10 Misteri Cahaya Aneh Dari Langit

 fenomena alami natural phenomenon

Wow! Ini Dia, Misteri 10 Cahaya Aneh Dari Langit!

Misteri 10 Cahaya Aneh Dari Langit header

Sejak ribuan tahun lalu, pengetahuan yang diketahui oleh peradaban manusia masih sangat sedikit, bahkan hingga kini. Pada masa lampau, manusia masih tak mengerti mengapa ada air yang kini kita sebut sebagai hujan, bisa jatuh ke bumi dengan begitu derasnya, juga terbuat dari apa petir, mengapa bisa tercipta. Mengapa ada tornado, dan apa yang membuatnya bisa tercipta seperti itu, dan banyak lainnya.

Mereka juga belum mengetahui, mengapa ada gerhana. Benda apa yang “menelan” bulan dan matahari secara sementara itu. Juga pelangi, bisa terlihat berwarna-warni, apa yang membentuknya, dan mengapa pelangi yang terlihat indah bisa terbentuk.

Pada masa itu pula, gejala alam bisa saja dikaitkan dengan hal mistik dan klenik, karena pada waktu itu mereka belum mengetahui apa penyebabnya. Hal inilah yang kemudian membuat mereka mengaitkan dengan hal-hal yang gaib. Seperti misalnya pelangi tercipta sebagai”jembatan” turun, karena ada peri-peri dari langit yang ingin turun ke bumi hanya untuk sekedar mandi. Fenomena alam memang belum semuanya dapat dijelaskan pada masa itu.

Namun fenomena alamiah tak hanya itu saja karena ada juga beberapa fenomena alamiah lainnya yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan terkini. Berikut diantaranya:

1. Api Santo Elmo (Saint Elmo’s Fire)

Para pelaut di samudera luas terkadang melihat adanya cahaya kebiru-biruan yang kelihatannya melesat seperti percikan kilat kecil dari ujung tiang kapal pada malam hari. Cahaya itu tidak panas dan tidak akan membakar apa pun yang ada di kapal. Secara mitos, para pelaut biasanya akan menganggapnya sebagai pertanda baik dan menyebutnya sebagai api Santo Elmo atau St Elmo’s Fire.

Ilmuwan dan ahli atmosfer Steve Ackerman di Universitas Wisconsin-Madison Amerika Serikat memang sudah terpesona oleh api Santo Elmo sejak kakak lelakinya melihat fenomena itu. Kala itu, kakak lelaki Ackerman tengah mengerjakan pipa tembaga di ruang bawah tanah ketika cuaca sedang buruk.

“Hujan badai melanda area itu, dan pada satu ketika ada cahaya biru yang keluar di pipa-pipa itu,” kata Ackerman. “Sejak itulah saya mulai mencari apa penyebabnya,” jelas Ackerman. Awan petir menciptakan medan listrik yang sangat kuat karena ada perbedaan besar antara muatan listrik yang berada di awan dan yang berada di darat, yang kadang-kadang bisa kita rasakan sebagai listrik statis.

Medan listrik ini dapat menjadi makin intensif dengan adanya benda runcing, seperti pipa besi atau tiang kapal. Jika medan listrik ini menjadi cukup kuat, maka medan listrik ini dapat memecahkan molekul udara menjadi partikel-partikel bermuatan listrik, membuat gas menjadi “plasma” dan mengeluarkan cahaya berkilau.

Kilauan plasma yang sama dapat dibuat di laboratorium dengan menggunakan benda tajam atau runcing untuk mengintensifkan medan listrik. Meskipun demikian, Ackerman masih ingin melihat api Santo Elmo yang muncul secara alamiah.

“Saya masih belum melihatnya dengan mata sendiri, saya masih akan mencarinya,” Ujarnya. Memang demikian adanya karena fenomena St Elmo’s Fire sangat tergantung dari situasi dan kondisi dan tek sesering fenomena petir. Fenomena ini kadang malah lebih sering terjadi di ruang cockpit ketika pesawat sedang terbang. (lihat video).

Api Santo Elmo (Saint Elmo's Fire) terlihat di cockpit pesawat.

Api Santo Elmo (Saint Elmo’s Fire) terlihat di cockpit pesawat.


