[Project Seal] Tsunami Aceh Sumatra 2004: Bom Nuklir Bawah Laut

Tsunami Aceh Sumatra 2014: Bom Nuklir Bawah Laut Dan “Project Seal”

Egyptian magazine Al-Osboa claimed that the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami was intentionally caused by a nuclear weapon detonated in a strategic position under the ocean!

Tsunami Sumatra atau “Tsumani Samudera Hindia” (Indian Ocean Tsunami) atau lebih sering disebut sebagai “Tsunami Aceh” yang terjadi pada tangal 26 Desember tahun 2004 silam, masih merupakan kontroversi yang melahirkan konspirasi diantara para peneliti independen di dunia.

Beberapa ilmuwan independen dari berbagai ilmu yang terkait menyatakan: bahwa tsunami yang terjadi tersebut bukan berasal dari gempa bumi, melainkan adalah bom bawah laut yang ditanam, dan diledakkan dari bawah Samudera Hindia tak berapa lama setelah terjadinya gempa bumi alami yang terjadi sebelumnya.

“Salah satu profesor dibidang fisika asal Perancis melalukan riset mendalam dan mempublikasikan hasil riset ilmiahnya pada situsnya”, begitu yang dikatakan Jerry Duane Gray, seorang WNI asal Amerika yang kini menjadi muallaf dan menetap di Indonesia (untuk lengkapnya, Anda bisa melihat pernyataannya pada video dibawah artikel ini).

Jerry Duane Gray.

“Namun situs itu kemudian secara misterius menghilang. Tapi alhamdulillah, saya berhasil menyimpan halaman itu di PC saya”, lanjut Jerry.

Jerry mengaku berhasil mendapatkan isi riset alamiah dari website yang dipublikasikan oleh salah satu Profersor di bidang fisika asal Perancis, yang mana Jerry tetap tak mau menyebutkan namanya demi kerahasiaan pribadi sang profesor.

Salah satu teori kontroversi panas terjadi setelah Tsunami Samudera Hindia atau Tsumani Aceh pada tahun 2004 lalu, yang telah menghancurkan banyak kota pesisir di berbagai negara dan menyebabkan kematian ratusan ribu orang, adalah: karena tsunami disebabkan oleh “bom tsunami”, yaitu senjata nuklir / atom yang diledakkan dengan posisi strategis di bawah lautan.

Project Seal: Tsunami Bomb

“Penyerangan tak kentara” dengan cara seakan terjadinya bencana alamiah ini, telah dilakukan sejak tahun 1944 melalui proyek super rahasia AS yang bernama “Project Seal”.

“Proyek Anjing Laut” tersebut melakukan riset dan uji coba bagaimana cara menghancurkan lawan atau musuh melalui laut dengan cara membuat gelombang tsunami yang besar dan ditujukan ke daerah pesisir atau pantai lawan untuk kemudian membuat kematian massal, yang kemudian dinamakan “bomb tsunami”.

Top secret of Project Seal

Menurut berkas yang telah direklasifikasi (declassified), percobaan “bomb tsunami” memanfaatkan ledakan untuk memicu “gelombang mini” yang pernah diluncurkan di lepas pantai Selandia Baru pada tahun 1944 dan 1945 yang kemudian disebut sebagai “Project Seal“.

Salah satu sumber dari Timur Tengah dalam situs Al-Osboa (kini sudah dihapus) mengungkapkan bahwa ledakan bawah laut yang disebut “tsunami bomb” adalah yang menyebabkan Tsunami di Aceh.

Sumber yang telah dihapus itu juga menyebutkan bahwa tujuan “tsunami bomb” adalah untuk menyerang negara Muslim.

Sementara itu, surat kabar Mesir (halaman pada situs Al-Osboa  juga sudah dihapus) dengan berani juga menyatakan hal yang sama, bahwa tsunami yang meluluh-lantakkan Aceh dan banyak kota di negara sekitarnya adalah percobaan ledakan nuklir bawah laut.

Dokumen dari proyek militer super rahasia “Project Seal” ini kemudian juga dibocorkan pada Januari 2013 oleh Ray Waru, yang menyatakan bahwa proyek ini adalah proyek rahasia sejak tahun 1944.

Proyek ini adalah lanjutan dari “Project Manhattan” yang sempatt terbengkalai. Namun kali ini, “Project Seal” menuai kesuksesan. Kala itu ledakan menggunakan 2200 ton TNT agar tercipta tsunami setinggi 33 kaki.

