Pacific Blue, Perusahaan Yang Beri Pinjaman Rp 57 M ke Anak Budi Gunawan Sudah Tutup

corruption-korupsi header

Pacific Blue, Perusahaan Yang Beri Pinjaman Rp.57 Milyar ke Anak Budi Gunawan Ternyata Sudah Tutup

rekening gendut calon kapolri budi gunawan

Penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka tindak pidana korupsi oleh KPK sehari sebelum pelaksanaan fit dan proper test di DPR memang cukup mengejutkan, akan tetapi hal ini pastinya sudah diprediksikan oleh beberapa orang pengamat mengenai sepak terjang mantan ajudan Megawati ini.

Karena seperti yang kita ketahui bersama penetapan Budi Gunawan sebagai calon tunggal pengganti Kapolri oleh presiden Joko Widodo, tidak melibatkan institusi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) seperti saat menetukan calon menteri di ‘Kabinet Kerja’ .

Penetapan Tersangka Tindak Pidana Korupsi

Bambang Widjojanto

Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK.

KPK akhirnya menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka. Kalemdikpol yang juga calon tunggal Kapolri itu dikenai pidana dugaan suap dan melanggar UU Korupsi.

Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, KPK sudah melakukan penyidikan sejak beberapa tahun lalu. KPK mendapatkan laporan dari masyarakat.

“Bahwa benar KPK tidak pernah dapatkan surat dari PPATK karena surat PPATK analisis sistem transaksi mencurigakan itu yang dikeluarkan‎ ‎23 Maret 2010 dan dikirimkan ke kepolisian RI,” jelas Bambang dalam jumpa pers di KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (13/1/2015) lalu.

Kronologi Pengusutan

Berikut kronologi pengusutan kasus dugaan korupsi Budi Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti dilansir dari detik.com:

• 23 Maret 2010, PPATK mengeluarkan surat transaksi mencurigakan dan dikirimkan ke Kepolisian RI. “KPK tak pernah mendapatkan surat dari PPATK,” jelas Bambang.

• 18 Juni 2010, Ada surat balasan dari Bareskrim terkait transaksi mencurigakan perwira tinggi atas nama Irjen Budi Gunawan. Dalam surat hasil penyelidikan itu, Irjen Budi dinyatakan clear.

• Juni-Agustus 2010, KPK mendapatkan laporan transaksi mencurigakan dari masyarakat. “Kami melakukan pengumpulan bahan dan keterangan,” jelas Bambang.

• 2012, Hasil kajian terkait laporan masyarakat itu dikaji kembali.

• Juli 2013, Ekspose pertama terkait transaksi mencurigakan Irjen Budi Gunawan (sebelum menjadi Komjen-red) dilakukan dan dipimpin Ketua KPK Abraham Samad. “Kami memperkaya dengan resume pemeriksaan LHKPN Juli 2013,” imbuh Bambang.

• Pertengahan 2014, KPK membuka penyelidikan terkait transaksi mencurigakan Irjen Budi Gunawan

• Januari 2015, KPK melakukan ekspose terakhir dan menemukan bukti Komjen Budi Gunawan melakukan transaksi mencurigakan. KPK menemukan alat bukti dan mendapat kesimpulan menetapkan Komjen Budi yang juga calon tunggal Kapolri menjadi tersangka.

Siapa yang membuat rekening Budi Gunawan jadi gendut?

Sebuah perusahaan yang berbasis di Selandia Baru, Pacific Blue International Limited, memberi pinjaman US$ 5,9 juta atau Rp 57 miliar (kurs tahun 2005) secara tunai kepada anak Komjen Budi Gunawan, Muhammad Herviano Widyatama. Pemberian dilakukan pada tahun 2005 saat Herviano masih berusia 19 tahun. Bagaimana nasib perusahaan kreditur itu kini?

Saat ditelusuri di situs opencorporates.com, Rabu (14/1/2015), terlihat catatan soal perusahaan tersebut. Pacific Blue terdaftar dengan nomor 967210 di Selandia Baru. Didirikan pada 29 Juni 1999 lalu ditutup pada tanggal 25 Februari 2013.

