CoViD-19 “Made in” Laboratorium Amerika Serikat

CoViD-19 Diduga “Made in” Laboratorium Amerika Yang Juga Bisa Menghancurkan AS

 

Di Jakarta awal tahun 2020 semakin mencekam. Saya bertemu dengan dia dalam suasana santai. Walau Jakarta mencekam karena ada himbauan pemerintah agar orang lebih baik tinggal di rumah untuk terhindar dari penyebaran virus corona strain baru yang belum dikenal sebelumnya. Himbauan ini bagian dari gerakan menjaga jarak sosial atau social distance, yang katanya efektif menghindari CoViD-19.

Virus corona strain baru ini sampai membuat badan dunia WHO mengeluarkan maklumat sebagai Pandemic, karena menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang mana virus ini terdeteksi sejak akhir 2019 dan penyakit yang disebabkannya dinamai “Coronavirus disease  2019” yang disingkat dan dikenal sebagai CoViD-19.

“Virus itu diciptakan oleh AS. “ katanya.

“Kamu sedang berteori?” kataku tersenyum.

Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah agenda kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan.

“Saya mencoba melakukan desk research terhadap CoViD-19 ini. Sekedar untuk mengetahui darimana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.”

“Dalam dunia yang serba terbuka saat sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama atau mainstream media.”

“ Okelah. Apa yang kamu ketahui ? Aku mau dengar”

“ Yang pasti virus itu bukan berasal dari China.”

“ Jadi, dari mana?”

“Satu-satunya Lab yang punya sample virus hidup dengan lima jenis Gen adalah Bio-Lab militer AS di Fort Detrick, Maryland (United States Army Medical Research Institute of Infectious Diseases -wikipedia). Itu sangat mungkin tercipta virus baru.  Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru.“

Denise Braun prepared to demonstrate lab work during a media tour at the  Army Medical Research Institute of Infectious Diseases in Fort Detrick, Md., in 2011.

Denise Braun prepared to demonstrate lab work during a media tour at the Army Medical Research Institute of Infectious Diseases in Fort Detrick, Md., in 2011 (nytimes.com). Credit: Patrick Semansky/Associated Press

“ Oke. Bagimana kamu bisa simpulkan itu?”, kata saya mengerutkan kening.

“Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang coronavirus yang baru, berasal di AS.“ [COVID-19: Further Evidence that the Virus Originated in the US – globalresearch]

“Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?”

“Itu berdasarkan fakta. Pada Agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di AS menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada pejabat AS, bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika.“

“ Terus…”

“Pada bulan September 2019, warga Jepang di Hawaii terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di AS jauh sebelum terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data Agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar 10 ribu orang di 22 negara bagian AS.“ [Japanese man diagnosed with coronavirus after visiting Hawaii – thejakartapost]

“Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flu Amerika yang menyerang perokok vaping.”

“Itu ulah propaganda dari konglomerasi pabrik rokok. Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktifitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.”

“Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC (Centers for Disease Control and Prevention), telah menghentikan bio-lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran patogen,” kataku mencoba membantah hubungan Bio Lab dengan keberadaan virus itu. [Deadly Germ Research Is Shut Down at Army Lab Over Safety Concerns – nytimes]

“Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran Lab itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.”

“ Okelah. Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu.”

“Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan Oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang Pertandingan Militer Dunia atau The World Military Games (WMG) yang diselenggarakan di Wuhan, China (The 7th CISM World Military Games, Wuhan 2019). Lima atlit dari 200 atlit AS yang ikut dalam WMG dirawat di rumah sakit di Wuhan.”

The Pentagon sent 17 teams with more than 280 athletes and other staff members to the Military World Games in Wuhan, China, in October.

The Pentagon sent 17 teams with more than 280 athletes and other staff members to the Military World Games in Wuhan, China, in October. 2019 (nytimes.com). Credit: Reuters.

“Apa penyakitnya?”

“Terinfeksi virus. Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat 2 minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal November 2019. Nah anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung “event 201” di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institute John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland AS. Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF).”

Event 201, simulasi latihan pandemi tingkat tinggi untuk menggambarkan upaya kesiapsiagaan yang diberi kode “nCov-2019” (source)

“Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode “nCov-2019“. Padahal ketika itu istilah dan kode nCov-2019 belum ada. Bagaimana mereka tahu? [Event 201, a pandemic exercise to illustrate preparedness efforts – centerforhealthsecurity]

Gilanya, pada simulasi tersebut diskenariokan 65 juta total kematian di seluruh dunia! Dan efeknya hingga membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.