Sementara untuk membuat tsunami di Aceh, mereka menggunakan peledak setara dengan 26 Megaton TNT. Jumlah yang sama seperti saaat AS melakukan percobaan nuklir bawah laut pada masa lalu.

Gempa Bumi Alami, P-Wave dan S-Wave

Dinyatakan bahwa gempa alami adalah rangkaian pergerakan atau pergeseran perlahan antar lempengan Bumi yang saling bertumbukan, secara berkala, dan terus menerus, sedikit demi sedikit.

Kemudian jika sudah mendekati titik klimaks atau jenuh, maka pada kali terakhir, lempeng akan bergerak dan menimbulkan gesekan besar secara mendadak. Lalu gesekan antar lempeng bumi itu menjadi gempa bumi, kemudian diikuti oleh gelombang sekunder yang menyertainya.

Namun apa yang terjadi di Aceh tidak demikian. Gempa tiba-tiba terjadi. Dan kemudian menimbulkan tekanan pada air laut untuk menghasilkan tsunami tanpa adanya gelombang susulan pada pusat gempa.

Salah satu teori kontroversi panas yang terjadi setelah Tsunami Samudera Hindia tahun 2004 yang menghancurkan dan menyebabkan kematian ribuan orang adalah karena tsunami disebabkan oleh “bom tsunami” – senjata nuklir yang diledakkan dengan posisi strategis di bawah lautan. Menurut berkas yang telah direklasifikasi (declassified), percobaan “bom tsunami” memanfaatkan ledakan untuk memicu “gelombang mini” yang pernah diluncurkan di lepas pantai Selandia Baru pada tahun 1944 dan 1945. (Gambar: Reuters).

Secara alami, pada gelombang permukaan air, kadang gelombang susulan memang akan terjadi dengan sendirinya, setelah gelombang utama bergerak, tapi yang dimaksud disini adalah gelombang sekunder dari getaran pada pusat gempa tersebut, yang tidak pernah terjadi.

“Gempa terjadi ibarat kita menarik suatu benang, jika kita tarik terus-menerus, maka benang akan tegang dan terjadi getaran atau vibrasi pada kedua pangkalnya, untuk kemudian putus,” ujar Jerry Duane Gray, mantan militer AS yang kini sudah mengantongi pasport menjadi warga negara Indonesia ini.

  • P-Wave

“Vibrasi bersamaan dengan gempa bawah laut itu disebut ‘P-Wave’ maka barulah terjadi gempa, setelah itu disusul oleh ‘S-Wave‘”, lanjut Jerry yang dulunya juga pernah menjadi seorang teknisi pesawat terbang ini.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/62/Onde_compression_impulsion_1d_30_petit.gif

P-Wave (Primary Wave)

P-Wave atau “Primary Wave” atau ‘gelombang utama’ adalah adalah salah satu dari dua jenis gelombang seismik utama.

Dalam bahsa Indonesia kadang sering juga disebut sebagai “gelombang tanah” (dinamakan demikian karena merambat di dalam tanah), adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan terekam oleh seismometer pertama kali.

Nama tersebut terutama berasal dari fakta bahwa jenis gelombang ini memiliki kecepatan paling tinggi dibandingkan gelombang-gelombang seismik lainnya.

Gelombang ini pula yang pertama kali akan tiba dan terdeteksi pada setiap stasiun pengukuran seismik, kemudian jenis gelombang berikutnya yang datang akan juga terdetaksi, yang dinamakan “gelombang-s” atau gelombang sekunder, atau S-Wave.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9b/Ondes_compression_2d_20_petit.gif

Dua dimensi dari P-Wave (Primary Wave)

“Gelombang ini disebut ‘P-Wave‘, namun tanpa diikuti oleh S-Wave, hal ini menunjukkan bahwa gempa Aceh adalah buatan manusia dan bukan gempa alami”, ujar Jerry.

“Hanya satu gelombang saja ketika terjadi gempa bumi di Aceh itu, tanpa adanya ketegangan jenuh pada lempeng dan terjadi dengan tiba-tiba, boom! Dan gelombangnya hanya P-Wave, lalu tsunami tercipta”, jelas Jerry.

