Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Blackbox (Air Asia QZ-8501 PART-5)

missing airplane header

Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Kotak Hitam (Blackbox) (Air Asia QZ-8501 PART-5)

BLACKBOX AIR ASIA QZ8501 FOUND DITEMUKAN HEADER

Ada dua cara merekam kegiatan dalam pesawat dalam sebuah alat perekam benama Kotak Hitam atau Black Box pada 30 menit terakhir penerbangannya, yaitu merekam percakapan dalam kokpit pesawat atau Flight Data Recorder (FDR) dan merekam data penerbangan atau Cockpit Voice Recorder (CVR).

Namun di dalam sebuah pesawat, tak semua pesawat pasti dan harus memiliki dua buah Black Box. Pada masa kini banyak pula pesawat yang hanya menggunakan satu Blck Box yang didalamnya sekaligus merekam dan mencatat kedua kegiatan di pesawat tersebut.

black-box-location inside on the plane

Black Boxes location inside the plane

Biasanya perangkat itu berada di dekat ekor sehingga peluang untuk selamat dari benturan cukup tinggi.

Namun setelah melihat apa yang terjadi pada puing ekor pesawat Air Asia 8501 yang tergolek di dasar laut dan hancur.

Tim SAR sempat dibuat terkecoh karena blac kbox sudah tak berada ditempatnya, alias dusah terpental jauh.

Maka timbul pertanyaan, bagaimana pesawat itu jatuh? Apa yang terjadi sebelum jatuh? Apa yang membuatnya jatuh?

Berikut, mari kita telusuri dimana blackbox itu terpental, juga bagaimana tim SAR dapat menemukannya dan mengevakuasinya. Bagaimana KNKT meneliti dan menyelidikinya. Pada artikel “Air Asia Part-5” inilah IsyaAllah, semua pertanyaan yang belum ada jawabannya dapat terjawab.

Blackbox Cockpit Voice Recorder (CVR)

perbedaan black box kotak hitam CVR dan FDR

Perbedaan fisik antara Black Box (Kotak Hitam) CVR dan FDR.

Kotak hitam jenis ini memiliki mikrofon yang berfungsi merekam berbagai suara dari kokpit (voice recorder).

Tidak hanya suara percakapan di ruang cockpit yang direkam, namun juga beragam petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika kru bergerak. Pada blackbox jenis ini sering dinamai sebagai Cockpit Voice Recorder (CVR).

Blackbox Flight Data Recorder (FDR)

Kotak hitam atau Blackbox lainnya berfungsi merekam ribuan data yang memberi indikasi pergerakan pesawat.

Misalnya, seperti kecepatan, tinggi dari permukaan bumi, kekuatan, dan sebagainya (flight recorder). Pada blackbox jenis ini sering dinamai sebagai Flight Data Recorder (FDR).

Walau blackbox sudah ditemukan, namun belum diteliti isi datanya. Dari beberapa dugaan yang masih menghantui kenapa pesawat AirAsia nomer penerbangan QZ8501 ini dapat jatuh tetap menjadi perbincangan antar pakar dan ahli penerbangan hingga pilot sedunia. Apa saja kemungkinan yang menyebabkan pesawat itu jatuh? Anda dapat membaca pada artikel sebelumnya: Ini Dia, Beberapa Penyebab Jatuhnya AirAsia QZ 8501 (PART-3)

Sinyal dari Blackbox Air Asia 8501 Akhirnya Ditemukan

Pada hari ke-15 sejak SAR diturunkan mengarungi lautan, dua kapal di bawah koordinasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebut telah menemukan sinyal dari Emergency Locator Transmitter (ELT) black box atau kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 pada Minggu (11/01/2015).

Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo dan sejumlah ilmuwan BPPT saat memberikan keterangan Pers terkait kotak hitam Air Asia di kantor BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Minggu (11/1). Dalam jumpa Pers sejumlah ilmuwan BPPT mengatakan Saat ini kapal riset Baruna Jaya I (BPPT), kapal survei Java Imperia (OWSI) dan KN Trisula (KPLP Hubla) sedang berada di lokasi tempat diterimanya sinyal ping diduga dari kotam hitam. Ada 2 sinyal 'ping' diterima dengan jarak keduanya sekitar 20 meter.

Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo dan sejumlah ilmuwan BPPT saat memberikan keterangan Pers terkait kotak hitam Air Asia di kantor BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Minggu (11/1). Dalam jumpa Pers sejumlah ilmuwan BPPT mengatakan Saat ini kapal riset Baruna Jaya I (BPPT), kapal survei Java Imperia (OWSI) dan KN Trisula (KPLP Hubla) sedang berada di lokasi tempat diterimanya sinyal ping diduga dari kotam hitam. Ada 2 sinyal ‘ping’ diterima dengan jarak keduanya sekitar 20 meter.

