Inilah 10 Tumbuhan Karnivora Pemakan Hewan

Inilah 10 Tumbuhan Karnivora Pemakan Hewan

Tumbuhan pemangsa atau karnivora, atau carnivorous predatory plant adalah tumbuhan yang dapat mengkonsumsi nutrisi dari cairan yang di dapat dari hewan, dalam hal ini serangga-serangga kecil dan besar. Tapi dari kenyataannya tak hanya serangga yang di konsumsi, namun hingga kodok atau bahkan tikus kecil.

Tumbuhan yang biasanya memperoleh nutrisi dari tanah, hingga dapat menjadi pemangsa hewan ini, beradaptasi sedemikian rupa karena alam lingkungan serta habitatnya yang miskin unsur nutrisi dari tanah.

Mereka beradaptasi dengan cara mengembangkan “jebakan-jebakan” agar menarik serangga-serangga untuk mendekatinya. Caranya bermacam-macam, dari mengeluarkan bau manis atau tak enak atau bahkan terlihat menarik, sehingga serangga menghampirinya.

Tak hanya sampai disitu saja, setelah dapat  menarik serangga agar mendekat, mereka juga menggembangkan fisiknya dengan “jebakan” berikutnya yang tak kalah menarik dan juga beraneka ragam, misal dengan memiliki tentakel-tentakel berperekat, memiliki lubang jebakan, hingga daunnya dapat menutup sendiri di saat mangsa ada di dalamnya. Lalu mereka membuat korbannya terjebak hingga kelelahan, lemas dan akhirnya mati.

Setelah korbannya mati, tumbuhan pemangsa atau karnivora pemakan hewan ini kemudian akan menyerap atau mengkonsumsi cairan yang ada di dalam badan atau bangkai hewan korbannya guna memenuhi kebutuhan nutrisi yang kurang karena unsur zat hara dalam tanah yang sangat sedikit.

Berikut ini adalah tanaman-tanaman karnivora pemakan hewan yang terkenal:

10. Triphyophyllum peltatum

Tanaman Triphyophyllum memiliki tentakel-tentakel pada batang kecil vertikal dan ujungnya berperekat yang berguna untuk memangsa serangga-serangga kecil.

Triphyophyllum (trɪfio-fɪlum) atau lebih dikenal dengan sebutan Liana, memiliki daun yang panjang, ramping, berkelenjar, menyerupai Drosophyllum, yang menangkap serangga pada satu sampai tiga daun ini dalam setiap roset.

Tanaman ini adalah genus tanaman monotip, yang termasuk spesies tunggal Triphyophyllum peltatum dari famili Dioncophyllaceae. Tanaman  tropis ini asli dari Afrika barat, di Pantai Gading, Sierra Leone dan Liberia, tumbuh di hutan tropis.

Tanaman itu jika sudah memasuki masa dewasa, batangnya panjang dan melilit bisa menjadi 50 meter dan tebal 10) cm. Jenis T. peltatum adalah yang terbesar dari semua tanaman karnivora yang dikonfirmasi di dunia, tetapi sifat karnivoranya tidak diketahui sampai tahun 1979, sekitar 51 tahun setelah penemuan tanaman tersebut.

Tanaman ini memiliki tentakel-tentakel pada batang kecil vertikal dan ujungnya berperekat yang berguna untuk memangsa serangga-serangga kecil. Triphyophylum peltatum saat ini dibudidayakan di tiga kebun raya: Abidjan, Bonn, dan Würzburg. Sangat jarang menjadi koleksi pribadi.


9. Drosophyllum lusitanicum
(Portuguese Sundew)

Drosophyllum lusitanicum (Portuguese Sundew) memiliki aroma manis yang menarik serangga mendarat di daun,lalu menempel pada lendir yang dikeluarkan oleh kelenjar tangkai di daun.

Drosophyllum (droso-fɪlum) atau lebih dikenal dengan sebutan “pinus Portugis yang berembun” (Portuguese Sundew), adalah genus tanaman karnivora yang termasuk spesies tunggal Drosophyllum lusitanicum. Secara penampilan, mirip dengan genus Drosera yaitu sundews, dan jauh lebih mirip dengan Byblis, tanaman pelangi.

