Inilah Mereka: 17 Orang Asing Yang Bantu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

17 Orang Asing dan / atau Kelompok Asing Yang Paling Terkenal Bantu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia sedang membacakan teks Proklamasi pada tanggal 17 Agutus 1945. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Pada saat Perang Dunia II, Indonesia masih dikuasai Belanda. Namun Jepang mulai masuk, dan membuat kekalahan dari pihak Belanda. Kekuasaan atas Indonesia pun tergantikan oleh Jepang. Setelah Jepang menyerah oleh Blok Sekutu, kekuasaan Indonesia menjadi mutlak. Status Quo, tiada yang menguasai, tanpa ada penjajahan. Disinilah momentum yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustius 1945, Belanda mencoba masuk kembali untuk menjajah Indonesia dengan “membonceng” pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris. Sejak saat ini, perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia pun tak dapat ditawar lagi. Bangsa Indonesia tetap melawan, mempertahankan kemerdekaannya yang menjadi hak mutlaknya, berjuang mengusir tentara Sekutu dari Indonesia. Hanya ada dua pilihan saat itu: tetap merdeka atau mati.

Dua Blok Sekutu merebut Indonesia

Pada Perang Dunia II, Jerman, Italia dan Jepang adalah tiga negara yang bersekutu, atau dikenal juga sebagai “Blok Poros”. Mereka meluaskan kekuasaanya di daerah masing-masing. Jerman melebarkan sayapnya di Eropa dengan bantuan Italia, sedangkan Jepang melebarkan kekuasaannya di Asia dan Pasifik.

Musuh mereka adalah tentara yang juga bersekutu, namun inilah tentara sekutu dari blok barat yang lebih dikenal banyak orang, sebagai “Pasukan Sekutu” atau “Blok Sekutu” pimpinan Inggris.

Blok Sekutu pada Perang Dunia II adalah negara-negara yang berperang bersama melawan Blok Poros (Jerman, Italia, dan Jepang) dari 1939 sampai 1945. Anggota “Empat Besar” dunia atau dikenal juga sebagai “Empat Sekutu Terbesar” pada Perang Dunia II itu adalah: Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet, dan Tiongkok.

Sementara di Indonesia, Jepang juga menambah pasukannya dengan cara membuat tentara tambahan yang direkrut dari warga lokal Indonesia yang dinamakan Tentara PETA atau Tentara Pembela Tanah Air. Selama terbentuknya PETA, Jepang telah berhasil membuat 66 Batalion di Jawa, 3 Batalion di Bali, dan sekitar 20.000 orang pasukan PETA di Pulau Sumatera.

Pasukan PETA adalah pasukan lokal buatan Jepang dan merupakan salah satu pasukan yang akhirnya bergerak secara gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan pasukan Inggris dan sekutunya.

Penaikan bendera Merah Putih saat Proklamasi 17 Agustus 1945. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Berakhirnya Perang Dunia II, adalah awal munculnya patriotsisme untuk membela Indonesia bagi orang-orang asing

Setelah dua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom pada Perang Dunia II, negara tersebut pun menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Ketika Jerman dan Jepang kalah melawan Sekutu dan menyerah, banyak tentaranya di Indonesia bingung; kembali ke negerinya atau bertahan.

Tentara Jerman di Indonesia ditugaskan untuk membantu Jepang sebagai sekutunya dengan cara memata-matai pergerakan pasukan Sekutu Barat di daerah Pasifik dan kepulauan Indonesia tanpa banyak diketahui. Oleh karena itulah, kebanyakan tentara Jerman berasal dari Unit Kapal Selam.

Sedangkan bagi pasukan Jepang, setelah menyerah terhadap AS, Inggris dan sekutunya, banyak diantara mereka yang melakukan harakiri (bunuh diri demi kehormatan), dan ternyata banyak juga yang masih bertahan. Menurut data Yayasan Warga Persahabatan (YWP) di Jakarta, setelah Perang Dunia II usai, tercatat sebanyak 903 bekas tentara Jepang ikut perang kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan data dari sejarawan Bonnie Triyawan dari Universitas Diponogoro, menyebutkan sekitar 2.000 serdadu Jepang memilih untuk tinggal di Indonesia dan ikut berperang bersama rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Data selanjutnya yang dirilis sekitar tahun 2000-an, sekitar 243 orang meninggal dalam perang, 288 hilang, dan 45 orang kembali ke Jepang. Sisanya, 324 memilih untuk tetap tinggal di Indonesia dan menjadi WNI.

Sukarno dan Hatta melihat penaikan Merah Putih saat Proklamasi 17 Agustus 1945. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Menurut tentara Jepang dalam memoarnya, ada dua alasan mengapa tentara Jepang memilih untuk bertahan dan justru membantu kemerdekaan Indonesia, yaitu adalah keinginan besar untuk membebaskan Asia dari bangsa-bangsa Barat. Tentara-tentara Jepang berpendapat bahwa Indonesia sudah banyak membantu Jepang, sehingga Jepang menjanjikan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Tapi sebelum dapat mewujudkan janji itu Jepang kalah pada Sekutu, tentara Jepang sangat marah dengan itu, dan memutuskan untuk tetap di Indonesia dan membantu pejuang kemerdekaan. Sebanyak 80 persen tentara Jepang yang tak kembali ke negaranya berada di Bandung Jawa Barat. Setidaknya ada tiga nama besar tentara Jepang yang ikut membantu Indonesia meraih kemerdekaannya, yaitu Tomegoro Yoshizumi, Sighetada Nishijima, dan Rahmat Shigeru Ono.

Menurut MF Mukhti dalam tulisannya di historia.id dengan judul “Tomegoro Yoshizumi, Intel Negeri Sakura”, Soekarno selaku presiden pertama Indonesia menghormati dua tentara Jepang, yakni Ichiki Tatsuo dan Tomegoro Yoshizumi karena ikut berjuang demi Indonesia.

Kini, tak ada lagi tentara Jepang yang ‘membelot’ ke Indonesia demi membantu kemerdekaan RI. Namun, jejak mereka masih ada, selain nisan dan kubur, salah satunya adalah kebebasan yang dimiliki bangsa ini.

Tak hanya dari pasukan Jerman dan Jepang saja untuk membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Indonesia juga banyak dibantu dan didukung secara mental dan spritual oleh mereka-mereka yang bersimpati kepada perjuangan rakyat Indonesia dari seluruh dunia terhadap pasukan Sekutu. Bahkan dari warga negara pasukan Sekutu itu sendiri.

Dari sedemikan banyaknya dukungan terhadap perjuangan rakyat Indonesia untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari seluruh penjuru dunia, kami hanya dapat merangkumnya menjadi beberapa saja, diantaranya yang terkenal adalah:

1. Tentara-Tentara India
Profesi: Tentara Sekutu Gurkha Yang Membelot ke Indonesia

Tentara India Gurkha beragama Islam yang tergabung dalam pasukan Sekutu pimpinan Inggris membelot dan bergabung dengan tentara perjuangan kemerdekaan Indonesia. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Ketika Jepang menyerah terhadap Sekutu, maka pihak Belanda berusaha untuk merebut Indonesia kembali. Mereka masuk ke Indonesia dengan membonceng dan juga dibantu oleh pasukan sekutu yang dipimpin Inggris. Banyak diantara tentara Inggris tersebut yang berasal dari tentara India Gurkha dan beragama Islam.

Tentara India Muslim yang ada di dalam pasukan Sekutu ini bertugas untuk melucuti tentara Jepang. Namun, mereka justru membelot dan berjuang di pihak Indonesia karena mengetahui mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim.

Umumnya, para tentara pembelot ini ditampung dalam unit pasukan TNI di Jawa dan Sumatra. Usai revolusi sebagian dari mereka memilih pulang ke India dan sebagian lagi tetap menetap di Indonesia dan meneruskan berdinas di militer atau kepolisian Indonesia.


2. Warner dan Losche (Jerman)
Profesi: Prajurit Angkatan Laut

Awak Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219. Beberapa anggotanya bergabung dengan gerilyawan republik Indonesia termasuk Warner dan Losche. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Setelah Perang Dunia-II tak lama berakhir, banyak pasukan Jerman ikut berjuang dengan rakyat Indonesia. Setidaknya ada dua tentara Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219 yang bergabung dengan gerilyawan Indonesia. Pada saat itu Jerman adalah sekutu Jepang dan keduanya telah mengaku menyerah dan kalah, maka Perang Dunia-II pun usai.

Hal ini membuat tentara-tentara Jerman yang masih menjadi awak-awak kapal pada armada mereka, dan sedang berada di kawasan Indonesia, juga harus menyerah dan tidak boleh bersenjata, termasuk kapal-kapal perang mereka.

