Penakluk Kutub Selatan: Ekspedisi Amundsen 1911

“Ekspedisi Fram” Ke Titik Kutub Selatan Oleh Roald Amundsen Tahun 1911

Ekspedisi ini bagaikan perlombaan. Siapa cepat, maka dia yang akan tercatat dalam sejarah dunia sepanjang masa. Ke benua antartika sudah biasa, tapi menaklukkan Titik Kutub Selatan adalah tantangan para penjelajah pada masa lalu. Benua Antartika dimana terdapat titik kutub selatan Bumi kordinat 90° S, adalah kawasan ditengah dataran gurun es seluas Cina dan India jika digabungkan, yang dimiliki secara internasional, atau tidak boleh dimiliki oleh negara manapun.

Permukaan seluas benua berupa hamparan es ini adalah wilayah internasional untuk digunakan sebagai penelitian bagi semua ilmuwan dari seluruh negara dunia, dan satu-satunya daratan berupa benua yang tidak bisa dimiliki oleh negara manapun,hingga kini. Bagaimana strategi “lomba” adu cepat menuju ke titik kutub selatan Bumi diantara mereka?

Ekspedisi pertama yang berhasil mencapai titik geografis Kutub Selatan dipimpin oleh penjelajah Norwegia, Roald Amundsen. Dia dan empat orang lainnya tiba di titik kutub selatan, yang berada di tengah-tengah benua Antartika pada tanggal 14 Desember 1911, bersaing dulu-duluan sebagai yang pertama kali menginjakkan titik kutub selatan Bumi dengan penjelajah Inggris, Robert Falcon Scott.

Apa yang terjadi? Ternyata Amundsen lebih dulu sampai dibanding Scott, atau lima minggu sebelum tim Inggris yang dipimpin oleh Robert Falcon Scott sebagai bagian dari Ekspedisi Terra Nova (Terra Nova Expedition) ke kutub selatan sebagai yang pertama.

Ya, akhirnya Amundsen seoorang penjelajah asal Norwegia, sebagai orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di titik kutub selatan, ditengah padang salju dan es di benua paling dingin di planet Bumi, Antartika.

Roald Amundsen.

Amundsen yang bernama lengkap Roald Engelbregt Gravning Amundsen, lahir di Fredrikstad, sekitar 80 km dari Christiania (sekarang Oslo), Norwegia, pada tahun 1872, dia adalah anak pemilik kapal.

Pada tahun 1893, dia meninggalkan studinya di Christiania University dan mendaftar sebagai pelaut di atas kapal selam Magdalena untuk berlayar ke Arktik.

Setelah beberapa pelayaran yang lebih jauh, dia lolos sebagai orang kedua/wakil kapten, saat tidak berada di laut, ia mengembangkan keahliannya sebagai pemain ski lintas negara di lingkungan ekstrim pada dataran tinggi Hardangervidda di Norwegia, sampai akhirnya mendapatkan jabatan sebagai kapten kapal dan membuat ekspedisinya ke titik kutub selatan.

Jika Anda ingin terus membaca agar lebih mengetahui bagaimana petualangan dan kisah penjelajah hebat ini, kami jabarkan sejarah petualangannya berikut ini.

Latar Belakang Ekspedisi

Pada tahun 1893 dua teman Amundsen, Fridtjof Nansen dan Hjalmar Johansen melakukan ekspedisi ke kutub utara. Mereka membawa kapal yang bernama “Fram” ke utara Siberia dan membiarkannya hanyut di es menuju Greenland, dengan harapan rute ini akan melintasi Kutub Utara.

Dalam kejadian tersebut, drift tidak mendekati titik kutub, dan usaha Nansen dan Hjalmar Johansen untuk mencapainya dengan berjalan kaki juga tidak berhasil. Namun demikian, strategi Nansen menjadi dasar rencana Amundsen sendiri untuk menuju Arktik.

Fridtjof Nansen, penjelajah Arctic tahun 1893–96 yang mengispirasi Amundsen.

Dia beralasan bahwa jika dia memasuki Samudera Arktik melalui Selat Bering, di sebelah timur titik awal Nansen, maka kapalnya akan mencapai drift yang lebih ke utara dan melewati dekat atau malah melalui melalui titik kutub utara.

Pada tahun 1896, Amundsen terinspirasi oleh eksploitasi kutub utara oleh teman yang sekaligus warga-negaranya sendiri asal Norwegia tersebut, Fridtjof Nansen.

Kemudian Amundsen bergabung dengan Ekspedisi Antartika Belgia sebagai rekanan, di atas kapal bernama “Belgica” dibawah komando kapten Adrien de Gerlache. Pada awal tahun 1898, kapal tersebut terjebak oleh bungkahan es di Laut Bellinghausen, dan berlangsung selama hampir setahun.

Ekspedisi tersebut menjadi “tanpa sengaja” jadi sebagai orang pertama yang menghabiskan musim dingin yang lengkap di perairan Antartika, periode yang ditandai oleh depresi, kelaparan, kelaparan, dan kudis di antara para kru.

Tapi Amundsen tetap tidak kecewa, bahkan hal itu adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga baginya. Ia mengingat segala sesuatu dan menggunakan pengalaman itu sebagai pendidikan di semua aspek, seperti teknik eksplorasi kutub, terutama masalah medis, menghadapi penyakit, menganggulangi keadaan darurat, pertolongan pertama, cara mencari bantuan, pakaian dan makanan.

Pelayaran Belgica menandai awal dari apa yang kemudian dikenal sebagai Era Heroic of Antartika Exploration, dan dengan cepat diikuti oleh ekspedisi dari Inggris, Swedia, Jerman dan Prancis. Namun, saat kembali ke Norwegia pada tahun 1899, Amundsen masih tetap mengalihkan perhatiannya ke arah utara.

RV Belgica frozen in the ice, 1898

Yakin pada kemampuannya untuk memimpin sebuah ekspedisi, dia merencanakan sebuah jalur melintasi Northwest Passage, rute laut yang belum dipetakan dari Atlantik ke Pasifik melalui labirin kepulauan Kanada utara.

Setelah mendapatkan gelar Kapten, Amundsen mengambil sebuah sekop kecil, Gjøa , yang ia adaptasi untuk perjalanan ke Arktik. Dia mendapat perlindungan Raja Oscar dari Swedia dan Norwegia, dukungan dari Nansen, dan dukungan finansial yang memadai untuk diumumkan pada bulan Juni 1903 dengan awak enam orang.

Pelayaran berlangsung sampai tahun 1906 dan sepenuhnya berhasil. Daerah bernama Passage Northwest, yang belum bisa dikalahkan oleh pelaut selama berabad-abad, akhirnya ia taklukkan. Pada usia 34 tahun, Amundsen sudah menjadi pahlawan nasional, berada di peringkat pertama sebagai penjelajah kutub.

Perubahan rencana ekspedisi dari Kutub Utara ke Kutub Selatan

Tadinya, rencana awal Amundsen berfokus pada Arktik dan penaklukan Kutub Utara dengan cara berlayar dengan kapal layar diatas es. Dia diperbolehkan menggunakan kapal penjelajah kutub milik Fridtjof Nansen yang bernama “Fram”, dan melakukan penggalangan dana secara ekstensif. Amundsen segera mulai mengumpulkan dana untuk berusaha lebih lanjut.