Seekor srangga terjebak oleh tentakel lengket berperekat dari tumbuhan Drosophyllum (Sundew).

Drosophyllum lusitanicum adalah tanaman asli daerah Mediterania barat (Portugal, Spanyol dan Maroko), dan merupakan salah satu dari sedikit tanaman karnivora yang tumbuh di tanah kering.

Daun glandular sepanjang 20 hingga 40 cm, yang lepas dari roset pusat, tidak memiliki kekuatan gerakan yang umum terjadi pada sebagian besar jenis “sundews”, tetapi memiliki karakteristik yang tidak biasa, yaitu melingkar ‘keluar’ (berputar ke luar) atau vernation ketika belum dewasa.

Tanaman ini memiliki aroma manis yang berbeda, yang menarik serangga yang mana mereka akan dimangsa. Ketika serangga mendarat di daun, mereka menemukan dirinya menempel pada lendir yang dikeluarkan oleh kelenjar tangkai di daun. Semakin serangga berjuang untuk lepas, semakin menjerat mereka, yang akhirnya mati lemas atau kelelahan.

Tanaman kemudian mengeluarkan enzim yang melarutkan serangga dan melepaskan nutrisi, yang kemudian diserap oleh tanaman. Tanaman menggunakan nutrisi dari mangsanya ini untuk melengkapi tanah yang miskin nutrisi dimana tanaman ini tumbuh.

Studi molekuler dan biokimia baru-baru ini, menempatkannya pada monotypic Drosophyllaceae, seperti yang direkomendasikan oleh Angiosperm Phylogeny Group, dan sekelompok dengan Dioncophyllaceae (Triphyophyllum) dan Ancistrocladaceae.


8. Brocchinia Reducta

Brocchinia reducta terlihat bukan seperti tanaman karnivora, namun corong atau lobang tengah daun-daunnya yang licin bagai lilin terdapat genangan air yang berfungsi sebagai jebakan, hingga serangga tergelincir dan jatuh ke dalam jebakan corong yang berisi air.

Brocchinia reducta (brokɪnia redakta) adalah salah satu dari beberapa bromeliads karnivora. Tumbuhan ini asli dari selatan Venezuela, Brasil, Kolombia, dan Guyana, dan ditemukan di tanah yang miskin nutrisi.

Brocchinia reducta dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda tergantung dimana mereka tumbuh. Misal, ketika tumbuh di atas batu, ia menggunakan akarnya sebagai layaknya jangkar.

Brocchinia reducta, seperti banyak jenis bromeliad lainnya, membentuk mirip corong penampung atau penyimpan air akibat daunnya yang tumpang tindih dan tengahnya membentuk lubang.

Daun yang mengelilingi cangkirnya bersisik longgar dan dilapisi dengan lilin yang licin, serta sangat memantulkan cahaya ultraviolet. Karena banyak serangga tertarik pada ultraviolet, maka dalam hal ini adalah umpan yang efisien.

Air dalam corong juga memancarkan bau manis, yang dapat berfungsi untuk menarik semut dan serangga lainnya. Brocchinia reducta menyerap nutrisi dari dinding sel luar, yang ditutupi trikoma yang dapat mengangkut molekul sekecil 6,6 nano meter.

Sisik longgar memberikan pijakan yang buruk bagi serangga pendarat, menyebabkan mereka tergelincir layaknya ke dalam cangkir berisi air, dan akhirnya tenggelam.

Awalnya, Brocchinia reducta dianggap bukan tumbuhan karnivora karena produksi enzim pencernaan tidak dapat ditemukan. Namun, pada tahun 2005 menunjukkan bahwa tanaman ini menghasilkan setidaknya enzim fosfatase dalam struktur kelenjar, dan dengan demikian dianggap sebagai tanaman karnivora sejati. Enzim dan bakteri mencerna serangga yang terperangkap, dan melepaskan nutrisi untuk diserap oleh daun.


