[Long CoViD] Usahakan Jangan Kena Covid-19, Inilah Efek Jangka Panjangnya!

[Long CoViD] Usahakan Jangan Kena Covid-19, Inilah Efek Jangka Panjang Pada Pasien Covid Yang Telah Sembuh

Pandemik CoViD-19 masih terus menjadi perhatian masyarakat dunia karena kasusnya masih terus ada, bahkan bertambah. Berbagai penelitian pun gencar dilakukan untuk mengenal penyakit baru tersebut dan mencari “senjata ampuh” untuk menaklukkannya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa orang-orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 perlu mengisolasi diri hingga 10-14 hari lamanya. Memang, CoViD-19 umumnya bisa hilang dari tubuh dalam jangka waktu tersebut, dan ini sudah disebutkan di beberapa jurnal medis.

Namun, nyatanya CoViD-19 tidak bisa diatasi semudah itu. Ada laporan bahwa pasien yang sudah dinyatakan sembuh masih melaporkan terjadinya efek infeksi yang masih bertahan, atau masih merasakan gejala penyakit yang berkepanjangan. Inilah yang disebut sebagai Long COVID” adalah fenomena masih munculnya efek infeksi atau gejala CoViD-19 berkepanjangan usai dinyatakan sembuh. Sebanyak 75 – 80 persen pasien CoViD-19 mengalaminya!

Nah, ada penelitian yang menyebutkan adanya satu fenomena efek jangka panjang infeksi yang bertahan, atau mengalami gejala lebih lama pada pasien yang telah dinyatakan sembuh dari penyakit yang disebabkan oleh virus corona strain baru, yang dalam dunia medis disebut sebagai SARS-CoV-2 atau CoViD-19 (Corona Virus Disease-19) ini, dan fenomena penyakit ini dinamakan “Long CoViD” (Efek CoViD berkepanjangan).

Berikut ini adalah fakta-fakta seputar Long CoViD atau Efek CoViD berkepanjangan yang wajib Anda tahu.

1. Kerontokan Rambut Yang Parah

Berbagai laporan yang masuk terkait pasien CoViD-19 mengatakan, sebagian besar masih merasakan gejala CoViD-19 walau mereka sudah dinyatakan bebas dari infeksi virus CoViD-19 ini.

Bahkan di media sosial seperti Twitter, banyak cuitan dari mantan pasien yang menceritakan dampaknya walaupun sudah berbulan-bulan sembuh.

Aktris asal Amerika Serikat, Alyssa Milano misalnya, termasuk satu diantaranya. Alyssa buka-bukaan tentang kondisinya usai infeksi CoViD-19.

Lewat sebuah video, Alyssa menunjukkan dirinya mengalami kerontokan rambut yang parah sebagai dampak dari infeksi coronavirus.

Mengutip CBS News, Alyssa bukan satu-satunya orang yang melaporkan rambut rontok usai terinfeksi CoViD-19. Walaupun rambut rontok bukan gejala “resmi”, tetapi ada survei yang menemukan bahwa 26 persen orang dengan gejala jangka panjang CoViD-19 mengalami rambut rontok.


2. Kenaikan Berat Badan dan Telinga Tersumbat

Masih mengutip dari CBS News, yang mana survei tersebut dilakukan oleh Survivor Corps, grup yang membantu survivor atau penyintas CoViD-19, yaitu orang yang berhasil sembuh dari CoViD-19.

Dalam survei tersebut, 1.500 pasien melaporkan gejala tak biasa pasca infeksi, selain kerontokan rambut, juga termasuk kenaikan berat badan dan telinga tersumbat.


3. Masih Mengalami Gejala Sulit Bernapas, Nyeri Otot dan Kelelahan

81 dari 110 pasien COVID-19 yang dirawat di Southmead Hospital, Bristol, Inggris, melaporkan masih mengalami gejala sulit bernapas, nyeri otot, hingga kelelahan walau sudah dinyatakan sembuh selama 12 minggu.