Dua kapal itu adalah Baruna Jaya I dan kapal survei Java Imperia. Penemuan black box ini lebih cepat dari target awal 17 hari.

Tim Evakuasi pesawat AirAsia QZ8501 berhasil menemukan sinyal kuat kotak hitam alias black box, benda yang selama ini dicari oleh tim SAR ditemukan oleh Kapal Baruna Jaya 1 milik Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada jam 22.25 WIB.

Adapun kedua lokasi Black box dan ELT hasil survei Baruna Jaya J1BPPT itu adalah di titik kordinat: 03°37′20.7″S 109°42′43″E (lihat via satelitte). Dan sinyal satu lagi berada pada kordinat: 03°37′21.13″S 109°42′42.45″E (lihat via satelitte).

Dua objek yang dikonfirmasi tim penyelam TNI Angkatan laut itu berdekatan dengan posisi sinyal “ping” yang ditangkap Kapal Baruna Jaya I. Sinyal itu terletak pada yang berjarak 1,9 mil laut dari posisi ekor pesawat. Hingga saat ini, tim belum mendapat gambar terkait objek yang terdeteksi tersebut dari tim SAR gabungan di area pencarian pesawat.

A member of Indonesian Research and Technology Application Agency points at the coordinates where signals of AirAsia flight QZ8501 black box were detected on Sat

A member of Indonesian Research and Technology Application Agency points at the coordinates where signals of AirAsia flight QZ8501 black box were detected on Saturday..(Xinhua).

Blackbox Flight Data Recorder (FDR) AirAsia 8501 Berhasil Ditemukan

Pada hari ke-16 sejak SAR diturunkan mengarungi lautan, Basanas memastikan bahwa tim gabungan berhasil menemukan dan mengangkat perekam data penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR) pesawat AirAsia QZ 8501 pada Senin (12/01/2015).

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI FHB Soelistyo mengatakan laporan tersebut ia dapatkan ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi.

“Saya dapatkan laporan resmi dari Ketua KNKT pada pukul 07.11 WIB, berhasll diangkat bagoan dari blackbox disebut FDR,”ujar Soelistyo saat jumpa pers di Kantor Basarnas, Jakarta, Senin (12/1/2015).

Indonesian military police carry the flight data recorder through Iskandar air base in Pangkalan Bun, Central Borneo.

Indonesian military police carry the flight data recorder through Iskandar air base in Pangkalan Bun, Central Borneo.

Temuan ini dipastikan dengan adanya plat nomber dan serial number yang melekat pada FDR.

Temuan ini berhasil dipastikan oleh tim dari TNI Angakatan Laut yang melakukan penyelaman. FDR ini ditemukan oleh TNI Al di bawah puing-puing sayap AirAsia QZ 8501.

“Itu ada plat nomber dan serial number yaitu PN- 2100-4043-02 dan SN- 000556583,” jelas Soelistyo.

FDR ditemukan di koordinat 03 derajat 37″ 21 S dan 109 derajat 42′ 42″ T pada kedalaman 30 hingga 32 meter dan berjarak 1 km dari lokasi temuan ekor pesawat dan FDR ditemukan dalam posisi terhimpit serpihan badan pesawat.

Soelistyo menambahkan, tim gabungan akan mencari keberadaan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder atau CVR). Ia berharap satu perangkat dari blackbox yang lainnya yaitu CVR bisa ditemukan.

“Sinyal CVR sudah ketemu. Kira-kira 20 meter dr tempat FDR ditemukan,” ujar Direktur Operasional Basarnas, Marsekal Pertama SB Supriyadi di Posko Pencarian dan Evakuasi, Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng, Senin (12/1/2015) siang.

Berikut foto-foto hasil penemuan Blackbox FDR AirAsia QZ8501

Military policemen carry the flight data recorder of AirAsia QZ8501 away to be evaluated

Military policemen carry the flight data recorder of AirAsia QZ8501 away to be evaluated. (REUTERS)

Indonesian officers take the plane's flight data recorder and move it into a large plastic container. (EPA).

Indonesian officers take the plane’s flight data recorder and move it into a large plastic container. (EPA).

Still dripping with water, military personnel pull out the flight data recorder of the ill-fated AirAsia Flight 8501 that crashed in the Java Sea. (AP).

Still dripping with water, military personnel pull out the flight data recorder of the ill-fated AirAsia Flight 8501 that crashed in the Java Sea. (AP).

Indonesian army and naval personnel look at the flight data recorder that was in the first black box.(EPA).

Indonesian army and naval personnel look at the flight data recorder that was in the first black box.(EPA).