7. Roridula

Roridula adalah tumbuhan penjebak serangga. Lalu Roridula akan membolehkan jenis kumbang Pameridea (foto kanan) untuk memangsa serangga yang dirjebak Roridula, kemudian kumbang Pameridea meletakkan kotorannya di daun, dan tumbuhan Roridula mengambil nutrisi dari kotoran kumbang Pameridea. Terjadilah symbiosis mutualisme, atau saling menguntungkan di antara dua spesies tersebut.

Roridula adalah sebuah tumbuhan dari genus perdu atau semak penjebak serangga. Roridula tidak memecah protein serangga, tetapi serangga dari genus Pameridea (foto kanan) memangsa serangga yang terperangkap oleh tumbuhan Roridula.

Serangga Pameridea yang mendapat makanan dari jebakan tumbuhan Roridula ini kemudian meletakkan kotorannya di daun, dan tumbuhan Roridula mengambil nutrisi dari kotoran Pameridea. Terjadilah symbiosis mutualisme, atau saling menguntungkan di antara dua spesies.

Roridula memiliki batang tipis, berkayu, bercabang, tegak, awalnya berwarna coklat, kemudian batang kelabu, dengan daun berbentuk tombak, memiliki bulu-bulu atau tentakel halus bagai penusuk berujung perekat yang penuh di ujung batangnyanya ini, tiba-tiba bisa bergerak menggulung pada pangkalnya jika ujungnya yang mengandung nektar, disentuh.

Genus Roridula adalah satu-satunya genus dalam keluarga Roridulaceae dan hanya memiliki dua spesies, Kedua spesies itu adalah Roridula gorgonias atau dikenal sebagai “Fly Bush”, dan Roridula dentata atau dikenal sebagai “Northern Dewstick” yang ukurannya lebih kecil.

Roridula dari Latin roridus yang berarti “dewy” atau berembun, karena jebakan pelekatnya seperti air embun. Spesies ini hanya dapat ditemukan di provinsi Western Cape di Afrika Selatan.


6. Pinguicula (Butterwort)

Pinguicula (Butterwort) adalah tanaman karnivora yang menggunakan cairan lengket pada permukaan daun untuk memikat, menjebak, dan mencerna serangga, guna menambah nutrisi yang kurang.

Pinguicula, yang umumnya dikenal sebagai Butterwort, adalah genus tanaman karnivora yang menggunakan cairan lengket untuk memikat, menjebak, dan mencerna serangga, guna menambah nutrisi yang kurang.

Serangga berusaha melepaskan diri saat terjebak oleh perekat di daun Pinguicula (Butterwort).

Tindakan mekanistik yang digunakan tanaman ini untuk memikat dan menangkap mangsa adalah melalui zat lengket atau zat perekat yang dihasilkan oleh lendir yang dipisahkan oleh kelenjar yang terletak di permukaan daun.

Untuk menangkap dan mencerna serangga, daun butterwort menggunakan dua kelenjar khusus yang tersebar di permukaan daun.

Salah satunya disebut kelenjar peduncular, dan terdiri dari beberapa sel sekretori di atas sel tangkai tunggal. Sel-sel ini menghasilkan sekresi mucilaginous yang membentuk tetesan terlihat di permukaan daun. Penampilan basah ini mungkin membantu memikat mangsa untuk mencari air (fenomena serupa juga terlihat di sundew).

Pada saat berkontak dengan serangga, kelenjar peduncular melepaskan lendir tambahan dari sel reservoir khusus yang terletak di pangkal tangkainya. Serangga akan mulai berjuang melepaskan diri, memicu lebih banyak cairan yang keluar dan membungkus serangga tersebut dengan lendir.

Beberapa spesies dapat sedikit membengkokkan tepi daunnya dengan thigmotropism, membuat kelenjar tambahan bersentuhan dengan serangga yang terperangkap. Jenis kedua kelenjar yang ditemukan pada daun butterwort adalah kelenjar sesil yang terletak rata di permukaan daun. Setelah mangsa terperangkap oleh kelenjar peduncular , maka pencernaan dimulai.