Pada bulan November 1906, Robert Peary dari Amerika kembali dari ekspedisi terakhirnya yang gagal di Kutub Utara, mengklaim sebuah “Kutub Utara Baru” yang lebih jauh yang ia namakan Farthest North, pada 87° 6′ N, sebuah catatan yang dipersengketakan oleh sejarawan kemudian.

Pada bulan Juli 1907, Dr Frederick Cook, mantan rekan kapal Amundsen’s dari Belgica, berangkat ke utara untuk melakukan perjalanan berburu, namun kemudian dikabarkan berusaha menuju di Kutub Utara.

Sebulan kemudian Ernest Shackleton berlayar ke Antartika dengan Nimrod Expedition, sementara Robert Falcon Scott sedang mempersiapkan sebuah ekspedisi lebih lanjut, agar Ernest Shackleton gagal.

Amundsen mengumumkan rencananya ke publik pada tanggal 10 November 1908, pada sebuah pertemuan Norwegian Geographical Society. Dia akan membawa Fram mengelilingi Tanjung Horn ke Samudra Pasifik, setelah berada di San Francisco, kapal tersebut akan terus ke utara, melalui Selat Bering ke Point Barrow. Dari sini dia akan membawa langsung ke es untuk memulai arus yang akan berlanjut selama empat atau lima tahun.

Ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan eksplorasi geografis, akan ada pengamatan secara terus menerus, Amundsen berharap, membantu menjelaskan sejumlah masalah yang belum terselesaikan. Rencananya diterima dengan antusias, dan keesokan harinya Raja Haakon mendaftar sebagai penyumbang dengan hadiah 20.000 kroner.

Pada tanggal 6 Februari 1909 Parlemen Norwegia menyetujui pemberian 75.000 kroner untuk memperbaiki kapal tersebut. Penggalangan dana dan pengelolaan bisnis ekspedisi secara umum ditempatkan di tangan saudara laki-laki Amundsen, Leon, sehingga penjelajah dapat berkonsentrasi pada aspek-aspek praktis dari organisasi.

Persiapan untuk ekspedisi ini kemudian terganggu ketika pada tahun 1909, penjelajah Amerika yang bersaing, Frederick Cook dan Robert E. Peary masing-masing mengklaim telah mencapai Kutub Utara terlebih dahulu dan membuat Amundsen mengubah pikiran dan tujuan ekspedisinya.

Amundsen tidak melihat alasan untuk mengakui prioritas ke selatan kepada pihak Inggris, dan tetap berbicara secara terbuka mengenai prospek untuk memimpin ekspedisi ke Antartika, meskipun tujuannya yang disukai tetap Kutub Utara.

Pada bulan Maret 1909 diumumkan pula, bahwa Shackleton telah mencapai garis lintang selatan 88 ° 23′- 97 mil laut (180 km) dari Kutub Selatan – sebelum kembali. Dengan demikian, seperti yang diamati Amundsen, di selatan “sebuah sudut yang kecil masih ada”. Dia tidak memuji atas pencapaian Shackleton, dan menulis bahwa selatannya Shackleton di kutub selatan adalah setara dengan utaranya Nansen di kutub utara.

Pada bulan September 1909, surat kabar memuat laporan bahwa Cook dan Peary masing-masing mencapai Kutub Utara, Cook pada bulan April 1908 dan Peary setahun kemudian. Diminta untuk berkomentar, Amundsen menghindari dukungan langsung dari penjelajah tersebut, namun menduga bahwa “mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan”. Sementara dia menghindari kontroversi mengenai klaim saingannya, dia segera melihat bahwa rencananya sendiri akan sangat terpengaruh.

Tanpa daya ketertarikan dapat menuju kutub utara, dia akan tetap berjuang untuk mempertahankan kepentingan umum atau pendanaan. “Jika ekspedisi itu harus diselamatkan… tidak ada yang tersisa untukku tapi untuk mencoba dan memecahkan masalah besar terakhir, – Kutub Selatan”.

Amundsen kemudian mengubah rencananya dan mulai mempersiapkan untuk penaklukan Kutub Selatan. Tidak yakin sejauh mana publik dan para pendukung akan mendukungnya, dia menyimpan rahasia tujuan yang telah direvisi ini.

Jadi Amundsen memutuskan untuk pergi ke selatan, drift Arktik bisa menunggu “selama satu atau dua tahun” sampai Kutub Selatan telah ditaklukkan. Amundsen tidak mempublikasikan perubahan rencana. Seperti yang ditunjukkan oleh penulis biografi David Crane, dana ekspedisi dari publik dan swasta diperuntukkan bagi karya ilmiah di Arktik, tidak ada jaminan bahwa pendukung akan memahami atau menyetujui usulan volte-face.

Penjelajah kutub selatan asal Inggris, Robert Falcon Scott atau biasa dipanggil Scott.

Selanjutnya, tujuan yang berubah ini dapat menyebabkan Nansen mencabut penggunaan Fram atau parlemen, untuk menghentikan ekspedisi karena takut merusak rencana Scott dan menyinggung Inggris.

Amundsen menyembunyikan niatnya dari semua orang kecuali saudaranya Leon, dan komandonya yang kedua, Nilsen.

Setelah ini hampir tidak ada ekspedisi, lalu Scott segera menegaskan niatnya untuk memimpin sebuah ekspedisi (yang menjadi Terra Nova Expedition) yang akan mencakup “sudut kecil” dan mengklaim hadiah dari Kerajaan Inggris.

Amundsen menulis sebuah surat penjelasan panjang kepada Nansen, menekankan bagaimana klaim Kutub Utara tentang Cook dan Peary telah menghasilkan “pukulan mematikan” terhadap rencana awalnya. Dia merasa telah dipaksa melakukan tindakan ini dengan kebutuhan, meminta pengampunan dan mengungkapkan harapan bahwa prestasinya pada akhirnya akan menebus pelanggaran tersebut.

Persiapan Ekspedisi Amundsen

  • Kapal Laut

Amundsen berkonsultasi dengan Nansen, yang bersikeras bahwa Fram adalah satu-satunya kapal yang cocok untuk usaha semacam itu. Fram telah dirancang dan dibangun pada tahun 1891-93 oleh Colin Archer, pembuat kapal dan arsitek angkatan laut Norwegia, sesuai dengan spesifikasi tuntutan Nansen sebagai kapal yang tahan lama terkena kondisi Arktik yang paling keras.

Fitur kapal yang paling khas adalah lambung bulat, yang menurut Nansen memungkinkan kapal tersebut untuk “tergelincir seperti belut dari antara es”. Untuk kekuatan ekstra, lambung kapal itu menggunakan kayu Chlorocardium dari Amerika Selatan, kayu tersulit yang tersedia, dan balok serta kawat dipasang di sepanjangnya.

Lebar kapal 11 meter dalam kaitannya dengan panjang keseluruhannya 39 meter, memberikannya penampilan yang tampak gagah. Bentuk ini meningkatkan kekuatannya di dalam es namun mempengaruhi kinerjanya di laut terbuka, di mana ia bergerak lamban dan cenderung berguling dan paling tidak nyaman.

The Fram, saat berlayar diantara lapisan es.

Namun untuk penampilan, kecepatan, dan kualitas pelayarannya adalah hal yang sekunder akibat disain penyediaan tempat penampungan agar lebih aman dan hangat bagi awak kapal selama perjalanan yang mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun.