2. Will-o’-the-wisp

Seperti halnya api Santo Elmo, Will-o’-the-wisp merupakan cahaya remang-remang yang keberadaannya sudah dilaporkan sejak berabad-abad lalu. Tetapi tidak seperti api Santo Elmo, dalam waktu belakangan ini semakin sedikit orang yang melaporkan melihatnya. Itu artinya bahwa fenomena alam ini lebih langka dibanding fenomena Santo Elmo yang juga langka.

Seperti yang mungkin Anda sudah duga dari fenomena dengan namanya sulit dieja, yang berarti sesuatu hal yang sukar dipahami ini, Will-o’-the-wisp artinya adalah “Cetusan Api” berbentuk bola cahaya, kadang berkedip atau konstan yang biasanya berwarna biru pucat (pale blue) dan berada dekat dengan tanah.

Fenomena ini lebih sering terjadi di daerah rawa-rawa yang berada jauh dari keramaian manusia. Cahaya ini biasanya menghilang setelah beberapa menit. Luigi Garlaschelli dari Universitas Pavia di Italia berusaha dengan beberapa cara di laboratorium, untuk dapat mempelajari will-o’-the-wisp yang ada di alam.

“Risikonya adalah bahwa kita mencari sesuatu yang jarang ada. Kita harus mempercayai atau berharap bahwa semua will-o’-the wisps yang dilihat memang merupakan fenomena yang nyata,” kata Garlaschelli.

Jika will-o’-the-wisp memang merupakan proses alamiah, maka ada sejumlah penjelasan yang dapat diuji oleh Garlaschelli, yaitu hubungan penampakannya dengan daerah rawa mengisyaratkan bahwa cahaya itu berasal dari gas rawa-rawa yang pada dasarnya merupakan metana yang mudah terbakar. Tetapi tidaklah jelas apa yang membakar gas tersebut.

Alternatifnya, bisa saja laporan-laporan itu bersifat fiktif, bahwa cahaya itu hanya merupakan imajinasi atau halusinasi, atau cahaya itu merupakan refleksi bulan atau cahaya lain yang disalah-interpretasikan oleh pengamatnya. Memang dari penampakannya, fenomena ini mirip “fatamorgana” yang terjadi akibat dari pantulan cahaya di sekitarnya, padahal tidak, proses ini adalah fenomena alamiah. (lihat video).

Fenomena "will-o'-the-wisp".

Fenomena “will-o’-the-wisp” yang terlihat di daerah padang berumput.


3. Cahaya Gempa Bumi (Earthquake Lights)

Menurut seorang ahli dari SETI Institute milik NASA di Mountain View, California, Amerika Serikat yang bernama Friedemann Freund  mengatakan bahwa, “Anda bisa saja berdiri disana, di tengah-tengah bola cahaya. Mungkin rambut Anda terkena listrik, mungkin Anda memiliki haloo seperti orang suci. Tetapi cahaya itu tidak membakar apa pun. Anda mungkin merasa sedikit ganjil, tetapi Anda tidak akan celaka,” ujar Friedemann Freund.

“Seperti itulah rasanya berada di tengah-tengah Cahaya Gempa Bumi atau Earthquake Lights. Cahaya-cahaya ini merupakan lepasan plasma yang terjadi ketika sejenis batu tertentu yang berada dalam tekanan dan membentuk muatan listrik,” kata Freund.

“Kami berpikir ketika batu bergerak atau bergetar begitu cepat karena gampa, maka muatan itu dikeluarkan melalui lepasan plasma dari batu. Cahaya itu bisa keluar dalam berbagai bentuk, wujud dan warna,” jelas Freund.

Cahaya Gempa Bumi Koseismik, yang terjadi pada saat gempa bumi merupakan ledakan cahaya yang keluar dari tanah pada sebuah bidang tanah dengan area sebesar beberapa kilometer. Cahaya ini naik sampai ketinggian 200-300 meter menuju langit malam dalam waktu sepersekian detik saja, mirip lampu blitz pada kamera. Dalam beberapa tahun belakangan ini, dengan melimpah ruahnya kamera keamanan, didapatkanlah video-video indah dari Cahaya Gempa Bumi.