Dari sekitar 80 spesies yang saat ini dikenal, 13 spesies adalah asli Eropa, 9 spesies adalah asli Amerika Utara, dan sisanya adalah asli Asia utara. Pengelompokan butterwort terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Butterwort tropis dan Butterwort iklim sedang.

Pinguicula biasanya terletak di daerah di mana air berjumlah tidak terlalu banyak, karena kondisi tanah yang terlalu lembab dapat menyebabkan busuk. Pinguicula ditemukan pada daerah di mana nutrisi seperti nitrogen jarang ditemukan atau tidak tersedia, karena kondisi tanah yang asam.


5. Dionaea muscipula (Venus Flytrap)

Daun Venus Flytrap (perangkap lalat Venus) akan menutup dan mengurung mangsanya jika rambut-rambut kecil di permukaan dalam daunnya yang sebagai “sensor”, tersentuh oleh kaki serangga yang sedang berada di tengah daun tersebut.

Salah satu tumbuhan karnivora yang terkenal adalah Dionaea muscipula atau yang lebih dikenal sebagai Venus Flytrap (perangkap lalat Venus) yang berasal dari tanah basah subtropis di Pantai Timur Amerika Serikat di Carolina Utara dan Carolina Selatan.

Seekor lalat (fly) masuk ke tengah daun dan menyentuh “rambut sensor” akibatnya ia terkurung oleh daun Venus Flytrap yang menutup. dengan cepat

Tanaman tersebut menangkap mangsanya yang kebanyakan adalah lalat, serangga lainnya hingga laba-laba.

Dengan struktur jebakan yang terbentuk dari belahan daun pada tanaman Venus Flytrap, yang terdapat rambut-rambut kecil di permukaan dalam daunnya yang berguna sebagai “sensor”.

Sedangkan disekeliling pinggir daunnya, terdapat deretan duri-duri bagaikan jeruji jika bergerak menutup.

Daun Venus Flytrap  akan menutup dan mengurung mangsanya jika rambut-rambut kecil di permukaan dalam daunnya yang sebagai “sensor”, tersentuh oleh kaki serangga yang sedang berada di tengah daun tersebut.

Setelah serangga terkurung di dalam daunnya, secara perlahan kedua sisi daun Venus Flytrap akan menekan serangga di dalamnya, lalu struktur pada daun akan menyerap cairannya sebagai pengganti nutrisi. Setelah serangga yang dimangsa mengering, kedua sisi daun akan kembali terbuka secara perlahan dan menunggu mangsa berikutnya.


4. Aldrovanda vesiculosa
(Waterwhell Plant)

Aldrovanda vesiculosa atau waterwheel plant (kiri), jentik nyamuk tertangkap oleh jebakan berupa “penjepit”(tengah), tampak penjepit sedang terbuka (kanan).

Aldrovanda vesiculosa adalah tanaman dalam air yang umumnya dikenal sebagai “tanaman kincir air” atau waterwheel plant, adalah satu-satunya spesies yang masih ada dalam genus tanaman berbunga Aldrovanda, dari famili Droseraceae.

Jentik nyamuk terjepit oleh “jebakan” dari Aldrovanda vesiculosa yang umumnya dikenal sebagai “tanaman kincir air” atau waterwheel plant.

Tanaman dalam air ini adalah satu-satunya tanaman karnivora dalam air yang dapat menangkap invertebrata air berukuran kecil dengan menggunakan perangkap yang mirip dengan Venus Flytrap atau tanaman perangkap lalat Venus.

Perangkap Aldrovanda vesiculosa tersusun dalam bentuk lingkaran kelopak dekat pusat batang yang dapat mengambang dengan bebas, sehingga membuatnya menjadi nama umum dari tanaman ini.

Tanaman unik ini adalah salah satu dari sedikit spesies tanaman yang mampu mendeteksi pergerakan (mangsa) dengan cepat. Perangkapnya terdiri dari dua lobus yang melipat bersama untuk membentuk “jebakan-menutup” (snap-trap) yang mirip dengan jebakan Venus flytrap, namun jebakan itu lebih kecil dan terletak di bawah air.