Sementara itu, dilansir Sky News, 81 dari 110 pasien COVID-19 yang dirawat di Southmead Hospital, Bristol, Inggris, melaporkan masih mengalami gejala sulit bernapas, nyeri otot, hingga kelelahan walau sudah dinyatakan sembuh selama 12 minggu.

Data tersebut membuat para ahli yakin, jika angka kejadian fenomena Long CoViD ini berada di atas 75 persen! Data dari aplikasi CoViD Symptom Study yang dibuat oleh King’s College London, Inggris, menyebut bahwa setidaknya 1 dari 20 pasien merasakan gejala berkepanjangan tersebut.

Di Italia, seperti dilansir The Independent, ada laporan 9 dari 10 pasien di Roma masih merasakan gejala yang bertahan dalam kurun waktu 60 hari pasca infeksi!


4. Susah Konsentrasi, Depresi dan Kabut Otak (Brain Fog / Mental Fog / Clouding of Consciousness)

Dalam fenomena Long CoViD, pasien melaporkan gejala kelelahan, mudah kehabisan napas, sakit otot dan sendi, susah konsentrasi, depresi, hingga kabut otak (brain fog).

Gejala Long CoViD serupa dengan COVID-19, walau berbeda-beda pada tiap orang. Dalam fenomena Long CoViD, pasien melaporkan gejala yang sebelumnya pernah dirasakan saat masih terinfeksi virus COVID-19.

Beberapa gejalanya meliputi kelelahan, mudah kehabisan napas, sakit otot dan sendi, susah konsentrasi, depresi, hingga kabut otak (brain fog) atau dikenal di dunia medis sebagai Clouding of Consciousness (kesadaran yang kabur).

Kabut Otak atau Brain Fog (Mental Fog / Clouding of Consciousness), adalah saat seseorang kurang terjaga atau kurang sadar dari biasanya. Mereka tidak menyadari waktu atau lingkungannya, dan merasa sulit untuk memperhatikan. Sensai ini digambarkan sebagai pikiran mereka yang “berkabut” atau “foggy”.


5 Masih Mengalami Anosmia
(Hilangnya Kemampuan Mencium Bau)

Salah satu gelaja terkena virus COVID-19 adalah menurun drastisnya kemampuan mencium bau apapun, bahkan ada pula yang kemampuan rasa pada lidah juga menurun, tidak dapat merasakan manis, asin, pahit atau kecut.

Beberapa laporan dokter kepada British Medical Association, ada banyak penyintas CoViD-19 yang mengeluhkan masih mengalami “anosmia” atau hilangnya kemampuan mencium bau walau telah terlepas dari CoViD-19.


6. Kualitas Hidup Menurun
(lelah, susah napas, nyeri sendi & sakit di dada)

44,1 persen dari 143 pasien pasca CoViD-19 telah melaporkan kualitas hidupnya menurun!

Ada sebuah studi yang mencoba meneliti sekelompok mantan penderita CoViD-19 yang berhasil sembuh di Roma, Italia. Studi yang berjudul “Persistent Symptoms in Patients After Acute COVID-19” dalam jurnal JAMA Network yang terbit bulan Juli 2020 lalu.

Studi tersebut menemukan bahwa 44,1 persen dari 143 pasien telah melaporkan kualitas hidupnya menurun! Penurunan kualitas hidup tersebut ditandai dengan kelelahan tak berkesudahan (53,1 persen), susah bernapas (43,4 persen), nyeri sendi (27,3 persen), dan sakit di dada (21,7 persen).


7. “Cytokine Storm” (badai sitokin):
Perubahan Sistem Imun (Perubahan Sistim Kekebalan Tubuh)

CoViD-19 disebut tidak cuma menginfeksi paru-paru, tetapi juga menekan sistem imun. Berdasarkan studi berjudul “Dysregulation of Immune Response in Patients With Coronavirus 2019 (COVID-19) in Wuhan, China”, yang terbit dalam jurnal Clinical Infectious Diseases pada awal Agustus 2020 lalu, ditemukan bahwa virus SARS-CoV-2 ini bisa membuat perubahan pada sistem imun atau sistim kekebalan tubuh.