Daripada pulang ke negaranya, maka mereka bergabung dengan pasukan gerilyawan Indonesia untuk membantu melawan tentara Sekutu yang akan kembali menjajah Indonesia. Semua mesin perang, termasuk meriam dan peluru diberikan Jerman kepada tentara gerilyawan Indonesia untuk melawan tentara Sekutu.

Dua diantara tentara angkatan laut Jerman yang terkenal ikut serta dengan gerilyawan Indonesia adalah Warner dan Losche. Keduanya berhasil lolos dan kabur dari kamp konsentrasi tentara Sekutu di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, di utara Jakarta.

Mereka kemudian menjadi pelatih militer tentara Indonesia pada sebuah kesatuan tentara Indonesia di pulau Jawa, tepatnya di perkebunan kopi di Ambarawa. Losche malah akhirnya gugur dalam sebuah kecelakaan saat melatih gerilyawan Republik ketika membuat senjata sejenis pelontar api.


3. Adolf Hitler dan Nazi (Jerman)
Profesi: Pemimpin Jerman

Horst Henry Geerken, sahabat dekat presiden Indonesia pertama Soekarno, mengungkapkan bahwa pemimpin NAZI Jerman, Adolf Hitler, pernah bekerja sama dalam hal persenjataan kepada Indonesia. Melalui tentaranya, Hitler pada tahun 1940-an pernah mengirim senjata lewat kapal selam ke Indonesia. Henry menceritakan senjata-senjata tersebut dikirim Hitler untuk Soekarno pada kurun waktu 1942 – 1945.

Horst Henry Geerken (pict: alifrafikkhan.blogspot)

Hitler pernah membantu kirim senjata dan alat-alat militer buatan Jerman untuk Soekarno. Senjata dikirim dengan menggunakan kapal selam. Senjata ini untuk membantu para pejuang PETA (Pembela Tanah Air) di Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Horst Henry Geerken, sahabat dekat presiden Soekarno, di Ubud Gianyar, Bali, pada 2013 lalu.

Pengiriman senjata dari Hitler untuk Soekarno diketahui tahun 1963 dan disampaikan langsung oleh Bung Karno kepadanya.

“Soekarno bilang hal ini ke saya tahun 1963 hingga 1964, saat kita bertemu di Bali. Saat itu Bung Karno banyak bicara tentang politik,” kata pria kelahiran Jerman tahun 1933 tersebut. Senjata-senjata dari Jerman untuk Indonesia dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Sabang di Pulau Weh.

Patung lilin Adolf Hitler

“Senjata-senjata ini dikirim langsung ke Indonesia dari Jerman lewat laut Atlantik, lewat Afrika, dengan menggunakan total 57 buah kapal selam Jerman,” jelas Henry.

Henry juga menegaskan, Hitler mau membantu Soekarno waktu itu karena tidak senang dengan kolonialisasi Belanda di Indonesia.

Komunikasi antara Soekarno dan Hitler tidak dilakukan secara langsung, tetapi lewat perantara seorang warga Jerman yang tinggal di Indonesia.

“Waktu pengiriman senjata itu, Hitler (Jerman) sedang berperang dengan Belanda, waktu itu Belanda sedang jajah Indonesia. Jadi Soekarno minta tolong bantuan senjata kepada pemimpin NAZI Adolf Hitler lewat orang Jerman ini. Orang Jerman ini kini punya pabrik cokelat di Indonesia,” jelas Henry.

Selain membantu Indonesia dalam persenjataan itu, Hitler juga kabur ke Indonesia setelah kalah perang di Jerman. “Yang saya tahu, Hitler tidak mati di Jerman. Ia kabur ke Indonesia. Waktu kabur ke Indonesia, pelarian Hitler dilindungi oleh militer Jepang yang saat itu masih bercokol di Indonesia,” tambah Henry.

Kisah rahasia Adolf Hitler dan Soekarno ini, ujar Henry, akan diceritakan lebih jelas dalam buku baru yang disusunnya. Buku kisah persahabatan Adolf Hitler dan Soekarno yang belum terungkap ke publik.

Untuk diketahui, Horst Henry Geerken lahir di Jerman dan kuliah tehnik di Jerman dan Amerika itu tiba pertama kali di Jakarta pada 1963 dan bekerja pada perusahaan telekomunikasi Jerman, Telefunken. Henry yang memiliki hubungan persahabatan erat dengan Bung Karno itu kemudian juga menulis buku ‘A Magic Gecko Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno’.


4. Buruh Pelabuhan Laut Australia, berwarga negara Australia, India, Cina, Selandia Baru, Belanda, Inggris dan lainnya
Profesi: Para Buruh, Karyawan, Pegawai, Bea-Cukai Pelabuhan dari berbagai negara di Pelabuhan Australia

Ribuan buruh, karyawan, pegawai dan bea-cukai dari berbagai kebangsaan di pelabuhan Australia mogok kerja untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Pada tahun 1946, usia Republik Indonesia masih muda, tapi banyak negara sudah mengetahui bahwa Indonesia sudah merdeka, termasuk di Australia. Namun justru pada waktu-waktu awal kemerdekaan ini merupakan “waktu genting”, karena Belanda berusaha kembali ke Indonesia, dan berencana untuk menguasai kembali republik yang masih muda ini.

Kala itu, ada puluhan kapal laut Belanda yang akan kembali ke Indonesia, yang berlabuh terlebih dahulu di pelabuhan-pelabuhan laut Australia untuk membongkar muat dan mengisi logistik serta bahan bakar, seperti di pelabuhan Darwin, Melbourne, Sydney dan lainnya.

Para buruh dan pekerja Indonesia di pelabuhan Australia berdansa dengan istri “bule” mereka merayakan Dirgahayu Indonesia ke-1. (Screenshot of short movie: Indonesia Calling – 1946). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Kapal-kapal itu memuat berbagai persenjataan, berbagai peluru dan peralatan tempur yang akan digunakan untuk memerangi Indonesia kembali dan menguasai republik yang masih muda ini.

Tak hanya kapal-kapal Belanda, namun Belanda juga menyewa dan menggunakan kapal-kapal laut dari negara lain, seperti kapal Australia dan India.

Dalam manifest angkutannya, kapal-kapal itu membawa dan mengangkut bantuan untuk Indonesia, seperti peralatan kesehatan, makanan dan minuman.

Namun beberapa buruh dan pekerja di pelabuhan-pelabuhan itu tak mempercayai isi kotak-kotak kayu tersebut begitu saja. Kemudian beberapa kotak kayu kemasan mereka bongkar secara diam-diam.

Dan dugaan mereka benar! Di dalam ratusan kemasan pallet kayu di dalam kapal-kapal itu ternyata bukan berisi peralatan kesehatan, makanan dan minuman, melainkan berisi berbagai jenis persenjataan dan peluru yang akan digunakan untuk bertempur dengan tentara Indonesia!

Para buruh dan karyawan dari berbagai negara di Australia berdemonstrasi menolak kapal-kapal Belanda yang akan ke Indonesia untuk menyuplai peralatan perang.(Screenshot of short movie: Indonesia Calling – 1946). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Ratusan buruh Indonesia yang juga bekerja di pelabuhan-pelabuhan tersebut, akhirnya juga mengetahuinya.

Berita ini pun tersebar sangat cepat ke seluruh buruh, pegawai dan bea-cukai di palebuhan-pelabuhan itu, agar mengeceknya kembali dan mem-blacklist kapal-kapal itu.

Para buruh dan karyawan di beberapa pelabuhan kemudian mogok kerja, bahkan banyak yang mengundurkan diri sebagai karyawan, dan tidak mau melayani kapal-kapal laut yang berasal atau sewaan Belanda tersebut.

Mereka menyebutnya sebagai “Armada Gelap” atau “Black Armada” dari Belanda, yang secara diam-diam dan memalsukan dokumen angkutan pada kapal yang akan ke Indonesia untuk merebut kekuasaan Indonesia kembali dengan cara peperangan.

Ribuan buruh dan karyawan pelabuhan semua mogok kerja. Mereka berasal dari berbagai negara, Australia, Indonesia, China, Selandia Baru, India, Inggris dan beberapa negara lainnya, bahkan termasuk buruh yang berasal dari Belanda sendiri.

Sebuah boat kecil berisi buruh dari Belanda, Indonesia, India dan Australia mendekati kapal penumpang yang berisi ribuan tentara Belanda yang akan dikirim ke Indonesia untuk berperang dan menjajah kembali. (Screenshot of short movie: Indonesia Calling – 1946). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Mereka adalah para sosialis dan komunis alias golongan “kiri” yang anti-fasis, anti-imperialis dan anti-kolonial, apalagi kala itu Jepang adalah musuh mereka bersama, termasuk juga Indonesia, yang baru saja menyerah dan kalah terhadap sekutu setelah dijatuhi dua bom atom.

