Gila! Malapetaka Racun Merkuri Ancam Indonesia!

Air raksa - Mercury-toxicity header

Gila! Malapetaka Racun Air Raksa atau Merkuri Ancam Indonesia

Alert

“Manusia Bisa Hidup Tanpa Emas, Tapi Tidak Tanpa Air”

Malapetaka besar akibat keracunan merkuri atau air raksa pernah terjadi di Minamata, Jepang pada tahun 1958 oleh sebuah industri yang memakai merkuri atau air raksa. Zat merkuri yang terkonsumsi menyerang syaraf sensorik dan motorik makhluk hidup, baik itu manusia ataupun binatang.

Korban keracunan merkuri memiliki tangan atau kaki dengan jari bengkok dan terlihat seperti ayan atau epilepsi, kejang-kejang, gemetar, bingung, jalan berputar-putar, susah bangun, dan sejenisnya, mirip orang gila, jika parah maka menimbulkan kematian (lihat video dibawah artikel).

Kini, malapetaka itu mengancam Indonesia. Bisa jadi jutaan orang akan mengalami kecacatan bahkan kematian, apabila penggunaan logam berat tersebut tidak segera dikendalikan.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/99/Pouring_liquid_mercury_bionerd.jpg/443px-Pouring_liquid_mercury_bionerd.jpg

liquid mercury

Raksa atau air raksa atau merkuri atau hydrargyrum (bahasa Latin: air perak /cairan perak) adalah unsur kimia pada tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor atom 80.

Unsur golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap.

Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Kelimpahan Hg di bumi menempati di urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi.

Di alam, merkuri (Hg) ditemukan dalam bentuk unsur merkuri (Hg0), merkuri monovalen (Hg1+), dan bivalen (Hg2+).

Raksa banyak digunakan sebagai bahan amalgam gigi, termometer, barometer, dan peralatan ilmiah lain, walaupun penggunaannya untuk bahan pengisi termometer telah digantikan (oleh termometer alkohol, digital, atau termistor) dengan alasan kesehatan dan keamanan karena sifat toksik yang dimilikinya.

Unsur ini diperoleh terutama melalui proses reduksi dari cinnabar mineral. Densitasnya yang tinggi menyebabkan benda-benda seperti bola biliar menjadi terapung jika diletakkan di dalam cairan raksa hanya dengan 20 persen volumenya terendam.

Pencemaran Air Raksa sangat berbahaya

Secara alamiah, pencemaran Hg berasal dari kegiatan gunung api atau rembesan air tanah yang melewati deposit Hg. Apabila masuk ke dalam perairan, merkuri mudah ber-ikatan dengan klor yang ada dalam air laut dan membentuk ikatan HgCl.

Dalam bentuk ini, Air Raksa atau Hg, mudah masuk ke dalam plankton dan bisa berpindah ke biota laut lain. Merkuri anorganik (HgCl) akan berubah menjadi merkuri organik (metil merkuri) oleh peran mikroorganisme yang terjadi pada sedimen dasar perairan.

Merkuri dapat pula bersenyawa dengan karbon membentuk senyawa organo-merkuri. Senyawa organo-merkuri yang paling umum adalah metil merkuri yang dihasilkan oleh mikro-organisme dalam air dan tanah.

The Mercury Cycle

Siklus zat berbahaya mercury

Kemudian, mikro-organisme di dalam tanah yang telah mengandung merkuri akibat bersenyawa dengan karbon itu kemudian termakan oleh ikan sehingga konsentrasi merkuri dalam ikan meningkat.

Metil Hg memiliki kelarutan tinggi dalam tubuh hewan air, sehingga Hg terakumulasi melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam jaringan tubuh hewan air, dikarenakan pengambilan Hg oleh organisme air yang lebih cepat dibandingkan proses ekskresi.

Laporan Bali Fokus sejak Maret 2015 telah menunjukkan bahwa tanda-tanda keracunan merkuri atau Air Raksa, sudah ditemui di 3 wilayah Indonesia, antara lain di:

  • Bombana, di Sulawesi Tenggara,
  • Sekotong, di Lombok Barat, dan
  • Cisitu, di Banten.