Kapal bernama Fram ini hampir tanpa cedera dari ekspedisi Nansen setelah hampir tiga tahun berada di es kutub. Sekembalinya telah diperbaiki, sebelum menghabiskan empat tahun di bawah komando Otto Sverdrup, tercatat telah menjelajahi 100.000 mil persegi (260.000 km2) di wilayah tak berpenghuni di kepulauan Kanada utara.

Setelah pelayaran Sverdrup berakhir pada tahun 1902, Fram terbaring di Christiania. Meskipun kapal tersebut secara teknis merupakan milik negara, namun secara diam-diam diakui bahwa Nansen pertama-tama menghubunginya.

Setelah kembali dari Arktik pada tahun 1896, dia telah berusaha membawa Fram melakukan ekspedisi ke Antartika, namun pada tahun 1907, harapan semacam itu menjadi pudar. Pada akhir bulan September di tahun yang sama, Amundsen dipanggil ke rumah Nansen dan mengatakan bahwa ia dapat memiliki kapal tersebut.

  • Krew dan Tim

Amundsen memilih tiga letnan angkatan laut sebagai perwira ekspedisi: Thorvald Nilsen, navigator yang akan menjadi komandan kedua, Hjalmar Fredrik Gjertsen, dan Kristian Prestrud. Gjertsen, meski tidak memiliki latar belakang medis, pernah menjadi dokter ekspedisi dan dikirim melalui “kursus kilat” dalam operasi dan kedokteran gigi.

Seorang penembak angkatan laut, Oscar Wisting, diterima atas rekomendasi Prestrud karena dia bisa menyerahkan sebagian besar tugasnya kepada mereka. Meskipun dia memiliki sedikit pengalaman tentang anjing kereta luncur (sledge dogs), Amundsen menulis bahwa Wisting mengembangkan “jalannya sendiri” dengan mereka, dan menjadi dokter hewan amatir yang berguna.

Pilihan awal untuk krew tersebut adalah Olav Bjaaland, seorang pemain ski juara yang adalah seorang tukang kayu terampil dan pembuat ski. Bjaaland berasal dari Morgedal, provinsi Telemark di Norwegia, sebuah wilayah yang terkenal dengan kecakapan para pemain ski dan sebagai rumah pelopor teknik modern, Sondre Norheim.

Fram crew in the penthouse showing off their new goggles sunglasses, each had improvised to design their own Amundsen lantern slide 199 (courtesy Fram Museum)

Amundsen percaya kepada Nansen bahwa anjing ski dan kereta luncur menyediakan metode transportasi Arctic yang paling efisien, dan bertekad untuk merekrut pengemudi anjing paling terampil.

Helmer Hanssen, yang telah membuktikan nilainya dalam ekspedisi Gjøa, setuju untuk bepergian bersama Amundsen lagi. Ia bergabung kemudian bersama Sverre Hassel, seorang ahli anjing, dan veteran pelayaran Frette 1898-1902 Sverdrup, yang bermaksud hanya bepergian dengan Amundsen sejauh San Francisco. Mengingat nilai seorang juru masak yang kompeten,

Amundsen mengamankan layanan Adolf Lindstrøm, veteran Sverdrup lainnya yang telah memasak di atas kapal Gjøa. Dari pengalamannya di kapal Belgica dan Gjøa, Amundsen telah mengetahui pentingnya pelayaran jangka panjang dari teman yang stabil dan kompatibel, dan dengan personil berpengalaman ini, dia merasa memiliki inti ekspedisinya. Dia terus merekrut sampai tahun 1909, Fram pada akhirnya akan memiliki total 19 krew.

Semua krew ini adalah pilihan pribadi Amundsen, kecuali Hjalmar Johansen, yang diikutsertakan atas permintaan Nansen. Sejak perjalanan epiknya dengan Nansen, Johansen tidak dapat diam. Terlepas dari usaha Nansen dan yang lainnya untuk membantunya, hidupnya menjadi peminum dan berhutang. Nansen ingin memberi mantan rekannya itu kesempatan terakhir untuk menunjukkan bahwa dia masih seorang pekerja yang cakap di lapangan.

Merasa bahwa dia tidak dapat menolak keinginan Nansen, Amundsen dengan enggan menerima Johansen. Krew tersebut berisi dua orang asing: seorang ahli kelautan Rusia, Alexander Kuchin (atau Kutchin) adalah murid Bjorn Helland-Hansen, dan seorang insinyur Swedia, Knut Sundbeck.

  • Transportasi, peralatan dan perlengkapan

Olav Bjaaland berpakaian untuk perjalanan musim salju (winter travel).

Amundsen tidak mengerti ketidakpedulian penjelajah Inggris terhadap anjing, dia kemudian menulis: “Mungkinkah anjing itu tidak mengerti tuannya? Atau apakah tuannya yang tidak mengerti anjingnya?”.

Setelah keputusannya untuk pergi ke selatan, dia memerintahkan 100 anjing pengintai North Greenland yang terbaik dan terkuat yang pernah ada.

Sepatu ski dirancang khusus oleh Amundsen, adalah produk pengujian dan modifikasi dua tahun untuk mencari kesempurnaan. Pakaian polar termasuk pakaian kulit laut dari Northern Greenland, dan pakaiannya dibuat sesuai gaya Netsilik Inuit dari kulit rusa kutub, kulit serigala, kain Burberry dan gabardin.

Keberangkatan Amundsen 

Pada bulan-bulan sebelum keberangkatan, dana untuk ekspedisi menjadi sulit didapat. Karena terbatasnya minat publik, transaksi surat kabar dibatalkan dan parlemen menolak permintaan 25.000 kroner lagi. Amundsen menggadaikan rumahnya agar ekspedisi terus berlanjut; Dengan hutang besar, dia sekarang sepenuhnya bergantung pada keberhasilan ekspedisi untuk menghindari kehancuran finansial pribadi.

Setelah mencoba pelayaran percobaan sebulan di Atlantik Utara pada bulan Juni 1910, Fram akhirnya berlayar ke Kristiansand pada akhir Juli 1910 untuk membawa anjing-anjing itu ke kapal dan melakukan persiapan akhir untuk keberangkatan.

Sementara di Kristiansand, Amundsen menerima tawaran bantuan dari Peter “Don Pedro” Christophersen, seorang ekspatriat Norwegia yang saudara laki-lakinya adalah Menteri Norwegia di Buenos Aires. Christophersen akan menyediakan bahan bakar dan ketentuan lainnya kepada Fram di Montevideo atau Buenos Aires, sebuah tawaran yang diterima Amundsen dengan rasa syukur.

Ketika Amundsen mulai berangkat pada bulan Juni 1910, dia bahkan memimpin krunya untuk percaya bahwa mereka mulai menuju Arktik. Amundsen mengungkapkan tujuan Antartika sebenarnya hanya ketika Fram meninggalkan pelabuhan terakhir mereka, Madeira, kepulauan milik Portugis yang berada di lepas pantai barat benua Afrika.

Perjalanan ke Antartika

Jadwal ekspedisi yang direvisi secara pribadi mengharuskan Fram meninggalkan Norwegia pada bulan Agustus 1910 dan berlayar ke Madeira di Atlantik, satu-satunya pelabuhan disana. Tepat sebelum Fram berlayar pada tanggal 9 Agustus, Amundsen mengungkapkan tujuan sebenarnya ekspedisi tersebut kepada dua perwira junior, Prestrud dan Gjertsen.

Fram tiba di Funchal pada tanggal 6 September. Tiga hari kemudian Amundsen memberitahu awak rencana yang telah direvisi tersebut.  Setelah Amundsen menggariskan proposal barunya, masing-masing pria ditanya apakah dia bersedia untuk melanjutkan, dan semuanya menanggapi secara positif.