Mereka melakukan demonstrasi menolak mengisi bahan bakar dan supply lainnya kepada puluhan kapal-kapal laut itu, maka kapal-kapal pun tak bisa berlayar ke Indonesia.

Ketika ada kapal penumpang masuk ke pelabuhan, terihat ribuan tentara Belanda berada diatas kapal yang akan menuju Indonesia.

Dengan berani, buruh Australia, Belanda, Indonesia, India, menghadang mereka dengan kapal boat kecil. Melalui pengeras suara, mereka memberitahukan kepada ribuan tentara yang ada diatas kapal Belanda, agar jangan ke Indonesia. Hebatnya, yang meneriakkan melalui pengeras suara adalah buruh asal Belanda sendiri.

“Perang telah usai! Jangan ke Indonesia! Biarkan Indonesia! Mereka telah merdeka! Mereka punya hak seperti bangsa-bangsa lainnya!,” begitu salah satu teriakan buruh asal Belanda. Tentara Belanda yang berada di atas kapal itu tak menggubris, dan hanya meneriakkan,”Huuu…! Huuu..!”

Ribuan buruh pulang melintasi jembatan untuk mogok kerja di pelabuhan Australia, dan berhasil “melumpuhkan” armada kapal-kapal Belanda yang akan menyuplai persenjataan ke Indonesia.(Screenshot of short movie: Indonesia Calling – 1946)

Ada satu kapal India yang disewa Belanda dan berhasil “lolos” dari pelabuhan dan berlayar menuju Indonesia. Para buruh tak tinggal diam. Mereka mengejarnya dengan menggunakan boat kecil.

Melalui pengeras suara, mereka mendekati kapal dan memberitahukan ABK asal India tersebut, bahwa kapal itu akan ke Indonesia untuk membantu imperialis Belanda menguasai Indonesia kembali dengan cara perang.

“Jangan ke Indonesia! Belanda ingin menjajah kembali dan berperang dengan Indonesia! Indonesia sudah merdeka! Kita adalah saudara! Kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan India juga! Matikan mesin, berhentilah!”

Awalnya para ABK kapal India tak menggubris dan kapal terus berlayar. Para buruh di dalam boat kecil hanya dapat mengela nafasnya dan melihat kapal besar itu terus berlayar menjauh, dan semakin kecil. Kemudian mereka kembali lagi ke dermaga pelabuhan.

Tak berapa lama, terlihat boat kecil dari tengah laut yang sarat dengan penumpang. Ternyata mereka adalah ABK kapal India yang tadi berhasil lolos dan meninggalkan pelabuhan! Boat kecil itu bersandar ke dermaga dan disambut dengan suka-cita oleh ratusan buruh lainnya. Mereka menyatakan bahwa ditengah pelayaran, mereka berpikir bahwa mereka akan membantu imperialis yang akan menjajah negara yang sudah merdeka.

ABK India ingat pada saat negaranya dulu juga pernah dijajah. Dan memperjuangkan kemerdekaan itu tak mudah. Mereka juga menyatakan bahwa awalnya kapal mereka disewa Inggris dan kemudian justru disewa Belanda dan akan ke Jawa.

Akhirnya, mereka turun kapal dengan sekoci dan kembali ke pelabuhan dan tidak mau ikut membantu imperialis untuk kembali menjajah Indonesia. Peristiwa ini tercatat sebagai pemogokan ribuan buruh dan karyawan pelabuhan terbesar di Asia Pasifik sepanjang sejarah, yang dijuluki “When the ship that never sail” atau ketika kapal-kapal tak bisa berlayar.

Bisa dibayangkan jika puluhan kapal-kapal yang memuat berbagai persenjataan, amunisi, peluru dan peralatan perang lainnya yang jumlahnya ribuan dengan berat berton-ton itu sampai ke Indonesia. Bisa jadi, Indonesia terjajah kembali entah sampai kapan.

Terimakasih kepada para buruh, pegawai dan karyawan di pelabuhan-pelabuhan Australia atas dukungannya! Dokumentasi tentang fenomena ini dalam dilihat dalam film dokumentasi pendek berjudul “Indonesia Calling” (Indonesia Memanggil) yang dibuat oleh Joris Ivens keluaran tahun 1946 yang dokumentasinya dapat Anda saksikan dibawah artikel ini dan berteks Bahasa Indonesia.


5. Dmitry Manuilsky (Ukraina)
Profesi: Ketua Rep. Soviet Sosialis Ukraina utk PBB

Dmitri Manuilsky (3 Oktober 1883 – 22 Februari 1959, umur 75 tahun). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Dmitri Manuilsky (3 Oktober 1883 – 22 Februari 1959, umur 75 tahun), adalah ketua utusan Republik Soviet Sosialis Ukraina di PBB yang mengawali pembicaraan mengenai pertikaian Indonesia dan Belanda pada 1946.

Ukraina adalah negara pertama yang mengusulkan soal Indonesia dibahas di Dewan Keamanan PBB. Dalam setiap sidang, Manuilsky selalu bersikukuh bahwa Indonesia dalam keadaan bahaya.

Oleh karena itu, harus ada pembahasan secara mendalam untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia terhadap rencana kembalinya invansi Belanda yang membonceng tentara sekutu terhadap Indonesia di sidang PBB.

Berkat usulan Manuilsky tersebut, maka sengketa antara Indonesia-Belanda dan sekutunya, menjadi sengketa internasional sepenuhnya atau disebut sebagai “a full blown international dispute”.


6. Hasan Al-Banna (Mesir)
Profesi: Ulama

Sheikh Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna (14 Oktober 1906 – 12 Februari 1949, umur 42 tahun). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Sheikh Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna atau lebih dikenal sebagai Sheikh Hassan al-Banna (14 Oktober 1906 – 12 Februari 1949, umur 42 tahun), adalah cendekiawan Muslim dari Mesir pendiri Ikhwanul Muslimin, salah satu organisasi Islam terbesar dan berpengaruh pada Abad 20.

Ketika Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya, tanpa lelah ia terus menyatakan dukungannya secara terus-menerus terhadap kemerdekaan Indonesia.

Dukungan tersebut ia salurkan melaui beberapa tulisan, berbagai tabligh akbar, dan demonstrasi yang terus digelar.

Kuatnya dukungan rajyat Mesir kepada kemerdekaan Indonesia, membuat pemerintah Mesir menyatakan kedaulatan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Dengan begitu, Mesir adalah negara pertama yang mendukung proklamasi dan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu menyusul Suriah, Irak, Libanon, Yaman, Saudi Arabia, dan Afghanistan yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Selain negara-negara tersebut, negara-negara di Liga Arab lainnya juga mengakui kemerdekaan Indonesia.

Melihat fenomena itu, majalah Time pada 25 Desember 1946 melakukan propaganda dengan menakut-nakuti barat dengan kebangkitan nasionalis Islam di Asia dan di dunia Arab.

Kebangkitan Islam di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia ini, membuat inspirasi negara-negara di Arab dan Muslim lainnya, terutama yang belum merdeka, untuk juga membebaskan diri dari penjajahan oleh negara-negara Eropa.


7. Amin al-Husseini (Palestina)
Profesi: Ulama

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (1921–1937). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Mufti Palestina Amin Al-Husseini (ketiga dari kanan), bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim (kedua dari kanan). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (1921–1937), adalah seorang ulama Ihwanul Muslimin (IM) yang kharismatik, mujahid, mufti Palestina

Beliau memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kaum muslimin serta negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, walaupun pada saat itu beliau sedang berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al-Quds, Palestina.

Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Amin bin Muhammad Thahir bin Musthafa Al-Husaini gelar Mufti Falestin Al-Akbar (Mufti Besar Palestina), lahir di Al-Quds pada tahun 1893. Diangkat menjadi mufti Palestina pada tahun 1922 menggantikan saudaranya Muhammad Kamil Al-Husaini.

Malam tanggal 6 Mei 1946, delegasi Indonesia dipimpin oleh H. Agus Salim, Deputi Menlu Indonesia berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih Indonesia atas dukungan IM kepada mereka. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Sebagai ulama yang berilmu dan beramal, memiliki wawasan yang luas, kepedulian yang tinggi, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini mengetahui dan merasakan penderitaan kaum muslimin di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia akibat penjajahan yang dilakukan kaum kolonial.

Dukungan terhadap kaum muslimin dan negeri-negeri muslim untuk merdeka dari belenggu penjajahan senantiasa dilakukan oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, termasuk dukungan bagi kemerdekaan Indonesia.