Hanya Tiga Lokasi Tambang Emas di Indonesia Saja, Namun Penyumbang Merkuri Terbesar di Dunia!

Ketiga lokasi tersebut merupakan hotspot penambangan emas skala kecil, sektor penyumbang emisi merkuri atau air raksa terbesar di Indonesia dan di dunia.

“Sebanyak 37 persen emisi merkuri atau air raksa global berasal dari tambang emas skala kecil itu. Mengapa bisa terjadi? Karena pemakaiannya sembarangan,” kata Yuyun Ismawati dari Bali Fokus dalam sebuah konferensi pers.

  • Tambang Cisitu, Banten
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/74/Locator_Kabupaten_Serang.png

Kabupaten Serang, Banten

Cisitu adalah desa yang berada di kecamatan Ciomas Kabupaten Serang, Banten.

Di Cisitu, penambangan emas sudah berlangsung selama 15 tahun dengan pemakaian air raksa sekitar 25 ton per tahun!

Sektor tambang emas skala kecil di wilayah itu kini melibatkan 50 persen dari total 7.000 warganya.

Konsentrasi air raksa di Cisitu, menurut penelitian Bali Fokus, tertinggi mencapai 50.549,91 nanogram/meter kubik (ng/m3) di kolam ikan, sedangkan terendah 122,25 ng/m3 di rumah adat.

  • Tambang Emas Sekotong, Lombok Barat
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d1/Lokasi_NTB_Kabupaten_Lombok_Barat.svg/320px-Lokasi_NTB_Kabupaten_Lombok_Barat.svg.png

Kabupaten Lombok Barat

Sementara di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, penambangan emas selama 10 tahun telah menggunakan air raksa sekitar 70 ton per tahun!

Sejumlah 50 persen dari 40.000 warga terlibat penambangan liar itu. Konsentrasi air raksa tertinggi di udara sekitar 54.931,84 ng/m3, di toko emas sementara terendah 121,77 ng/m3.

Bahkan, ada satu halaman depan rumah warga yang konsentrasi air raksanya mencapai 20.891,93 ng/m3.

  • Tambang Emas Bombana, Sulawesi Tenggara
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d6/Lokasi_Sulawesi_Tenggara_Kabupaten_Bombana.svg/320px-Lokasi_Sulawesi_Tenggara_Kabupaten_Bombana.svg.png

Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara

Di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, penambangan liar emas juga sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir.

Pihak yang terlibat penambangan emas bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan.

Mereka berperan membakar amalgam untuk mendapatkan air raksa. Pembacaan merkuri atau air raksa yang terendah 28,07 ng/m3 sementara yang tertinggi mencapai 41.000 ng/m3.

Tambang di Indonesia mulai merenggut puluhan nyawa dan Air Raksa membuat cacat fisik pada bayi dan anak

Dengan konsentrasi merkuri atau air raksa di udara yang tinggi, belum ditambah yang masuknya  air raksa ke air dan bahan makanan, maka banyak kasus penyakit diduga terkait merkuri atau air raksa telah terjadi.

  • Banten, Cisitu, ada seorang anak yang memiliki kepala abnormal, menderita kejang sejak berusia 2 tahun, dan mengalami hipersalivasi (liur berlebih). Gejala itu sangat berkaitan dengan keracunan merkuri.
  • Sulawesi Tenggara, Bombana, remaja berusia 15 tahun mengalami kontraktur atau pemendekan permanen dari otot dan sendi.
  • Sumba Barat, Sekotong, terdapat kasus anak berusia 3 tahun yang salah satu kakinya memutar, jari-jari dari salah satu kakinya menghadap ke belakang. Ada juga remaja 7 tahun yang sudah mengalami katarak.

Sejauh ini, Bali Fokus sudah mendapatkan 28 kasus diduga terkait merkuri di tiga wilayah yang diteliti. Yuyun memang mengatakan, kasus-kasus itu “masih harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara medis”. Namun melihat gejala dan pemeriksaan fisik awal, keseluruhan kasus itu kemungkinan besar memang akibat air raksa.

