Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Jakarta

 peradaban prasejarah sungai ciliwung header

Ditemukan: Bukti Adanya Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Jakarta

Sungai Ciliwung di kawasan Condet, Jakarta Selatan

Sungai Ciliwung membelah kawasan Condet, Jakarta Selatan

Siapa bilang di Jakarta tidak ada jejak peradaban era prasejarah? Temuan arkeolog sejak tahun 1970-an di tepian sungai Ciliwung atau Tjiliwoeng yangi membentang dari daerah Bogor sebagai hulu hingga ke Jakarta yang menjadi hilirnya sungai ini, ternyata terdapat beberapa jejak peradaban dan pemukiman sejak masa lampau.

Sungai Ciliwung memiliki hulu di selatan Jakarta dan bermuara di teluk Jakarta, ia membentang dari wilayah selatan Jakarta, menuju ke arah utara lalu masuk ditengah-tengah kota Jakarta. Dan kebanyakan dari wilayah hulu dari sungai ini memiliki banyak mata air yang berasal dari “gunung kembar”, yaitu kompleks Gunung  Gede dan Pangrango.

https://konservasidasciliwung.files.wordpress.com/2012/05/picture46.png?w=234&h=330

Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Ciliwung.

Selain itu beberapa mata airnya berasal dari wilayah kota Bogor, dan hanya sebagian kecil dari mata airnya berasal dari Gunung Salak yang ada di arah barat daya dari Jakarta.

Setelah masuk kota Jakarta, sungai ini juga masih memiliki beberapa mata air yang memang berada di wilayah Jakarta.

Lacak artefak yang dilakukan Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI), Komunitas Ciliwung, Asosiasi Pilot Drone Indonesia, Bike to Work Indonesia, Geographical Mountaineering Club UI, GenKreatif, dan Komunitas Peta Hijau menemukan sejumlah jejak prasejarah di tepian Sungai Ciliwung di Condet, Jakarta Timur.

Peninggalan prasejarah yakni periode ketika manusia belum mengenal huruf. Jakarta dan sekitarnya telah dihuni manusia sejak sekitar 4000 tahun yang lalu atau 2000 Sebelum Masehi, daerah ini memang telah menjadi jalur peradaban.

Arkeolog UI Ali Akbar menyatakan:

“Berdasarkan survei dan ekskavasi arkeologi sejak tahun 1970-1995 diketahui terdapat belasan situs prasejarah di tepi Sungai Ciliwung. Namun, setelah itu atau hampir 20 tahun telah berlalu, praktis tidak ada lagi riset prasejarah di tepi Sungai Ciliwung.”

Ditemukan: Makam Misterius Era Prasejarah

Selain peninggalan prasejarah, disusuri pula gedung tua kolonial yang disebut Groeneveld atau Villa Nova Tanjung Oost, makam putri Gubernur Jenderal VOC, makam leluhur masyarakat Condet yakni Pangeran Antawana yang diperkirakan meninggal pada abad ke-18, dan rumah Betawi.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 01

Makam prasejarah yang ditemukan di tepian Sungai Ciliwung daerah Condet, Jakarta Timur.

Berdasarkan informasi dari seorang warga yang saat ini berusia sekitar 40 tahun dan lahir di Condet, orang-orang tua sering menyebut ada makam yang lebih tua dari Pangeran Antawana, namun ia sendiri belum pernah melihatnya.

Pada masa lalu daerah Condet lumayan luas dan pada masa kini daerah Condet meliputi seputaran Cawang dan Cililitan Jakarta Timur, hingga daerah Balekambang dan Pasar Minggu  Jakarta Selatan. Semua berada di tepian Ciliwung.

Sedangkan jalan Condet pada masa kini membentang dari Cililitan hingga Pasar Rebo dan berada di sebelah timur dari sungai Ciliwung.

Tim Lacak Artefak akhirnya fokus mencari makam tersebut. Setelah menelusuri tepian sungai, makam yang dimaksud akhirnya ditemukan.

Makam itu tidak seperti makam lainnya, hanya bebatuan saja yang tersusun, tidak ada nisan yang tertanam dan juga tidak ada tulisan atau prasasti apapun.