Statusnya di situs tersebut adalah ‘struck off’. Artinya secara sederhana adalah tidak terdaftar lagi. Lagi pula websitenya juga sudah dicabut. Tadinya, definisi lengkapnya soal status perusahan bisa dilihat di sini.

Budi Gunawan pacific blue intl ltd

Perusahaan itu terdaftar di alamat: Level 2, The Public Trust Building, 442 Moray Place, Dunedin 9016, Selandia Baru. Sebelumnya, Pacific Blue terdaftar atas nama KARIN FORESTS LIMITED (2000-10-12).

Sementara direkturnya yang terdaftar adalah: (inactive) Nicolaas Jan Carel FRANCKEN, director, 30 Nov 2003 dan (inactive) David KOH, director, 10 May 2010.

Dalam surat Bareskrim Polri bernomor B/1538/VI/2010/ kepada PPATK yang disebar di DPR dan dikutip detikcom, perusahaan tersebut memberikan kredit kepada Herviano Widyatama (29) sebesar US$ 5.900.000 atau Rp 57 miliar. Akad perjanjian kredit dilakukan pada 6 Juli 2005 saat Herviano masih berusia 19 tahun.

Kepada penyidik Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri, pada 10 Juni 2010 lalu Herviano mengatakan bahwa proses pinjaman dilakukan secara tunai dalam bentuk mata uang rupiah. Saat itu Herviano diperiksa penyidik terkait dugaan kasus ‘rekening gendut’ yang menyebut nama sang ayah, Budi Gunawan

“Bahwa dana pinjaman dari Pacific Blue International Limited (PBIL) prosesnya dilakukan dengan cara diserahkan secara tunai dalam bentuk rupiah oleh pihak PBIL kepada Muhammad Herviano Widyatama di Indonesia,” demikian bunyi surat tersebut.

Setelah uang diterima secara tunai, Herviano kemudian meminta Iie Tiara yang juga salah seorang staf Budi Gunawan untuk menyetor secara tunai ke rekening BCA. Dalam surat Bareskrim itu tak disebutkan hari dan tanggal Iie menyetorkan uang ke rekening Budi Gunawan yang kala itu berpangkat brigjen. Besarnya uang yang disetor ke rekening Budi juga tidak disebutkan.

Kepada penyidik Bareskrim Polri, Budi Gunawan yang saat itu sudah berpangkat irjen mengaku memiliki rekening BCA dengan nomor 5520225520. Rekening itu dibuka pada 2 Agustus 2005 atau satu bulan setelah akad kredit anaknya Pacific Blue International Limited (PBIL) ditandatangani.

“Hasil penyelidikan (Bareskrim) tidak terdapat transaksi mencurigakan. Transaksi itu legal dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,” kata Komjen Budi saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI. Budi pun mengaku bahwa semua harta kekayaanya diperoleh secara sah dan bisa dipertanggungjawabkan.

Cerita Anak Komjen Budi Gunawan yang Dapat Pinjaman Rp 57 Miliar

Komisaris Jenderal Budi Gunawan mengatakan transaksi keuangan dalam jumlah besar di rekening pribadinya terkait dengan bisnis anaknya, Muhammad Herviano Widyatama (kini 29 tahun). Traksaksi itu terjadi pada 6 Juli 2005 saat Herviano berusia 19 tahun. Bagaimana ‘kisah’ Herviano anak Budi Gunawan bisa mendapatkan pinjaman sebesar Rp 57 miliar?

Kepada penyidik Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri pada 10 Juni 2010 lalu Herviano menjelaskan asal muasal mendapat pinjaman sebesar Rp 57 miliar itu.

Semua bermula pada pertengahan 2005 saat Herviano berencana menjalankan bisnis di bidang pertambangan dan perhotelan, namun memiliki dana yang terbatas. Dia kemudian menyampaikan niat dan hambatan bisnis tersebut kepada sang ayah, Budi Gunawan yang saat itu masih berpangkat brigadir jenderal. Komjen Budi pun berjanji akan membantu dengan mengenalkan Herviano pada rekannya.