The flight data recorder that was in the first retrieved black box is placed on a table for the media to see

The flight data recorder that was in the first retrieved black box is placed on a table for the media to see.(Xinhua).

Chief of the National Transportation Safety Board Tatang Kurniadi (left) speaks to the media while showing the flight data recorder that was retrieved from the first black box. (AP).

Chief of the National Transportation Safety Board Tatang Kurniadi (left) speaks to the media while showing the flight data recorder that was retrieved from the first black box. (AP).

The AirAsia aircraft's flight data recorder in its black box is unloaded by Indonesian Air Force flight crew (AP).

The AirAsia aircraft’s flight data recorder in its black box is unloaded by Indonesian Air Force flight crew (REUTERS).

AirAsia 8501 FDR arrived in Halim Perdanakusumah International Airport Jakarta. (liputan6,com)

AirAsia 8501 FDR arrived in Halim Perdanakusumah International Airport Jakarta on Monday evening (Jan, 12, 2015). (liputan6,com)

Basarnas menduga AirAsia 8501 meledak saat menyentuh air

Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi menduga pesawat AirAsia QZ8501 meledak sebelum jatuh di Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Dugaan ini merujuk pada pengakuan nelayan yang sempat mendengar suara ledakan dari arah laut yang berkabut saat AirAsia hilang kontak. (baca kesaksian para saksimata pada Part-1).

“Tapi kenapa pesawat itu bisa meladak? Nah, itulah pertanyaan yang harus bisa dijawab,” terang Supriyadi. Ia menjelaskan bahwa di dalam ruang kabin pesawat terdapat tekanan udara yang lebih tinggi dari udara diluar. Pesawat itu bagaikan balon yang memiliki tekanan udara yang lebih besar dari pada udara diluar, sedangkan air laut sebagai pemecah badan pesawat karena pesawat itu terhempas di air, lalu retak dan meledak.

airasia QZ 8501 landing on the sea water“Jadi jika pesawat bagaikan balon, maka air laut bagaikan jarumnya. Pada saat pesawat menyentuh air dan retak, maka pesawat meledak dan serpihannya kemana-mana. Hal ini juga terlihat pada dinding kiri pesawat yang terdiri dari kepingan kecil-kecil, kemungkinan badan pesawat meledak ke sisi kiri,” jelasnya.

Memang hal itu dapat terjadi mengingat pesawat turun dari ketinggian secara lebih cepat. Tekanan udara di dalam kabin pesawat memang diatur oleh suatu perangkat sensor agar jika pesawat naik atau turun, maka sensor itu akan ikut menyesuaikan “tekanan udara yang paling nyaman” bagi manusia alias penumpangnya.

Perbedaan tekanan inilah yang dapat membuat barang-barang tersedot keluar jika rangka kabin bocor, bahkan dapat meledakkannya.

perbedaan tekanan udara di luar dan dalam pesawatSemua pesawat memiliki badan rangka yang seakan-akan seperti “bernafas” ketika pesawat naik tinggi dan turun. Pada saat turun, tekanan dalam kabin bisa berkurang dan menyebabkan rangka pada badan pesawat “mengecil”.

Dan jika naik pada ketinggian, maka rangka badan pesawat “membesar”, begitu seterusnya seperti paru-paru yang “bernafas”.

Karena jika tekanan di dalam kabin sama dengan diluar, maka pada saat terbang tinggi, manusia tak akan bisa bernafas di dalam kabin akibat udara diatas bertekanan rendah. Untuk itulah sensor tekanan udara memiliki peranan sangat penting dengan memompa udara menjadi bertekanan tinggi agar nyaman untuk bernafas seperti layaknya di darat.

Itu sebabnya jika ada lubang pada dinding pesawat, maka semua benda akan tersedot keluar karena tekanan diluar jauh lebih rendah. Namun hingga kini, itu semua hanya perkiraan dan tidak bersifat sains karena blackbox belum diteliti data-datanya.

Blackbox Cockpit Voice Recorder (FDR) AirAsia 8501 Berhasil Ditemukan

air Asia QZ8501 CVR ditemukan found

Indonesian officials remove the cockpit voice recorder (CVR) from AirAsia flight QZ8501 upon its arrival in Pangkalan Bun, in Central Kalimantan, on January 13, 2015 (AFP)

Air Asia QZ-8501 CVR - 02

Chief of Indonesian National Transportation Safety Committee (KNKT) Tatang Kurniadi, Air Force Operations Commander Agus Dwi Putranto and Navy Western Fleet Commander Rear Admiral Widodo hold the Cockpit Voice Recorder of the AirAsia flight QZ8501 after its recovery from the sea floor. (EPA).