Penanda makam adalah batu-batu kali yang disusum sedemikian rupa sehingga menyerupai makam. Struktur makam seperti ini mirip makam era prasejarah yang terdapat di Bogor.

Salah satu landscape perumahan di tepian sungai Ciliwung, Jakarta Selatan.

Salah satu landscape perumahan di tepian sungai Ciliwung, Jakarta Selatan.

Berdasarkan riset-riset sebelumnya, situs-situs pemukiman prasejarah memang cukup banyak ditemukan di tepi Sungai Ciliwung. Namun, makam dan bangunan peribadatannya belum diketahui sampai sekarang, jelas Ali.

Untuk membuktikannya akan diadakan ekskavasi arkeologi di sekitar struktur yang diduga makam tersebut. Mengingat saat ditemukannya pada musim hujan dan mengantisipasi kemungkinan banjir, maka ekskavasi dilakukan bulan Maret 2016.

Cerita Makam Misterius di Pinggir Ciliwung

Arkeolog menemukan makam yang diduga era prasejarah di pinggir Ciliwung, Condet, Jakarta Timur. Eskavasi segera dilakukan untuk penelitian. Tapi memang, soal makam yang berupa tumpukan batu di seberang Kelurahan Balekambang ini, punya cerita sendiri di mata warga.

Karena tidak ada nisan dan tulisan atau prasastinya sama sekali, maka memang tak ada jelas soal makam tersebut dan tim hanya mendapat informasi dari orang-orang tua di Condet.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 02

Makam misterius di tepian sungai Ciliwung itu tidak seperti makam lainnya, hanya bebatuan saja yang tersusun, tidak ada nisan yang tertanam dan juga tidak ada tulisan atau prasasti apapun. Penanda makam adalah batu-batu kali yang disusum sedemikian rupa sehingga menyerupai makam. Struktur makam seperti ini mirip makam era prasejarah yang terdapat di Bogor.

Penduduk setempat menyebutnya Ki Tua, yaitu penjaga lahan pertanian, seorang hebat yang berilmu. Ada juga yang menyebutnya Ki Balung Tunggal.

Tak jauh dari makam Ki Tua, ada juga malam Pangeran Astawana, yang di masanya di era kolonial abad 19, dikenal sebagai tokoh perlawanan melawan penjajah Belanda di Condet.

Sedangkan menurut penjaga makam Pangeran Astawana, menyampaikan kalau malam Ki Tua dikenal juga dengan Makam Ki Sya’ban. Makam itu disebut merupakan sosok yang dahulunya dituakan di daerah Condet, jadi dipanggilnya Ki Tua.

Itu artinya bahwa Ki Tua, Ki Baliung Tunggal dan Ki Sya’ban adalah orang yang sama. Karena dulu zaman penjajahan, maka untuk menghindari Belanda, jadi perlu nama lain agar tak ditangkap. Tapi tak ada yang tahu dan mengerti bagaimana makam itu bisa ada di sana.

prasejarah sungai ciliwung

Makam siapa di tepi Sungai Ciliwung? Tidak ada yang tahu. Yang pasti dari bentuk makamnya untuk sementara ini dapat dikatakan merupakan yang tertua di Condet.

Sementara itu menurut Ali, ada jenis tradisi lisan yang ketika melihat fenomena atau temuan tertentu kemudian mencoba memahami dan memberi nama. “Ki Tua” kemungkinan karena makam itu diperkirakan sangat tua atau paling tua.

Sedangkan penamaan “Ki Balung Tunggal” kemungkinan berasal dari kata “balung” atau tulang, dan kata “tunggal” yang artinya satu atau utama.

Nama Ki Balung Tunggal juga terdapat di Gunung Pancar Bogor, itu artinya bahwa masyarakat setempat mencoba mencari tahu, tetapi informasi sangat minim dan akhirnya menjadi cerita dari mulut ke mulut.

Jadi, makam siapa di tepi Sungai Ciliwung? Tidak ada yang tahu pasti. Namun yang jelas dari bentuk makamnya untuk sementara ini dapat dikatakan merupakan makam yang tertua di Condet, ujar Ali menjelaskan.