  • Kenjeran, Surabaya, Kasus lain terkait logam berat merkuri atau  air raksa dijumpai juga di Kenjeran, Surabaya. Air sungainya tercemar limbah merkuri dari industri. “Sebanyak 80 persen anak di Kenjeran mengalami ‘slow learning‘,” ungkap Daru Setyo Rini dari Ekoton. Seumlah kasus kanker yang terjadi pada anak-anak diduga juga terkait dengan logam berat mematikan.
  • Mandailing Natal, Hutabargot, Kecamatan Hujalu, Madina, Di tambang rakyat Mandailing Natal ini, dari catatan tim SAR, sejak 2013 hingga Juni 2014, sudah 113 penambang tewas, 98 orang tak ditemukan karena tertimbun di dalam lubang tambang galian emas rata-rata sedalam 140 meter. Mereka tewas rata-rata tertimbun lubang ketika menambang dengan peralatan tidak memadai. Lokasi terbesar penambangan tradisional menggunakan tenaga kerja anak-anak, di Desa Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, dan Desa Hutabargot, Kecamatan Hujalu, Madina.

Gubuk-gubuk atau tenda ini berdiri di tengah kawasan hutan lokasi menambang emas di hutan Hutabargot. Foto: Ayat S Karokaro

  • Banyuwangi, Tumpang Pitu, Daerah tambang emas ini masuk kawasan hutan lindung, anehnya kok bisa kawasan itu menjadi kawasan tambang? Berdasarkan pengamatan Walhi Jatim, pemerintah lokal sampai nasional sangat menginginkan proyek tambang Tumpang Pitu segera beroperasi secepatnya.

Indikatornya adalah mudahnya penerbitan izin, merubah dan menurunkan status kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi dengan alasan kawasan hutan itu sudah rusak akibat pembalakan liar dan penambangan tradisional.

Herannya lagi kementerian ESDM mengeluarkan Peraturan Menteri soal WUIP Jawa Bali. Ini model untuk mempermudah investasi yang merusak bumi dan lingkungan.

T7_surat Gubernur Jatim dukungan golden share_2011-10-26Yang lebih gila lagi, perusahaan butuh air untuk memurnikan emas. Air yang dibutuhkan sebanyak 2,038 juta liter setiap hari.

Air sebanyak itu akan diperoleh dengan cara menyedot potensi air yang ada, baik air bawah tanah maupun sungai sekitar Tumpang Pitu. Hal ini tentu berdampak pada pemenuhan kebutuhan air masyarakat serta pertanian sekitar Tumpang Pitu.

Walhi Jatim saat ini memantau terus menerus perkembangan Tumpang Pitu terutama dampaknya. Walhi juga mengajak masyarakat Tumpang Pitu untuk selalu menyelamatkan lingkungan mereka dari pembongkaran yang masif.

Biarkan Tumpang Pitu sesuai kondisinya sebagai hutan lindung untuk melindungi kawasan atas dan bawah. Jangan bongkar Tumpang Pitu dan jangan investasi yang merusak alam dan membuat masyarakat dihantui bencana ekologi.

  • Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Ribuan orang pada empat kabupaten di Aceh yakni Aceh Jaya,  Aceh Barat, Aceh Selatan dan Pidie, saat ini terancam serius terpapar penggunaan merkuri dari tambang emas. Gilanya, ada 1.370 orang setiap hari bersentuhan langsung dengan logam berat berbahaya ini!
    Walhi Aceh menyebutkan, dalam enam tahun terakhir ada 22 orang meninggal karena kecelakaan kerja seperti tertimbun longsor atau kehabisan oksigen dalam lubang galian.Ada lima sentra pengolahan bijih emas dari penambangan rakyat cukup besar di Aceh. Yakni, di Gunung Ujeun (Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya), Sungai Mas di Kabupaten Aceh Barat,  Sawang di Kabupaten Aceh Selatan, serta Tangse dan Geumpang di Kabupaten Pidie.
Salah satu sentra gelondongan untuk pengolahan emas pada pemukiman warga di Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Foto: Chik RIni

Salah satu sentra gelondongan untuk pengolahan emas pada pemukiman warga di Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Foto: Chik RIni

Penambangan skala lebih kecil di Aceh lebih banyak lagi di kabupaten lain. Mereka menggunakan merkuri untuk memisahkan bijih emas dengan tanah dan bebatuan lain. Penggunaan merkuri secara bebas dan tanpa pengawasan pihak berwenang ini, menyebabkan pencemaran  air sungai dan air tanah. Apalagi, banyak gelondongan (sentra pengolahan batuan emas) dekat dengan pemukiman penduduk.