“Bahwa dari hasil pembicaraan dengan orang tuanya, yakni Irjen Pol Drs. Budi Gunawan, selanjutnya Muhammad Herviano Widyatama dikenalkan dengan rekan orang tuanya yaitu Lo Stefanus dan Robert Priantono Bonosusatya guna memperoleh pinjaman dana,” bunyi surat Bareskrim Polri bernomor B/1538/VI/2010/ yang dikutip detikcom, Rabu (14/1/2015).

Robert Priantono kemudian mengenalkan Herviano kepada David Koh, kuasa direksi dari Pacific Blue International Limited yang berjanji akan memberikan pinjaman. Pada tanggal 6 Juli 2005 dilaksanakan perjanjian kredit antara Herviano dengan Pacific Blue International Limited. Herviano yang saat itu berusia 19 tahun mendapatkan kredit sebesar USD 5.900.000 atau setara dengan Rp 57 miliar.

Mengingat dana yang begitu besar, Komjen Budi Gunawan kemudian menyarankan agar sebagian dari dana tersebut ditransfer ke rekening pribadinya.

Di hadapan Komisi III DPR RI, Komjen Budi Gunawan mengatakan bahwa semua transaksi itu tidak ada yang melanggar hukum. Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri juga sudah menyatakan tak ada yang janggal dalam transaksi tersebut.

“Hasil penyelidikan (Bareskrim) tidak terdapat transaksi mencurigakan. Transaksi itu legal dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,” kata dia saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Jakarta, Rabu (14/1/2015).

Budi Gunawan ditudsuh telah melakukan transaksi dalam jumlah besar, tak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar. “Berita itu sama sekali tidak benar,” kata Budi Gunawan, 25 Juni 2010.

Profile Budi Gunawan

Komjen Pol. Drs. Budi Gunawan, S.H., MSi., Ph.D. lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 11 Desember 1959; umur 56 tahun (pada 2015), adalah tokoh kepolisian Indonesia. Saat ini ia menjabat sebagai Kalemdikpol yang aktif sejak Desember 2012. Dia didapuk sebagai orang nomor satu di Lemdikpol menggantikan Komjen Pol Drs. Oegroseno yg sekarang dipromosikan menjadi Wakapolri.

Budi Gunawan merupakan salah satu perwira intelektual terbaik dan brilian yang dimiliki Polri saat ini. Oleh sebab itu kariernya mulus karena selalu berkesempatan menduduki sejumlah jabatan penting di Polri. Pada saat berpangkat Komisaris Besar (Kombes) ia pernah menjabat sebagai Ajudan Presiden RI di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c4/Komjen_Pol_Budi_Gunawan.jpg

Budi Gunawan

Setelah itu ia kemudian sempat tercatat sebagai jenderal termuda di Polri saat dipromosikan naik pangkat bintang satu atau Brigadir Jenderal (Brigjen) dengan jabatan sebagai Kepala Biro Pembinaan Karyawan (Binkar) Mabes Polri, kemudian menjabat Kepala Selapa Polri, lembaga yang menginduk pada Lemdikpol selama 2 tahun.

Kemudian ia dipromosikan menjadi Kapolda Jambi yg merupakan Polda tipe B, tak lama kemudian ia dipromosikan naik pangkat bintang dua atau Inspektur Jenderal (Irjen) dengan jabatan sebagai Kepala Divisi Pembinaan Hukum (Kadiv BinKum)

Kemudian ia sempat mutasi dengan jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) lalu dipromosikan menjabat di kewilayahan sebagai Kapolda Bali yang merupakan Polda tipe A.