Ketika tidak ada suatu negara dan pemimpin dunia yang berani memberi dukungan secara tegas dan terbuka terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, maka dengan keberaniannya, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini mufti Palestina menyampaikan selamat atas kemardekaan Indonesia.

Tanggal 10 November 1947, mantan PM Indonesia dan penasehat Presiden Soekarno, Sutan Syahrir, berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Kedatangan mereka disambut dengan gembira dan meriah oleh IM. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, di dalam bukunya yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Syekh Muhammad Amin Al-Husaini secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia (Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1980, hal. 40):

“Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.”

“Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal ketelitiannya juga menyiarkan berita ini.” (Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1980, hal. 40)

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini foto bersama dengan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh.

Setelah berjuang tanpa kenal lelah, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini wafat pada tanggal 4 Juli 1974, di makamkan di pekuburan Syuhada’, Al-Maraj, Beirut, Libanon.

Kaum muslimin dan tokoh pergerakan Islam menangisi kepergian ulama pejuang, pendukung kemerdekaan Indonesia, mufti pembela tanah waqaf Palestina, penjaga kemuliaan masjid Al-Aqsha.


8. Dirk Jan Struik (Belanda)
Profesi: Ilmuwan/Ketua Komite Indonesia Merdeka AS

Dirk Jan Struik (30 September 1894 – 21 Oktober 2000, umur 106 tahun)

Dirk Jan Struik (30 September 1894 – 21 Oktober 2000, umur 106 tahun) adalah seorang ahli matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dia adalah pemimpin Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka.

Ilmuwan kelahiran Belanda pada 1894 ini, selama mengenyam pendidikan di AS adalah aktivis pendukung Indonesia Merdeka. Tak hanya di Amerika namun juga di negaranya, Belanda, Dirk menjadi aktivis anti-kolonialisme yang berpengaruh pula.

Organisasinya menggerakkan serangkaian aksi demonstrasi yang mengecam agresi militer Belanda terhadap Indonesia pada 1947. Selain ahli matematika, Struik juga tertarik dengan sejarah, dan akhirnya juga menjadi seorang sejarawan dan melahirkan beberapa buku sejarah yang terkenal.


9. Joseph Benedict Chifley (Australia)
Profesi: Perdana Menteri

Joseph Benedict Chifley (22 September 1885 – 13 June 1951, umur 65 tahun). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Joseph Benedict Chifley (22 September 1885 – 13 June 1951, umur 65 tahun) adalah Perdana Menteri Australia ke-16 yang menjabat antara tahun 1945-1949, dan merupakan salah-satu tokoh politik Australia yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/9/92/Bintang_Dharma.gif/174px-Bintang_Dharma.gif

Bintang Dharma

Hal itu ditunjukkan dengan mendukung aksi boikot serikat buruh pelabuhan Australia terhadap kapal-kapal Belanda yang berencana membawa senjata ke Indonesia pasca agresi militer pertama (dapat dilihat / dibaca pada poin nomor-4 diatas).

Menteri Luar Negeri Australia HV. Evatt, memperlihatkan dukungan serupa. Evatt diam-diam membiarkan pemboikotan itu walaupun melanggar undang-undang yang pernah dilaksanakannya ketika menjabat Jaksa Agung. Di PBB, upaya diplomasi Indonesia didukung Thomas Kingston Critchley.

Setelah Belanda melancarkan agresi militer kedua, diplomat Australia itu melaporkan kepada PBB bahwa Republik Indonesia masih eksis dan sanggup melawan. Atas jasanya, Critchley menerima anugrah Bintang Dharma Putra dari pemerintah Indonesia pada 1992.

Bintang Dharma (Sanskerta: dharma yang berarti hukum, kebaikan, keadilan) adalah tanda kehormatan yang dianugerahkan kepada yang telah menyumbangkan jasa dan bakti untuk bangsa dan negara melampaui panggilan kewajiban tugas militer dan juga kepada anggota bukan Angkatan Bersenjata, sebagai penghargaan atas jasa-jasa luar biasa untuk kemajuan dan pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

 


10. Bobby Earl Freeberg (Amerika)
Profesi: Mantan Pilot Angkatan Laut AS

Bobby Earl Freeberg

Bobby Earl Freeberg, adalah mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Salah satu misi penting yang pernah dilakukan Bob adalah mengirimkan pasukan penerjun ke Kalimantan yang diduduki NICA.

Pesawat yang dikemudikan Bob diregistrasi dengan kode RI-002. Bob gugur setelah pesawatnya ditembak pesawat tempur Belanda pada 1 Oktober 1948 di Sumatra Selatan. Misinya saat itu membawa sejumlah uang dan emas untuk membantu gerilya di Sumatra.


11. Poncke Princen a.k.a. Haji Johannes Cornelis (H.J.C.)(Belanda)
Profesi: Mantan Tentara KNIL

Haji Johannes Cornelis (H.J.C.) Princen, yang lebih dikenal sebagai Poncke Princen atau Haji Poncke (lahir di Den Haag, Belanda, 21 November 1925 –meninggal di Jakarta, 22 Februari 2002 pada umur 76 tahun) adalah seorang oposan berkebangsaan Belanda dan kemudian menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia yang pada 1949 beralih menjadi warga negara Indonesia.

Bagi Belanda mungkin ia di cap sebagai pengkhianat. Tapi bagi bangsa Indonesia, ia adalah pahlawan kemerdekaan. Sejak muda hingga akhir hayatnya, ia melawan berbagai rezim yang melakukan penindasan dan penyelewengan, mulai dari Nazi hingga Orde Baru, mulai dari rezim sayap kanan, hingga rezim yang cenderung ke-kiri-kiri-an.

Poncke Princen

Berawal pada tahun 1943, ketika tentara Nazi Jerman mulai menginvasi dan menduduki Belanda. Seminari tempat dia sekolah diisolasi dan anak-anaknya dikurung di asramanya karena Belanda berada sepenuhnya dalam suasana perang.

Pada tahun yang sama dia mencoba melarikan diri dan tertangkap oleh Nazi. Dia pun dikirim ke kamp konsentrasi di Vught, lalu dikirim lanjut ke penjara kota Utrecht.

Di akhir 1944, sesaat setelah dia bebas dari Jerman, dia kembali ditahan, namun kali ini oleh pemerintah Belanda, karena dia menolak wajib militer di tengah kondisi yang sangat kritis tersebut.

Ia pun dengan paksa masuk dinas militer dan dikirim ke jajahan Belanda di timur yang berusaha untuk memerdekakan diri, yaitu Indonesia. Di negara jajahan ini ia tergabung dalam tentara kerajaan Hindia Belanda KNIL.

Hingga akhirnya Indonesia sudah memproklamasikan dan memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945, tetapi perang antara penjajah dan negara bekas jajahan masih terus menerus berkecamuk.

Poncke Princen a.k.a. Haji Johannes Cornelis. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Tanggal 26 September 1948, serdadu Poncke yang muak menyaksikan sikap dan berbagai kebrutalan yang dilakukan bangsanya, meninggalkan KNIL di Jakarta menyeberangi garis demarkasi dan bergabung dengan pihak lawan yakni Tentara Nasional Indonesia.

Ketika tentara negerinya menyerang Yogyakarta tahun 1949 dia telah bergabung dengan divisi Siliwangi dengan nomor pokok prajurit 251121085, kompi staf Brigade Infanteri-2, Grup Purwakarta. Malah ia ikut longmarch ke Jawa Barat dan terus aktif dalam perang gerilya.

Isterinya, seorang peranakan republiken Sunda dibunuh tentara Belanda dalam sebuah penyergapan dan pertempuran sengit. Tidak cuma isterinya, anaknya yang dalam kandungan juga ikut tewas.

Poncke mendapat anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno pada tahun 1949. Pada tahun 1948, walaupun seorang Belanda, secara langsung menerima penghargaan Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno.

Bintang Gerilya, adalah sebuah tanda kehormatan yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia kepada setiap warga negara RI yang menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan republik semasa revolusi antara tahun 1945-1950, terutama saat Agresi Militer Belanda I (20 Juni 1947 – 22 Februari 1948) dan Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948 – 27 Desember 1949). Para pahlawan penerima bintang gerilya berhak untuk dimakamkan di makam pahlawan.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/4/45/Bintang_gerilya.gif/170px-Bintang_gerilya.gif

Bintang Gerilya

Pada tahun 1956, Princen menjadi politikus populer Indonesia dan menjadi anggota parlemen nasional mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Tetapi dia pun akhirnya juga menyaksikan berbagai penyelewengan yang terjadi di dalam birokrasi saat itu dan kecewa dengan iklim politik yang semakin tidak kondusif, ia pun keluar dari parlemen dan mulai bersikap vokal terhadap pemerintahan yang mulai otoriter saat itu dengan pihak militer yang bertindak sewenang-wenang.