Posisi Basecamp Framheim di Teluk Paus (Bay of Whales) dan titik Kutub Selatan di Benua Antartika.

Kerahasiaan ini menyebabkan adanya kecanggungan, Scott telah mengirim instrumen Amundsen untuk mengaktifkan dua ekspedisi mereka di ujung bumi yang berlawanan, untuk membuat pembacaan komparatif.

Kata penulis biografi Amundsen Roland Huntford, “cukup menimbulkan kecurigaan dan semangat rendah”.

Sebelum meninggalkan Funchal pada tanggal 9 September Amundsen mengirim sebuah kabel ke Scott, untuk memberitahukan kepadanya tentang perubahan rencana tersebut.

Kapal Scott yang bernama Terra Nova, telah meninggalkan Cardiff di tengah banyak publisitas sejak tanggal 15 Juni, dan dijadwalkan tiba di Australia pada awal bulan Oktober.

Seakan menyaingi ekspedisi, Scott asal Inggris yang juga ke kutub selatan, tindakan Amundsen asal Norwegia ini hanya sedikit dikecam oleh pers dan publik, dan pendanaannya hampir habis. Tidak menyadari reaksi dunia, Fram tetap berlayar ke selatan selama empat bulan. Gunung es pertama terlihat pada Hari Tahun Baru 1911.

Sampai di Antartika

Kapal tersebut langsung menuju Laut Ross (Ross Sea) yang ada di kordinat 75°00′00″S 175°00′00″W di Antartika, lalu masuk ke sebuah lautan berhampar es yang membeku bernama Ross Ice Shelf / Paparan Es Ross (yang kemudian dikenal sebagai “Great Ice Barrier”, yaitu hamparan laut es yang membeku di wilayah kordinat 81°30′00″S 175°00′00″W, dimana Amundsen bermaksud membuat markasnya, Barrier sendiri mulai terlihat pada tanggal 11 Januari.

Kemuadian mereka menuju Teluk Paus (Bay of Whales) yang berada di kordinat 78°30′00″S 164°20′00″Wdan pada tanggal 14 Januari, Fram berlabuh di teluk itu. Bay of Whales adalah titik paling selatan di Laut Ross yang bisa dilalui sebuah kapal, sejauh 60 mil laut (110 km) lebih dekat ke Kutub Selatan daripada yang dilalui oleh Scott yaitu di McMurdo Sound.

Bay of Whales, Antarctic.

Amundsen teringat, sejak tahun 1907-1909 Shackleton telah mempertimbangkan bahwa es di Bay of Whales menjadi tidak stabil, namun dari studinya tentang catatan Shackleton, Amundsen memutuskan bahwa Barrier disini dasarnya terdapat shoals (gundukan pasir/gosong pasir) atau skerries (pulau karang kecil), dan akan mendukung tempat Fram yang stabil dan aman.

Setelah berlabuh, Fram akan melakukan pekerjaan oseanografi di Atlantik sebelum berada di pantai pada awal tahun berikutnya. Amundsen kemudian membuat base di Antartika, yang dinamakannya “Framheim”, yang berada di Teluk Paus (Bay of Whales) di Great Ice Barrier.

Musim pertama, 1910-1911

Setelah Fram berlabuh ke es di sebuah jalan masuk di sudut tenggara teluk, Amundsen memilih sebuah lokasi untuk pondok utama ekspedisi, 2,2 mil laut (4,1 km) dari kapal. Enam tim anjing digunakan untuk memindahkan persediaan ke lokasi, saat bekerja membangun base dimulai. Bjaaland dan Stubberud meletakkan fondasi jauh ke dalam es, meratakan tanah miring.

Karena angin kencang datang dari timur, base berupa pondok itu dipasang di sumbu timur-barat, dengan pintu menghadap ke barat, jadi angin hanya menangkap dinding timur tenda yang lebih pendek. Atapnya selesai dibangun ada pada 21 Januari, dan enam hari kemudian basecamp berupa rumah pondok yang dijuluki “Framheim”, atau “rumah Fram” (Fram diambil dari nama kapal layar dalam ekspedisi ini) akhirnya selesai didirikan.

Pada pagi hari tanggal 3 Februari 1911, Ekspedisi Terra Nova yang dikepalai oleh Scot dari Inggris tiba di Teluk Paus. Dia telah berlayar dari Selandia Baru pada tanggal 29 November 1910 dan tiba di McMurdo Sound awal Januari 1911. Kelompok ini bermaksud untuk menjelajahi wilayah yang tidak dikenal ini, namun telah dicegah oleh lautan es dekat pantai.

Kapal itu berlayar ke barat menyusuri tepi Barrier untuk mencari tempat pendaratan yang mungkin, saat bertemu dengan kapal Fram. Kedua kelompok berperilaku sopan terhadap satu sama lain, Scott Campbell dan perwiranya Harry Pennell dan George Murray Levick sarapan pagi di atas Fram, dan membalasnya dengan makan siang di Terra Nova.

  • Peletakan depot di Barrier

Pada awal bulan Februari, Amundsen mulai mengatur perjalanan peletakan depot di Barrier, untuk persiapan serangan musim panas berikutnya di kutub. Pada tanggal 10 Februari, Amundsen memilih Prestrud, Helmer Hanssen dan Johansen untuk menemaninya, 18 anjing akan menarik tiga sledges. 

Sebelum pergi, Amundsen meninggalkan instruksi dengan Nilsen mengenai Fram. Kapal tersebut akan berlayar ke Buenos Aires untuk reprovisioning, sebelum melakukan program kerja oseanografi di Samudra Selatan (Southern Ocean) dan kemudian kembali ke Barrier sedini mungkin pada tahun 1912.

Framheim Basecamp tak lama setelah baru dibangun yang berada di pesisir Bay of Whales, Antarctica Februari 1911.

  • Peletakkan Depot-1 (80° S)

Perjalanan untuk meletakkan depot untuk kebutuhan dan perlengkapan pada suatu titik ke arah selatan mulai dilakukan. Mereka terkejut menemukan permukaan suatu Barrier seperti gletser konvensional. Mereka menempuh jarak 15 mil laut (28 km) pada hari pertama. Tim tersebut mencapai kordinat 80° S pada tanggal 14 Februari, dan setelah meletakkan depot, peralatan dan perbekalan, kemudian berbalik ke basecamp Framheim pada tanggal 16 Februari.

  • Peletakkan Depot-2 (81°S)

Tim kedua terdiri dari depan orang mulai pergi untuk meletakkan depot untuk kebutuhan dan perlengkapan, mereka meninggalkan Framheim pada tanggal 22 Februari, tujuh kereta luncur dan empat puluh dua ekor anjing ikut dalam perjalanan ini. Kondisi pada Barrier telah memburuk tajam, suhu rata-rata turun 9°C dan salju kasar melayang melintasi permukaan es yang sebelumnya licin. Pada suhu kadang-kadang serendah -40°C pada tanggal 3 Maret, tim mencapai 81°S, di mana mereka mendirikan sebuah depot kedua. 

  • Peletakkan Depot-3 (82° S)

Amundsen, Helmer Hanssen, Prestrud, Johansen dan Wisting kemudian melanjutkan dengan anjing terkuat, berharap mencapai 83° S, namun dalam kondisi sulit mereka berhenti pada kordinat 82° S pada tanggal 8 Maret, karena anjing terlihat kelelahan.

