: Halaman 2 sampai dengan 4 dari dokumen yang dikeluarkan Federal Aviation Administration (FAA)  tentang Emergency Airworthiness Directive (AD) dengan nomer AD #: 2014-25-51, mengenai bahayanya jenis Airbus jika menanjak dengan tajam yang dikeluarkan pada tanggal 9 Desember 2014 (KLIK PADA GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR).

line down

Sedangkan berikut ini adalah beberapa teori penyebab  jatuhnya AirAsia QZ8501, yang kemungkinan bisa terjadi:

1. Mendarat Mulus di Laut

airasia QZ 8501 landing on the sea water

AirAsia landing on the sea (gambar illustrasi)

Sejumlah ahli menduga bahwa pesawat AirAsia QZ8501 bisa jadi berhasil melakukan pendaratan darurat diatas laut dengan selamat. Jika pesawat berhasil mendarat darurat diatas air dan badan pesawat tidak ada yang retak atau pecah, maka pesawat akan dapat tetap mengapung dipermukaan air dan tak akan tenggelam karena ruang kabin kedap udara.

Dugaan ini berasal dari jasad-jasad korban beserta serpihan pesawat QZ8510 yang berhasil dikumpulkan oleh tim BASARNAS. Ditemukan ada 3 penumpang yang masih bergandengan tangan pada pencarian dihari ketiga (Selasa 30/12/2014).

Lalu, tim SAR telah mendapatkan satu jasad yang masih mengenakan pelampung yang ditemukan oleh kapal Malaysia KD Lekir pada pencarian hari kelima (Kamis 01/01/2015), bahkan ada evacuation slide (tangga darurat) untuk turun penumpang juga telah ditemukan.

kursi penumpang AirAsia QZ8501 berisi tiga kursi

Sederat kursi pemunpang yang tadinya terdapat tiga jasad korban Air Asia QZ8501 (foto: detik)

Kemudian, juga ditemukan sederet (3 orang) jasad yang masih duduk dibangku kabin pesawat pada pencarian dihari keenam (Jum’at 02/01/2015) yang awalnya dilihat oleh pesawat P3-C Orion KN-01 milik Korea Selatan, yang lalu direspon oleh KR Bung Tomo.

Lalu sorenya masih dihari yang sama (Jum’at 02/01/2015), ada lagi 2 jasad yang mengapung bersama dengan kursinya. Semua jasad dari kedua penemuan berikut kedua bangku itu dievakuasi oleh KRI Bung Tomo. Jadi ada 5 jenazah masih terikat di kursi pesawat.

Lagi, pada pencarian dihari kesembilan (Senin 05/01/2015) tim SAR juga menemukan hal yang serupa, 3 jasad yang masih duduk dibangku kabin pesawat. Juga beberapa hari berselang ditemukan pula jasad dua penumpang yang masih terikat di bangku pesawat. Bahkan di kepulauan Sulawesi Selatan juga ditemukan jasad penumpang yang sudah terbawa arus hampir seribu kilometer dan masih terikat juga dibangku pesawat (baca kisah evakuasi AirAsia QZ8501, TIMELINE: Persiapan, Pencarian, Penemuan, Pengangkatan Puing (Air Asia QZ-8501 PART-4)

Bisa jadi ketika pesawat mendarat darurat, badan pesawat pecah namun tak semua penumpang meninggal dunia. Namun jika pesawat retak atau pecah, maka penyelamatan harus cepat apalagi dalam badai ditengah laut menjadikan sangat tipis peluang mereka untuk dapat bertahan hidup, kecuali permukaan air tenang tak berombak besar. Jika mereka tidak segera ditolong maka korban akan kedingian (hypothermia), kelelahan lalu tenggelam.

Air Asia landing mendarat di air spt US air 1549

US Airways Flight 1549, an Airbus A320, floating in the Hudson River after bird strikes caused compressor stalls and complete failure of both engines.

Peristiwa pendaratan darurat diatas air ini pernah dialami oleh US Airways 1549 ketika melakukan pendaratan darurat di atas Sungai Hudson pada 15 Januari 2009 lalu, pukul 15:32 waktu setempat. Kejadian itu berawal akibat gagalnya mesin karena menabrak sekumpulan burung tak lama setelah mengudara atau take off.

Lalu pilot tak sempat lagi untuk kembali ke bandara dan memutuskan untuk mendarat darurat di Sungai Hudson, akhir yang menggembirakan karena semua penumpangnya selamat (lihat kisahnya pada video dibawah halaman).