Akibatnya, virus dapat berkembang, dan menyebabkan peningkatan sitokin yang besar, atau disebut sebagai “Cytokine Storm” atau “badai sitokin” (reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh) dan mengakibatkan peradangan.

Cytokine Storm juga disebut hypercytokinemia (hipersitokinemia) adalah reaksi fisiologis pada manusia atau hewan yang mana sistem kekebalan bawaan mereka melakukan pelepasan molekul pensinyalan pro-inflamasi (pro-inflammatory signaling molecules) yang tidak terkontrol dan berlebihan yang disebut sitokin (cytokines).

Biasanya, sitokin adalah bagian dari respons kekebalan tubuh terhadap infeksi, tetapi pelepasannya yang tiba-tiba dalam jumlah besar dapat menyebabkan kegagalan organ multisistem dan kematian.

Sindrom “badai sitokin” disebabkan oleh peningkatan respons imun. Sejatinya sistem kekebalan berfungsi untuk membantu kita melawan infeksi. Namun, terkadang sistem imunitas ini memberikan respons yang tidak semestinya, dan justru memperparah kondisi penyakit. Setiap kali tubuh yang sehat melawan infeksi, ada respons sistem kekebalan alami yang terjadi.

Badai sitokin dapat disebabkan oleh sejumlah etiologi infeksi dan non infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan virus seperti influenza H5N1, SARS-CoV-1 dan SARS-CoV-2 (agen COVID-19).

Agen penyebab lainnya termasuk virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, dan streptococcus grup A, dan kondisi non-infeksi seperti penyakit graft-versus-host. Virus dapat menyerang sel epitel paru dan makrofag alveolar untuk menghasilkan asam nukleat virus, yang merangsang sel yang terinfeksi untuk melepaskan sitokin dan kemokin, mengaktifkan makrofag, sel dendritik, dan lain-lain.

Carl Fichtenbaum, MD, profesor di divisi penyakit menular di Fakultas Kedokteran University of Cincinnati. (bizjournal’s.com)

Menurut Carl Fichtenbaum, MD, profesor di divisi penyakit menular di Fakultas Kedokteran University of Cincinnati, bagian dari respons ini melibatkan pelepasan sitokin, yaitu bahan kimia biologis yang merangsang jalur sel dan memungkinkan komunikasi antar sel.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh American Cancer Society, sitokin ini pada dasarnya memberi sinyal sistem kekebalan untuk mulai melakukan tugasnya.

Ini adalah situasi yang wajar. Namun, ketika pelepasan sitokinnya terlalu banyak maka sistem kekebalan tubuh mulai menyebabkan kerusakan pada tubuh.

Melihat pola tersebut, besar kemungkinan bahwa gejala Long-CoViD bisa tetap ada karena memang sistem imun yang belum pulih benar. Meski demikian faktanya, tetap butuh penelitian lebih lanjut untuk benar-benar memahami kenapa fenomena tersebut bisa terjadi.

Efek Long CoViD membuat banyak penyintas mengalami depresi

Pada poin sebelumnya, telah disebutkan berbagai gejala Long CoViD yang dilaporkan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah depresi (pada poin 4). Depresi ini tak hanya memengaruhi kehidupan “mantan pasien” atau penyintas (survivor), tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Dilansir The BMJ Opinion, Paul Garner, profesor penyakit menular dari Liverpool School of Tropical Medicine, Inggris, mendiskusikan pengalamannya ketika terinfeksi CoViD-19.