Akhirnya mereka kembali ke basecamp utama Framheim, dengan menggunakan kereta luncur kecil dan ringan agar anjing tak kelelahan, dan bergerak cepat untuk mencapai Framheim pada tanggal 22 Maret. 

The Depot at 82° reached 24 November 1911 Amundsen’s team passed Shackleton’s furthest south at 88° 23’ on 8 December, camped at 88° 25’ (courtesy Fram Museum)

Amundsen menginginkan lebih banyak persediaan untuk depot yang berada di selatan ini sebelum malam kutub (polar night) yang akan datang, dimana di wilayah kutub akan terjadi gelap total selama 6 bulan dan membuat perjalanan tidak mungkin.

Pada tanggal 31 Maret, sebuah tim terdiri dari tujuh orang yang dipimpin oleh Johansen meninggalkan Framheim ke depot kordinat 80° S membawa enam daging anjing laut sebagai persediaan makanan  seberat 1.100 kg.

Tim tersebut kembali ke basecamp utama Framheim pada tanggal 11 April, tiga hari kemudian dari yang diperkirakan, setelah mereka sempat menyimpang ke sebuah lembah yang luas. Amundsen mendirikan dua depot lagi yang lebih ke selatan hingga batas antara lautan es dan daratan, yaitu Depot-4 di kordinat 83° S dan Depot-5 di kordinat 84° S.

Lokasi semua depot itu baru berada diatas Paparan Laut Ber-es. Setelah itu barulah bertemu daratan benua Antartika sebenarnya. Secara keseluruhan isi tiga depot pertama saja, tanpa Depot-4 dan Depot-5, berisi persediaan sebanyak 3.400 kg, yang mencakup 1.400 kg daging anjing laut, dan 40 galon besar 180 liter minyak parafin.

  • Masuk Musim Dingin

The carpenter’s workshop in Framheim. Olav Bjaaland made new sledges from old heavy ones (Roald Amundsen’s South pole Expedition
/ Photographer unidentified 1911, courtesy Fram Museum)

Matahari terbenam di Framheim pada tanggal 21 April, tidak muncul lagi selama empat bulan. Amundsen menyadari kebosanan dan hilangnya moral yang telah menghancurkan musim panas ekspedisi Belgica di es pada masa sebelumnya.

Waktu digunakan untuk memperbaiki kereta luncur, memperbaiki sepatu bot, peralatan memasak, kacamata, ski dan tenda. 

Amundsen merencanakan untuk memulai perjalanan kutub dengan cepat ketika matahari terbit pada akhir Agustus. Namun semua tertunda akibat cuaca masih buruk, angin kencang dan sangat dingin.

Baru pada tanggal 8 September 1911, ketika suhu naik ke -27°C (-17°F), Amundsen memutuskan bahwa dia tidak dapat menunggu lagi, dan tim yang terdiri dari delapan orang berangkat, Lindstrøm tinggal sendirian di Framheim.

Musim kedua, 1911-1912

Tim pada ekspedisi dimasa musim kedua ini membuat kemajuan awal yang baik. Anjing-anjing berlari sangat kencang dan menempuh jarak sekitar 15 mil laut (28 km) setiap hari. Namun akibatnya mereka hampir tak tidur di malam hari dan membuat cakar-cakar anjing kena frostbite dan membeku.

Pada tanggal 12 September, dengan suhu turun sampai -56° C (-69° F), tim tersebut berhenti setelah hanya berjarak 4 mil laut (7,4 km), dan membangun iglo (igang, pondok dari es) untuk tempat berlindung.

Amundsen sekarang menyadari, bahwa mereka telah memulai perjalanan terlalu dini di musim ini, dan memutuskan untuk kembali ke Framheim. Dia tidak akan mau mempertaruhkan nyawa timnya dan juga anjing, semua karena alasan keras kepalanya. 

Pada tanggal 14 September, dalam perjalanan pulang ke Framheim, mereka meninggalkan sebagian besar peralatan mereka di depot 80°S, untuk meringankan kereta luncur. Keesokan harinya, dalam suhu beku dengan angin yang kuat, beberapa anjing membeku sampai mati sementara yang lain, terlalu lemah untuk melanjutkan, dan ditempatkan di atas kereta luncur.

Salah satu anggota tim Amundsen bersama dengan tim anjing dan kereta luncur salju (sledge) di sebuah Barrier pada awal tahun 1911.

Pada tanggal 16 September, atau berada 40 mil laut (74 km) dari Framheim, Amundsen memerintahkan anak buahnya untuk segera pulang ke Framheim.

Tidak memiliki kereta luncur sendiri, dia melompat ke Wisting’s, dan bersama Helmer Hanssen melunur menjauh dengan kereta luncur, dan meninggalkan sisa timnya.

Ketiganya tiba kembali di Framheim setelah sembilan jam, diikuti oleh Stubberud dan Bjaaland dua jam kemudian, dan Hassel tak lama kemudian.

Johansen dan Prestrud masih di atas padang es, tanpa makanan atau bahan bakar. Anjing-anjing Prestrud telah gagal, dan tumitnya sangat dingin.

Mereka sampai di Framheim setelah tengah malam, terpaut lebih dari tujuh belas jam setelah mereka sampai di basecamp Framheim. Keesokan harinya, Amundsen bertanya pada Johansen mengapa dia dan Prestrud terlambat sekali. Johansen menjawab dengan marah bahwa dia merasa telah ditinggalkan, dan mengecam pemimpin itu karena telah meninggalkan orang-orangnya.

Amundsen kemudian akan memberi tahu Nansen bahwa Johansen “sangat tidak patuh”. Akibatnya, dia dikecualikan dari tim polar, yang akhirnya tim Amundsen dikurangi menjadi lima. Johansen ditempatkan di bawah komando Prestrud, dimana banyak juniornya sebagai penjelajah dalam sebuah tim yang akan mengeksplorasi Dataran King Edward VII Land.

Stubberud dibujuk juga untuk bergabung dengan mereka, meninggalkan Amundsen, Helmer Hanssen, Bjaaland, Hassel dan Wisting sebagai tim Kutub Selatan yang telah direvisi. Johansen, dalam buku hariannya, menulis tentang kebodohan memulai secara prematur pada perjalanan panjang dan bersejarah, dan bahaya obsesi mengalahkan orang Inggris.

Perjalanan ke titik Kutub Selatan

The sleds ready for the journey to the Pole 20 October 1911; packed and ready for the departure (courtesy: Fram Museum)

Meskipun keinginannya untuk memulai lagi, Amundsen menunggu sampai pertengahan Oktober sebagai petunjuk pertama musim semi.

Dia sudah siap berangkat pada tanggal 8 September ke kutub selatan, tapi karena cuaca masih buruk dan tidak mendukung, rencana yang sudah ditetapkan menjadi tertunda. 

Pada tanggal 20 Oktober 1911 kelima orang itu, dengan empat kereta luncur dan lima puluh dua ekor anjing, akhirnya memulai perjalanan mereka ke titik kutub selatan. 

Tapi cuaca cepat memburuk kembali, dan dalam kabut tebal tim itu sempat menyimpang ke bidang retakan yang telah ditunjukkan oleh depot regu Johansen pada musim gugur yang lalu. Wisting kemudian mengingat bagaimana ketika diatas kereta luncurnya bersama dengan Amundsen, hampir lenyap di sebuah ceruk air es ketika lapisan es pecah tepat dibawah mereka. 