Jebakan-jebakan ini dapat berputar sehingga bukaan jebakannya mengarah ke luar. Jebakan bagian dalam dilapisi oleh lapisan rambut halus atau trigger hairs sebagai pemicu, yang dapat menutup rapat sebagai reaksi terhadap kontak dengan invertebrata air saat menyentuh rambut halusnya.

Gerakan penutupan jebakan ini memakan waktu sangat cepat, hanya 10-20 milidetik, dan menjadikannya sebagai reaksi gerakan tanaman tercepat di dunia. Perangkap ini hanya dimungkinkan dalam kondisi hangat, setidaknya 20° C (68° F). Setiap perangkap dikelilingi oleh sekitar 4 sampai 6 bulu, panjangnya 6-8 mm, yang dapat mencegah pemicu jebakan bereaksi hanya oleh kotoran atau puing-puing di dalam air.

Diketahui hingga kini genus Aldrovanda adalah monotip, sedangkan melalui catatan fosil, ada lebih dari 19 spesies lainnya namun telah punah. Sementara spesies ini menunjukkan tingkat plastisitas morfologis antar populasi, aldrovanda vesiculosa memiliki keragaman genetik yang sangat sedikit dari seluruh spesiesnya.

Populasi aldrovanda vesiculosa telah menurun selama abad terakhir ini, hanya ada 50 tempat populasi yang dikonfirmasi masih ada di seluruh dunia. Tanaman ini tersebar di Eropa, Afrika, Asia, dan Australia. Selain itu, mereka juga dipelihara oleh para penggemar tanaman ini.


3. Cephalotus follicularis
(Albany Pitcher Plant)

Cephalotus follicularis (the Albany pitcher plant)

Cephalotus adalah satu genus anggota tumbuhan berbunga, dengan satu anggota, Cephalotus follicularis, sejenis tumbuhan penjerat dari Australia, khususnya di wilayah barat daya Australia. Menurut sistem klasifikasi APG II suku ini dimasukkan ke dalam suku Cephalotaceae, bangsa Oxalidales, klad eurosidae

Cephalotus adalah genus tumbuhan yang berisi satu spesies, Cephalotus follicularis atau Albany pitcher plant, yaitu tumbuhan karnivora kecil jenis “pitcher plant” (pitcher artinya teko) atau tumbuhan kantong semar.

The pit-fall traps atau tumbuhan dengan perangkap lubang-jatuh dari daun yang dimodifikasi ini telah mengilhami nama-nama umum untuk tanaman ini, yang meliputi tanaman ‘Albany pitcher plant”, “Western Australian pitcher plant”, “Australian pitcher plant”, atau “fly-catcher plant.”

Tanaman pemakan serangga kecil ini dan memiliki penampilan seperti anggrek moccasins, membentuk ‘kantung’ atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “kantung semar”, atau mirip ‘teko’ (pitcher) yang menjadi namanya. “Pitcher” (artinya teko) memiliki warna merah tua, tetapi berwarna agak hijau dalam kondisi yang lebih teduh. Dedaunannya tersusun rapat dengan bilah daun yang menghadap keluar. Daun ini memberikan bentuk utama dari spesies yang tingginya hanya sekitar 20 cm ini.

Perangkap berbentuk ‘teko’ (pitcher) dari spesies ini mirip dengan tanaman kantung semar lainnya. Peristome pada pintu masuk jebakan memiliki duri yang sedemikian rupa dan memungkinkan mangsa masuk, tetapi menghalangi jalan keluarnya.

Penutup di atas pintu masuk, yang dinamai operculum, mencegah air hujan masuk ke kantong dan dengan demikian akan mengencerkan enzim pencernaan di dalamnya. Serangga yang terperangkap dalam cairan pencernaan berisi enzim ini dikonsumsi oleh tanaman.