Walhi menyebutkan, setiap gelondongan dikelola  empat sampai lima orang. Jumlah gelondongan tiap kabupaten mencapai 48– 87 unit. Artinya, sebagian besar masyarakat sudah terkontaminasi langsung dengan bahan berbahaya ini. Masyarakat Aceh di bawah ancaman serius penyakit mematikan ini. Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh melakukan uji baku mutu air di Sungai Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, juga menemukan air sudah tercemar merkuri!

Menurut Cut Nazly, peneliti dari Bapedal Aceh, pada 2013 mereka menemukan dari enam titik lokasi sungai yang diuji sampel air, empat titik ditemukan logam merkuri dengan jumlah di atas ambang baku mutu air yang baik. Kadar merkuri tinggi di air sungai ditemukan pada saat puncak kerja pengolahan emas di mesin gelondongan yang banyak tersebar di dekat sungai dan pemukiman warga.

Sungai Krueng Sabee yang dilaporkan mulai tercemar merkuri. Foto: Chik Rini

Sungai Krueng Sabee yang dilaporkan mulai tercemar merkuri. Foto: Chik Rini

Untuk lokasi-lokasi penambangan ini, ada yang dibuka dalam kawasan hutan lindung, di atas gunung yang sulit dijangkau. Ia memerlukan kendaraan khusus yang bisa melalui jalan terjal dan berlumpur. Bahkan ada yang harus berjalan kaki selama berjam-jam karena tak ada jalan ke lokasi. Namun, minat berburu emas tak surut.

Saat ini, jumlah pekerja di sektor pertambangan di Aceh sekitar 3.529 orang di 10 kabupaten dan kota. Ia tersebar di Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Kabupaten Subulussalam.

Walhi Aceh menyayangkan, baik warga yang mengambil kekayaan sumberdaya Aceh demi mengejar sesuap nasi tanpa memperhatikan keselamatan jiwa.  Untuk itu, Walhi meminta pertanggungjawaban pemerintah dalam mengatasi persoalan serius ini.

Pemerintah, katanya harus segera memetakan kembali wilayah-wilayah pertambangan dan mempertegas status hukum. Perlu tindakan tegas agar masyarakat untuk melakukan aktivitas berbahaya itu.

https://i1.wp.com/www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2014/02/emas3-BhC74iHCcAAF3t4.jpg

Salah satu kapal pengolahan emas yang menggunakan merkuri di Sungai Mas Kabupaten Aceh bBrat. Foto : Edison

Tragedi Teluk Buyat, Minahasa

Teluk Buyat merupakan teluk kecil yang terletak di pantai selatan Semenanjung Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Secara administratif, teluk ini berada di Kabupaten Minahasa Tenggara.

Teluk ini sempat terkenal dikarenakan adanya aktivitas pertambangan PT Newmont Minahasa Raya sejak tahun 1996, dimana Newmont Mining Corporation di bawah cabangnya PT. Newmont Minahasa Raya memanfaatkan teluk ini sebagai aliran penempatan tailing (limbah pertambangan) untuk aktivitas pertambangan emasnya.

Pada tahun 2004, terdapat kasus masalah kesehatan tak lazim yang kemudian mengarah kepada kecurigaan bahwa Newmont melanggar peraturan kadar limbah pertambangan sehingga mencemari wilayah itu dengan bahan berbahaya. Walhi, aktivis lingkungan Indonesia, mengklaim Newmont menimbun 2.000 ton tailing ke teluk itu setiap hari.