Ketika melakukan perjalanan dari Framheim menuju ke Kutub Selatan, tim ekspedisi sampai di beberapa depot yang telah mereka buat sebelumnya:

  • Depot-1 kordinat 80° S, sampai pada tanggal 23 – 26 Oktober 1911 menginap 3 hari karena cuaca buruk.
  • Depot-2 di kordinat 81° S, sampai pada tanggal 31 Oktober 1911.
  • Depot-3 di kordinat 82° S, sampai pada tanggal 5 November 1911.
  • Depot-4 di kordinat 83° S, sampai pada tanggal 9 November 1911.
  • Depot-5 di kordinat 84° S, sampai pada tanggal 13 November 1911.

Pada tanggal 16 November mereka sampai di Pressure Ridge yang tingginya 300 kaki.  Esoknya pada tanggal 17 November mereka sampai di tepi Barrier, antara laut beku dan daratan, dan langsung menghadapi pegunungan Transantarctic Mountains yang terbentang dihadapan mereka. 

Tidak seperti Scott, yang mengikuti rute Beardmore Glacier yang dipelopori oleh Shackleton, Amundsen harus menemukan rute sendiri melalui pegunungan, namun jaraknya jauh lebih pendek daripada rute Scott.

Setelah menjelajahi bukit selama beberapa hari dan mendaki sekitar 1.500 kaki (460 m), tim tersebut menemukan rute yang jelas, sebuah gletser curam 30 mil laut (56 km) yang mengarah ke dataran tinggi. Amundsen menamainya gletser ini sebagai Axel Heiberg Glasier, nama salah satu pendukung keuangan utamanya. Pada tanggal 21 November, tim tersebut menempuh jarak tempuh 17 mil dan naik 5.000 kaki (1.500 m).

  • Mendekati titik Kutub Selatan

Peta yang memperlihatkan rute tim Amundsen ke titik kutub selatan pada Oktober-Desember 1911. Depot-depot ditandai di kordinat 80, 81 and 82° yang dibuat pada Februari-Maret 1911. Rute Shackleton tahun 1908–09 yang diikuti oleh Scott, berada di sebelah kanan.

Setelah mencapai 10.600 kaki (3.200 m) di puncak gletser, pada kordinat 85° 36′, Amundsen bersiap untuk tahap akhir perjalanan. Dari 45 anjing yang telah melakukan pendakian, 7 tewas dalam tahap Barrier, hanya 18 yang masih sehat. Sisa anjing harus dibunuh untuk makanan.

Masing-masing supir kereta lunur anjing membunuh anjing dari timnya sendiri, mengulitinya, dan membagi daging itu untuk para anjing dan timnya.

“Kami menyebut tempat itu sebagai “Butchers’ Shop” (toko tukang daging)’, kenang Amundsen. “Di sini ada depresi dan kesedihan, karena kami telah begitu menyayangi anjing kami”. Penyesalan tidak mencegah tim untuk menikmati makanan berlimpah”.

Cuaca buruk mencegah keberangkatan mereka sampai 25 November, dengan persediaan makanan untuk 60 hari dan sisa daging anjing dimasukkan di dalam depot.

Mereka berangkat dengan hati-hati di wilayah yang tak mereka kenal dalam kabut terus-menerus. Amundsen menyebut daerah ini sebagai “Devil’s Glacier”.

Pada tanggal 4 Desember mereka sampai di sebuah daerah dimana terdapat ceruk-ceruk berlapis salju yang diantaranya berlapisan es, kemudian disebut Amundsen sebagai “unpleasantly hollow” atau “yang tidak menyenangkan” karena terdengar suara-suara aneh saat tim tersebut melewatinya. Ia menamai daerah ini “The Devil’s Ballroom”.

Ketika pada hari itu mereka berhasil melewatinya, mereka berada di ladasan yang lebih padat, kini mereka mencapai 87° S. Saat mereka mendekati titik Kutub Selatan, mereka kemudian meneliti jika ada jejak disekitar, karena mungkin mengindikasikan adanya ekspedisi lain di depan mereka.

Ketika berkemah pada tanggal 12 Desember, mereka sempat merasa khawatir dengan benda hitam yang muncul di cakrawala, tapi lucunya bahwa benda itu ternyata adalah kotoran anjing mereka sendiri di kejauhan, diperbesar dengan fenomena fatamorgana. 

Tim Amundsen bersama anjing-anjing penarik kereta salju berfoto di depot kordinat 85° S pada 15 November 1911 ketika sedang menuju perjalanan ke titik kutub selatan yang berada di 90° S.

  • Berhasil sampai di Titik Kutub Selatan

Esok hari tanggal 13 Desember mereka berkemah di 89° 45 ‘S, atau 15 mil laut (28 km) dari titik kutub selatan. Keesokan harinya lagi, 14 Desember 1911, dengan persetujuan rekan-rekannya Amundsen berjalanan paling depan dengan kereta luncur, dan sekitar pukul 3 sore tim tersebut sampai di sekitar titik Kutub Selatan.

Akhirnya mereka pun sampai di titik Kutub Selatan di kordinat 90° S. Mereka menanam tiang bendera Norwegia dan menamai dataran tinggi kutub itu sebagai “Dataran Tinggi Raja Haakon VII”. Amundsen kemudian merefleksikan dirinya pada ironi prestasinya saat berada di titik paling bawah planet Bumi itu, dan menulis dalam bukunya: 

“Never has a man achieved a goal so diametrically opposed to his wishes. The area around the North Pole — devil take it— had fascinated me since childhood, and now here I was at the South Pole. Could anything be more crazy?”

Hassel di dalam depot minyak parafin.

Terjemahan bahasa Indonesia: “Tidak pernah ada seorang mencapai suatu tujuan yang secara diametris bertentangan dengan keinginannya. Area di sekitar Kutub Utara – yang diambil iblis – telah membuat saya terpesona sejak kecil, dan sekarang saya berada disini di Kutub Selatan, ada yang bisa lebih gila?”. 

Selama tiga hari berikutnya, tim tersebut bekerja untuk memperbaiki posisi sebenarnya dari titik kutub (pole) secara tepat.

Setelah Amundsen mengingat klaim Cook dan Peary yang bertentangan dan disengketakan di titik kutub utara pada masa lalu, ia ingin meninggalkan jejak yang tidak salah lagi untuk Scott, yang ada di belakangnya.

Setelah mengambil beberapa bacaan literatur sextant pada waktu yang berbeda, Bjaaland, Wisting dan Hassel meluncur ke arah yang berbeda untuk “memberi tanda” pada titik kutub (pole). Amundsen beralasan bahwa diantara mereka mereka akan memberi tanda pada titik yang tepat.

Akhirnya, tim memasang sebuah tenda yang mereka sebut “Polheim“, sedekat mungkin dengan titik kutub selatan sebenarnya yang bisa mereka hitung menurut pengamatan mereka. Di tenda itu, Amundsen meninggalkan peralatan untuk Scott, dan sebuah surat yang ditujukan kepada Raja Haakon yang meminta agar disampaikan oleh Scott.

Amundsen sampai di titik Kutub Selatan kordinat 90° S yang ia namai “Polheim”. Mereka menanam tiang bendera Norwegia, dibawahnya bendera bertuliskan “Fram” dan menamai dataran tinggi kutub itu sebagai “Dataran Tinggi Raja Haakon VII.