Selama hidupnya, Poncke beberapa kali ditahan dan masuk penjara karena mengkritik Presiden Soekarno dan juga di era Presiden Soeharto atas berbagai kebijaksanaannya.

Ia mengeritik Soekarno karena masa pendukungnya kebanyakan dari Partai komunis, yang akan membuat dirinya tak populer atau terjadi degradasi energi kekuasaan.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok faksi militer Indonesia dukungan Badan Intelijen Amerika CIA untuk melakukan “kudeta merayap” yang mengantarkan Suharto menjadi presiden. Dan berdirilah rezim baru, Orde Baru, menggantikan rezim yang lama, Orde Lama.

Tetapi Princen kembali dikecewakan dengan rezim yang baru, dan perjuangannya pun tak berhenti walaupun rezim yang berkuasa sudah ganti. Princen justru membela pihak yang dulu memojokkannya, ia membela korban-korban pelanggaran HAM dan pembantaian yang terdiri dari bekas anggota PKI dan orang-orang yang dituduh komunis.

Poncke Princen

Di tahun-tahun berikutnya, akibat pembelaannya, Poncke dituduh sebagai pro-komunis karena pembelaan terhadap korban-korban yang dituduh PKI ini, Princen sendiri di kalangan umum juga sempat mendapat cap ‘komunis’ – orang lupa bahwa dia juga yang menentang kekuasaan yang didominasi komunis pada masa Orde Lama.

Ia juga membela HAM di Timor Timur dan sejak tahun 1976 dan ia tak pernah lagi dipenjarakan secara permanen, tetapi berulang kali diinterogasi dan juga diawasi secara ketat oleh polisi, dan mungkin juga militer atau ABRI. Tahun 1980, ia juga ikut mendirikan YLBHI, menjadi pengacara para korban pada peristiwa pembantaian Tanjung Priok (1984), membela puluhan mahasiswa ITB yang ditahan karena mendemo Mendagri Rudini (1989).

Ia mendirikan sebuah Koalisi HAM yang bernama Indonesia Front for Defending Human Right (INFIGHT) 1989, Serikat Buruh Merdeka Setiakawan (SBMS) tahun 1990, KontraS (1998) dan lain-lain. Ketika masyarakat memberinya penghargaan Yap Thiam Hien Award 2002 sebagai tokoh HAM bersama petani jenggawah Jember, Poncke memandang penghargaan tersebut sebagai bagian yang lahir dari proses panjang perjuangan penegakan HAM secara bersama di Indonesia.

Princen adalah pejuang hingga akhir hayat, ia meninggal pada 22 Februari 2002 sebagai figur yang sangat dihormati dan dihargai oleh tokoh dari berbagai golongan. Nama “Poncke” konon diperolehnya dari roman yang digemarinya tentang pastur jenaka di Belgia Utara yang bernama Pastoor Poncke. (video).


 12. Maeda Tadashi dan keluarga (Jepang)
Profesi: Tokoh Militer Tertinggi

Laksamana Muda Maeda Tadashi (3 Maret 1898 – 13 Desember 1977, umur 79 tahun). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Berpangkat laksamana muda, Maeda Tadashi (3 Maret 1898 – 13 Desember 1977, umur 79 tahun) adalah tokoh militer tertinggi Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia yang menjabat sebagai Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Peran terpentingnya ketika mempersilakan dan menjamin keamanan para pemimpin Indonesia merumuskan teks proklamasi di rumahnya pada tanggal 16 Agustus 1945.

Adalah Yoshizumi dan Nishijima yang mempengaruhi Laksamana Maeda untuk menggunakan tempatnya untuk menyusun naskah proklamasi oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo ditambah Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti Melik selaku juru ketik.

Laksamana Muda, Maeda Tadashi. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Cerita kedekatan Laksamana Maeda dengan Indonesia sejatinya terjadi jauh sebelum malam jelang kemerdekaan itu. Maeda yang lahir di Kagoshima, Kyushu, Jepang, pernah menjadi atase militer Jepang di Den Haag, Belanda, dan Jerman pada masa sebelum perang atau sekitar 1930-an.

Dalam diri Maeda muncul simpati terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia sejak dia bertugas di Belanda.

Saat itu, Maeda kerap berhubungan dengan sejumlah tokoh pelajar dan mahasiswa Indonesia, seperti Nazir Pamuntjak, Ahmad Subardjo, Mohammad Hatta, dan AA Maramis. Setelah bertugas di Den Haag dan Berlin, Maeda dipanggil pulang ke Jepang dan menerima tugas baru di Indonesia pada 1942.

Saat berdinas di Jakarta inilah Maeda mendirikan sekolah atau institut politik yang diberi nama Asrama Indonesia Merdeka pada Oktober 1944 bagi para pemuda terpilih. Hampir semua figur nasionalis menjadi pengajar di sekolah ini.

Seperti Soekarno yang mengajarkan politik, Hatta mengajarkan ekonomi, Sanoesi Pane mengajarkan Sejarah Indonesia, Sjahrir mengajarkan sosialisme, Iwa Kusuma Sumantri mengajarkan hukum pidana, dan Ahmad Subardjo mengajarkan hukum internasional.

Pada hari Jumat 17 Agustus 1945 dini hari, kesibukan luar biasa tampak di sebuah rumah berlantai 2 di Jalan Meiji Dori No 1, Jakarta Pusat. Di luar terlihat puluhan pemuda bergerombol dengan wajah serius bercampur tegang. Di dalam rumah, suasana tak kalah tegang.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/e/e3/Mahaputra_Nararya.gif

Bintang Mahaputra Nararya

Menjelang santap sahur hari ke-8 Ramadan itu, Sukarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Subardjo di ruang tengah rumah itu tengah merumuskan naskah Proklamasi yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara merdeka.

Singkat cerita, ketika draft Proklamasi selesai dibuat pagi itu, masalah muncul. Saat naskah akan diketik, di rumah itu tak ada mesin tik. Untungnya, Satsuki Mishima, anak buah Laksamana Muda Tadashi Maeda, mengetahui di mana bisa meminjam mesin ketik pada dini hari itu.

Mishima pergi menggunakan mobil Jeep kepunyaan Maeda untuk meminjam mesin ketik kepunyaan Kantor Perwakilan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Indonesia. Teks Proklamasi kemudian diketik Sayuti Melik menggunakan mesin tik itu di dekat dapur kediaman Maeda.

Pagi harinya, naskah hasil ketikan itu dibacakan Sukarno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Pada masa kini, tak hanya rumah presiden Sukarno, rumah Maeda yang kini bernama Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, telah menjadi Museum Naskah Proklamasi.

Setelah Indonesia merdeka, Maeda ditangkap oleh Sekutu pada 1946 dan dipenjarakan di Gang Tengah selama 1 tahun karena tuduhan Belanda yangmengatakan RI itu sebagai bikinan Jepang. Biarpun pemeriksa berturut-turut selama 4 hari menekannya sampai akhirnya mengeluarkan air kencing berdarah, tapi ia tetap tidak mengaku. Umur Maeda waktu itu hampir 36 tahun dan masih bisa tahan.

Setelah itu ia dikembalikan ke Jepang dan ketika tiba di negaranya, Maeda sama sekali tak mendapat penghormatan layaknya pahlawan yang pulang perang. Ia dikecam dan mendapat perlakuan hina di Jepang. Atas jasa Maeda tersebut, pada 1973 dia diundang pemerintah Indonesia untuk menghadiri perayaan Proklamasi 17 Agustus. Dalam kesempatan itu ia sempat bertemu dengan Mohammad Hatta.

Meskipun secara hati nurani, orang-orang Jepang mendukung kemerdekaan Indonesia, namun kepatuhan kepada negara bagi mereka adalah segalanya. Semua akses Maeda dan keluarga ditutup dan ia mendapat kesulitan luar biasa selepas dari dinas militer hingga meninggal dunia dalam kondisi melarat.

Maeda juga merupakan penerima Bintang Jasa Nararya dari pemerintah Indonesia. Bintang jasa ini penghargaan sipil yang tertinggi, tetapi dikeluarkan dan diberikan sesudah Bintang Republik Indonesia kepada anggota korps militer. Bintang ini diberikan bagi mereka yang berjasa secara luar biasa pada bidang militer pula.

Kesediaan Maeda dan keluarga menyediakan rumahnya sebagai tempat rapat yang juga tempat merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan merupakan salah satu bukti simpati pribadinya dan juga keluarganya  terhadap kemerdekaan Indonesia.

