Heboh Temuan Arca Misterius Tinggi 1,8 Meter Dari Dalam Tanah Di Kediri

Heboh Ditemukannya Arca Dwarapala Yang Misterius Setinggi 1,8 Meter Dari Dalam Tanah Di Kediri

Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) berhasil menemukan beberapa benda purbakala yang diduga berasal dari Kerajaan Kediri. Temuan yang didapat dari ekskavasi pada tahun kedua ini berada di dekat kompleks Candi Gempur pada sebuah situs Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

Ekskavasi “Situs Candi Adan-Adan” ini merupakan tindak lanjut dari ekskavasi Puslit Arkenas yang telah dilakukan pada tahap pertama di awal tahun 2016 dengan melakukan pemetaan.

Arca Dwarapala yang ditemukan di dalam tanah di Kediri.

Area situs sendiri berada di tanah penduduk setempat bernama Syamsudin yang ditanami banyak pohon durian.

Dalam waktu seminggu, tim Puslit Arkenas menemukan arca Dwarapala, Lapik dan Makara. Dari temuan-temuan tersebut, arca Dwarapala adalah yang paling menyita perhatian peneliti.

Pada hari pertama penggalian (24/9/2017), di kedalaman 80 cm, sudah tampak kepala dari Dwarapala. Berlanjut di hari kedua, bagian dada Dwarapala mulai terlihat dan puncaknya sampai hari Jumat (27/9/2017) lalu.

Misteri arca Dwarapala yang berdiri tegak

Bagian utuh dari Dwarapala yang memiliki tinggi 180 cm dan lebar 90 cm dapat terekspose sampai ke lapik dasar tempat pijakan sang arca penunggu gerbang ini. Posisi arca Dwarapala juga tergolong unik karena berdiri tegak.

Ini berbeda dari arca Dwarapala pada umumnya yang berposisi jengkeng atau bersimpuh. Menurut Sukawati Susetyo, ketua tim Puslit Arkenas, posisi Dwarapala yang tak lazim ini mungkin sebuah gaya tersendiri yang sengaja dibuat pada masa itu.

“Karena ini kan masa peralihan, jadi bisa saja membuat gaya dengan ciri tersendir. Ada juga yang berdiri biasanya di masa Majapahit, di Padang juga pernah ditemukan Dwarapala posisi berdiri tapi tidak sebesar ini (di Kediri),” ujar Sukawati Susetyo.

Selain berdiri, ada perbedaan lagi dari bentuk penggambaran Arca Dwarapala ini, seperti misalnya motif rambut yang agak berombak dibanding pada umumnya yang bermotif keriting kecil-kecil membulat.

Motif arca yang berbeda

Selain posisi Dwarapala yang berdiri, ada perbedaan lagi dari bentuk penggambarannya, seperti misalnya motif rambut yang agak berombak dibanding pada umumnya yang bermotif keriting kecil-kecil membulat.

Ada empat lubang penggalian yang tengah dikerjakan oleh tim Puslit Arkenas. Beberapa lubang galian hanya menemukan sebuah lantai dasar di kedalaman 300 meter, reruntuhan batuan dan bata juga sebuah Kala yang tampak belum utuh.

Kala sendiri letaknya dalam struktur candi ada di atas ambang pintu, bermotif gambar tertentu. Kala itu pasangannya Makara, jadi candi ada Ambang ada Makara, ada Kala ada Makaranya.

Sebelum itu, menurut Sukawati Susetyo sekitar tahun 90-an pernah dilakukan ekskavasi terutama penggalian makara yang sudah muncul di permukaan oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCP) di Trowulan.

Kondisinya dahulu berupa ladang tebu dengan beberapa benda situs sudah muncul di permukaan seperti makara, kala dan beberapa reruntuhan candi lainnya. Temuan candi yang ada di dalam lubang akan dikubur kembali dan ditandai untuk memudahkan penelitian selanjutnya.

Berbeda dari arca Dwarapala pada umumnya yang berposisi jengkeng atau bersimpuh, posisi Dwarapala yang tak lazim ini mungkin sebuah gaya tersendiri yang sengaja dibuat pada masa itu.

Umur arca mungkin pada era Kerajaan Kediri

Umur dari berbagai temuan benda di situs ini masih belum bisa ditentukan secara pasti alias penanggalan relatif yang didasari pada perbandingan tempat lain dan gaya seni.

Pengambilan sampel untuk penentuan penanggalan mutlak masih akan dikerjakan di laboratorium. Namun karena ditemukan di daerah Kediri, maka untuk sementara diduga bahwa arca ini terkait dengan Kerajaan Kediri dimasa lalu.

Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang.

Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042.

Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/93/Kediri_Kingdom_id.svg/640px-Kediri_Kingdom_id.svg.png

Wilayah Kerrajan Kediri (1045–1222)

Apa dan siapa itu  “Dwarapala”

Dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster. Biasanya, Dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat didalamnya.

Dwarapala biasanya digambarkan sebagai makhluk yang menyeramkan. Bergantung pada kemakmuran suatu kuil, jumlah arca Dwarapala dapat hanya sendirian, sepasang, atau berkelompok.

Dwarapala terbesar di Jawa terdapat di Singosari terbuat dari batu andesit utuh setinggi 3,7 meter. Di pulau Jawa dan Bali arca Dwarapala biasanya diukir dari batu andesit, berperawakan gemuk dan digambarkan dalam posisi tubuh setengah berlutut, menggenggam senjata gada.

Sedangkan Dwarapala di Kamboja dan Thailand memiliki perawakan tubuh lebih langsing dengan posisi tubuh tegak lurus memegang gada di tengah tepat di antara kedua kakinya.

Dwarapala biasanya diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat suci atau tempat keramat didalamnya dan digambarkan sebagai makhluk yang menyeramkan.

Patung dwarapala di Thailand dibuat dari tembikar tanah liat yang dilapisi glazur pucat susu. Patung seperti ini dibuat pada masa kerajaan Sukhothai dan Ayutthaya (abad ke-14 hingga ke-15) diproduksi oleh beberapa tempat pembakaran tembikar di Thailand utara.

Bangunan suci yang kecil biasanya memiliki hanya satu arca dwarapala. Seringkali dwarapala diletakkan berpasangan di antara gerbang masuk. beberapa situs bangunan suci yang lebih besar memiliki empat, delapan, bahkan duabelas arca dwarapala yang menjaga empat penjuru mata angin sebagai Lokapala, dewa penjaga empat atau delapan penjuru mata angin.

Dalam budaya Jawa, Dwarapala dijadikan figur penjaga keraton, misalnya dapat ditemukan di gerbang masuk Keraton Yogyakarta dan gerbang Kamandungan Lor Keraton Surakarta. Penamaan Dwarapala dalam masyarakat awam di Jawa terkadang disebut juga sebagai “Retjo Pentung” atau yang berarti arca yang memiliki pentungan.  (sumber: Puslit Arkenas/Wikipedia/ berbagai sumber lain).


VIDEO:

Heboh Penemuan Arca Dwarapala


Artikel Lainnya:

Prasasti Heboh Bertulis: “Seluruh Manusia Akan Menghadapi Sesuatu” Menarik Perhatian Para Pejabat

Ditemukan: Situs Candi Budha di Sleman Yogyakarta

Ditemukan 2 Meter Dibawah Laut: Benteng VOC Misterius Di Daerah Pasar Ikan

Ditemukan di Rembang: Perahu Tertua Abad-7 Zaman Mataram Hindu

Topeng Misterius Langka dari Goa Made Jombang Jatim, diteliti Peneliti Dunia

Ditemukan Ratusan Koin Kuno Misterius Seberat 3 Kg Di Blitar

Misteri Pecahan Kerang Di Goa Era Prasejarah Di Sorong Papua

Leluhur Suku Sunda dan “Salakanagara”, Kerajaan Tertua Nusantara

Peneliti Melongo! Ini Manusia Purba Di Sulawesi Sejak Ratusan Ribu Tahun Lalu

Wow! Arkeolog Temukan Liontin Prasejarah Berusia 39.000 Tahun Di Sulawesi

Ditemukan Fosil Misterius Manusia Purba 700.000 Tahun Lebih Tua Dari Hobbit!

Ditemukan Bukti Peradaban Tertua: Lukisan Gua Prasejarah Indonesia Paling Tua Sejagad!

Ilmuwan Melongo, Ditemukan Peralatan Tangan Prasejarah Berusia 1 Juta Tahun Di Flores!

Semakin Mendunia, Riset Gunung Padang Cianjur Ditawar 12 Triliun!

Ditemukan: Meriam Asal Indonesia Mengubah Catatan Sejarah Australia

Terkuak: Letusan Samalas (Rinjani), Lebih Besar Dari Krakatau Bahkan Tambora!

=>Puluhan Artikel Terkait Arkeologi Indonesia<=

=>Puluhan Artikel Terkait Penemuan Misterius<=

=>Puluhan Artikel Terkait Misteri Indonesia<=


http://wp.me/p1jIGd-8po

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Indonesia dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s