  • S-Wave

Sementara itu, dalam seismologi juga ada ‘S-Wave adalah secondary waves atau  gelombang sekunder, adalah jenis gelombang elastis yang merupakan salah satu dari dua jenis gelombang tubuh elastis (elastic body waves) yang utama.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6d/Onde_cisaillement_impulsion_1d_30_petit.gif

S-Wave (secondary wave)

Dinamakan S-Wave karena mereka bergerak melalui tubuh suatu benda, tidak seperti surface waves atau gelombang permukaan.

Antara terjadinya ketegangan lempeng untuk kemudian menjadi gempa dan adanya gempa susulan memang terkadang tidak lama, hanya beberapa detik saja hingga beberapa menit.

Terjadinya hal ini adalah wajar dan justru membuat pola bahwa gempa bumi yang terjadi adalah gempa alami atau gempa natural.

Namun menurut Jerry, apa yang terjadi di Aceh adalah tiba-tiba terjadi gempa, timbul P-Wave, tanpa adanya gelompang susulan atau S-Wave pada air laut seperti biasanya. Itu artinya bukan gempa bumi, tapi ledakan dalam air laut.

P-Wave dan S-Wave

NOAA Amerika mencatat gempa Aceh sebesar 9,1 bahkan ada yang mencatat 9,6 skala Richter.

Padahal masih banyak gedung di Aceh tetap berdiri, bahkan banyak yang kacanya tidak pecah.

“Jika memang terjadi besaran skala Richter 9, maka radius ribuan kilometer bisa terkena dampaknya. Pihak Indonesia mencatat gempa Aceh 2004 hanya sebesar 6,4 skala Richter,” jelas Jerry.

Indonesia dan India Protes

“Indonesia protes, dan menyatakan bahwa itu adalah ledakan dalam air. Tapi esoknya Indonesia diam. India yang juga terkena dampaknya juga mengetahui hal ini dan marah besar, namun dua hari setelah musibah ini, pemerintah India juga ikut diam,” lanjut Jerry.

Contoh kedua gelombang P-Wave dan S-Wave pada seismograf.

“Hal yang dilakukan India yang akhirnya diam, karena pihak Israel menjanjikan teknologi nuklir terbaru bagi India jika protes ini ditarik kembali,” ungkap Jerry.

“Dua bulan kemudian, India mendapat apa yang dijanjikan, yaitu teknologi senjata nuklir terdepan (Advance Nuclear Technology) dari Israel dan juga Amerika,”

Padahal dalam sejarah, Israel tak pernah mau membagikan teknologi nuklirnya kepada negara lain,” jelas Jerry menambahkan.

Peneliti mensinyalir bahwa ada kemungkinan bahwa teknologi nuklir yang diberikan Israel kepada India ada kaitannya dengan perang senjata nuklir antara India dan Pakistan.

Departemen Pertahanan A.S. bahkan telah menyatakan keprihatinannya tentang teknologi yang dapat menyebabkan gempa dalam peperangan, sebelum bencana tahun 2004 lalu. Pada tahun 1997 Menteri Pertahanan William S. Cohen menyatakan, “Yang lainnya terlibat bahkan dalam jenis terorisme ekologis dimana mereka dapat mengubah iklim, memicu gempa bumi dan gunung berapi dari jarak jauh melalui penggunaan gelombang elektromagnetik. Jadi, ada banyak pemikiran yang cerdik jadi ada yang sedang bekerja mencari cara dimana mereka bisa mendatangkan teror ke negara lain. (Pict: AFP)

Terjadi dua kali gempa bumi

Dari penelusuran, telah terjadi dua gempa bumi yang waktunya tidak terlalu lama. Gempa bumi pertama terjadi di dasar laut pada pukul 00:58 GMT (07:58 WIB) pada 26 Desember 2004 di dekat Melaubuoh yang berada di Samudera Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa bumi pertama ini besar, berskala 9,1 pada skala Richter.

Dan gempa bumi kedua, terjadi di Samudera Hindia juga, yang jaraknya ratusan kilometer dari gempa bumi pertama, namun berada di Barat-Laut dari Aceh di daerah Kepulauan Andaman, India. Gempa bumi ini jauh lebih kecil getarannya, hanya 7,5 pada skala Richter.

Menurut beberapa peneliti, justru gempa bumi kedua yang mencurigakan inilah yang menyebabkan tsunami besar, bukan gempa pertama. Hal ini dilihat dari lokasi dan wilayah yang terkena pada banyak pantai disekitarnya, jika ditarik dari lokasi gempa, maka sangat cocok.