Mengenang kepergian Maeda, Ahmad Subardjo menulis, “Pada detik-detik terpenting dalam melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Laksamana menunjukkan sifat Samurai Jepang, yang mengorbankan diri dengan rela demi tercapainya cita-cita luhur dari rakyat Indonesia, yakni Indonesia Merdeka”.


13. Tomegoro Yoshizumi (Jepang)
Profesi: Perwira Intelijen

Tomegoro Yoshizumi (Foto Wenri Wanhar)

Tomegoro Yoshizumi alias Arif Yoshizumi Tomegoro (27 September 1911 – 10 Agustus 1948, umur 36 tahun) adalah seorang perwira intel Jepang yang turut melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama Indonesianya adalah Arif, ia adalah seorang gunshoku yang disersi dan memihak Indonesia dan dikenal dekat dengan Tan Malaka.

Ketika berusia 21 tahun, pria yang lahir di Oizumi-Mura Nishitagawa ini menjadi satu dari sekian banyak spion militer Jepang yang dikirim ke Selatan (Hindia Belanda), yang tak melulu politik dan militer. Ia menyamar sebagai pekerja di Toko San’yo. Setelah itu terjun berbisnis dan berhasil menjadi saudagar.

Batu nisan makam Tomegoro Yoshizumi di Blitar.

Pada 1935, ia melakoni peran sebagai wartawan di Nichiran Shogyo Shinbun. Selain memberitakan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, koran ini gencar mengkampanyekan jargon “Asia untuk Asia” dan “Jepang saudara tua”, sehingga menuai respons keras dari pemerintah Hindia Belanda.

Awal 1941, Yoshizumi, redaktur Tohindo Nippo, dideportasi Pemerintah Hindia Belanda karena aktivitas jurnalismenya.

Di Jepang, dia menjalin koordinasi dengan Kaigun atau Angkatan Laut Jepang, lalu dipekerjakan kembali untuk mengamati dan ikut operasi di Selatan, termasuk Indonesia.

Yoshizumi akhirnya ditangkap dan ditahan di Australia oleh pemerintah Hindia Belanda sehari setelah Jepang menyerbu Pearl Harbor di Hawaii, 8 Desember 1941. Namun, penahanan tersebut justru membuatnya berubah 180 derajat. Hal itu dikatakan sendiri oleh Nishijima, sahabat Yoshizumi.

Idealisme kiri itulah yang kemudian membuatnya bersimpati terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia dan membawanya menjadi satu dari beberapa tokoh kunci Jepang yang membantu mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Yoshizumi mulai melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketika mengepalai bagian intelijen Kaigun Bukanfu (kantor penghubung AL Jepang), ia aktif membangun jaringan dan merancang gerakan bawah tanah dan bersama Nishijima membuat pertemuan dengan Tan Malaka di rumah Ahmad Subardjo tak lama setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, membuatnya melangkah lebih besar dalam berjuang.

Ia bahkan mencuri barang-barang di gudang Markas Besar Kaigun Bukanfu lalu menjualnya di pasar gelap. Uang hasil penjualan diberikan kepada Tan Malaka untuk dana perang gerilya. Yoshizumi juga menemani Tan Malaka ke Banten dan Surabaya, menjalin kontak dengan Affandi, pemimpin serikat buruh PAL di galangan kapal di daerah Ujung, Surabaya dan memberi masukan soal pendirian pabrik senjata di Mojopanggung, Blitar, dan Kediri. 

Ia juga pernah menjadi Komandan PGI yang mana pasukan ini dikenal Belanda karena berani. Wilayah operasi mereka di Dampit, Malang Selatan, dan Wlingi – Blitar. Suatu saat ketika sedang membuat senjata rakitan, granat di tangannya meledak. Hal itu terjadi satu hari setelah hari ulang tahunnya pada 27 September 1948. Tangan kirinya terpaksa diamputasi akibat kecelakaan itu.

Tomegoro Yoshizumi gugur pada 10 Agustus 1948 di Blitar, Jawa Timur ketika bergerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun menurut rekan seperjuangannya Shigeru Ono, ia meninggal di Blitar, Jawa Timur karena sakit. Akhirnya, PGI bergabung dalam kesatuan militer formal dan mengubah namanya menjadi Pasukan Untung Suropati 18.

Ia dimakamkan tepat di depan Monumen Shoudancho Supriyadi di Blitar. Tepatnya berada di Taman Makam Pahlawan Raden Widjaja Blitar, di blok sebelah kanan. Di sanalah jasad pria berdarah Jepang ini menyatu dengan tanah Indonesia, beberapa ratus meter dari makam Presiden Pertama Soekarno.


14. Ichiki Tatsuo a.k.a. Abdul Rachman (Jepang)
Profesi: Ketua Divisi Pendidikan PETA

Ichiki Tatsuo atau Abdul Rachman (pict: historia.id)

Ichiki Tatsuo alias Abdul Rachman, adalah salah satu dari sekian banyak bekas tentara Jepang yang memilih menetap di Indonesia dan menjadi komandan Pasukan Gerilya Istimewa (PGI).

PGI adalah satuan khusus di bawah kemiliteran Indonesia yang beranggotakan para bekas tentara Jepang yang disersi dan masuk menjadi tentara Indonesia pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ichiki Tatsuo atau Abdul Rachman

Nama Abdul Rachman diberikan oleh Haji Agus Salim ketika Tatsuo menjadi penasihat Divisi Pendidikan Pembela Tanah Air (Peta), sebagai bentuk penghargaan kepadanya.

Pasca Perjanjian Renville, ada kesepakatan dari Sekutu untuk menangkapi eks tentara Jepang.

Ichiki menemui Kolonel Sungkono dan meminta agar beberapa pasukan eks Jepang disatukan dalam unit tentara.

Keinginannya terkabul, Juni 1948 dibentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang terdiri dari 28 mantan tentara Jepang.

Ichiki benar-benar menunjukkan kesetiaan kepada Indonesia, dengan meminta berjuang di garis depan bersama Ono.

Mereka berangkat ke Linggarjati saat terjadi perundingan Indonesia-Belanda. Pada masa perang kemerdekaan, dia memimpin Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur.

Dia gugur di desa Dampit, di daerah Arjosari, Malang Selatan, Jawa Timur, pada 9 Januari 1949 pada pertempuran yang sangat sengit, setelah menerobos desing peluru tentara Belanda untuk mendorong pasukan Indonesia agar menyerang.

Di Tokyo Jepang, tepatnya di Seisho – Ji atau Kuil Budha Seisho terdapat monumen yang dinamakan Soekarno hi atau monument Soekarno. Menariknya, ada tulisan dan tanda tangan Presiden Soekarno di monumen yang tersimpan di kuil tersebut. Kedua nama tentara Jepang diatas, Tomegoro Yoshizumi dan Ichiki Tatsuo ditulis oleh Bung Karno sebagai berikut, terjemahannya dalam bahas Indonesia adalah:

Soekarno Hi, Minato -Ku, Tokyo

Kepada sdr Ichiki Tatsuo dan sdr Yoshizumi Tomegoro,
Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa sadja, tetapi milik semua manusia

Tokyo, 15 Februari 1958

Soekarno


15. Shigeru Ono (Jepang)
Profesi: Tentara

Shugeru Ono

Shigeru Ono (26 September 1919 – 25 Agustus 2014, umur 95 tahun), adalah salah satu tentara Jepang yang memilih bertahan di Indonesia setelah Jepang menyerah terhadap sekutu. Ono bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Salah satunya, menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947.

Pada awal 1946, tentara Jepang termasuk Ono dipindahkan ke ibukota pemerintahan, Yogyakarta. Di situlah Ono bertemu dengan Abdul Rahman Tatsuo Ichiki. Ia adalah pemuda Jepang yang jatuh cinta dengan Indonesia dan ingin membebaskan Nusantara dari penjajahan. Ono dan temannya memperoleh buku strategi perang dalam bahasa Jepang yang kemudian meminta Ichiki menerjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Rahmat Shigeru Ono

Pada Septembber 1946, Ono dan Ichiki benar-benar menunjukkan kesetiaan kepada Indonesia, dengan meminta berjuang di garis depan. Mereka berangkat ke Linggarjati saat terjadi perundingan Indonesia-Belanda.

Bulan April 1947, Ono menjadi staf pendidikan tentara di Magetan. Selain itu, bersama eks tentara Jepang lainnya dan pejuang Indonesia, Ono bergerilya.

Salah satunya menyerang markas KNIL di Mojokerto. Di bulan Oktober tahun yang sama Ono dipindahkan ke Malang. Ia ditugasi membuat peta wilayah dan pangkatnya yang semula sersan, naik jadi letnan.