[newmont+2.jpg]

Teluk Buyat

Kasus yang mencuat di tahun 2004 ini bersamaan dengan habisnya produksi emas dan penghentian operasi sesuai rencana yang sudah disetujui pada tahun 2002.

Pada tahun 2004, akhirnya aktivitas pertambangan ditutup dan dilanjutkan dengan pemantauan lingkungan pasca-penambangan terus berlangsung hingga tahun 2009.

Pada Juli 2011 Pemerintah Indonesia menerima secara resmi area pinjam pakai kawasan hutan.

Sedangkan penelitian mengenai kasus Buyat diteruskan hingga tahun 2013 dimana menghasilkan tidak ditemukan pencemaran dan kasus sebelumnya merupakan indikasi akibat praktik pertambangan liar. Pada tahun 2016, genap 30 tahun beroperasi, Newmont total menutup kegiatan di Buyat dan meninggalkan warisan Hutan wisata yang dikelola sebagai Eko Wisata oleh pemerintah setempat.

  • Polusi Teluk Buyat

Pada pertengahan tahun 2004, tepat ketika tambang akan ditutup, tiba-tiba sekelompok nelayan setempat memohonkan penyelidikan independen kepada Pemerintah Indonesia atas kadar limbah tambang Newmont di Teluk Buyat. Nelayan setempat melihat jumlah ikan yang mati mendadak amat tinggi disertai dengan pembengkakan yang tak biasa, hilangnya ikan bandeng muda dan spesies lain di wilayah teluk.

Mereka juga mengeluhkan masalah kesehatan yang tak biasa seperti penyakit kulit yang tak dapat dijelaskan, tremor, sakit kepala, dan pembengkakan aneh di leher, betis, pergelangan tangan, bokong, dan kepala. Penelitian itu menemukan beberapa logam berat seperti arsen, antimon, merkuri, dan mangan yang tersebar di sana dengan kepadatan tertinggi di sekitar daerah penimbunan.

Pada bulan November 2004, WALHI (LSM lingkungan) bersama dengan beberapa organisasi nirlaba (Indonesian Mining Advocacy Network, Earth Indonesia, dan Indonesian Center for Environmental Law) mengumpulkan laporan yang lebih menyeluruh atas keadaan Teluk Buyat, menyimpulkan teluk itu dicemari oleh arsen dan merkuri dalam kadar yang berbahaya, sehingga berisiko tinggi bagi masyarakat.

Sampel endapan dasar Teluk Buyat menunjukkan kadar arsen setinggi 666 mg/kg (ratusan kali lebih besar daripada Kriteria Kualitas Perairan Laut ASEAN yang hanya 50 mg/kg) dan kadar merkuri rata-rata 1000 µg/kg (standar yang sama menetapkan 400 µg/kg).

https://i0.wp.com/cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/420406/big/070804bBuyat.jpg

Korban tragedi teluk Buyat.

Pada tahun 1994, AMDAL Newmont menegaskan adanya lapisan termoklin pada kedalaman 50–70 meter sebagai penghalang bagi tailing untuk bercampur dan menyebar di Teluk Buyat. WALHI, pada saat kasus ini terjadi mengatakan tak menemukan lapisan yang dimaksud.

Kontroversi ini kemudian melanjutkan kasus ke pengadilan untuk menemukan pihak mana yang benar dan apakah kasus terjadi karena ketidakpuasan komunitas pelapor akibat rencana penutupan Newmont yang sudah disetujui dua tahun sebelumnya.

  • Perkara Tragedi Teluk Buyat

Pada bulan Agustus 2004, Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengajukan tuntutan perkara sebesar US$133,6 juta terhadap Newmont, mengklaim bahwa tailing dari pertambangan NMR telah mencemari Teluk Buyat di Sulawesi Utara, menyebabkan penduduk desa di sekitarnya sakit parah dan kontaminasi ikan setempat.

Newmont menyangkal dugaan tersebut dengan menyatakan bahwa penyakit itu terkait pada higiene yang buruk dan kemiskinan. Pada tanggal 15 November 2005, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggugurkan gugatan tersebut karena alasan teknis, mengatakan pemerintah melanggar masa kontraknya dengan Newmont pada saat mengambil tindakan hukum sebelum mencari arbitrasi.