Gempa kedua ini hanya terjadi beberapa menit setelah gempa pertama, bukan 4 jam setelahnya seperti yang banyak dillaporkan.

Namun aneh, menurut banyak laporan. gempa bumi ini terjadi pada pukul 04:21 GMT di hari yang sama pada tanggal 26 Desember 2004. Menurut beberapa peneliti, gempa bumi kedua inilah yang menghasilkan tsunami besar dan menerjang beberapa pantai negara-negara disekitarnya.

Anda bisa googling image tentang gempa di Aceh ini, yang mana terjadinya tsunami bukan berasal dari gtempa pertama yang disinyalir adalah gempa alami dan berada di sisi barat pantai Aceh dengan kekuatan 9 SR, namun tsunami tercipta jusru berasal dari gempa kedua yang mencurigakan, berkekuatan 7 SR yang berada di barat laut Aceh dekat Kepulauan Andaman.

Padahal telah diberitakan oleh media barat, bahwa gempa kedua justru terjadi pada pukul 11:21 WIB di siang hari, sedangkan tsunami Aceh terjadi pada pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi WIB.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Suatu hal yang tak mungkin, kecuali gempa kedua memang tercipta tak lama setelah gempa pertama yang berada di pantai barat Aceh mulai terjadi.

Terjadi dua gempa bumi pda tanggal 26 Desember 2004.

Tapi anehnya, media dan informasi barat manyamarkan, menyatakan bahwa gempa pertamalah, yang dekat dengan pantai barat Aceh, yang menyebabkann tsunami besar dan kemudian menerjang kota Banda Aceh.

Jika dilihat dari posisinya gempa bumi pertama, tidak mungkin tsunami masuk ke Banda Aceh dengan sangat besar, karena gempa pertama berada di sisi barat pulau Sumatra dan tidak pada garis lurus (direct hit). Apalagi jika yang ikut terkena dampak sangat besar adalah pantai di Thailand, sangat tak masuk akal karena ada di balik pulau Sumatra.

“Tsunami di Afrika juga bukan berasal dari gempa bumi di Aceh, tapi disana memang ada tsunami,” ujar Jerry.

“Pangkalan militer rahasia Inggris-USA di Diego Garcia yang berada ditengah Samudra Hindia, seharusnya juga terkena dampak tsunami dari gempa ini dan hancur, tapi ternyata tidak. Ini merupakan hal yang tidak mungkin jika gempa Aceh adalah gempa alami”, lanjut Jerry.

Diego Garcia yang berada pada kordinat 07°19′27.6″S 72°27′17.4″E adalah pangkalan rahasia join Inggris dan AS ditengah-tengah Samudera Hindia atau disebelah selatan kepulauan Maldives.

Lokasi pangkalan militer rahasia Inggris-AS yang bernama Diego Garcia berada ditengah Samudera Hindia.

Pada pangkalan militer rahasia ditengah samudra Hindia ini dipenuhi oleh kapal-kapal perang AS dan Inggris dan juga pesawat-pesawat pembom canggih dari berbagai jenis, mulai dari jenis Stratofortress hingga B-2 Stealth Bomber.

Dari pangkalan militer inilah biasanya pesawat-pesawat pembom diluncurkan untuk membom negara-negara di Timur Tengah. Pangkalan militer ini juga pernah diisyukan sebagai tempat pendaratan rahasia pesawat Malaysian Airlines MH370 yang hilang tak berbekas.

Menurut Jerry dan juga para peneliti independen, di pangkalan militer rahasia ini tsunami akibat gempa bumi di Aceh tidak merusakkan apapun dan hal itu adalah tak mungkin.

Sedangkan kepulauan Maldives yang berada tepat diutaranya, juga mengalami tsunami hebat. Sementara daratan yang lebih jauh lagi, seperti pantai timur Afrika juga mengalami dampak tsunami akibat gempa di Aceh tersebut.

“Semua media di dunia tidak berani memberitakan hal ini. Semua media takut dengan Barat”, ujar Jerry melanjutkan.

Tampak peralatan perekaman seismik di pangkalan militer rahasia Inggris-USA di Diego Garcia dipasang di lemari besi bawah tanah. Sensor diletakkan di dermaga tengah, yang secara langsung menempel pada karang yang mendasari kubah tempat sensor itu berada, sehingga instrumen dapat merekam getaran yang terbaik akibat gelombang seismik yang melintasi bumi.