Kapten pilot Iriyanto yang memiliki pengalaman terbang yang cukup lama diyakini bisa melakukannya tanpa dampak yang signifikan. Namun saat pesawat sudah tiba di laut, ada ombak tinggi dan deras yang menerjang sehingga pesawat tenggelam. Sinyal darurat ELT diduga mati saat pesawat terbang masuk ke dalam air. Namun pendaratan di laut sangat sulit dilakukan karena hanya bisa dilakukan jika air laut tenang.

2. Pesawat Hancur Menghantam Laut

adam air flight 574

Tampak kaca depan cockpit Adam Air 574 jurusan Surabaya-Manado yang gelap, hanya awan tebal yang nampak, ditambah rusaknya sistim navigasi, membuat pilot mengalami disorientasi. (illustrasi dari National Geographic Channel)

Teori lain menyebut pesawat hancur usai menghantam perairan. Hal itu terjadi setelah pesawat terbang diduga jatuh karena aerodynamic stall atau kondisi di mana pesawat terjun bebas akibat tekanan udara yang tidak stabil.

Kejadian ini nyaris mirip Adam Air 574 jurusan Surabaya-Manado yang jatuh menghantam laut setelah tahun baru, 1 Januari 2007. Namun bedanya, tragedi Adam Air bermula atau diawali dari rusaknya alat navigasi dan menyimpang jauh keluar dari jalur penerbangan yang seharusnya.

Maka untuk kembali lagi ke jalur yang benar, ia justru menuju ke sebuah awan comulonimbus yang sangat besar dan masuk ke zona badai petir di dalamnya yang berisi angin kuat dan hujan deras, akibatnya turbulensi hebat pun terjadi.

Karena navigasi FMS (Flight Monitorin System) rusak, akibatnya pilot mematikan auto-pilot ke manual menggunakan IRS (Inertial Reference Systems) atau INS (Nertial Navigation System), adalah sebuah bantuan navigasi yang menggunakan sensor komputer, gerak (accelerometers) dan sensor rotasi (gyroscope) untuk terus menghitung melalui perhitungan mati posisi, orientasi, dan kecepatan (arah dan kecepatan gerakan) dimana pesawat bergerak tanpa perlu referensi eksternal.

adam air 547Tapi mereka tak mengetahuui troubleshooting pesawat secara baik, karena jika auto-pilot dimatikan, maka tampilan pada dashboard pesawat akan mati selama 30 detik untuk re-start.

Nah, pada saat pilot mematikan auto-pilot ke manual menggunakan IRS, merekapun panik karena perangkat mati.

Ditambah pandangan diluar yang gelap akibat sedang berada didalam badai awan comulonimbus, maka pilot juga mengalami disorientasi lalu pesawat terbang miring tanpa mereka sadari, dan kemudian menukik tajam menghujam ke laut dekat kota Majene, Sulawesi Barat. (lihat kisahnya pada video dibawah halaman).

Namun menurut seorang mantan pilot British Airways, Stephen Buzdygan pesawat AirAsia QZ8501 bisa jadi juga mengalami turbulensi yang cukup hebat ketika terkena badai yang berada di dalam awan comulonimbus dan jatuh ke laut. “Pilot sulit mengendalikan pesawat saat kondisi tersebut,” ujar dia kepada Telegraph.

3. Cuaca Ekstrem

air asia 8501 commulonimbus awan komuluonimbus

Pesawat melintas dekat awan commulonimbus

Teori lain menyebut cuaca ekstrem menjadi pemicu jatuhnya pesawat. Diketahui, cuaca di rute AirAsia QZ8501 saat itu sangat buruk dengan adanya awan kumulonimbus yang padat dan berukuran besar.

Ahli penerbangan Neil Hansford menilai menembus awan kumulonimbus (Cb) merupakan langkah diluar perkiraan pilot AirAsia. Kata dia, pilot sudah siap dengan rute ekstrem tersebut, tapi belum tentu siap untuk menembus awan “thunderstorm”, nama lain dari kumulonimbus. (mirip juga seperti Adam Air 574).

“Mungkin ini awan cumulonimbus dengan badai petir yang sangat ekstrem. Sangat jarang ada pesawat yang dirancang bisa melintasi cuaca tersebut,” kata Neil kepada Nine News. Sebelumnya diketahui, pilot AirAsia sempat meminta untuk bergeser ke kiri dan naik ke atas. Diduga untuk menghindari awan kumulonimbus. Namun pihak ATC dikabarkan tak mengizinkan naik ke atas karena ada pesawat lain yang melintas.