Aktivis lingkungan meminta gugatan itu dinaikbandingkan, namun pada tanggal 1 Desember 2005 Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar berkata bahwa pemerintah berharap mencapai penyelesaian luar pengadilan dengan cabang setempat Newmont.

https://i1.wp.com/assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/552fa5760423bd601f8b4567.png

Kasus-kasus Tragedi Teluk Buyat

Pada tanggal 16 Februari 2006, pemerintah Indonesia mengumumkan untuk menyelesaikan gugatan perdata sebesar US$30 juta agar dibayarkan selama 10 tahun berikutnya. Persetujuan itu juga termasuk pemantauan ilmiah dan program pembangunan masyarakat berkelanjutan untuk Sulawesi Utara. Newmont, dengan nilai pasar US$25 miliar, diharapkan menghasilkan US$5 miliar pada tahun 2006.

Meskipun gugatan perdata digugurkan, masih ada gugatan kriminal terhadap eksekutif tinggi Newmont di Indonesia, Richard Ness, dengan dakwaan yang sama. Pengadilannya dimulai pada bulan Agustus 2005—jika dihukum, Ness menghadapi hukuman 10 tahun penjara. Jaksa menyarankan hukuman finansial US$110.000 untuk Newmont dan US$55.000 untuk Ness.

Pada tanggal 24 April 2007, Ness dibebaskan dari segala dakwaan terkait dugaan pencemaran di Teluk Buyat. Walau demikian, penelitian mengenai Pencemaran di Teluk Buyat tetap berjalan selama enam tahun dari 2007-2013, dimana hasil akhir mengonfirmasi bahwa PT Newmont Minahasa Raya memang tidak melakukan pencemaran.

Tragedi ini hingga dibuat film dokumenter berjudul Bye Bye Buyat dibuat pada tahun 2006 dan memenangkan Festival Film Indonesia pada tahun itu juga, namun di protes Newmont karena semuanya belum terbukti.

Padahal pencemaran logam berat terutama logam arsen dan logam merkuri oleh PT. NMR sudah jelas-jelas terbaca pada laporan-laporan RKL/RPL dan sejak tahun 2000 semua itu sudah terlihat, namun masih saja dianggap perusahaan raksasa ini tidak melakukan pencemaran di perairan Teluk Buyat.

Ratifikasi Konvensi Minamata

Jumlah kasus keracunan merkuri yang terdata oleh Bali Fokus bisa jadi merupakan puncak gunung es. Kasus lainnya di Indonesia mungkin masih banyak. Ini adalah petaka, ini adalah darurat bagi generasi Indonesia ke depan.

Untuk penambangan emas skala kecil saja, Indonesia punya 800 hotspot. Belum lagi, sektor yang menyumbang emisi merkuri di Indonesia bukan hanya tambang emas skala kecil, tetapi juga penambangan batubara, eksplorasi minyak dan gas, hingga pemakaian krim pemutih. Merkuri bisa terdapat dalam dua bentuk, sebagai merkuri unsur dan sebagai merkuri anorganik berwujud metil merkuri.

Merkuri dalam bentuk unsur bisa dikeluarkan dari tubuh lewat feses. Namun, tidak dengan metil merkuri yang dihasilkan lewat pembakaran. Senyawa itu akan terakumulasi, menyebabkan kecacatan. Merkuri bisa masuk ke air, terakumulasi dalam tubuh ikan, sayuran, dan lainnya hingga akhirnya masuk ke manusia.

Upaya untuk mencegah malatepataka akibat merkuri sebenarnya sudah ada, lewat Konvensi Minamata. Konvensi telah ditandatangani oleh 128 negara dan diratifikasi 10 negara. Konvensi bisa diterapkan bila telah diratifikasi oleh 50 negara. “Indonesia sudah menandatangani tapi belum meratifikasi,” ungkap Yuyun. Yuyun mendesak pemerintah untuk meratifikasi konvensi tersebut dan menyusun rencana aksi dan implementasi pengendalian merkuri.

https://i0.wp.com/www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2014/04/Wilayah-Pertambangan-Jawa-Bali-yang-dikeluarkan-kementerian-ESDM-tahun-2014.jpg

Wilayah Pertambangan Jawa Bali yang dikeluarkan kementerian ESDM tahun 2014.