Setelah pengakuan kedaulatan, Juli 1950, Ono menikah dengan Darkasih. Anak pertama mereka lahir pada 24 Juni 1951 dan diberi nama Tutik. Namun, saat 1952 ketika Ono dipanggil Konjen Jepang di Surabaya, ia berhasil tersambung kembali dengan ibunya. Padahal sebelumnya, setelah memutuskan bergabung dengan Indonesia, Ono sempat mengirim surat mengatakan ia telah tewas. Oleh sang ibu, ia diminta mengganti nama anaknya menjadi Atsuko.

Di tahun yang sama, Ono mendapatkan warga negara Indonesia. Sayangnya, sang istri meninggal karena kanker pada 1982. Ia kemudian menjadi WNI hingga akhir hayatnya, Ono meninggal pada 25 Agustus 2014 karena sakit. Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu memintanya hadir di Istana Negara merayakan Kemerdekaan RI. Namun, karena kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan, Ono terpaksa tak bisa hadir.

Pada masa Orde Baru, Ono pernah bekerja di perusahaan Jepang. Di tahun 1970-an, pekerjaannya itu membawanya ke Negeri Matahari Terbit bertemu dengan saudara-saudaranya, namun ia merasa asing di kampung halaman yang telah lama ia tinggalkan.

“Lagipula, Anda hanya bisa bertanam setengah tahun di sana. Di Indonesia, kita bisa panen sayuran tiap tahun,” ujar Ono dalam sebuah wawancara dengan ChinaPost.

Jiwa Jepang tidak luntur meski tinggal di tanah Jawa selama tujuh dasawarsa. Dia bisa menyanyikan Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang, tanpa salah. Ono juga sering mengenakan chanchanko — semacam kimono yang menyerupai jaket — saat menyambut tamu. Di rumah sakit, menjelang ajal menjemput, Ono berharap bangsa Indonesia akan bersinar dan semakin jaya.

“Indonesia itu maju…lebih kuat… secara internasional… itu harapan…,” pesan terakhir Ono kepada bangsa Indonesia.

Rahmat Shigeru Ono, menutup mata di usia ke-95 tahun. Meninggalkan 4 anak, 10 cucu, 6 cicit. Ia dimakamkan dengan pangkat terakhir Mayor (purnawirawan) di Taman Makam Pahlawan Batu. Ono merupakan tentara Jepang terakhir yang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya yang kemudian menjadi Muslim dan menambahkan nama depan menjadi Rahmat Shigeru Ono.


16. Yang Chill Sung (Korea)
Profesi: Mantan Tentara Perang Asia Timur Raya

Yang Chil Sung Komarrudin (29 Mei 1919 – 1949) (kanan, berpeci) dan seorang temannya dari tentara Jepang Hasegawa (kiri) sesaat setelah ditangkap di Garut karena ikut berjuang dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Yang Chill Sung alias Komarrudin (29 Mei 1919 – 1949), adalah tentara Korea yang direkrut militer Jepang sebagai gunsok (tentara pembantu) dalam Perang Asia Timur Raya. Sung yang lahir di wilayah Wanju, Provinsi Jeolla, Korea ini kemudian berganti nama menjadi Komarrudin dan memeluk agama Islam.

Ia juga memiliki nama panggilan Jepang dan dikenal sebagai Sichisei Yanagawa. Setelah meninggal, ia dimakamkan di TPU Pasir, Bogor, lalu pada tahun 1975 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut. Komarudin gugur dan meninggalkan seorang anak laki-laki.

Putra Yang Chil Sung bersama keluarga dari Korea pada upacara peresmian penggantian nisan Yang Chil Sung, 1995 (Sumber fokusjabar.com).

Pada bulan Juli 1995, pemerintah Indonesia dan perwakilan Korea Selatan beserta keluarga Komarrudin dari Korea mengadakan upacara penggantian batu nisan Komarudin secara militer. Sejak saat itu Komarudin dianggap sebagai salah satu tokoh pejuang yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia.

Pada awalnya Yang Chill Sung alias Komarrudin ditugaskan oleh pemerintah kolonial Jepang sebagai penjaga tawanan tentara sekutu di Bandung pada tahun 1942. Saat itu baik Korea dan Indonesia sedang dijajah oleh Jepang.

Setelah Indonesia dan Korea merdeka pada tahun 1945, Yang Chil-seong tidak kembali ke Korea, namun tetap tinggal di Indonesia. Ketika tentara Belanda kembali datang ke Indonesia dan melancarkan agresi militer, Komarudin datang ke Garut bersama dua orang tentara Jepang dari Bandung.

Kemudian ia tertawan oleh Pasukan Pangeran Papak (PPP) Garut dari Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Mayor Kosasih, yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut pada Maret 1946.

Namun akhirnya ia dan kedua temannya asal Jepang justru bergabung dengan Tentara Indonesia dan berperang secara gerilya bersama Pasukan Pangeran Papak. Kedua tentara Jepang itu bernama Hasegawa (Abubakar) dan Masahiro Aoki (Usman). Bersama Komarudin, mereka dikenal akan kemampuan bertempur yang baik. Pasukan ini juga pernah ikut berperang dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Sebagai ahli peledak, dia berperan dalam operasi penghancuran jembatan Cimanuk pada 1947 yang menggagalkan upaya Belanda menguasai wilayah Wanaraja. Ketika Belanda menyerang Garut, kelompok Pasukan Pangeran Papak bertugas mengamankan wilayah tersebut. Namun karena kekuatan Belanda terlalu besar, Pasukan Pangeran Papak terpaksa mundur.

Ketiga tentara gerilya itu bersembunyi namun tertangkap di Gunung Dora pada 9 Agustus 1949 karena informasi dari mata-mata. Pada 10 Agustus 1949, Sung alias Komarrudin  dieksekusi pasukan buru sergap Belanda di Kerkhoff, Garut. Sebelum peluru menembus jantungnya, dia masih sempat meneriakan pekik “Merdeka!!!”.


17. Muriel Stuart Walker a.k.a. K’tut Tantri (Skotlandia)
Profesi: Penyiar “Radio Pemberontakan” Bung Tomo

Muriel Stuart Walker a.k.a. K’tut Tantri (1898–1997). (Picture refined by: IndoCropCircles.com)

Muriel Stuart Walker alias K’tut Tantri (1898–1997), adalah wanita keturunan Amerika-Skotlandia yang memiliki kebangsaan Skotlandia dan bekerja sebagai penyiar Radio Pemberontakan yang dipimpin Bung Tomo. Muriel Stuart Walker lahir di Glasgow, Britania Raya, dan berimigrasi bersama dengan ibunya ke California setelah Perang Dunia Pertama. Kemudian ia bekerja sebagai penulis naskah di Hollywood.

Antara 1930 dan 1932, ia juga menikah dengan seorang pria Amerika yang bernama Karl Jenning Pearson, yang wafat pada 1957. Karena sedang gundah dengan dirinya sendiri. Ia lalu berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Di depan sebuah bioskop, perempuan ini memutuskan untuk membeli karcis dan menyaksikan sebuah film berjudul, Bali: The Last Paradise.

Ktut Tantri dan Soekarno (pict: KITLV NL)

Sekeluarnya dari bioskop, perempuan itu seperti menemukan hidup. Hanya beberapa menit seusai film itu kelar ditonton, ia sudah punya keputusan bulat: pergi dan menetap di Bali.

Akhirnya ia bermigrasi pada 1932, meninggalkan Amerika Serikat untuk memulai hidup baru di sebuah pulau di Indonesia yang bernama Bali tersebut, dimana ia menjalani lima belas tahun berikutnya.

Beberapa bulan berselang, dengan mengendarai mobil yang dibelinya di Batavia, ia tiba di “Surga Terakhir” yang diimpikannya. Ia bersumpah baru akan turun dari mobil hanya ketika mobilnya kehabisan bensin. Dan di sanalah ia berjanji aman tinggal.

Mobilnya berhenti di daerah Bangli, persis di depan sebuah istana raja yang ia sangka sebuah pura. Hati-hati ia masuki istana itu. Perempuan itu akhirnya disambut oleh sang raja Bangli yang bernama Anak Agung Gede dan anak lelaki semata wayangnya yang bernama Anak Agung Nura. Dan seperti sebuah dongeng, ia diangkat menjadi anaknya yang keempat. Dan ia dinamai: K’tut Tantri.

K’tut Tantri menetap di Bali sejak 1934 hingga jelang kedatangan Jepang. Nura hendak meminangnya sebagai istri, namun ditolaknya. Tantri mengisahkan bahwa akhirnya Nura dikabarkan tewas dibunuh para pemuda karena diduga antek Belanda.