Kembali ke Framheim

Pada tanggal 18 Desember 1911, tim tersebut memulai perjalanan balik kembali ke basecamp Framheim. Amundsen bertekad untuk kembali ke peradaban sebelum Scott, dan menjadi yang pertama dengan berita menggembirakan tersebut.

Namun demikian, ia membatasi jarak tempuh harian mereka sampai 15 mil laut (28 km), untuk menjaga kekuatan anjing dan timnya. Di siang hari 24 jam, tim tersebut berjalan selama malam nosional (malam yang tetap terang), untuk menjaga agar sinar matahari tetap di punggung mereka, dengan demikian mengurangi bahaya kebutaan salju (snow-blindness).

Dipandu oleh lempengan salju yang dibangun oleh mereka sendiri disisi luar jalur selama perjalanan mereka, akhirnya mereka sampai di Butchers’s Shop pada tanggal 4 Januari 1912, dan mulai turun ke Barrier. 

Pada tanggal 7 Januari 1912, tim tersebut mencapai depot pertama mereka di Barrier. Amundsen menempuh jarak sekitar 30 mil laut (56 km) per hari, dan pada tanggal 25 Januari, pukul 4 pagi, mereka sampai di Framheim.

Dari total 52 anjing pada bulan Oktober 1911, sisa 11 ekor bertahan menarik 2 kereta luncur. Perjalanan pulang-pergi ke titik kutub dan kembali, telah memakan waktu 99 hari, atau 10 hari lebih awal dari jadwal. Mereka telah menempuh perjalanan sekitar 1.860 mil laut (3.440 km)! Wow!

Lukisan pondok utama / Framheim Base pada saat baru dibangun di tepi Teluk Paus (Bay of Whales) pada bulan Januari 1911 (pict. by: Andreas Bloch)

Menginformasikan kepada dunia

Sekembalinya ke Framheim, Amundsen tidak sabar untuk menghentikan ekspedisi tersebut. Setelah makan malam perpisahan di basecamp Framheim, tim memuat anjing-anjing yang masih hidup dan peralatan yang lebih berharga di atas kapal Fram, yang berangkat dari Teluk Paus (Bay of Whales) sampai akhir pada tanggal 30 Januari 1912.

Tujuannya adalah Hobart di Tasmania. Selama pelayaran lima minggu Amundsen mempersiapkan telegramnya dan menyusun laporan pertama yang akan dia berikan kepada pers.

The expeditioners and crew of the Fram on their return from the Antarctic in Hobart Tasmania Back row: Hassel, LHansen, Steller, Bjaaland, Kristensen, Ronnebeck, Wisting, Halvorsen, Sundbeck Middle: Johansen, Prestrud, Amundsen, Nilsen, Gjertsen, HHanssen, Front: Stubberud K Olsen A Olsen (Photographer: Edward Searle / John Watt Beattie Studio, 11 Mmarch 1912 / Courtesy: Fram Museum.

Pada tanggal 7 Maret, Kapal Fram tiba di Hobart, tempat Amundsen dengan cepat dapat mengetahui bahwa belum ada kabar dari Scott.

Dia segera mengirim telegram ke saudaranya Leon, juga ke Nansen dan ke King Haakon, yang secara singkat memberi tahu mereka tentang keberhasilannya dan timnya.

Keesokan harinya dia menceritakan kisahnya yang pertama ke London’s Daily Chronicle, yang telah dia jual dengan hak eksklusif.

Fram tinggal di Hobart selama dua minggu, sementara disana dia bergabung dengan kapal Douglas Mawson dan SY Aurora, yang melayani Ekspedisi Antartika Australasia (Australasian Antarctic Expedition). Amundsen juga mempresentasikan ekspedisi itu dengan menghadiahi 11 anjingnya yang masih hidup untuk mereka. 

Amundsen meninggalkan Hobart untuk mengikuti tur ceramah di Australia dan Selandia Baru. Dia kemudian pergi ke Buenos Aires dimana dia selesai menulis akun tentang ekspedisinya. Setelah kembali ke Norwegia dia mengawasi penerbitan buku tersebut, kemudian mengunjungi Inggris sebelum memulai tur ceramah panjang di Amerika Serikat.

Framheim Basecamp 1911. Tampak kereta seluncur salju lengkap dengan anjing penarik dan muatannya sedang berada diatas lapisan es teluk Bay of Whales, Antarctica.

Tragedi Scott

Amundsen dan timnya kembali dengan selamat, dan kemudian baru mengetahui bahwa Scott dan keempat teman lainnya telah meninggal dalam perjalanan pulang mereka.

Ketika pada bulan Februari 1913, saat Amundsen berada di Madison, Wisconsin, dia menerima kabar bahwa Scott dan empat rekannya telah berhasil mencapai titik kutub selatan pada tanggal 17 Januari 1912 atau lebih dari sebulan setelah Amundsen berhasil mencapai titik kutub selatan pada 14 Desember 1911.

Namun dikabarkan pada tanggal 29 Maret 1912, Scott dan timnya telah meninggal dalam perjalanan pulang mereka dari titik kutub selatan. Dari posisi jenazah pada tim Scott, menurut penelitian, jenazah-jenazah mereka ditemukan pada tiga titik penemuan jenazah.

Evans meninggal lebih dulu karena paling dekat dengan titik kutub selatan, yaitu pada 17 Februari 1912, jenazahnya sendirian dan berada di daratan yang bersalju. Kemudian pada titik kedua, ditemukan jenazah Oates yang juga sendirian, ia meninggal pada 17 Maret 1912 dan jenazahnya berada di lapisan laut ber-es Ross Ice Shelf.

Antarctic expedition map: Amundsen – Scott. The routes to the South Pole taken by Scott (green) and Amundsen (red), 1911–1912

Pada titik ketiga ditemukan 3 jenazah, yaitu Scott, Wilson dan Bowes yang meninggal pada 30 Maret 1912 dan jenazah mereka juga berada di lapisan laut ber-es Ross Ice Shelf, namun lebih ke utara.

Karena bulan itu musim dingin di Antartika dimana matahari tidak terbit, maka jenazah Scott, Wilson dan Bowers baru ditemukan pada bulan November 1912, setelah akhir musim dingin Antartika.

Tim itu berusaha kembali balik ke utara setelah berhasil sampai di titik kutub selatan, yaitu kembali menuju ke basecamp di dekat Ross Island yang ada di kordinat 77°30′10.6″S 167°34′28.1″E.

kurang lebih sekitar 1000 km di sebelah barat teluk Bay of Whales, karena dari sanalah awal ekspedisi mereka menuju ke titik kutub selatan.

Sedangkan Amundsen mengawali ekspedisinya dari teluk Bay of Whales yang ada di sebelah timur dari Ross Island. Dalam respon awalnya, Amundsen menyebut berita “Horrible, horrible!” (“Mengerikan, mengerikan”). 

Simpatinya yang lebih formal ia tulis:

“Captain Scott left a record, for honesty, for sincerity, for bravery, for everything that makes a man”. (“Kapten Scott meninggalkan sebuah catatan, untuk kejujuran, untuk ketulusan, keberanian, untuk segala hal yang membuatnya manjadi seseorang.”)

Benua Antartika dimana terdapat titik kutub selatan Bumi adalah dataran luas ber-es yang dimiliki secara internasional, atau tidak boleh dimiliki oleh negara manapun. Daratan ber-es ini sebagai wilayah internasional untuk penelitian bagi semua ilmuwan dari seluruh negara dunia. 