Namun baru-baru ini, tim humas “Event 201” membantah bahwa kode latihan pandemik itu adalah suatu kesengajaan. Mereka membantah melalui situs resminya dengan judul: “Statement about nCoV and our pandemic exercise.” [screenshot]

“ Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya”

“Oke. Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Georgetown University, Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan, tetapi tempat lain. [Wuhan seafood market may not be source of novel virus spreading globally – sciencemag]

“Tapi ada juga yang bilang pada tanggal 18 September 2019. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan.“

The Huanan seafood market in Wuhan has been widely considered the source of the outbreak of a novel coronavirus. But the virus may have infected people elsewhere first (sciencemag.org). Credit: REUTERS

“ Terus…” Saya mulai penasaran.

“Makalah Wuhan seafood market may not be source of novel virus spreading globally – sciencemag dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China Academy of Science. Dalam artikelnya menyampaikan rincian tentang 41 pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positip terinfeksi apa yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood tersebut. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, 13 dari 41 kasus tidak pernah ke pasar seafood itu.”

“Apa artinya?”

Image result for Daniel Lucey

Daniel R. Lucey is an American physician, researcher, senior scholar and adjunct professor of infectious diseases at Georgetown University, and a research associate in anthropology at the Smithsonian National Museum of Natural History, where he has co-organised an exhibition on eight viral outbreaks.

“Walau sebagian besar memang punya catatan pergi ke pasar seafood, tetapi itu menunjukan bahwa penyebaran virus terjadi sebelum Desember 2019. Pastinya bulan November 2019 atau lebih awal.”

“Masih belum memuaskan teori kamu” kata saya.

“Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen PhD, ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona.”

“Dia mengatakan skenario yang masuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya, jangan dibalik. Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia.”

“Menurut artikel Science, pada 25 Januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap 27 genome 2019-nCoV. [Clock and TMRCA based on 27 genomes – virological.org]

“Dia menyimpulkan ‘kelahiran’ Covid 2019 itu pada tanggal 1 Oktober 2019. Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada tanggal 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien atlit dari AS. Dari sanalah awal penyebaran. ‘Pasien nol’ atau zero patient dari Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal AS itu saat di China.”

Kristian G. Andersen, PhD. Associate Professor / Director of Infectious Disease Genomics, Scripps Research ranslational Institute, Department of Immunology and Microbiology, California Campus (scripps.edu)

“Setelah itu ada Hari Raya Imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar-besaran orang kota ke desa untuk merayakan Imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen China cepat mengatahui akan ‘serangan’ Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas, apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan,” kataku mencoba merangkai semua argumennya.

“Cobalah bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan 16 juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb atom Hirosima-Nagasaki, yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam Perang Dunia Kedua.”

“Kemungkinan kalau China gagal dalam ‘perang’ melawan Covid 2019, China akan bernasib sama seperti Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu siapa itu AS dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri,“ katanya.

“Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?”

“Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah, ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China. Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covid-19 itu memang di create oleh manusia melalui rekayasa di Laboratorium. Itu hanya mungkin AS. Karena hanya AS satu-satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.”

(baca juga:  Laboratorium Amerika Kembangkan 324 Senjata Biologis!)

“Tapi berita media massa sangat bias, “ kataku.

“Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012, tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania, kali pertama terkena virus pada bulan April tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab Saudi tetapi dari Yordan.” [Multihospital Outbreak of a Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus Deletion Variant, Jordan: A Molecular, Serologic, and Epidemiologic Investigation – ncbi.nlm.nih.gov]

“Jadi kita harus hati-hati membaca berita resmi. Bahwa ‘media barat’ selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, ‘media barat’ membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus Covid-19 yang berasal dari pasar makanan laut (seafood) di Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.”

“Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?”

“Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah Perang Dunia Kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang fisik tak terelakkan. Kini mungkin orang enggak mau lagi perang fisik. Karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakteri.”

“Kalau benar AS yang menciptakan, mengapa virus itu juga menyerang sekutu AS seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab dan lain lain, termasuk Indonesia?

“AS melihat fenomena ‘perang dagang’ dimana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya untuk menghadapi China. Misal, kedekatan Arab Saudi dengan China dalam proyek Jalur Sutera, belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang, investasi Korea dan Jepang yang sangat besar di China, Indonesia dalam kasus Laut China Selatan yang terkesan tidak berpihak kepada AS. Iran, yang semakin garang dengan AS, dan ancaman bagi agenda AS memecah-belah Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.”

“ Untuk apa?”

“Untuk apa? bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jauh lebih menakutkan daripada perang fisik. Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan kekacauan sosial (social chaos). Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan kekacauan pasar (market chaos). Lihatlah fakta sekarang, semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu, atau mereka jatuh.”

Cukup baik bahwa masyarakat tidak memahami perbankan dan sistem moneter kita, karena jika mereka telah memahami, saya percaya akan ada revolusi sebelum esok pagi. (Henry Ford)

“Loh AS juga terancam kepanikan akibat virus corona?”