Ketika Jepang mendarat di Bali, ia berhasil meloloskan diri ke Surabaya. Di sana, ia mulai menjalin kontak dengan sejumlah orang yang bersimpati pada gerakan anti-Jepang. Di Surabaya ia dikenal sebagai penyiar dari radio yang dioperasikan para pejuang arek-arek Suroboyo pimpinan Bung Tomo.

Pada saat terjadi serangan Inggris dia berada di Palagan, dari medan peperangan itu, wanita yang dijuluki secara internasional sebagai “Soerabaja Sue” ini menyiarkan jalannya perang pejuang-pejuang Indonesia ke seluruh Eropa melalui radio tersebut.

Ktut Tantri dan Soekarno (pict: buku autobiografi Tantri “Revolt in Paradise”)

Julukan itu tersampir di pundaknya karena pilihan sadarnya untuk lebih memilih berjuang membantu rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan total.

Berkat siarannya, simpati dari negara asing pun berdatangan terhadap perjuangan rakyat Surabaya dan akhirnya dapat menciptakan geralan dan dukungan terhadap perjuang-pejuang revolusi untuk kemerdekaan Indonesia dari seluruh penjuru dunia.

Ketika di Surabaya pecah pertempuran November yang gila-gilaan dan tak seimbang itu, ia berada di tengah para pejuang Indonesia yang sedang kerasukan semangat kemerdekaan. Akhirnya ia tertangkap, diinterogasi selama berbulan-bulan lamanya mesti ia hadapi.

Ia ditanyai soal aktivitas bawah tanahnya. Berkali-kali ia disiksa. Ia bahkan nyaris dieksekusi. Sekali waktu ia terkapar nyaris mati. Tapi ia tetap bungkam. Karena kesehatannya yang anjlok ke titik ternadir, ia pun dikirim ke rumahsakit. Di sanalah ia mendengar kabar diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Aktivitas bawah tanah dan keteguhan sikap untuk tidak “ngoceh” selama interogasi, membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo membebaskannya.

Ia diberi pilihan: kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau bergabung dengan pejuang Indonesia. Dan Ktut Tantri memilih pilihan kedua. Ia dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Suaranya mengudara tiap malam.

Dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri wartawan dan koresponden pelbagai kantor berita dan media massa luar negeri, ia dipilih olehpemerintah untuk mengisahkan bagaimana rakyat begitu bersemangat mendukung perjuangan dan betapa dustanya propaganda Belanda yang menyebutkan bahwa pemerintahan Soekarno-Hatta sama sekali tak didukung rakyatnya. Dari sanalah julukan Surabaya Sue atau “Surabaya menguggat” itu lahir.

Ktut Tantri alias Muriel Stuart Walker.

Sewaktu pemerintahan Indonesia pindah ke Jogja, K’tut Tantri pun pindah ke Jogja. Di sana ia bekerja pada kantor Menteri Pertahanan yang ketika itu dijabat oleh Amir Syarifuddin.

Ia pernah menuliskan pidato Soekarno. Sekali waktu ia menjadi seorang agen spionasi yang berhasil menjebak sekomplotan pengkhianat.

Kesetiaannya yang tanpa karat kepada Republik Indonesia, membuat K’tut dipilih pergi ke Singapura dan Asutralia untuk melakukan kampanye menggalang solidaritas internasional.

Tanpa visa dan paspor, dengan hanya bermodal kapal tua, Ktut berhasil lolos dari blokade kapal laut Belanda.

Dari Singapura ia pergi ke Australia untuk menggalang dana, melakukan propaganda agar rakyat Australia memboikot Belanda. Selama di sana ia berhasil menggalang sebuah demonstrasi mahasiswa di perwakilan pemerintahan Belanda di Australia.

Wanita yang lahir pada tahun 1898 di Glasgow, yang kini masuk ke dalam wilayah United Kingdom ini, meninggal di Sydney Australia pada tahun 1997 dan akhirnya juga sekaligus mengantongi kewarganegaraan Australia.

Lalu, siapakah Anak Agung Nura yang disebutkan Tantri? Hingga beberapa puluh tahun sejak Indonesia merdeka, nama misterius yang disebut Tantri sebagai Anak Agung Nura masih misterius.

Dalam buku autobiografi Tantri berjudul Revolt in Paradise nama “Nura” paling banyak disebut dalam buku autobiografinya. Nura disebut sebanyak 152 kali, sementara Sukarno hanya 72 kali. Anehnya, nama itu tak pernah dikenal oleh keluarga Raja Bangli.

Buku autobiografi Tantri berjudul “Revolt in Paradise”.

Hans Hägerdal, yang merupakan Guru Besar Madya dalam bidang sejarah pada School of Cultural Sciences, Linnaeus University di Växjö, Swedia menjelaskan bahwa Anak Agung Nura yang dikisahkan dalam Revolt in Paradise, tak lain adalah Anak Agung Gede Oka. Tokoh itu juga tewas dibunuh orang Republik pada periode yang sama.

Pada 1998, Hans bertemu Anak Agung Made Rai Rama, lelaki sepuh keturunan Raja Bangli terakhir yang tinggal dalam kompleks puri. Saat Hans bertanya tentang Nura yang berkait dengan K’tut Tantri, Rama dengan sigap menjawab bahwa Nura adalah “Anak Agung Gede Oka”.

Dan, siapakah Anak Agung Gede? Hans juga berjumpa Anak Agung Gede Ngurah, saudara kandung pahlawan Kapten Anak Agung Gede Anom Muditha. Ngurah berkata kepadanya bahwa “Anak Agung Gede Oka bukanlah anak raja melainkan keponakan dari seorang raja sebelum raja terakhir, I Dewa Gede Taman yang menjabat pada 1925-1930.” Tampaknya, Tantri menyamarkan nama Raja Bangli: I Dewa Gede Taman, sebagai Anak Agung Gede.

Ngurah juga menegaskan bahwa Oka tewas dibunuh orang Republik karena dia disangka mendukung NICA-Belanda, mungkin sekitar 1945/1946. Fakta ini menguatkan dugaan bahwa Anak Agung Gede Oka tak lain adalah Anak Agung Nura yang dikisahkan dalam Revolt in Paradise. Tokoh itu juga tewas dibunuh orang Republik pada periode yang sama. (©IndoCropCircles.com /sumber utama: wikipedia, historia.id, dan beberapa sumber lainnya)

Pustaka:


VIDEO:

Mereka Mendampingi Kita – Pejuang Kemerdekaan Dari Negara Asing:

NEDERLANDSE OORLOGSVETERANEN: INDONESIE ONAFHANKELIJK GEWEEST”


Via Facebook: “Indonesia Calling” (Indonesia Memanggil) by Joris Ivens – 1946:


Artikel Lainnya:

Asal Mula Nama Indonesia

Konspirasi: “Mystery of The National Treasures of Indonesian Kingdoms”

[SEJARAH DIBENGKOKKAN?] Bahas Tuntas: Fakta Baru Serangan Umum 1 Maret 1949

Riwu Ga, Aksi Bocah Tak Terkenal Ini Membuat Indonesia Merdeka Oleh Proklamasi Sukarno

Begini Cara Kami Hancurkan Sukarno

Cerita Ajudan Terakhir Soekarno: Maulwi Saelan, Saksi Mata Kekuasaan Bung Karno Dipereteli

Surat Terbuka Istri Soekarno kepada Soeharto

Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak November 1967

[Sejarah Singkat] Awal Kasus Korupsi Di Indonesia

Ketika Suharto Dipecat Tidak Hormat Oleh Jenderal Nasution

Misteri Supersemar, Surat Perintah 11 Maret 1966

AS Rilis Arsip Rahasia Pembunuhan JF. Kennedy Yang Juga Ungkap CIA Ingin Bunuh Soekarno

[FOTO] Terkuak: Misteri Luka Jenazah 7 Pahlawan Revolusi!

Komunistophobia: Komunis Di Indonesia Merupakan Kata Haram Dan Menakutkan

Setelah Mesir, Libya, Kini Suriah, Target AS Selanjutnya Adalah: Papua

[Gallery] Sejarah Freemason di Indonesia: Awas! Freemason di Indonesia Bisa Bangkit Kembali

32 Fakta-Fakta Unik Tentang Indonesia

Inilah 11 Sifat Manusia Indonesia Yang Membuat Negaranya Takkan Bisa Maju

Adolf Hitler Masuk Islam dan Mati di Indonesia

Ketika Mereka Membunuh Sepuluh Juta Rakyat Afrika, Mereka Tidak Dijuluki ‘Hitler’


https://wp.me/p1jIGd-8gs

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yang Paling dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s