4. Ketinggian Ekstrem

Air Asia 8501 jatuh karena badai diawan Cumulonimbus

Pesawat menukik

Terkait permintaan pilot untuk naik ketinggian demi menghindari cuaca buruk, maka muncul dugaan bahwa pesawat berada pada ketinggian yang ekstrem dalam waktu singkat. Misal naik 6.000-9000 meter per menit yang membuat pesawat menjadi tak terkendali dan justru jatuh menukik.

Namun menurut Direktur Perusahaan Konsultan Penerbangan Ailevon Pacific, Oliver Lamb, hal itu sangat tidak mungkin. “Butuh energi lebih jika harus naik ke ketinggian ekstrem. Jika hal itu benar terjadi, aku tak pernah menyangka ada pesawat bisa seperti itu,” terangnya.

Namun perlu diketahui pula, bahwa Airbus jenis A320 Air Asia ini sedang terbang dibawah peringatan dari European Aviation Safety Agency (EASA) yang memperingatkan seluruh maskapai di dunia yang menggunakan pesawat Airbus tipe tertentu agar mewaspadai potensi pesawat lepas kendali ketika menanjak (stall warning).

Dokumen itu dirilis pada 10 Desember 2014 dengan nomer dokumen AD #: 2014-25-51, ditujukan kepada seluruh pemilik Airlines. (baca: Misteri-Misteri Seputar Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-2), dan lihat pada point nomer 5.

5. Catastrophic Metal Fatigue

Spekulasi lain menduga pesawat AirAsia QZ8501 mengalami fenomena ‘catastrophic metal fatigue‘ atau secara harfiah disebut ‘kelelahan logam’ yang terjadi pada logam bagian pesawat dan membuatnya celaka. Kekuatan logam dapat berkurang, contohnya ibarat kawat yang kedua arah yang berlawanan dibengkokkan secara terus-menerus hingga melemah lalu putus, itulah yang disebut ‘kelelahan logam’.

Kejadian ini pernah dialami oleh maskapai Aloha Airlines 243 dengan pesawat Boeing 737 register number N73711 pada tanggal 28 April 1988 lalu akibat lepasnya sepertiga atap dibagian belakang kokpit pesawat.

aloha 243_foto

Aloha Airlines Boeing 737 N73711 sepertiga atap di bagian belakang kokpit lepas akibat scratch atau garis diluar pesawat yang ternyata tanda dari “kelelahan logam”

Walau begitu pesawat yang di ko-piloti oleh seorang wanita ini masih dapat mengudara sekitar 15 menit setelah menukik turun dari ketinggian 24.000 kaki dengan kecepatan sekitar 600 km perjam karena hilangnya dekompresi dikabin pesawat.

Pada saat kejadian berlangsung, para penumpang yang duduk dibagian depan (Kelas-I) tidak mendapatkan tabung oksigan karena selang oksigan dibagian atas telah hilang.

Kejadian itu bermula dari terlihatnya berupa  tanda garis sepanjang 10 inchi diluar badan pesawat sekitar 2 meter dekat pintu masuk bagian depan. Oleh para penumpang sebagai saksimata ketika akan memasuiki pesawat, mengira hal biasa yang tak penting.

Mereka mengira garis itu mungkin hanya merupakan cat yang mengelupas dan tak memberitahu kepada krew. Setelah diteliti ternyata logam pada badan pesawat itu telah  mengalami “kelelahan logam” atau ‘catastrophic metal fatigue‘. Salah seorang pramugari tersedot keluar pesawat diatas lautan Pasifik dekat Hawaii  dan tidak ditemukan mayatnya hingga saat ini. (lihat kisahnya pada video dibawah halaman).

Namun demikian, menurut Direktur Perusahaan Konsultan Penerbangan Ailevon Pacific, Oliver Lamb, pesawat komersial yang digunakan saat ini sudah menjalani perawatan dan uji coba dengan baik. Jadi sangat tidak mungkin hal itu terjadi. “Pesawat yang digunakan juga biasa masih terbilang baru. Setidaknya 7 tahun,” ujar Lamb.

6. Terhempas karena lambatnya laju pesawat

sensor kecepatan dan ketinggian pesawat

Sensor kecepatan dan ketinggian pesawat jika tertutup es (icing) maka indikator akan terganggu dan informasi yang diberikan oleh komputer ke dashboard menjadi salah.