Jauh sebelumnya, Departemen Pertahanan A.S. bahkan telah menyatakan keprihatinannya tentang teknologi “bom dasar laut”, yang ia maksud dari Project Seal, karena dapat menyebabkan gempa yang dapat digunakan dalam peperangan, ia menyatakan hal ini sebelum bencana tahun 2004 lalu.

Pada tahun 1997 Menteri Pertahanan William S. Cohen pernah menyatakan, “Yang lainnya terlibat bahkan dalam jenis terorisme ekologis dimana mereka dapat mengubah iklim, memicu gempa bumi dan gunung berapi dari jarak jauh melalui penggunaan gelombang elektromagnetik. Jadi, ada banyak pemikiran yang cerdik jadi ada yang sedang bekerja mencari cara dimana mereka bisa mendatangkan teror ke negara lain.

(©2015 IndoCropCircles.com / video source and content: the telegraph, BBC, the daily mail, live science, US geological survey, new zealand herald).


Approximate Timeline of Indian Ocean Tsunami 2004

Based on News Reports published in the immediate wake of the earthquake.

Sunday 26 December 2004 (GMT)

00.58.50 GMT: a 9.0 magnitude earthquake occurs on the seafloor near Aceh in northern Indonesia.

01.02.20 GMT: IDA seismic stations in the Indian Ocean transmit data to the IRIS/IDA network and the National Earthquake Information Center World Data Center for Seismology, Denver (3 min 30 sec.  after the earthquake)

Shortly after 01.00 GMT: Earthquake hits several cities in Indonesia, creates panic in urban areas in peninsular Malaysia. The news of the earthquake is reported immediately.

01.04 GMT: The tsunami hits the coast of Northern Sumatra ( roughly 5 min after the earthquake)

01.10 minutes after the earthquake: It devastated Banda Aceh, capital of Aceh. (11 minutes after the earthquake)

01.14 GMT: The Pacific Tsunami Warning Center in Hawaii emits its first bulletin, confirming that there is no tsunami warning in effect.

01.3O GMT: Phuket and Coast of Thailand: The tidal wave hits the coastline after 8.30 am, 01.30 GMT

02:16 GMT (1 hour 17 minutes after the earthquake). SIO staff received notice via automatic email from the NEIC of the initial earthquake detection.

02.30 GMT: Eastern Coast of Sri Lanka is hit. The seismic wave hits the coastal regions close to the capital Colombo, according to report at 8.30 am local time,  02.30 GMT (approximately, an hour and a half after the earthquake)

02:57 PM:  1 hour 58 minutes after the quake, SIO staff receive request from Sri Lanka “asking whether there had been any earthquakes in or near Sri Lanka.”  (By that time the tsunami had already devastated the coast of Sri Lanka).

02.45 GMT: India’s Eastern Coastline. The tsunami hits India’s eastern coast as of 6:15 a.m.(02:45 GMT)

0.3.43 GMT:  NOAA log indicates that US Pacific Command, including the Diego Garcia military base, were “given a specific warning about the tsunami some two and three quarter hours after the earthquake” (The Guardian, 7 Jan 2005). Subsequent reports suggest that the Military received the seismic data in near real time shortly after the earthquake.

04.00 GMT: Male, Maldives: From about 9:00 am (04.00 GMT), three hours after the earthquake, the capital, Male, and other parts of the country were flooded by the tsunami. (more than three hours after the earthquake)

08.00 -11.00 GMT (according to news dispatches): East Coast of Africa is hit. Seven to ten hours after the earthquake.


TABLE 1:

FOUR MONITORING STATIONS IN THE BIOT CHAGOS ARCHIPELAGO

1. IDA/ IRIS DGAR (Diego Garcia), Seismometer on the site of the US Air Force’s Ground-Based Electro-Optical Deep Space Surveillance (GEODSS) station at Diego Garcia. -7.3 S 72.4 E

2. IMS/ CTBTO BIOT Chagos Hydroacoustic Station (HA08) at -7.3 S 72.4 E located at the Diego Garcia US military base

3. IMS/ CTBTO BIOT Chagos Radionuclide Station (RN66) at -7.0 S 72.0 E located at the Diego Garcia US military base.

4. IMS/ CTBTO  BIOT Chagos Infrasound Station (IS52) at -5.0 S 72.0 E located near Peros Banhos Island

The IMS stations transmit data in real time to the CTBTO International Data Centre (IDC) in Vienna, The IDa station transmits data in real to IRIS and NEIC

Functions of CTBTO International Monitoring System

  • The primary and auxiliary seismic stations  monitor seismic signals propagating through the earth from natural events (earthquakes) and man-made events (mining blasts and explosions);
  • The radionuclide stations pick up traces of radioactivity following a nuclear explosion in the atmosphere or leaked from an underground nuclear test;
  • The hydroacoustic stations detect explosions on the ocean surface and under the water; and
  • The infrasound stations provide evidence of a possible atmospheric explosion by detecting sound pressure waves in the atmosphere.