Operculum memiliki sel-sel tembus cahaya dan membingungkan mangsa yang berupa serangga kecil, karena mereka seakan melihat langit dan akan menuju sana, padahal tak bisa karena terkurung. Mangsa berupa serangga akan mati tenggelam atau mati lemas dan akan dicerna dengan bantuan enzimnya.


2. Darlingtonia Californica
(Cobra Lily)

Darlingtonia californica, juga disebut tanaman California Pitcher Plant (Kantung Semar California), atau Cobra Lily, atau tanaman kobra (cobra plant), adalah spesies tanaman karnivora yang sekaligus satu-satunya anggota dari genus Darlingtonia dalam keluarga Sarraceniaceae.

Gambar dibalik agar terlihat. Tampak seekor serangga di saat terperangkap tampak berusaha keluar melalui “pintu keluar palsu” dan kebingungan di dalam Darlingtonia californica atau Cobra Lily

Tumbuhan ini asli dari California Utara dan Oregon di AS, yang tumbuh di rawa-rawa basah pada air dingin yang mengalir. Tanaman karnivora yang bentuknya seperti ular kobra ini bukan tanaman biasa, karena kelangkaannya di habitat aslinya.

Nama “cobra lily” bermula dari kemiripan daun tubularnya dengan ular kobra saat berdiri mempertahankan diri, lengkap dengan daun bercabang yang berwarna mulai dari kuning hingga hijau keunguan, yang menyerupai taring atau lidah ular.

Bunga Lili Kobra ini unik di antara tiga genus “tanaman kantung semar” atau pitcher plant (tanaman teko) di Amerika Serikat. Ia tidak memerangkap air hujan di dalam kantungnya, tapi justru dibalik, jalan masuk untuk mangsanya dari arah bawah. Spesies ini juga menyembunyikan lubang keluar kecil dari serangga yang terperangkap dan membuat beberapa pintu keluar palsu yang tembus cahaya.

Setelah serangga terperangkap, maka akan mencoba berkali-kali untuk keluar melalui pintu keluar yang justru palsu, atau akan terbang ke atas menuju bagian yang tembus cahaya yang tak bisa diterobos, serangga akan lelah dan jatuh ke dalam perangkap. Ditambah dinding dan rambut yang licin mencegah mangsa yang terperangkap untuk melarikan diri.

Studi terbaru menunjukkan bahwa Darlingtonia mengeluarkan setidaknya satu enzim proteolitik yang mencerna mangsa. Tanaman ini ditemukan pada tahun 1841 oleh ahli botani William D. Brackenridge di Mount Shasta, AS. Pada tahun 1853 digambarkan oleh John Torrey, yang menamai genus Darlingtonia setelah ahli botani Philadelphian William Darlington (1782-1863). Dalam budidaya di Inggris, tanaman ini telah mendapatkan penghargaan the Royal Horticultural Society’s Award of Garden Merit.


1. Nepenthes
(Tropical Pitcher Plant / Kantung Semar)

Pada gambar kanan, tampak seekor kadal yang tak bisa naik. Nepenthes atau Kantung Semar tropis atau Tropical Pitcher Plant berisi air dan disekelilingnya amat licin, hingga akan membuat mangsanya tergelincir jatuh lalu terjebak dan tidak dapat memanjat untuk melarikan diri hingga mati tenggelam, kelelahan, kelaparan atau mati lemas.

Genus Nepenthes (Kantong Semar) atau Tropical Pitcher Plant (tanaman kantung semar tropis), yang termasuk dalam familia monotipik. Pada ujung daun di tanaman ini terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, sebagai alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok, bahkan tikus kecil) yang terperosok masuk ke dalam.

Tampak seekor tikus kecil tergelincir jatuh, dan berusaha untuk keluar melarikan diri dari kantung jebakan tumbuhan karnivora Nepenthes (Kantong Semar) atau Tropical Pitcher Plant yang permukaan disekeliling kantung jebakannya sangat licin.

Kantungnya berisi air dan disekelilingnya amat licin, hingga akan membuat serangga atau mangsanya terpeleset lalu terjebak dan tidak dapat memanjat untuk melarikan diri hingga mati tenggelam, kelelahan, kelaparan atau mati lemas.