“Sejumlah rekaman terbaik ada di Peru. Seorang teman di universitas setempat mendapatkan video gempa bumi berkekuatan delapan skala Richter mengguncang selatan kota Lima. Gelombang guncangan berlomba menerjang, dan ketika gelombang berikutnya datang, ada ledakan,” kata Freund. (lihat video)

Cahaya Gempa Bumi (Earthquake Light) Lima Peru

Cahaya Gempa Bumi (Earthquake Light) terlihat pada latarbelakang saat terjadi gempa di kota Lima, Peru


4. Bola Bercahaya (Light Balls / Ball Lightning)

Bola Bercahaya, Bola Petir atau Petir Bola yang dalam bahasa Inggris dinamakan sebagai fenomena Light Ball’s atau Ball Lightning, walau sering kali dianggap sebagai mitos saja, namun fenomena alamiah ini ternyata memang benar-benar ada.

Pada tahun 2012, sebuah tim peneliti tengah meneliti petir di wilayah yang sering dilanda badai di dataran tinggi Qinghai di Cina. Tiba-tiba saja bola dari petir yang besarnya sekitar lima meter muncul di hadapan mereka. Bola itu memancarkan sinar putih lalu berubah merah sebelum akhirnya menghilang. Hal ini merupakan pertama kalinya Bola Bercahaya mulai dipelajari.

Para peneliti mencatat spektrum cahaya yang dikeluarkan bola itu dan kemudian menganalisisnya untuk mengetahui terbuat dari apakah “petir” istimewa itu. Ternyata petir itu berasal dari permukaan tanah atau dari bumi. Ketika ada sambaran petir dari awan ke permukaan tanah atau ke daratan, sambaran itu dapat menguapkan sejumlah mineral tertentu dari dalam tanah. Sejumlah mineral ini mengandung senyawa silikon, dan dalam kondisi yang ekstrem, kemudian mengalami reaksi kimia sehingga membentuk filamen silicon.

Atau biasanya udara disekitarnya dalam keadaan lembab, lalu ion-ion bermuatan yang ada di udara menjadi lebih banyak, pekat dan responsif untuk mengikat ion bermuatan lainnya yang ada dipermukaan tanah dan kemudian “filamen” ini dapat menyala sebagai layaknya plasma.

Filamen ini sangat bersifat reaktif, dan akan terbakar dengan adanya oksigen di udara sehingga menciptakan pijaran yang biasanya berwarna oranye atau warna lainnya. Fenomena ini masih diteliti oleh banyak saintis terutama di daerah Hessdalen Norwegia karena fenomena ini sering terjadi di sana. Fenomena inilah yang paling sering dilaporkan masyarakat luas sebagai Unidentified Flying Object atau UFO, bahkan jin. Padahal fenomena ini adalah fenomena alamiah (lihat video).

Bola Bercahaya atau Light Balls atau Balls of Light

Dua buah Bola Bercahaya atau Light Balls atau Balls of Light tampak yang sedang melayang di udara dengan cahayanya yang terang, dan satu lainnya baru terbentuk di dekat permukaan tanah dengan cahayanya yang masih redup, terlihat di daerah Hessdalen Norwegia.


5. Cahaya Hijau (Green Light)

Green Light (Cahaya Hijau) atau Green Flash (Kilatan Hijau) biasanya terlihat sesaat setelah matahari tenggelam dan fenomena kilatan ini terjadi hanya sekitar satu detik hingga tiga detik saja.

Cahayanya dapat berubah menjadi hijau terang. Tetapi bukan berarti matahari berubah warnanya, karena kilatan ini sebenarnya disebabkan oleh fatamorgana. Ketika matahari terbenam, atmosfer memecah sinar putih matahari menjadi berbagai warna berbeda, seperti spektrum cahaya pada prisma.

green flash 001Namun pada fenomena alam ini, warna spektrumnya lebih berlekuk yang menyebabkan lebih banyak warna merah daripada warna jingga, dan warna jingga lebih banyak daripada warna kuning, dan seterusnya.

Seperti diketahui bahwa urutan warna berdasarkan spektrum menurut panjang gelombang adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, indigo dan ungu. Karena warna merah paling banyak akibat mengalami efek lekukan itu, maka warna ini masuk ke dalam ufuk horizon terlebih dahulu, disusul oleh jingga, kuning dan hijau.

Setelah warna merah, jingga dan kuning masuk ke dalam horizon, maka sisa warna yang masih dapat dilihat mata yaitu hijau, biru, indigo dan ungu, disebarkan dengan kuat oleh bantuan gas yang ada di atmosfer. Maka itulah sebabnya langit terlihat berwarna dominan hijau lalu biru.

green flash 002Namun, sebagai akibat oleh warna langit yang biru, maka cahaya berwarna terakhir yang dapat terlihat saat matahari jatuh ke bawah horizon bukanlah biru, melainkan tetap berwarna hijau.