Pada hari ke-17 sejak SAR diturunkan mengarungi lautan, akhirnya blackbox kedua yaitu Cockpit Voice Recorder atau CVR, berhasil ditemukan tim penyelam di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun pada Selasa (13/10/2014).

CVR tersebut berukuran sekitar 30×12,5 cm dan berlapis cat oranye. Komponen tersebut disimpan di dalam boks berwarna hitam. Di dalm boks tersebut sudah lebih dulu diisi air untuk menghindari terjadi korosi.

Badan Pesawat Air Asia QZ 8501 Ditemukan

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Fransiskus Henry Bambang Soelistyo mengatakan bodi pesawat Air Asia QZ8501 sudah ditemukan pada Rabu sore, pukul 15.05 WIB. Bodi pesawat itu adalah obyek ke-15 yang ditemukan, dan hanya terdiri dari satu sayap yang masih menempel.

Bodi yang ditemukan tersebut berdimensi 30 x 10 x 3 meter dan terletak sejauh kira-kira 3 km atau 1,2 mil dari ditemukannya ekor pesawat. (baca: TIMELINE: Persiapan, Pencarian, Penemuan, Pengangkatan Puing (Air Asia QZ-8501 PART-4))

Awalnya, bayangan badan pesawat itu dilaporkan terlihat di kedalaman 24-30 meter pada posisi 03 54″ 48′ LS/110 31″ 04′ BT. Obyek tersebut juga telah dipotret oleh remotely operated vehicle (ROV) dari kapal Angkatan Laut Singapura RSS Swift. Kemudian beberapa fotonya langsung diunggah oleh Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen, melalui akun facebooknya.

body Air Asia QZ8501 found ditemukan 03

Photographs taken by search robots show the fuselage with AirAsia’s slogan painted on its side. (pict: Ng Eng Hen@facebook.com)

body Air Asia QZ8501 found ditemukan 02

The discovery of the fuselage, the part of the plane that holds pilots and passengers, is raising hope that more bodies will be found. (pict: Ng Eng Hen@facebook.com)

body Air Asia QZ8501 found ditemukan 04

The fuselage was discovered around 1.9 miles (10,000ft) from where the tail was retrieved last weekend. (pict: Ng Eng Hen@facebook.com)

Discovery: This photo posted on Facebook by Singapore's Defence Minister Ng Eng Hen, show AirAsia's slogan 'Now everyone can fly' on the fuselage. (Ng Eng Hen@Facebook.com)

Discovery: This photo posted on Facebook by Singapore’s Defence Minister Ng Eng Hen, show AirAsia’s slogan ‘Now everyone can fly’ on the fuselage. (Ng Eng Hen@Facebook.com)

body Air Asia QZ8501 found ditemukan 05

An Indonesian search and rescue team evacuates the tail portion of AirAsia QZ8501 from the Crest Onyx Boat on to a truck at Kumai Porton Sunday. (Jeffry Aries/Barcrofd Media)

Sementara itu, Kepala BASARNAS Marsekal Madya Henry Bambang Soelistyo mengatakan segera menghentikan operasi pokok gabungan pencarian korban jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di sekitar Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Sebagai gantinya, Basarnas berencana menggelar Operasi Harian yang tidak jauh berbeda dengan operasi gabungan yang dilakukan Basarnas bersama TNI dan negara-negara yang mengirimkan bantuan.

Sasarannya pun tetap sama seperti operasi sebelumnya. Yang berbeda, kata dia, hanya jumlah personel yang bakal dilibatkan. Keluarga korban pesawat Air Asia yang saat ini masih terus menunggu di posko crisis center di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur mengaku pasrah bila Badan SAR Nasional memutuskan menghentikan pencarian.

AirAsia Naik Cepat Capai 37 Ribu Kaki dan Hilang di Ketinggian 24 Ribu Kaki

A. Data AirNav

Berikut menit terakhir hilangnya pesawat AirAsia yang disampaikan AirNav Indonesia pada 31 Desember 2014 lalu:

Pukul 06.12 WIB
AirAsia meminta menyimpang ke kiri sejauh 7 mil dan naik ketinggian. Saat itu juga, ATC langsung meresponsnya dengan mengizinkan AirAsia menyimpang ke kiri sejauh 7 mil. Untuk naik ketinggian, ATC meminta pilot mempertahankan ketinggian dulu pada level 32 ribu kaki.

“Roger, AirAsia QZ8501,” demikian respons pilot AirAsia.

Saat itu ATC melihat 7 pesawat melintas di sekitar AirAsia. ATC mengukur jarak aman dulu sebelum memutuskan memberikan izin AirAsia naik ketinggian.