Jebakan serangga pada kantong ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak tersedia pada habitat tumbuhnya.

Nepenthes terdiri dari 135 spesies dan belum termasuk hibrida alami maupun buatan. Maka dari itu, tumbuhan karnivora ini memiliki ukuran dan bentuk kantung yang beragam, dari panjang hingga pendek, dari kecil hingga besar.

Kelelawar berbulu wol (genus Kerivoula) diketahui bersimbiosis dengan kantong semar yang besar. Kelelawar tersebut tidur di dalamnya sambil melindungi diri dari serangga yang akan tergelincir jatuh ke dalam kantong semar. Selain itu, kotoran kelelawar juga bernutrisi bagi kantong semar.

Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis, Indocina dan Asia bagian timur, kini meliputi Indonesia, Republik Rakyat Tiongkok bagian selatan, Indochina, Malaysia, Filipina, Madagaskar bagian barat, Seychelles, Kaledonia Baru, India, Sri Lanka, dan Australia. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra.

Pustaka:


Video:

10 Plants That Eat Animals:


Artikel Lainnya:

Inilah 8 Tumbuhan-Tumbuhan Unik Dunia Yang Mempesona

Yuk Tanam, Inilah 22 Tumbuhan Yang Diyakini Berenergi Positif

7 Manfaat Tumbuhan Kembang Sepatu Yang Tak Banyak Orang Tahu

“Living Light” Lampu Penerangan Yang Sumber Listriknya Dari Tanaman

Tumbuhan Dari Zaman Es Ditemukan di Goa dan Masih Bertahan Hidup

Ditemukan, Fosil Jamur Setinggi 6 Meter Yang Tak Masuk Akal

10 Makhluk Tertua Yang Masih Hidup Hingga Kini

Ditemukan di Swedia: Pohon Usia 9.550 Tahun Masih Hidup & Tumbuh

[Sejarah Ganja Illegal] Peneliti: Ganja Obat Mujarab Sejak Ribuan Tahun

Fakta Ganja: Obat Kanker Masa Depan!

Inilah “Ayahuasca”, Tanaman Hutan Amazon Yang Mampu Bunuh Kanker!

Bahaya GMO Picu Kanker: Indonesia Harus Cegah! Tanaman Trans Genetik Membahayakan Kesehatan

Buah Sirsak, Pembunuh Kanker Yang Khasiatnya Disembunyikan Pabrik Obat

Menakjubkan, Pohon Eucalyptus Miliki Kandungan Emas Di Daunnya!

Heboh Pil Kontrasepsi Pria Ditemukan Ilmuwan Indonesia, Perusahaan Farmasi Besar “Ngiler”

Jamur Cordyceps: Hancurkan Otak Korban, Jadi Zombie, Lalu Mati

Terungkap! Kekuatan ‘Mistis’ Tumbuhan Binahong Penyembuh Luka

Buah Ciplukan Pernah Menyelamatkan Prajurit Romawi

Buku Medis Tua 1765: “Biji Makasar” Obat Kanker, Parasit, Disentri dan Malaria

Dunia Barat Sebut Pohon Kelor “Miracle Tree”, Apa Keajaibannya?

Tanaman “Krokot”, Proritas Obat WHO Bagi Dunia, Tumbuh Liar Di Indonesia

Koloni Lebah Menyusut: Jika Lebah Musnah Maka Manusia Ikut Punah!

Ambergris, Zat dari Paus Bernilai Ratusan Juta Rupiah

Gelembung Renang Ikan Tirusan Rp. 200 Juta! Apa Manfaatnya?

Misterius, Makhluk Mungil Ini Punya Tujuh Jenis Kelamin!

Mitos Monster Terbang Misterius Yang Mendunia Ini Ada Di Indonesia


https://wp.me/p1jIGd-9TW

((( IndoCropCircles.com )))

Pos ini dipublikasikan di Flora Fauna Cryptozoology, Yang Paling dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.