Indonesia juga perlu mengatur praktik penambangan batubara. Salah satunya dengan meminta mengendalikan emisi merkuri. Perusahaan tambang batubara harus mengolah merkuri yang dihasilkan dengan mengubahnya menjadi padat dan menyimpannya (solidifikasi) atau mencampurkannya dengan polimer agar tak terlepas ke lingkungan.

Arif Fiyanto dari Greenpeace Indonesia mengungkapkan, potensi emisi merkuri dari batubara di masa depan sangat besar. Itu juga terkait dengan rencana pembanguann era Jokowi-JK.

“Jokowi-JK berencana menghasilkan 350.000 Megawatt listrik. Dari jumlah itu, 60 persen berasal dari batubara. Emisi merkuri dari batubara akan besar. PLTU Batang yang dibangun akan menjadi pengemisi merkuri terbesar,” katanya.

Jumlah emisi merkuri baru sebagian dari dampak batubara. “Tambang batubara melepaskan emisi karbon 10,8 juta ton per tahun, setara Myanmar tahun 2009,” imbuh Arif.

Gilanya, Merkuri beredar bebas di Indonesia

Salah satu sebab besarnya pemakaian merkuri di Indonesia adalah peredarannya yang bebas tak terkendali. “Sangat mudah menemukan toko yang menjual merkuri di kota-kota,” kata Yuyun.

Indonesia pada tahun 2010 disinyalir mengimpor 190 ton merkuri namun data mengungkap bahwa impornya hanya 2 ton. Sementara tahun 2013, Indonesia diprediksi mengimpor 270 ton merkuri namun hanya menyatakan mengimpir 1,7 ton. Bila meratifikasi konvensi, salah satu yang harus dilakukan Indonesia adalah menghentikan impor merkuri.

mercury-metal merkuri

Air raksa / mercury

Peraturan Kementerian Perdagangan nomor 15 tahun 2014 sebenarnya telah melarang perdagangan merkuri. Namun, aturan tersebut sampai saat ini tidak dijalankan. Perdagang masih berlangsung tanpa pengawasan.

Masalah lagi, penambangan batu sinabar (batuan yang mengandung mercuri) cukup tinggi di Indonesia. Penambangan sinabar di Indonesia paling besar di dunia. Ini ancaman dalam negeri terhadap sumber merkuri. Bahkan, ada izin tambang sinabar di Kalimantan Barat. Ada 1.000 hektar di Kapuas Hulu memiliki izin tetapi tidak memiliki dokumen lingkungan!

Apa itu Penyakit Minamata?

Bencana akibat merkuri pernah terjadi di Minamata, Jepang, akibat limbah industri pupuk. Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa.

Penyakit ini mendapat namanya dari kota Minamata, di wilayah Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang, yang merupakan daerah dimana penyakit ini mewabah mulai tahun 1958.

Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Minamata Jepang. Ratusan orang mati akibat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan syaraf. Mengetahui hal tersebut, para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus segera diamati dan dicari penyebabnya.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/98/Minamata_Disease_Museum.jpg/640px-Minamata_Disease_Museum.jpg

Minamata Disease Municipal Museum, Minamata, Japan.

Melalui pengamatan yang mendalam tentang gejala penyakit dan kebiasaan orang Jepang, termasuk pola makan kemudian diambil suatu hipotesis. Hipotesisnya adalah bahwa penyakit tersebut mirip orang yang keracunan logam berat. Kemudian dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang Jepang mempunyai kebiasaan mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak.

Dari hipotesis dan kebiasaan pola makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah ikan-ikan di Teluk Minamata banyak mengandung logam berat (merkuri).

Kemudian disusun teori bahwa penyakit tesebut diakibatkan oleh keracunan logam merkuri yang terkandung pada ikan. Ternyata ikan tesebut mengandung merkuri akibat adanya orang atau pabrik yang membuang merkuri ke laut.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6a/Minamata_map_illustrating_Chisso_factory_effluent_routes2.png

The Chisso factory and its wastewater routes.