Spekulasi lain terkait jatuhnya AirAsia QZ8501 adalah karena pesawat mengalami mid-air stall hingga membuat pesawat terhempas ke bawah.

Menurut Direktur Perusahaan Konsultan Penerbangan Ailevon Pacific, Oliver Lamb, kondisi tersebut karena kapal terbang bergerak begitu lambat.

Hal ini bisa terjadi akibat sensor-sensor dibadan pesawat tertutup es (icing) dan membuat indikator pada dashboard terganggu dan memberikan info yang tak akurat.

Hal ini pernah terjadi pada Air France AF447 yang menghadapi cuaca buruk sebelum jatuh. Pesawat Air France AF447 jatuh karena dipicu lapisan es yang menutupi silinder tipis pesawat pada tahun 2009.

Silinder itu merupakan alat untuk memberitahu pilot seberapa cepat pesawat itu melaju. Akibat sensor diluar badan pesawat tertutup lapisan es, mereka tidak tahu kecepatan pesawat.

Air France AF447

Kronologi Air France AF447

Penyebab berikutnya ialah cara pilot Air France AF447 menangani masalah itu. Pilot memutuskan untuk melambatkan laju pesawat hingga pesawat “mogok” atau nyaris berhenti diudara dan meluncur ke bawah lalu jatuh di Samudera Atlantik dan tenggelam sedalam 4 kilometer!

Hal ini mencerminkan bagaimana pilot dan kopilot tidak terlatih untuk menangani situasi seperti itu. (lihat kisahnya pada video dibawah halaman).

Namun menurut Lamb, hal itu mustahil untuk pilot Trianto. “Hal ini sangat mustahil terjadi bagi pilot berpengalaman yang sudah mengetahui kecepatan minimum yang harus ditempuh,” ungkap Lamb. “Pilot AirAsia pasti sudah sangat terlatih. Lamb kembali menegaskan bahwa fakta penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 hanya bisa diungkap berdasarkan black box.

7. Terhempas di air lalu meledak

Setelah ekor pesawat ditemukan dan blackbox FDR ditemukan pada Senin (12/01/2015) (baca Part-5: Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Blackbox), Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi menduga pesawat AirAsia QZ8501 meledak sebelum jatuh di Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Dugaan ini merujuk pada pengakuan nelayan yang sempat mendengar suara ledakan dari arah laut yang berkabut saat AirAsia hilang kontak. (baca kesaksian para saksimata pada Part-1).

“Tapi kenapa pesawat itu bisa meladak? Nah, itulah pertanyaan yang harus bisa dijawab,” terang Supriyadi. Ia menjelaskan bahwa di dalam ruang kabin pesawat terdapat tekanan udara yang lebih tinggi dari udara diluar. Pesawat itu bagaikan balon yang memiliki tekanan udara yang lebih besar dari pada udara diluar, sedangkan air laut sebagai pemecah badan pesawat karena pesawat itu terhempas di air, lalu retak dan meledak.

perbedaan tekanan udara di luar dan dalam pesawatJadi jika pesawat bagaikan balon, maka air laut bagaikan jarumnya. Pada saat pesawat menyentuh air dan retak, maka pesawat meledak dan serpihannya kemana-mana. Hal ini juga terlihat pada dinding kiri pesawat yang terdiri dari kepingan kecil-kecil, kemungkinan badan pesawat meledak ke sisi kiri,” jelasnya.

Memang hal itu dapat terjadi mengingat pesawat turun dari ketinggian secara lebih cepat.

Tekanan udara di dalam kabin pesawat memang diatur oleh suatu perangkat sensor agar jika pesawat naik atau turun, maka sensor itu akan ikut menyesuaikan “tekanan udara yang paling nyaman” bagi manusia alias penumpangnya. Perbedaan tekanan inilah yang dapat membuat barang-barang tersedot keluar jika rangka kabin bocor, bahkan dapat meledakkannya. Semua pesawat memiliki badan rangka yang seakan-akan seperti “bernafas” ketika pesawat naik tinggi dan turun.

Pada saat turun, tekanan dalam kabin bisa berkurang dan menyebabkan rangka pada badan pesawat “mengecil”. Dan jika naik pada ketinggian, maka rangka badan pesawat “membesar”, begitu seterusnya seperti paru-paru yang “bernafas”. Karena jika tekanan di dalam kabin sama dengan diluar, maka pada saat terbang tinggi, manusia tak akan bisa bernafas di dalam kabin akibat udara diatas bertekanan rendah.