Biasanya efek ini terjadi sangat singkat, karena untuk membuat sinar hijau terakhir itu dapat terlihat mata, harus ada juga fatamorgana yang dapat membuat efek matahari tampak lebih besar daripada biasanya.

Ada juga fatamorgana yang dapat membuat matahari seolah-olah bergerak dalam gelombang berkilau dan hampir tampak adanya mirip cairan bergaris atau bergelombang, saat melewati garis horizon. Garis horizon di lautan sering kali memproduksi fatamorgana terbaik untuk dapat melihat kilatan hijau ini.

green_flash - green light

Cahaya Hijau (Green Light) tampak pada saat matahari tenggelam di ufuk langit dengan kondisi berawan yang memantulkan cahaya hijau. Efek ini hanya terjadi sesaat.


6. Sambaran Petir Keatas (Upward Lightning)

Dengan meletakkan kamera di atas Gedung Empire State di New York, AS, pada tahun 1935, Karl McEachron dari General Electric Company berhasil merekam sesuatu yang aneh. Fenomena itu adalah kilatan petir yang menyambar bukan dari awan ke arah bawah, tapi melompat keatas, dari gedung-gedung ke awan badai diatasnya.

Para ahli meteorologi kini mengetahui bahwa sekitar satu dari seribu petir memang menyambar ke atas. Tetapi meskipun dilakukan riset selama beberapa puluh tahun, mekanisme pasti yang menyebabkan hal ini, masih merupakan tanda tanya.

Fotografer khusus badai Tom Warner kini melakukan penelitian bagaimana terjadinya petir yang menyambar ke atas, di South Dakota School of Mines and Technology di Rapid City, AS. Ia dan para peneliti lainnya sudah menunjukkan bahwa ada dua bentuk berbeda dari petir yang menyambar ke atas. Keduanya memerlukan struktur yang tinggi seperti gedung pencakar langit atau turbin angin untuk memungkinkan hal ini terjadi.

Jenis yang pertama, memerlukan adanya sambaran petir terlebih dahulu dari awan ke tanah di daerah sekitarnya. Maka terjadi gangguan yang tiba-tiba atas medan listrik dan menyebabkan apa yang disebut sebagai “lightning leader”, atau saluran muatan positif atau negatif, untuk dapat naik ke arah awan badai dengan muatan yang berlawanan.

Jenis yang kedua, tidak memerlukan sambaran petir terlebih dahulu di daerah sekitarnya, dan dapat menyambar ke atas secara spontan.

Warner telah mempelajari dan memotret peristiwa langka ini sejak ia terpesona pada kilatan petir ke atas pada tahun 2004 lalu. Bahkan untuk mendapatkan data dan fotonya, ia telah mengemudikan pesawat lapis baja ke tengah-tengah badai.

“Bisa mendekati badai dari jarak dekat dan bahkan dari dalamnya sangatlah menakjubkan. Hal itu sangat menantang dan memerlukan konsentrasi yang intens. Setiap kali saya terbang melalui hujan badai, saya kembali menyatakan bahwa itu bukanlah tempat untuk pesawat terbang,” ujar Warner (lihat video).

Petir Keatas (Upward Lightning)

Petir Keatas (Upward Lightning)


7. Pijaran Cahaya Peri (Sprite)

Fenomena kilatan cahaya yang disebut Sprite berada jauh tinggi diatas semua awan, diantara awan tertinggi dan ionosfir, berupa kilatan cahaya kemerahan yang membentang vertikal. Terbentuknya fenomena ini biasanya saat terjadi badai dibawahnya, namun terkadang juga dapat terbentuk pada saat langit justru bersih tanpa awan.

Bentuknya mirip ubur-ubur berikut uraian sulur tentakelnya atau terkadang abstrak seperti seorang peri dengan sayapnya, oleh karena itu fenomane ini diberi nama Pijaran Cahaya Peri atau Pijaran  Peri Bercahaya atau Pijaran Bidadari atau dalam bahasa Inggrisnya Sprite.

“Pijaran cahaya ini sangat intens. Badai harus menghasilkan kilatan khusus, dan ini sangat langka. Mungkin hanya satu dari ribuan kilatan yang menghasilkan Sprite,” kata Martin Fullekrug dari Universitas Bath di Inggris.