Dan akhirnya tak lama kemudian tanda pangkat bintang tiga pun disematkan di pundaknya ketika ia akhirnya meraih pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) ketika dipromosikan dengan jabatan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol), lembaga yang membawahi lembaga-lembaga pendidikan seperti Akademi Kepolisian (Akpol), Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (SESPIM), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), dan lainnya. Berikut riwayat jabatan Budi Gunawan:

  1. Ajudan Presiden RI Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
  2. Karobinkar SSDM Polri (2004-2006)
  3. Kaselapa Lemdiklat Polri (2006-2008)
  4. Kapolda Jambi (2008-2009)
  5. Kadiv Binkum Polri (2009-2010)
  6. Kadiv Propam Polri (2010-2012)
  7. Kapolda Bali (2012)
  8. Kalemdiklat Polri (2012-Sekarang)
jokowi jokowidodo 01

Joko Widodo.

Pemerintahan Jokowi telah menunjuknya sebagai satu-satunya calon Kapolri. Sebelum secara tiba-tiba KPK mengumumkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka 3 hari kemudian.

Budi menjadi tersangka dalam kapasitasnya sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier Polri dan jabatan lainnya di kepolisian. KPK menjerat Budi dengan Pasal 12 a atau b, Pasal 5 ayat 2, Pasal 11, atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Presiden Joko Widodo tidak pernah mengira KPK akan menetapkan Budi sebagai tersangka. Jokowi menilai kasus yang melibatkan Budi telah selesai melalui klarifikasi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan pada 2010. Jokowi juga tak melihat tanda bahwa kasus rekening gendut Budi Gunawan akan berlanjut ke jalur hukum.

KPK menetapkan calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Budi Gunawan, sebagai tersangka kasus transaksi mencurigakan. Penetapan status itu didasarkan pada gelar perkara 12 Januari 2015, setelah ditemukannya dua alat bukti. Namun presiden menghormati keputusan dan kerja KPK sebagai lembaga independen dan profesional.

Presiden Joko Widodo langsung menggelar rapat mendadak pada Selasa malam, 13 Januari 2015, untuk merespons penetapan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Pengumuman ini cukup membuat ramai kancah politik negara.

Budi Gunawan Pakai KTP Palsu?

Komisaris Jenderal Budi Gunawan diduga menggunakan kartu tanda penduduk palsu untuk membuka rekening. Rekening tersebut diduga dipakai untuk aliran dana suap mutasi jabatan dan perlindungan pelaku kriminal.

Berdasarkan penelusuran majalah Tempo edisi 25 Januari 2015, Budi menggunakan KTP dengan nama Gunawan untuk membuka rekening di BCA dan BNI Warung Buncit pada 5 September 2008. Dalam KTP tersebut, tercatat alamat Jalan Duren Tiga Selatan VII Nomor 17A, RT 10 RW 02, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Meski tak mencantumkan pekerjaannya, “Gunawan” menyetor masing-masing Rp 5 miliar ke dua rekening baru itu. Asal dana berasal dari “Gunawan” yang lain: Budi Gunawan–ketika itu menjabat Kepala Kepolisian Daerah Jambi berpangkat brigadir jenderal. Yang membuat penyelidik tersenyum, menurut seorang aparat penegak hukum, “Foto ‘Gunawan’ di kartu tanda penduduk adalah foto Budi Gunawan.”

Komisi Pemberantasan Korupsi mencurigai aneka transaksi itu merupakan bagian dari suap dan gratifikasi kepada Budi Gunawan. Budi Gunawan pun ditetapkan sebagai tersangka pada 13 Januari 2015, kurang dari sepekan setelah diajukan Presiden Joko Widodo menjadi calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Hampir lima tahun lalu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menyerahkan temuan transaksi mencurigakan ini ke Mabes Polri. Dengan gaji resmi sekitar Rp 7 juta, Budi diduga menerima miliaran rupiah di rekeningnya pada periode yang cukup lama. Apalagi dia menutup rekeningnya tak lama setelah dana dipindahkan.