Untuk itulah sensor tekanan udara memiliki peranan sangat penting dengan memompa udara menjadi bertekanan tinggi agar nyaman untuk bernafas seperti layaknya di darat. Itu sebabnya jika ada lubang pada dinding pesawat, maka semua benda akan tersedot keluar karena tekanan diluar jauh lebih rendah. Namun hingga kini, itu semua hanya perkiraan dan tidak bersifat sains karena blackbox belum diteliti data-datanya.

Banyak spekulasi lainnya mengenai kenapa pesawat AirAsia QZ8501 jatuh. Misal, kemungkinan mesin mati karena adanya badai es. Perlu diketahui bahwa mesin jet pesawat tak akan mati akibat butiran es, karena tak pernah ada kejadian pesawat jatuh akibat masalah ini.

(sumber: News.com.au/ telegraph/ liputan6/ Ailevon Pacific/ Wikipedia/ berbagai sumber)

Pustaka:

– Download PDF (44,1kb): Released December 10 2014: European Aviation Safety Agency (EASA) 14-25-51.pdf

AirAsia QZ 8501 PK-AXC missing route anim 1000px

Cumulonimbus saat prosesi pengantaran jenazah korban AirAsia QZ8501 di Lanud Iskandar, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Senin (5-1-15)

VIDEOs:

US Airways Flight 1549 ‘Hudson River Plane Crash’ (FULL / 50 minutes)

Ripped Apart, Aloha 243 (FULL / 48 minutes)

Vanished, Air France Flight 447  (FULL / 45 minutes)

The Plane That Vanished, Adam Air 547: PART-1 | PART-2 | PART-3 | PART-4 | PART-5

[MAYDAY / AIR CRASH INVESTIGATION] AIR ASIA 8501: ANATOMY OF A CRASH (40 minutes):

VIDEO: Tribute to MH370 a.k.a. B777 9M-MRO (The Missing Plane) – Taking Off, Boarding, Landing, Taxiing

Artikel Terkait Lainnya:

“The Black Hand”, Dibalik Misteri Jatuhnya AirAsia Rute Surabaya-Singapura (Air Asia QZ-8501 PART-1)

Misteri Seputar Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-2)

TIMELINE: Persiapan, Pencarian, Penemuan, Pengangkatan Puing (Air Asia QZ-8501 PART-4)

Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Blackbox (Air Asia QZ-8501 PART-5)

blackhand behind AirAsia QZ8501penyebab jatuhnya Air Asia QZ8501 banner

Artikel Lainnya:

Hah! Pesawat Air Asia Thailand Berhantu?

Takkan Pernah Ditemukan: Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines Jurusan KL – Beijing

Misteri Ditembaknya Malaysian Airlines MH-17 di Udara Ukraina

7 Pesawat Komersil Yang Ditembak Jatuh Sejak 1955

Misteri Segitiga Masalembo, Segitiga Bermudanya Indonesia

[PHOTO] 8 Jenis Awan Yang Manakjubkan

Operasi Woyla 1981: Pembebasan Sandera Pembajakan Pesawat Garuda di Thailand

Eropa Heboh! Tahun 1935: Pesawat ‘Made In’ Bandung Mendarat Di Belanda!

Pesawat N-219 Buatan Indonesia, Sudah Kantongi 100 Pesanan

Pesawat R-80 Buatan Indonesia Yang Canggih Di Kelasnya, Sudah Kantongi 125 Pesanan

Kontroversi Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia

Hasil Investigasi Resmi Versi KNKT: Detik-detik Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100

[GALLERY & VIDEO ISTIMEWA] PENERBANGAN SUKHOI KE-2: Sebelum Jatuh di Gunung Salak

Misteri Gunung Salak Dan Beberapa Kecelakaan Pesawat

Depopulasi Dunia: Pesawat Semprot Zat Kimia Berupa “Chemtrails” di Angkasa

Inilah Penyebab Jatuhnya Lion Air di Bali

[BAHAS TUNTAS] Dibalik Layar: Fakta Nyata Tragedi WTC 9/11/ 2001 Telah di Rakayasa

Flashback: Dikala Kremlin Heboh, Pilot Bocah Tembus Udara Soviet Tahun 1987

Diduga Tabrak UFO: Hidung Pesawat Air China Penyok di Ketinggian 8 Km!

Pilot Airbus saksikan UFO di atas Heathrow Inggris

Pilot Russia dengar Bahasa Alien, lapor ke petugas Air Traffic Control

*****

http://wp.me/p1jIGd-5XT

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Misteri Indonesia dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s