Penelitian berlanjut dan akihrnya ditemukan bahwa sumber merkuri berasal dari pabrik batu baterai Chisso.

Akhirnya pabrik tersebut ditutup dan harus membayar kerugian kepada penduduk Minamata kurang lebih dari US$ 26,6 juta dolar.

Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran.

Pada tingkatan akut, gejala pada sindrom Minamata ini biasanya semakin memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati. Jelas ini adalah gejala keracunan logam berat.

Semua itu akibat dari terpaparnya kandungan logam berat merkuri di dalam tubuh mereka yang berasal dari ikan di teluk Minatama yang mereka makan. Jika ikan saja bisa menularkan logam berat merkuri, bagaimana dengan air dari dalam tanahnya yang mereka minum, juga dari tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh mereka?

Penyakit Minamata di Niigata adalah sebuah pelajaran bagi dunia, yang disebabkan oleh merkuri organik air limbah industri dari sebuah PLTN yang dikelola oleh Showa Denko.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/Minamata_Disease_Cenotaph.jpg/640px-Minamata_Disease_Cenotaph.jpg

Minamata disease memorial monument located in the Seaside Park Eco Park of Minamata, Kumamoto Prefecture

Pemerintah Jepang secara resmi mengakui penyakit tersebut pada tanggal 31 Mei 1965, sembilan tahun setelah penyakit asli Minamata di Prefektur Kumamoto mendapat pengakuan dari pemerintah.

Terhitung bulan April 2015, sebanyak 702 orang diakui menderita Penyakit Minamata di Niigata, namun 531 diantaranya telah meninggal. Itu artinya, hingga tahun 2015 masih ada yang terkena!

Dengan maraknya tambang emas liar, batubara, hingga pemakaian kosmetik tak aman, maka malapetaka yang sama bisa terjadi di Indonesia, bila tak ada tindakan sejak dini,  malapetaka yang lambat namun pasti itu bisa terjadi kelak! (Bali Fokus /  mongabay indonesia / wikipedia / kompas / todaynippon.com)

Pustaka:


Korban di Minamata Jepang

Korban di Minamata Jepang

https://indocropcircles.files.wordpress.com/2016/01/e1220-nn20121115f1a.jpg?w=611&h=407

Korban Minatama akibat zat merkuri atau air raksa yang masih tersisa dan tak dapat disembuhkan

Tampak salah seorang penderita Minamata karena zat beracun merkuri atau air raksa yang masih hidup hadir pada peringatan tragedi Minamata 2015. (gettyimages)

Malapetaka Racun Merkuri Ancam Indonesia banner


VIDEO:

Mercury Poisoning – The Minamata Story

Bye-Bye Buyat: Part-1 | Part-2 | Part-3 | (Auto Play)


Artikel Lainnya:

Wow! Sudah Ada Ikan Mutan Kebal Limbah Racun, Bukti Bumi Berubah Drastis!

Bahaya Fluoride Dalam Air Minum: Picu Kanker & IQ Rendah

Cara Alkohol Pengaruhi Sistem Saraf dan Kemampuan Otak

Wow! Ilmuwan Ungkap Bahaya Minuman Soda Bagi Otak dan Tubuh Kita!

Menguak Fakta 10 Makanan Buatan AS Yang Ditolak Di Negara Lain

Indonesia Harus Waspadai Ancaman Teroris Biologi

Depopulasi Dunia: Pesawat Semprot Zat Kimia Berupa “Chemtrails” di Angkasa

Lebih Dekat: Gejala-Gejala “Miningitis”, Radang Selaput Otak

Mengenal Lebih Dekat: Misteri Penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)

Awas! Lewat Nyamuk, Virus Zika Buat Bayi Keterbelakangan Mental Melalui Radang Otak!

=>Puluhan Artikel Terkait Penyakit dan Kesehatan Lainnya<=


http://wp.me/p1jIGd-6rS

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Konspirasi Indonesia, Penyakit & Kesehatan dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s