Tempo menelusuri kembali alamat “Gunawan” yang dipakai untuk membuka rekening. Alamat itu merujuk ke rumah kontrakan yang disewakan Rp 2,2 juta per bulan. Jika disewa per malam, tarifnya Rp 400 ribu. Pada 2008, polisi anggota staf pribadi Budi Gunawan yang banyak terlibat dalam transaksi bosnya tersebut tinggal di tempat itu. ”Dia pindah tiga tahun lalu,” kata Rizal Fahlefi, penjaga kontrakan.

Penduduk yang tinggal di sekitarnya mafhum belaka pemilik Wisma Lestari yang terdiri atas 20 kamar itu adalah Budi Gunawan, terakhir menjabat Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan Polri berpangkat komisaris jenderal. Menurut Rizal, sejak staf pribadi Budi Gunawan tak lagi tinggal di sana, banyak petugas bank datang mencarinya.

Saat uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat pada 14 Januari 2015, Budi Gunawan mengatakan sudah transparan melaporkan harta dan cara memperolehnya. Budi Gunawan mengutip laporan penyelidikan Badan Reserse Kriminal Polri, yang menyatakan transaksi di rekening-rekeningnya wajar dan legal. “Tak ada yang ditutupi atau direkayasa,” kata Budi Gunawan. Soal KTP “Gunawan” palsu ini, Budi belum berhasil dimintai komentar.

(sumber: okezone/ tempo.co 1 , 2, 3 / detik.com 1 , 2, 3 / tribunnews/ cahayareformasi/ merdeka.com 1 , 2 , 3 , 4 / ecologyasia.com / wikipedia)

Artikel Lanjutan:

Lika-Liku Detoksifikasi di Tubuh KPK dan POLRI

Artikel Lainnya:

WikiLeaks Australia: SBY dan Megawati Terlibat Korupsi Pencetakan Uang Kertas Indonesia

Beginilah Cara “Bagi Tugas” 15 Anggota DPR Saat Korupsi Hambalang Rp 2,5 Trilyun!

Gila, e-KTP Sudah Tak Aman? Seluruh Data Penduduk Indonesia “Diberikan” ke Pihak Asing

[Perang Antar Panglima] Tragedi 1998: Gerakan “Pasukan Liar”, Oleh Prabowo atau Wiranto?

Mantan Kakostrad Kivlan Zen Mengaku Tahu Dimana Aktivis 1998 Dibantai

Konspirasi Hukum: Perebutan Kembali TPI Dari Hari Tanoe ke Mbak Tutut

Kontroversi Menkes Endang Rahayu, NAMRU dan Bisnis AS di Indonesia

Konspirasi JF. Kennedy, Sukarno, Suharto, CIA dan Freeport

Ketika Suharto Dipecat Tidak Hormat Oleh Jenderal Nasution

Rezim Orde Baru: Ketika Indonesia Menjadi Kapitalis

[KEKAYAAN SUHARTO] Cakupan, Dampak & Tanggungjawabnya Terhadap Rakyat

Surat Terbuka Istri Soekarno kepada Soeharto

Untuk Dana Kampanye: Gila! Dana Bantuan Sosial Rp.411 Triliun Hilang?

[+17 thn] Caleg 2014: 90% Muka Lama, 10% “Muka Gila”!

Catatan Pendiri PAN, Abdillah Toha: Menjual Agama, Memalukan dan Ilusi Pendukung

Nazaruddin: “Setya Novanto Ancam Bunuh Saya”, Kini Ketua DPR 2014 Itu Dibidik KPK

Perang Media Jelang Pemilu 2014: Petinggi Redaksi “Bedol Mundur Jabatan”

8 Kasus Pembunuhan Paling Misterius & Belum Terkuak Di Indonesia

Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara

Pengaruh C.I.A. Di Indonesia

*****

http://wp.me/p1jIGd-63b

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

“… will blow up your mind…”

Pos ini dipublikasikan di Konspirasi Indonesia. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pacific Blue, Perusahaan Yang Beri Pinjaman Rp 57 M ke Anak Budi Gunawan Sudah Tutup

  1. adanistra berkata:

    Pertamax (y) sippp maknyus artikelnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s