Kilatan-kilatan ini perlu untuk menghapus banyak elektron dari awan petir dan membuatnya menjadi stabil. Arus perlahan dan panjang diperlukan untuk menghasilkan pijaran cahaya Sprite, dan arus seperti itu dapat terbentuk dalam sistem badai besar yang mencapai luas 100 kilometer.

Sulitnya memahami kilatan cahaya merah ini membuat fenomena tersebut mendapatkan nama makhluk halus (Sprite secara harfiah berarti Peri) yang diambil dari karya Shakespeare: A Midsummer Night’s Dream.

Namun dengan teknologi kamera yang cukup baik, pijaran cahaya peri makin sering tertangkap lensa kamera. Kamera CCTV biasa pun asal memiliki kemampuan merekam di malam hari (night vision) dengan baik dapat memotret gambar walau berkualitas rendah. Para pengamat meteor amatir juga mengumpulkan banyak data mengenai pijaran cahaya Sprite.

“Anda bisa mendapatkan gambar pijaran cahaya Sprite berkualitas rendah hanya dengan menggunakan kamera yang harganya beberapa ratus poundsterling saja. Dengan sedikit bimbingan, siapa pun dapat melakukannya,” kata Fullekrug. (lihat video).

Sprite Lightning

Tampak kilatan cahaya Sprite Lightning diatas awan, dan pada saat di zoomed.


8. E.L.V.E.S.

Istilah ELVES merupakan akronim ganjil yang dipilih untuk melengkapi ‘saudaranya’ si cahaya pijar Sprite. ELVES merupakan singkatan dari “Emissions of Light and Very low frequency perturbations due to Electromagnetic pulse Sources” (emisi cahaya dan gangguan berfrekuensi sangat rendah akibat sumber-sumber pulsa elektromagnetik).

“Tetapi ini merupakan hal yang ‘jarang dapat diuraikan ilmuwan kepada Anda'”, kata Martin Fullekrug dari Universitas Bath di Inggris. Muncul pada ketinggian sekitar 80-100 kilometer dari atas permukaan tanah, ELVES terlihat berbeda dari Pijaran Peri Bercahaya atau Sprite.

“ELVES merupakan lingkaran cahaya. Kelihatannya seperti kue donat dari angkasa, dengan lubang hitam di tengah-tengahnya dan cahaya ini terbentang sekitar 1.000 kilometeran,” ujar Fullekrug.

ELVES berlangsung sekejap, hanya kurang dari satu milidetik. Kondisi saat hujan badai dengan kenaikan arus yang sangat tinggi diperlukan untuk melahirkan ELVES, yang termasuk jenis kilat khusus atau spesial ini.

Tidak seperti pijaran cahaya Sprite, untuk melahirkan ELVES, pelepasan arus harus sangat tajam, sehingga kedua hal ini jarang sekali terjadi pada satu saat yang bersamaan. ELVES terjadi lebih sering daripada cahaya Sprite, perbandingannya adalah sekitar 1 dari 100 kilatan petir memproduksi satu ELVES.

Badai kecil dan besar memiliki kemungkinan yang sama untuk menghasilkan ELVES, karena arus yang sangat cepat bisa terjadi dalam badai apa pun. Bahkan di cuaca yang tak hujan pun kadang terjadi kilatan Elves. Warna kilatan ELVES sepertilampu blitz kamera dan warna utamanya biasanya putih karena begitu intens.

“Kilatan cahaya ini sangat-sangat cepat, sangat sulit melihat ELVES dengan mata telanjang. Saya sendiri belum pernah melihatnya, meskipun saya sudah mencarinya beberapa waktu,” kata Fullekrug. (lihat video).

Elves Lightning - IndoCropCircles.com

E.L.V.E.S. (Emissions of Light and Very low frequency perturbations due to Electromagnetic pulse Sources)


9. Semburan Biru dan Semburan Raksasa (Blue Jets and Gigantic Jets)

“Semburan biru merupakan misteri,” kata Fullekrug. Masalah pertama adalah mereka tidak selalu berwarna biru. Fenomena atmosfer separti “semburan” atau jet ini sulit untuk dipelajari dari darat karena atmosfer juga terlihat berwarna biru dan dapat menyamarkan panjangnya semburannya.

Blue Jets atau biasa disingkat BJ’s ini adalah fenomena seperti petir yang menyembur dari permukaan tanah ke atas atmosfir. Blue Jets (semburan biru) bentuknya jauh lebih ramping dibandingkan petir, dan sangat panjang serta memiliki banyak cabang-cabang kecil. Semburan Blue Jets dapat mencapai ratusan kilometer dari tanah ke atas atmosfir.