Source: FAS


TABLE 2:

IDA Project Links to Seismographic Readings

Source: IDA Project. Magnitude 9.0 quake off the west coast of Northern Sumatra (click to access the relevant data)

http://ida.ucsd.edu/SpecialEvents/2004/361/a/index.shtml#parameters

Source: Project IDA.

http://ida.ucsd.edu/SpecialEvents/2004/361/a/DGARunclip.gif


TABLE 3:

480 Stations sorted by distance from the epicenter recorded the seismic data

IRIS ONLINE DATA ON WILBER II

Event: 2004/12/26 00:58:50.7  OFF W COAST OF NORTHERN SUMATERA

Mag: 8.5 Type: MS Lat: 3.30 Lon: 95.78 Depth: 10.00
Catalog: NEICALRT Contributor: NEIC Source: SPYDER®

480 Responding Stations

Source: Wilber II

CATATAN: Bisa jadi mungkin tautan-tautan diatas sudah dihapus atau mati (dead link) ketika Anda mengakses beberapa link diatas pada saat ini. Cobalah cari di Google.


Pustaka:


VIDEO:

Jerry D Gray – Bom Tsunami 2004: Aceh and Muslim Country (Project Seal)  | video via Facebook | Video download: small (mp4 / 6,6mb), medium (wmv / 41mb)

Atomic bomb Underwater Nuclear Burst finial version tsunami bomb 1958

Project Seal: Top Secret WWII plan to create a Tsunami Bomb

Atomic Tsunami Bomb Tactical Nuclear Tectonic Weapon Code name Project Seal


Artikel Lainnya:

Ditemukan: Gua Yang Mengungkap Sejarah Tsunami di Aceh

Gila! HAARP Senjata Canggih, Mengatur Pikiran, Gempa dan Iklim Dunia! Termasuk Gempa di Indonesia!

9 Tsunami Paling Dahsyat & Mematikan Pada Zaman Modern

Tsunami Dahsyat Ungkap Lokasi Kota Legendaris Atlantis?

Buku “Oera Linda” : Tsunami terdahsyat 4200 tahun lalu (2193 SM) memusnahkan banyak Kerajaan di Bumi

[FOTO] Misterius! Gelembung Busa Penuhi Jalanan Fukuoka Setelah Gempa Jepang

Cerita Para Supir Taksi Jepang Bawa Penumpang Hantu di Kota Bekas Tsunami

Warga Takjub, Pulau Heboh Ini Nongol Setelah Gempa!

Aneh! Seismograf Yogyakarta Bergoyang Hebat Tapi Laporan Gempa Sangat Sedikit?

7 Gempa di Indonesia Yang Tercatat Dengan Jumlah Korban Ribuan

[VIDEO & FOTO] Gempa Jogjakarta 2006: Akibat Bom Besar di Tengah Laut??

Prediksi Gempa: Inilah Cara Hewan Dapat Mengetahui Akan Terjadi Gempa Bumi

Masih Misteri, Bagaimana Meramal Gempa Bumi? Peneliti Mengklaim Ada Teori Baru


http://wp.me/p1jIGd-7WF

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Konspirasi Gila, Konspirasi Indonesia, Konspirasi Teori dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke [Project Seal] Tsunami Aceh Sumatra 2004: Bom Nuklir Bawah Laut

  1. Imperium Tharsis berkata:

    Sangat menggelitik pikiran. Seperti membangunkan kembali serpihan-serpihan kejanggalan yang terpaksa dikekalkan di dasar laut.

  2. Adi Jaya berkata:

    Judul : Tsunami Aceh Sumatra 2014: Bom Nuklir Bawah Laut Dan “Project Seal”
    2014? Tsunami ini terjadi pada tahun 2004. Mungkin Admin salah tulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s