Pukul 06.12-06.14 WIB
Selama 2 menit dari permintaan QZ8501, ATC mengukur jarak aman terlebih dahulu baru mengizinkan naik ketinggian. Jarak aman untuk naik ketinggian yakni berjarak 10 mil dari pesawat lain. Serta, pada saat yang bersamaan, ada 3 pesawat lain yang terbang sejalur dengan Air Asia QZ8501 di jalur M-635 yakni Emirates 406, Air Asia 502, Air Asia 550.

Berdasarkan radar, rata-rata jarak aman kurang lebih 10 mil dengan pesawat lain, jarak aman supaya tidak menyenggol pesawat yang lain. Setiap hari di jalur M635 ada sekitar 140 sampai 160 pesawat yang terbang.

Pukul 06.14 WIB
ATC mengontak pesawat AirAsia untuk mengizinkan naik ketinggian di 34 ribu kaki dari 32 ribu kaki. Namun, AirAsia tidak merespons. ATC mengontak AirAsia 8 kali, tetap tidak ada respons.

Pukul 06.17 WIB
AirAsia hanya tampak sinyal ADS-B saja sampai pukul 06.18 WIB, AirAsia sama sekali hilang dari radar.

B. Data Radar

Dari data radar diketahui, bahwa pesawat AirAsia menukik cepat dalam waktu 1 menit, kemudian turun dan hilang. Berapa sebenarnya ketinggian puncak yang dicapai AirAsia itu dan berapa ketinggian saat hilang? Dari dokumen bahan rapat kerja Kemenhub dengan Komisi V DPR pada Selasa (20/1/2015) malam yang didapatkan wartawan, terlihat menit-menit terakhir berdasarkan data radar, seperti berikut:

23:16:11,577 (UTC/Coordinated Universal Time, +7 untuk WIB): Flight Level (FL) 320 atau 32 ribu kaki.

23:16:33,882 : Masih di FL 320 atau 32 ribu kaki

23:17:1,7889: Mulai naik ke FL 321 atau 32,1 ribu kaki

23:17: 43,210: Diketahui titik puncak tertinggi AirAsia menanjak, yakni di FL 373,5 atau 37,35 ribu kaki.

23:19:46,352: Ketinggian AirAsia terakhir terdeteksi di FL 240 atau 24 ribu kaki.

Dari grafik di atas, bisa dilihat bahwa AirAsia menanjak dari ketinggian 32.100 kaki ke ketinggian 37.350 kaki, atau naik setinggi 5.250 kaki hanya dalam waktu 41,4211 detik.

Data grafik tersebut dipaparkan Menhub Jonan, yang disebutnya berasal dari data radar. Dalam rapat kerja dengan DPR, Jonan membeberkan data terakhir QZ8501 dari ATC, pesawat nahas itu tiba-tiba mengalami kecepatan tinggi hingga ketinggian 6.000 kaki dan mendadak berhenti kemudian menghilang.

“Tidak normal untuk bergerak menanjak seperti itu, sangat jarang bagi pesawat komersial, yang biasanya naik hanya setinggi 1.000 sampai 2.000 kaki per menit. Hal ini hanya bisa dilakukan pesawat jet tempur,” kata Jonan seperti disadur dari BBC. Namun dia menegaskan tidak menyebutkan ‘stall’ untuk kondisi yang dialami pesawat AirAsia itu.

“‎Saya nggak jelaskan itu stall, kalau jatuh pasti jatuh. Kalau nggak stall nggak jatuh dong. Jadi saya sudah jelaskan, pesawat itu naik beberapa feet dalam satu menit terus setelah itu turun, ya pesawat turun dong,” jelas Jonan saat dikonfirmasi lagi mengenai pernyataannya di rapat Komisi V DPR pada Selasa (20/1/2015) malam kemarin tentang AirAsia yang naik cepat dan turun tiba-tiba.

Data yang disampaikan Menhub Jonan adalah fakta baru. Sebelumnya, data ketinggian AirAsia QZ8501 didapatkan dari AirNav Indonesia, di mana ketinggian terakhir diketahui 32 ribu kaki atau FL 320. Saat itu, pesawat AirAsia memang meminta naik ke ketinggian 34 ribu kaki.

AirAsia QZ8501 Jatuh Sambil Berputar

Data ADS-B dari pesawat Indonesia AirAsia (AWQ) PK-AXC QZ8501

Data ADS-B dari pesawat Indonesia AirAsia (AWQ) PK-AXC QZ8501 pada Minggu (28/1/2015) pagi.

Data Automatic dependent surveillance – broadcast (ADS-B) yang terekam dari  AirAsia QZ8501 yang hilang pada Minggu (28/12/2014) lalu menunjukkan bahwa pesawat jatuh secara spiral atau sambil berputar.

Data surveillance dari penerbangan QZ8501 yang berisi tentang data posisi longitudinal dan lateral pesawat. Akun Twitter @AviationSafety pada Kamis (22/1/2015) menduga data tersebut berasal dari ADS-B pesawat.