Fenomena ini terjadi tak harus saat badai, dalam keadaan langit tak berawan pun kedua fenomena alam ini bisa terjadi, selain itu fenomena ini sangat langka alias sangat jarang terjadi. Ilmuwan belum mengetahui kondisi paling ideal seperti apa untuk membentuk Blue Jets.

Tapi yang jelas ada pengaruh dari ion bermuatan listrik yang terdapat di atmosfir, mereka seakan menusuk masuk pada lapisan tipis di atmosfer sampai bagian atas yang dapat mendorong sampai diatas ketinggian normal. Jika hal ini terjadi maka semburan biru bisa terjadi, namun ini hanya teori ilmuwan.

Para peneliti juga mengetahui adanya fenomena lain yang disebut Gigantic Jets atau Semburan Raksasa, yang kelihatannya merupakan hibrida antara Gigantic Jets (semburan raksasa) dan Sprite (pijaran cahaya peri). Seperti namanya, Gigantic Jets atau Semburan Raksasa sangat besar, lebih lebar, berbentuk cahaya segitiga dan lebih mudah dilihat. Semburan ini berlangsung sekitar 10-100 milidetik, jadi secara relatif lebih lambat dibandingkan peristiwa kilatan cahaya dilangit lainnya.

Gigantic Jets atau Semburan Raksasa sangat jarang. Mungkin hanya satu dalam sepuluh atau satu dalam seratus Sprite akan bergabung dengan Blue Jets (semburan biru) untuk menciptakan Gigantic Jets (semburan raksasa).

Blue jets and gigantic jets 3 - IndoCropCircles.com

Blue Jets (kiri) dan Gigantic Jets (kanan) terlihat di Amerika Selatan. Menurut perhitungan ilmuwan fenomena pada video ini, panjang kilatan cahayanya sepanjang 80 kilometer.

Blue jets and gigantic jets

Simulasi perbedaan antara Blue Jets (BJ’s) and Gigantic Jets (GJ’s)


10. Aurora

Aurora adalah cahaya dilangit yang terdiri dari partikel-partikel ion terlihat berwarna hijau, biru dan merah, yang berputar-putar diatas dua kutub Bumi dan merupakan peristiwa yang dapat terlihat dari ribuan kilometer.

Fenomena ini terjadi ketika Angin Surya atau Coronal Mass Ejection (CME) yang terdiri dari partikel bermuatan dari matahari mencapai atmosfer atas, mereka berinteraksi dengan gas di atmofir planet Bumi, kemudian bertemu dengan medan magnet Bumi, maka keduanya akan berinteraksi.

Kemudian partikel dari matahari itu bergerak di sepanjang kontur medan magnet menuju kedua kutub. Partikel-partikel itu memberi cukup energi kepada molekul di udara untuk melepaskan elektron yang membuat mereka bercahaya dalam berbagai warna dan kemudian terbentuklah Aurora diatas kedua kutub Bumi. Aurora yang terdapat diatas kutub utara bernama Aurora Berealis, sedangkan yang  diatas kutub selatan bernama Aurora Australis.

“Aurora memiliki banyak bentuk dan struktur, tergantung pada apa yang dilakukan magnetosfer. Ada yang berbentuk busur, bergelombang, berbintik-bintik, dan semua nama untuk berbagai bentuk berbeda yang dapat dilihat. Anda dapat membayangkannya seperti seprai berkepak-kepak diterpa angin, dan sekali-sekali menjadi sangat kacau dan itulah saat terjadinya peristiwa dramatis,” kata Charles Swenson dari Utah State University di Logan, AS.

Bumi bukanlah satu-satunya planet yang memiliki aurora karena yang diperlukan untuk membentuknya hanya Angin Surya yang menerpa masuk ke atmosfir planet yang memiliki gas dan medan magnet. Jupiter dan Saturnus juga memiliki aurora yang unik karena gas di atmosfer mereka sangat berbeda.

Aurora juga memiliki komponen yang tidak terlihat dan menjadi subjek penelitian para ilmuwan. Partikel bermuatan dari Angin Surya menyebabkan arus listrik di aurora yang sulit dipelajari dari permukaan Bumi.