Dia mengatakan bahwa Long CoViD bisa membuat seseorang menjadi ragu akan dirinya. Dalam arti, apakah dia akan benar-benar sembuh, apakah nantinya akan tertular lagi, dan sebagainya, yang mana secara perlahan, hal ini akan memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Dikatakan juga bahwa Long CoViD ini juga bisa dialami oleh pasien yang ketika terinfeksi, hanya mengalami gejala ringan, misalnya demam dan sesak napas.

Perbandingan urutan beberapa genom coronavirus.

CoViD-19 bukanlah satu-satunya penyakit yang memberikan dampak jangka waktu lama

Sebetulnya para ahli tidak kaget dengan Long CoViD. Pasalnya, beberapa penyakit juga memiliki efek serupa. Sebagai contoh adalah wabah SARS Coronavirus pada tahun 2002-2004 silam.

Berdasarkan studi di Kanada dalam jurnal “BMC Neurology” tahun 2011, disebutkan bahwa mantan pasien atau penyintas SARS mengalami sulit tidur (difficulty sleeping/disordered sleep).

Tak hanya itu, mereka juga mengalami kelelahan parah (fatigue), depresi (depression), hingga nyeri otot (chronic widespread musculoskeletal pain). Bahkan, beberapa di antaranya sampai harus mengubah gaya hidup termasuk pekerjaannya.

Itulah fakta-fakta seputar Long CoViD yang harus kamu ketahui agar lebih waspada dan hati-hati lagi terhadap virus tersebut. Banyak sekali hal-hal tentang CoViD-19 yang masih menjadi misteri dan belum pasti.

Berbagai penelitian terus dilakukan, termasuk tentang efek atau gejala jangka panjang pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh, alias Long CoViD.

Namun satu hal yang pasti, supaya pandemi bisa segera berakhir, percayalah pada rekomendasi para ahli. Mereka tidak meminta kita melakukan hal yang sulit. Dengan menerapkan pola hidup sehat, selalu pakai masker saat di luar rumah (termasuk saat sakit atau berada di sekitar orang sakit), jaga kebersihan diri, kelola stres dengan benar, dan jangan kelayapan jika bukan urusan penting. Bila kita semua kompak dan disiplin melakukannya, niscaya rantai penulasan CoViD-19 akan terputus. (IndoCropCircles / berbagai sumber)

Pustaka:


Artikel Lainnya:

Misteri CoronaVirus CoV-2019: Mengangkat Misteri Virus “Mahkota Baru” Secara Ilmiah

CoViD19 Mutasi! Serangan Senyap: Ribuan Positif CoViD19 Tanpa Gejala Infeksi

CoViD-19 “Made in” Laboratorium Amerika Serikat

Laboratorium Amerika Kembangkan 324 Senjata Biologis!

[Vaksin CoViD-19] Jangan Beli Vaksin Corona Buatan Bill Gates!

CoViD-19 Belum Usai, Muncul Virus H7N3 Yang Ancam Amerika

Ilmuwan Temukan Cara Ampuh Sembuhkan Pasien Virus Corona (CoViD-19)

Di Tengah Wabah CoViD-19: Ada Sinyal Misterius Dari Langit Dikirim Tiap 16 Hari

Flu Outbreak 2018, Ratusan Tewas: Wabah Flu H3N2 Mendunia!

Menguak Konspirasi Jahat AS Terhadap Indonesia, Tentang Virus Flu Burung (H5N1)

Kontroversi Menkes Endang Rahayu, NAMRU dan Bisnis AS di Indonesia

Fakta Sejarah: 10 Senjata Kimia Yang Dipakai AS dan Sekutunya Yang Mereka Tak Ingin Anda Mengetahuinya!

10 Misteri Indonesia Yang Mungkin Belum Pernah Anda Ketahui Sebelumnya


[Long CoViD] Usahakan Jangan Kena Covid-19, Inilah Efek Jangka Panjangnya!
https://wp.me/p1jIGd-a7d

Pos ini dipublikasikan di Penyakit & Kesehatan, Yang Paling dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.