Diketahui pada pukul 23.17 UTC (atau 06.17 WIB), di detik ketika pesawat mulai menanjak, heading pesawat mulai berbelok dari heading semula 310 derajat (barat laut), menjadi berbelok ke kiri menuju heading 270 derajat (barat).

Di puncak ketinggian jelajah yang dicapai QZ8501, yaitu 37.600 kaki, heading pesawat kemudian berbelok lagi ke kiri. Heading pesawat sempat berputar balik dari arah semula 310 derajat (barat laut) ke arah sekitar 130 derajat (tenggara).

Berputarnya arah pesawat itu disertai dengan proses pesawat kehilangan ketinggian atau jatuh dengan kecepatan 11.000 kaki hingga maksimum 24.000 kaki per menit. Hingga menurut deteksi radar ADS-B terakhir, diketinggian 24.000 kaki, heading pesawat terakhir yang diketahui adalah arah 197 derajat atau barat daya. Pesawat diprediksi terus jatuh secara spiral.

Hal tersebut seperti menjelaskan kenapa ground speed QZ8501 hanya 60 knots saat jatuh kehilangan ketinggian, seperti yang disampaikan oleh pengamat penerbangan Gerry Soejatman yang menyebut pesawat jatuh seperti lempengan metal nyaris vertikal.

AirAsia QZ 8501 PK-AXC missing route anim 1000px

Penyelidik telah mendengarkan seluruh isi rekaman, namun transkrip baru dibuat setengahnya

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mendengarkan rekaman suara kokpit pesawat AirAsia QZ8501, yang jatuh di Laut Jawa pada 28 Desember 2014.

“Tim KNKT yang terdiri dari 10 penyelidik, sejauh ini tidak menemukan bukti adanya aksi terorisme dalam tragedi jatuhnya pesawat AirAsia,” kata Andreas Hananto, penyelidik KNKT kepada Reuters dikutip Businessinsider.com, Senin 19 Januari 2014.

Penyelidik telah mendengarkan seluruh isi rekaman, namun transkrip baru dibuat setengahnya. “Pada situasi kritis, rekaman mengindikasikan bahwa pilot sibuk mengendalikan pesawat,” kata Andreas.

Seorang penyelidik KNKT lainnya, Nurcahyo Utomo menambahkan, mereka tidak mendengar suara tembakan atau ledakan. “Kami tidak mendengar suara apa pun dari orang selain pilot. imbuhnya. Berdasarkan itu, tim bisa mengeliminasi kemungkinan terorisme.

AirAsia QZ8501 sempat naik drastis ke ketinggian 37.000 kaki lalu rekaman CVR tak lagi dapat terdengar

Hasil investigasi sementara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan pesawat AirAsia QZ8501 sempat mencapai ketinggian 37.000 kaki dari posisi sebelumnya pada 32 ribu kaki. Ketinggian puncak tersebut dicapai dalam waktu 30 detik. Setelah mencapai ketinggian puncak, pesawat kemudian turun secara menukik sampai ketinggian 35 ribu kaki.

Setelah itu, rekaman pada black box berhenti sehingga tidak diketahui posisi terakhir pesawat. Atas hal ini, maka KNKT tidak dapat memastikan penyebab turunnya pesawat dan tidak dapat menyimpulkan kondisi yang terjadi pada saat itu. Tim KNKT mendapat dua data yang berbeda terkait posisi pesawat dari Air Traffic Controller (ATC) dan Flight Data Recorder (FDR). Data ATC hanya merekam posisi pesawat pada ketinggian 32 ribu kaki. Sedangkan  FDR, sudah mendekati permukaan air laut.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi telah menyelesaikan penyusunan preliminary report (laporan awal) kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Laporan tersebut telah dikirimkan kepada tujuh negara yang terkait, yaitu Perancis selaku negara pembuat pesawat, Amerika Serikat selaku pembuat black box, Indonesia selaku tempat beroperasinya pesawat, Malaysia selaku asal maskapai, Singapura selaku pengelola lalu lintas udara. Kemudian ada Inggris dan Australia yang membantu penyidikan.

Hasil Penelitian KNKT: Dugaan Kondisi Air Asia Qz8501 Sebelum Jatuh

Berikut dugaan-dugaan dari hasil penelitian KNKT melalui Blackbox FDR dan CVR dari pesawat Air Asia QZ8501:

1. Pilot AirAsia Diduga Matikan Sistem Komputer Sebelum Jatuh

Pilot AirAsia diduga mematikan komputer penting sebelum pesawat jatuh ke Laut Jawa. Sistem komputer yang dimatikan tersebut berfungsi mencegah pesawat kehilangan kendali. Seperti dikutip dari laman Sydney Morning Herald, Jumat 30 Januari 2015, ketika pesawat Airbus A320 Airbus itu naik tiba-tiba sehingga stall atau kehilangan daya angkat, dan mulai jatuh dengan bunyi alarm yang meraung-raung di kokpit.