Di awal tahun 2015, Swenson meluncurkan roket ke aurora untuk mengukur elemen-elemen yang tidak kasat mata ini. Pertanyaannya adalah, apakah bagian yang tidak kasat mata dari aurora juga menari-nari dan bergerak secepat bagian yang bisa dilihat mata?. “Ini masih sangat awal sekali, tetapi kami pikir jawabannya adalah ya,” jelas Swenson.

Aurora anim 01

Aurora memiliki banyak bentuk dan struktur, tergantung pada apa yang dilakukan magnetosfer

Aurora made 01

Angin Surya matahari mencapai atmosfer atas, berinteraksi dengan gas, kemudian bertemu medan magnet, maka keduanya akan berinteraksi, lalu bergerak menuju kedua kutub. Partikel-partikel itu memberi cukup energi pada molekul di udara untuk melepaskan elektron yang membuatnya bercahaya dan kemudian terbentuklah Aurora diatas kedua kutub Bumi.

Itulah sepuluh cahaya langit yang sebagian besar belum secara sepenuhnya dapat diteliti oleh para ilmuwan. Fenomena alam memang belum semuanya dapat dijelaskan hingga masa kini dimana teknologi sudah sangat maju, beberapa fenomena alam masih misterius, seperti penampakan bola cahaya dilangit yang kadang disebut sebagai UFO.

Menurut penelitian, bola cahaya terbentuk dari plasma yang berupa cahaya dan terkumpul secara alamiah untuk kemudian membentuk bola cahaya di langit. Namun bagaimana plasma itu bisa terkumpul, apa saja materi dan zat yang ada di dalamnya serta mengapa bisa kemudian menghilang, masih merupakan misteri.

Tapi para ilmuwan percaya bahwa fenomena UFO light balls adalah gelaja alamiah yang kadang disebut sebagai Nature Light Phenomena. Namun fenomena alamiah tak hanya itu saja karena ada juga beberapa fenomena alamiah lainnya yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan pada abad yag katanya telah canggih, seperti saat ini. (©IndoCropCircles)

ARTIKEL BAHASA INDONESIA PERTAMA DI INTERNET

Misteri 10 Cahaya Aneh Dari Langit 3

Sprites/Elves Are Created From Earth’s Highly Charged GLASS SKY 24/7

gelombang cahaya elektromagnetik spektrumMisteri 10 Cahaya Aneh Dari Langit


Artikel Lainnya:

Fenomena Alam Misterius: Pancaran Sinar Yang Bergerak Di Atas Awan

10 Fenomena Misterius di Lautan

[Photo] Cahaya Misterius Malam Hari Diatas Langit Bandung

Gegerkan Warga: Cahaya Vortex Hijau Misterius Diatas Groningen Belanda

Heboh: Wow! Misteri Kilatan Cahaya Oranye Besar Dilangit Russia Membuat Warga dan Saintis Terpaku!

Misteri Bola Cahaya Listrik Dapat Terlihat Akibat Pengaruh Otak?

[UFO Jakarta 2017] Tiga Bola Cahaya Misterius Melayang Diatas Jakarta

Misteri Penampakan USO: Cahaya Dalam Air Laut di Wediombo Gunungkidul

Wow! Cahaya Misterius Terdeteksi di Pusat Galaksi Bimasakti

Misteri Bola Cahaya Aneh Sebelum Gempa Bumi

Masih Misteri, Bagaimana Meramal Gempa Bumi? Peneliti Klaim Ada Teori Baru

Prediksi Gempa: Inilah Cara Hewan Dapat Mengetahui Akan Terjadi Gempa Bumi

Misteri Hisapan Ombak Aneh Pantai Yogyakarta Dibuktikan Secara Ilmiah

Gumpalan Misterius di Samudra Pasifik Ini Bisa Datangkan Malapetaka Bagi Bumi

Misteri South Atlantic Anomaly, “Lubang Segitiga Bermuda Angkasa” Diatas Brazil

[VIDEO] 7 Misteri-Misteri Alam Yang Sulit Diterima Nalar

Misteri Fenomena “Bun Upas” di Dataran Tinggi Dieng

Penyelidikan Terbaru: Misteri Segitiga Bermuda

[PHOTO] Inilah 8 Jenis Awan Yang Manakjubkan

[VIDEO] November 2015: Wow! Ada Penampakan UFO Spektakuler di Indonesia


http://wp.me/p1jIGd-6LX

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fenomena Alami, Yang Paling dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 10 Misteri Cahaya Aneh Dari Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s