Pada masa kini, titik kutub selatan sudah memiliki stasiun penelitian besar yang sangat modern dan lengkap, yang dinamakan “Amundsen-Scott South Pole Station Antarctica”. Semua peneliti dunia boleh melakukan penelitian di benua ber-es paling luas di planet Bumi ini.

Scott’s group took this photograph of themselves using a string to operate the shutter on 17 January 1912, the day after they discovered Amundsen had reached the pole first

Setelah Ekspedisi

Prestasi lain dari ekspedisi tersebut termasuk eksplorasi pertama yang dinamakan King Edward VII Land dan pelayaran oseanografi yang luas. Keberhasilan ekspedisi itu disambut secara luas, meski kisah kegagalan heroik Scott membayangi prestasinya di Inggris.

Keputusan Amundsen untuk merahasiakan rencana sebenarnya hingga saat terakhir dikritik oleh beberapa orang. Sejarawan kutub terbaru lebih mengenal keahlian dan keberanian Amundsen, basis ilmiah permanen di kutub menyandang namanya, bersama dengan Scott.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan 100 tahun setelah ekspedisi Amundsen, para periset mengklaim bahwa tenda dan bendera Amundsen dan timnya telah terkubur sedalam 17 m (56 kaki) pada es, dan posisinya ada disekitar satu menit garis lintang utara dari titik Kutub Selatan yang sebenarnya.

Tim Scott adalah yang terakhir melihat tenda tim Amundsen yang mereka temukan pada tanggal 18 Januari 1912. Henry Robertson Bowers sempat mengambil foto tenda, namun ia meninggal ketika dalam perjalanan kembali dari titik Kutub Selatan. (©2017 IndoCropCircles.com)

Pustaka:

  • wikipedia, Amundsen’s South Pole expedition, Roald AmundsenRobert Falcon Scott,
  • Amundsen, Roald; Nilsen, Thorvald; Prestrud, Kristian (1976) [1912]. The South Pole: An Account of the Norwegian expedition in the Fram, 1910–12 (Volumes I and II). Translated by Chater, A.G. London: C. Hurst & Company. ISBN 0-903983-47-8. First published in 1912 by John Murray, London.
  • Barczewski, Stephanie (2007). Antarctic Destinies: Scott, Shackleton and the Changing Face of Heroism. London and New York: Hambledon Continuum. ISBN 978-1-84725-192-3.
  • Cherry-Garrard, Apsley (1970) [1922]. The Worst Journey in the World. London: Penguin Books. ISBN 0-14-009501-2. First published in 1922 by Chatto and Windus, London.
  • Crane, David (2005). Scott of the Antarctic. London: HarperCollins. ISBN 978-0-00-715068-7.
  • Fairley, T.C. (1959). Sverdrup’s Arctic Adventures. London: Longmans. OCLC 732299190.
  • Fleming, Fergus (2002). Ninety Degrees North. London: Granta Books. ISBN 1-86207-535-2.
  • Hamre, Ivar (November 1933). “The Japanese South Polar Expedition of 1911–1912: A Little-Known Episode in Antarctic Exploration”. The Geographical Journal. 82 (5): 411–423. JSTOR 1786962. doi:10.2307/1786962. (subscription required)
  • Herbert, Wally (1989). The Noose of Laurels. London: Hodder & Stoughton. ISBN 0-340-41276-3.
  • Huntford, Roland (1979). Scott and Amundsen. London: Hodder and Stoughton. ISBN 0-340-19565-7.
  • Huntford, Roland (1985). The Last Place on Earth. London and Sydney: Pan Books. ISBN 0-330-28816-4.
  • Huntford, Roland (1985). Shackleton. London: Hodder & Stoughton. ISBN 0-340-25007-0.
  • Huntford, Roland (2001). Nansen. London: Abacus. ISBN 0-349-11492-7.
    Jones, Max (2003). The Last Great Quest. Oxford (UK): Oxford University Press. ISBN 0-19-280483-9.
  • Langner, Rainer-K. (2007). Scott and Amundsen: Duel in the Ice. Translated by Beech, Timothy. London: Haus Publishing. ISBN 978-1-905791-08-8.
    MacPhee, Ross (2010). Race to the end: Amundsen, Scott, and the attainment of the South Pole. New York and London: Sterling Innovation. ISBN 978-1-4027-7029-6.
  • Maxtone-Graham, John (2000). Safe Return Doubtful: The Heroic Age of Polar Exploration. London: Constable. ISBN 0-09-480330-7.
  • Nansen, Fridtjof (1897). Farthest North, Volume I. London: Archibald Constable & Co. OCLC 499726131.
  • Preston, Diana (1999). A First Rate Tragedy. London: Constable. ISBN 0-09-479530-4.
  • Riffenburgh, Beau (2005). “Nimrod”: the Extraordinary Story of Shackleton’s First Expedition. London: Bloomsbury Publishing. ISBN 0-7475-7253-4.
    Scott, J.M. (1971). Fridtjof Nansen. Sheridan, Oregon: Heron Books. OCLC 143929.
  • Solomon, Susan (2001). The Coldest March: Scott’s Fatal Antarctic Expedition. New Haven, Connecticut: Yale University Press. ISBN 0-300-09921-5.
  • Turley, Charles (1935). Roald Amundsen, explorer. London: Methuen. OCLC 3331281.

Polheim Norwegian Raold Amundsen and his team with the tent raised at the south pole 17 December 1911. From left: Roald Amundsen, Helmer Hanssen, Sverre Hassel, Oscar Wisting. (Photographer: Olav Bjaaland / Courtesy: Fram Museum)

The Amundsen–Scott South Pole Station in Antarctica 2011


VIDEO:

Roald Amundsen’s South Pole Expedition 1911 (Short version 10 mnts):

Explorers – Amundsen Documentery (50 mnts):  

Amundsen-Scott South Pole Station Antarctica Tour

Megastructures New South Pole Station Documentary National Geographic


Artikel Lainnya:

Tragedi Dyatlov Pass 1959: Lihat Bola Api, 9 Hikers Tewas Misterius

Penjelajah Pertama Benua Amerika: Bukan Columbus!

Penjelajah Pertama Benua Australia Bukan James Cook

Misteri Pulau Jawa: Bentuk Selatan Pulau Bingungkan Penjelajah Samudra Abad 16

Ilmuwan Temukan Benua Yang Hilang Bernama “Zealandia”

[Alert] Gletser Cair 100 Kali Lebih Cepat, Manusia Dalam Bahaya!

Pole Shifts: Kutub Utara dan Selatan Sedang Berpindah Akibatkan Anomali Cuaca

Anomali Magnetik Terkuat Dunia Di Benua Afrika dan Russia Yang Misterius!

Misteri South Atlantic Anomaly, “Lubang Segitiga Bermuda Angkasa” Diatas Brazil

Waduh! Gumpalan Misterius di Samudra Pasifik Ini Bisa Datangkan Malapetaka Bagi Bumi

Segitiga Alaska: Misteri “Piramida Hitam” Bawah Tanah Di Alaska

Misteri: Wow! Struktur Mirip “Tembok” Lurus di Dalam Laut Utara Papua

Teori Bumi Datar: Bumi Bundar Atau Datar?


http://wp.me/p1jIGd-8me

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Dunia, Penemuan-Penemuan Misterius dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Penakluk Kutub Selatan: Ekspedisi Amundsen 1911

  1. Via Manis berkata:

    Kata Flat Earth 101 bumi itu datar, mana ada kutub selatan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.