Pilot berusaha menangani masalah seperti yang diperingatkan oleh sistem tentang komputer penerbangan, yang berfungsi mengontrol kemudi dan juga secara otomatis mencegah laju pesawat terlalu pelan. Setelah berbagai upaya mengatasi kondisi darurat itu, kru penerbangan itu mematikan seluruh sistim, yang menghubungkan dua komputer yang saling mendukung satu dengan yang lainnya.

Kapten Irianto telah memutus Flight Augmentation Computer (FAC) -pengontor kemudi otomatis di belakang kursi kopilot. Tindakan itu disebut sebagai langkah yang tidak lazim. Para penyelidik yakin bahwa FAC tidak berfungsi selama penerbangan, tapi bukannya menyetel ulang, Kapten Irianto diduga malah beranjak dari kursinya dan mematikannya dengan mencabut aliran listrik dengan menarik stop kontak yang berada di belakang kursi kopilot.

2. Pilot AirAsia Diduga Tinggalkan Kursi Sebelum Pesawat Jatuh

Kapten Irianto diduga meninggalkan kursi pilot saat AirAsia QZ 8501 kehilangan kendali sebelum jatuh ke Laut Jawa pada 28 Desember 2014. Sehingga pesawat nahas itu dikendalikan oleh Kopilot Remy Plesel yang kurang berpengalaman.

Kapten Irianto “meninggalkan tempat duduknya melakukan prosedur yang tidak lazim ketika Kopilot terlihat kehilangan kendali, dan saat dia [pilot] kembali sudah terlambat untuk menyelamatkan pesawat,” tutur penyelidik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sebagaimana dilansir Channel News Asia dari Reuters, Selasa 3 Februari 2015.

3. Kopilot Diyakini Pegang Kendali AirAsia Sebelum Jatuh

Kopilot Remi Emmanuel Plesel diyakini memegang kendali AirAsia QZ 8501 sebelum pesawat tersebut naik dengan kecepatan luar biasa. Informasi itu dimuat oleh sejumlah media luar negeri dengan mengutip sumber yang terlibat dalam penyelidikan kecelakaan 28 Desember silam.

Dikutip dari laman The Straits Times, Kamis 29 Januari 2015, para penyelidik tengah mencari, “faktor yang mengejutkan atau membingungkan kopilot –yang kurang berpengalaman daripada kapten– dan menyebabkan hidung Airbus A320 mengarah ke atas pada sudut luar biasa curam sementara sistim komputer pencegah stall pesawat itu tidak berfungsi atau terlepas.”

Menurut sumber tersebut, pesawat itu naik ketinggian dengan cepat, mengalami stall atau kehilangan daya angkat, dan kemudian jatuh di laut. Sumber itu mengatakan Kopilot Remi yang berkebangsaan Prancis itu melakukan manuver tersebut untuk menghindari badai yang menghadang. Turbulensi atau arus naik diduga berkontribusi terhadap naiknya pesawat itu secara dramatis, namun para peneliti tengah mempelajari instruksi pilot (Kapten Irianto) dan sistim kontrol komputer selama proses kenaikan dan penurunan berikutnya.

4. AirAsia Diterbangkan Kopilot, Jatuh dalam Waktu 3 Menit

Pesawat AirAsia QZ 8501 jatuh ke Laut Jawa hanya dalam waktu tiga menit. Para penyelidik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat itu tengah dikendalikan oleh Kopilot Remi Emmanuel Plesel yang berkebangsaan Prancis.

Sementara, laman CNN menuliskan, pesawat itu jatuh ke laut hanya dalam waktu tidak lebih dari 3 menit 20 detik. Peringatan stall –yang berbunyi nyaring, “stall, stall”– berlangsung saat pesawat mulai naik dengan curam, dan terus naik sampai akhirnya jatuh.