Yang menarik, lanjut Ali, ada beberapa warga Condet yang memang sering mendengar ada makam Ki Tua tetapi ketika ditanya tidak tahu di mana letaknya.

kali sungai ciliwung balekambang condet jakarta

Makam yang berupa tumpukan batu di seberang Kelurahan Balekambang.

Namun untuk yang telah mengetahui letaknya, akhirnya banyak orang datang ke makam ini. Tapi selalu diingatkan oleh warga agar jangan sampai muncul kemusyrikan.

Warga tak melarang siapa aja yang datang ke sini asal tujuannya baik, tapi kalau ada tujuan lainnya, lebih baik dipikir lagi, siap tanggung sendiri kalau nanti ada sesuatu, tutur warga. Lokasi makamnya terawat, di seberang Kelurahan Balekambang dan lokasinya sepi, selain itu bagusnya, tidak ada yang menaruh sesajen atau apapun.

Daerah Condet Memiliki Peradaban Panjang

Daerah Condet atau Ciliwung merupakan wilayah yang memiliki peradaban yang panjang. Manusia secara naluriah akan memilih untuk bertempat tinggal di dekat sumber air.

Sungai merupakan pilihan utama karena menyediakan air bersih dan dapat digunakan untuk transportasi. Ketersediaan air yang berlimpah dan bersih membuat tanaman mudah tumbuh dan hewan termasuk ikan dapat berkembang biak dengan baik, jelas Arkeolog UI, Ali Akbar.

Daerah Condet memiliki peradaban yang tua, karena masyarakat di wilayah itu sejak dahulu memang hidup di pinggir sungai Ciliwung dan bergantung padanya. Mereka hidup dari sungai dan sangat menghargai sungai Ciliwung. Salah satunya, rumah yang mereka bangun itu menghadap sungai, bukannya membelakangi sungai. Mereka tidak membuang kotoran ke sungai.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 06

Rumah era kolonial Belanda di tepian Sungai Ciliwung

Dari Makam Tua di Condet, Peninggalan Prasejarah Bertebaran di Sungai Ciliwung

Makam Ki Tua di Condet, di tepi Sungai Ciliwung, Jakarta hanyalah salah satu jejak prasejarah. Masa ribuan tahun lalu, Ciliwung bak ‘surga’ bagi manusia era dahulu. Tak heran kalau banyak alat-alat peninggalan manusia era dahulu bertebaran.

Menurut Ali Akbar, Sungai Ciliwung memiliki beberapa keistimewaan atau kelebihan karena di aliran dan disekitar aliran sungai terdapat beberapa sumber batuan yang dapat digunakan untuk membuat alat batu.

Alat batu seperti beliung persegi banyak ditemukan di sekitar Sungai Ciliwung. Jenis batuannya juga beragam seperti dasit, jasper, kalsedon, metalimestone, siltstone, silicifiedwood atau yang biasa disebut fosil kayu, dan masih banyak lagi.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 04

Mencuci pakaian di sepanjang tepi sungai Ciliwung di Batavia. (Tropen Museum)

Temuan tembikar atau gerabah atau terakota atau tanah liat bakar juga banyak terdapat di sekitar Sungai Ciliwung. Berdasarkan hasil penelitian ternyata tanah liat di aliran Sungai Ciliwung sangat cocok untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan gerabah.

Ali yang juga Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) ini juga menyampaikan, Sungai Ciliwung bermuara di Laut Jawa yang menjadi akses untuk berinteraksi dengan bangsa lain.

Pertukaran dan perdagangan serta interaksi dengan bangsa lain terjadi yang belakangan membuat lokasi ini berkembang sedemikian rupa menjadi pelabuhan Kerajaan Pajajaran yakni Sunda Kelapa, kemudian menjadi Kota Batavia di masa Kolonial Belanda dan menjadi Kota Jakarta pada masa Kemerdekaan Indonesia.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 05

Muara sungaii Ciliwung sebagai pelabuhan di utara Batavia sudah ramai dikunjungi orang sejak dahulu.

Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Perlahan Musnah

Situs Prasejarah di sekitar Sungai Ciliwung ada sekitar 20 dan sudah ia teliti sejak tahun 1995. Namun baru-baru ini pada peninjauan terakhirnya, praktis hanya 2 situs yang masih ada. Itu pun berupa sepetak tanah yang mungkin tidak lama lagi dibuat bangunan tertentu oleh pemiliknya.

Yang Ali ingat, dua situs yang terkenal dan pernah dieskavasi di sekitar Ciliwung yakni situs Kampung Kramat yang sekarang menjadi Jl Ciliwung dan Rawa Kodok atau sekarang Rawa Elok yang menjadi sebuah SD.

Di kedua situs itu pada tahun 1977 ditemukan cukup banyak pecahan gerabah prasejarah, beliung persegi, batu asahan untuk mengasah alat batu, bandul jala, manik-manik dan lainnya.

peradaban prasejarah sungai ciliwung 03

Pada tahun 1977 di tepian sungai Ciliwung ditemukan cukup banyak pecahan gerabah prasejarah, beliung persegi, batu asahan untuk mengasah alat batu, bandul jala, manik-manik dan lainnya. Tapi sayangnya, cerita soal peradaban tepian Ciliwung hanya akan tinggal cerita seolah dilupakan dan tertelan zaman.

Tapi sayangnya, cerita soal peradaban tepian Ciliwung hanya akan tinggal cerita. Tak seperti jejak peradaban di Sangiran yang terus diteliti, peradaban di Ciliwung seolah dilupakan dan tertelan zaman. “Secara umum, sudah banyak yang hilang,” terang Arkeolog UI Ali Akbar.

Ali menuturkan, sebenarnya di sepanjang Sungai Ciliwung sudah dilakukan eskavasi pada 1977 lalu. Tapi seiring waktu berjalan, situs-situs dilupakan.

Arkeolog UI, Ali Akbar

Arkeolog UI, Ali Akbar

Menilik secara geografis, kawasan di pinggir sungai memang menjadi lokasi favorit untuk tempat tinggal sejak zaman dahulu.

“Bisa dikatakan, situs bersejarah yang dahulu pernah diteliti kini sudah musnah. Ada yang dijadikan tempat pemukiman, ada yang menjadi tempat sekolah. Ya mungkin ini karena ketidaktahuan,” urai dia.

Sementara itu, situs-situs prasejarah yang pernah diteliti sejak tahun 1970-an, kini telah menjadi pemukiman masyarakat disaat ini.

Lagi pula untuk saat ini hanya ada dua lokasi yang menarik untuk diteliti di kawasan Condet, yakni makam Ki Tua dan di kawasan Kebun Buah milik Pemda DKI, dan di Gang Goa Monyet di sekitar Jl Kayumanis karena disana pernah ditemukan beberapa pecahan gerabah di permukaan tanah. (IndoCropCircles / KITLV / Troppen Museum / detik.com)

Daerah Jl. Kayumanis di tepian sungai Ciliwung tempat ditemukannya gerabah kuno.

Daerah Jl. Kayumanis di tepian sungai Ciliwung tempat ditemukannya gerabah kuno.

Artikel Lainnya:

Inilah Pulau Terpencil Paling Utara Jakarta Yang Indah, Berhantu dan Angker

Sejarah dan Misteri Wilayah Ancol Jakarta

10 Tempat Paling Angker dan Misterius Seantero Jakarta

[Video Old Batavia] Misteri Ruangan Rahasia di Musium Fatahillah Jakarta

Misteri Tragedi Bintaro 1987: Kecelakaan Kereta Api Terdahsyat di Indonesia

Misteri Monas: Wanita Di Obor Api Tugu Monas Jakarta, Nyi Roro Kidul?

Novel Heboh: “The Jacatra Secret” Misteri Satanic Symbols di Jakarta

Kisah Nyata! Taksi Antar 3 Hantu ke TPU Karet Bivak Jakarta, Supir Langsung Pingsan!

“Tragedi Gudang Peluru” Meledak di Cilandak 1984: Jakarta Mencekam, Ketika Runtuhnya Langit Malam!

Kaitan “Katibah Nusantara” dan Bom Jakarta 14 Januari 2016

*****

http://wp.me/p1jIGd-6YR

 ((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Indonesia dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s