“Itu juga bagian dari rangkaian para elite AS untuk memaksa publik AS agar menerima strategi mereka dalam memenangkan ‘perang semesta‘ lewat ekonomi dan tekhnologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang tempur Jepang masuk wilayah AS untuk menghabisis pangkalan perang AS di Hawaii. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar AS masuk dalam Perang Dunia Ketiga,” katanya berteori.

“Okelah, kan sudah terbukti agenda AS menghancurkan China gagal, terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat Cina menghadapi wabah virus corona?

“AS punya solusi di tengah kepanikan itu.”

“ Apa itu?”

“Tergantung sekutu AS. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska jatuhnya Lehman Brothers tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu, situasi akan di bawah kendali AS untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia.”

“Oh I see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda AS. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan.“

“Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan,” katanya cepat.

Saya termenung. Semoga dunia baik baik saja. Di atas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya. Pada akhirnya, kita sedang memasuki ‘fase besar’, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu, akan mencari jalannya, walau prosesnya memang pahit. (Sumber : Erizeli Bandaro / editor: IndoCropCircles, Februari 2020)

Pustaka:


Video:

TAHUKAH ANDA? INILAH AWAL MULA PERANG EKONOMI CINA vs. AMERIKA

[GREAT CULLING] Diseases Pendemic: by DR. Rima Laibow M.D. and Jesse Ventura (click here: via Facebook video)

[Monumen Kiamat telah dibuat] Georgia Guidestones – Monumental Instructions for the Post-Apocalypse (Depopulation Sign)


Artikel Lainnya:

Fakta Sejarah: 10 Senjata Kimia Yang Dipakai AS dan Sekutunya Yang Mereka Tak Ingin Anda Mengetahuinya

[VIDEO] Gila!! Depopulasi Dunia Sedang Berjalan! Depopulation Is On The Way!

[Depopulasi Dunia] Codex Alimentarius: Menguasai Produk Makanan Berarti Mengontrol Manusia

Depopulasi Dunia: Pesawat Semprot Zat Kimia Berupa “Chemtrails” di Angkasa

Wabah Virus CoViD-19 Belum Usai, Flu Burung Varian Ganas H7N3 Sudah Mengancam Dunia!

Awas Serangan Senyap! Ribuan Pasien CoViD19 Tanpa Gejala Infeksi!

Sedikit Yang Tahu! Flu Outbreak 2018, Ratusan Tewas: Wabah Flu H3N2 Mendunia!

Misteri CoronaVirus CoV-2019: Mengangkat Misteri Virus “Mahkota Baru” Secara Ilmiah

Laboratorium Amerika Kembangkan 324 Senjata Biologis!

MERS Kembali Mewabah: Corona Virus Mirip SARS Yang Misterius

Awas! Lewat Nyamuk, Virus Zika Buat Bayi Keterbelakangan Mental Melalui Radang Otak!

[WASPADA] Indonesia Peluang Tinggi: Virus Mematikan “Nipah” (NiV) Mewabah Bisa Ancam Dunia!

Nyamuk “Culex” Ada Di Indonesia: Menyerang Anak, Merusak Otak, Bikin Generasi Bego!

Mencari Jalan Pengobatan: Virus Flu Burung Buatan Manusia Muncul di Jurnal Ilmiah

Menguak Konspirasi Jahat AS Terhadap Indonesia, Tentang Virus Flu Burung (H5N1)

Kontroversi Mantan Menkes Endang Rahayu, NAMRU dan Bisnis AS di Indonesia

[Bio-Weapon] Virus Zika Disebarkan Oleh Nyamuk Trans-Genetika

MERS, Corona Virus Mirip SARS Yang Misterius

Penyakit Ganas Baru: “Chagas” Penyakit Versi AIDS Yang Kedua?

Virus Misterius Mirip AIDS Incar Orang Asia!

Obat AIDS: Melittin di Racun Lebah Bisa Bunuh Virus HIV

[Obat AIDS Ditemukan] Akhirnya, Pertama Kali HIV Berhasil Hilang Total Pada Binatang Hidup!

Pengakuan Ilmuwan: Ada Hubungan Vaksin MMR dan Autisme

Indonesia Harus Waspadai Ancaman Teroris Biologi

Waspada! Flu Outbreak, Ratusan Tewas: Wabah Flu H3N2 Mendunia!

Ditemukan! Virus “Bodoh” Yang Dapat Mengubah Sifat dan Kepribadian Manusia

Virus Ebola Mematikan dan Tiada Obatnya, Lebih Dari 5.000 Orang Sudah Tewas!

Virus Raksasa Teraneh Sejagad Ini Mungkinkah Alien?

Ditemukan: Virus Penyebab Kegemukan (Obesitas)

[SCIENCE] Mengapa Babi Haram Dimakan? Life Will Find The Way!


https://wp.me/p1jIGd-9NR

((( IndoCropCircles.com )))

Pos ini dipublikasikan di Penyakit & Kesehatan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke CoViD-19 “Made in” Laboratorium Amerika Serikat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.