Bersambung…

(sumber: AP/ EPA/ REUTERS/ Xinhua/ dailymail/ tribunnews/ wikipedia/ berbagai sumber lainnya)

VIDEO:

[MAYDAY / AIR CRASH INVESTIGATION] AIR ASIA 8501: ANATOMY OF A CRASH (40 minutes):

VIDEO: Tribute to MH370 a.k.a. B777 9M-MRO (The Missing Plane) – Taking Off, Boarding, Landing, Taxiing

Artikel Terkait Lainnya:

“The Black Hand”, Dibalik Misteri Jatuhnya AirAsia Rute Surabaya-Singapura (Air Asia QZ-8501 PART-1)

Misteri Seputar Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-2)

Ini Dia, Beberapa Penyebab Jatuhnya Pesawat (Air Asia QZ-8501 PART-3)

TIMELINE: Persiapan, Pencarian, Penemuan, Pengangkatan Puing (Air Asia QZ-8501 PART-4)

Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Blackbox (Air Asia QZ-8501 PART-5)

blackhand behind AirAsia QZ8501penyebab jatuhnya Air Asia QZ8501 banner

Artikel Lainnya:

Hah! Pesawat Air Asia Thailand Berhantu?

Takkan Pernah Ditemukan: Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines Jurusan KL – Beijing

Misteri Ditembaknya Malaysian Airlines MH-17 di Udara Ukraina

7 Pesawat Komersil Yang Ditembak Jatuh Sejak 1955

Misteri Segitiga Masalembo, Segitiga Bermudanya Indonesia

[PHOTO] 8 Jenis Awan Yang Manakjubkan

Operasi Woyla 1981: Pembebasan Sandera Pembajakan Pesawat Garuda di Thailand

Eropa Heboh! Tahun 1935: Pesawat ‘Made In’ Bandung Mendarat Di Belanda!

Pesawat N-219 Buatan Indonesia, Sudah Kantongi 100 Pesanan

Pesawat R-80 Buatan Indonesia Yang Canggih Di Kelasnya, Sudah Kantongi 125 Pesanan

Kontroversi Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia

Hasil Investigasi Resmi Versi KNKT: Detik-detik Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100

[GALLERY & VIDEO ISTIMEWA] PENERBANGAN SUKHOI KE-2: Sebelum Jatuh di Gunung Salak

Misteri Gunung Salak Dan Beberapa Kecelakaan Pesawat

Depopulasi Dunia: Pesawat Semprot Zat Kimia Berupa “Chemtrails” di Angkasa

Inilah Penyebab Jatuhnya Lion Air di Bali

[BAHAS TUNTAS] Dibalik Layar: Fakta Nyata Tragedi WTC 9/11/ 2001 Telah di Rakayasa

Flashback: Dikala Kremlin Heboh, Pilot Bocah Tembus Udara Soviet Tahun 1987

Diduga Tabrak UFO: Hidung Pesawat Air China Penyok di Ketinggian 8 Km!

Pilot Airbus saksikan UFO di atas Heathrow Inggris

Pilot Russia dengar Bahasa Alien, lapor ke petugas Air Traffic Control

*****

http://wp.me/p1jIGd-61X

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Pos ini dipublikasikan di Misteri Indonesia dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Inilah Penemuan dan Hasil Penyelidikan Blackbox (Air Asia QZ-8501 PART-5)

  1. aldistra berkata:

    Apa FDR & CVR yg ditemukan tsb akan kembali diteliti di Indonesia, seperti saat kasus sukhoi superjet100 2012 silam ?

    Kira2 brp lama yaa waktu yg dibutuhkan untuk meneliti data pada FDR & CVR ?

  2. Domination 3 berkata:

    mari kita tunggu hasil rekam blackbox untuk menguak penyebab kecelakaan.
    lebih penting mana ya blackbox atau cvr?

    • adanistra berkata:

      CVR (Cockpit Voice Recorder) itu salah satu bagian dari blackbox, yg sebagian lagi nakanya FDR (Flight Data Recorder), coba agan tengok lagi tulisan artikelnya 🙂 . Baik CVR atau FDR, keduanya mempunyai fungsi yg sangat penting untuk mengetahui rekam jejak pesawat tersebut, dan semoga kedua bagian black box airasia QZ8501 yg sudah ditemukan ini bisa menguak misteri penyebab insiden yg menewaskan seluruh awak pesawat tsb .

      aamiin

  3. Ndoro Kalis berkata:

    Kalau menurut saya analogi balon tidak sesuai jika di kondisi permukaan.
    Semakin tinggi, tekanan udara luar semakin kecil oleh karena itu tekanan kabin akan dikompensasi (sedikit diturunkan) sehingga tidak ada berbeda jauh dengan tekanan udara udara luar tetapi masih ‘nyaman’ untuk manusia. Jadi logikanya tekanan kabin selalu lebih kecil atau sama dengan tekanan udara di permukaan laut.
    Kalau pesawat turun dengan cepat (jatuh), tekanan di dalam kabin lebih kecil dari tekanan udara luar (negative pressure), sehingga tekanan ke arah dalam bukan ke luar.
    Secara geometris cekungan luar daya tahannya lebih tinggi dari tekanan luar.

  4. Lonceng Gereja berkata:

    Apakah hasil rekam blackbox akan dipublikasikan? penasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s