Ini Dia!! Megalith “Gunung Padang” Jabar, “Stone Henge” Versi Indonesia (Gunung Padang – PART 1)

Misteri Batu Megalith “Gunung Padang” di Jawa Barat, “Stone Henge” Versi Indonesia (Gunung Padang – PART 1)

“Situs Gunung Padang, situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiusitas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit.”

*

Type of research  : Geology & Archeology
Search research    : The Indonesian Megaliths
Location                    : Cianjur regent, West Java Province.
Sub Location          : Karyamukti village, Campaka sub-district.
Village                         : between Gunungpadang backwoods & Panggulan.
Coordinate              : 6°59’36.9035”S – 107°3’22.6264”E

To use English or other languages, chose and click on the Right Sidebar

===========================================

Mount Padang West Java, Terrace Pyramid from Ancient Megalith Era!

Kalau Inggris punya Stone Henge, Perancis punya batu batu Carnac, Laos punya batu batu Guci dan Mikronesia punya Nan Madol, maka Indonesia juga punya situs megalitikum Gunung Padang, yang berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Wilayah ini bukan berada di Sumatera Barat namun ada di Jawa Barat. Dinamakan Gunung Padang, berdasarkan kata “padang” berasal dari beberapa suku kata, yaitu :

– Pa = Tempat
– Da = Besar/gede/agung/raya
– Hyang =Eyang/moyang/biyang/leluhur agung

Jadi arti kata “Padang” itu adalah Tempat Agung para Leluhur atau boleh jadi maknanya Tempat para Leluhur Agung.

Situs Megalitikum Gunung Padang diperkirakan dibangun pada 2000 SM atau sekitar 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.

Anak tangga asli dari batu-batu prasejarah menuju puncak gunung padang, sekarang sudah dibuat lagi alternatif untuk naik ke puncak dengan akses yang lebih landai. (courtesy: Cornel Aji)

Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, pengunjung harus meniti tangga curam setinggi -+ 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit sebanyak hampir 400 anak tangga.

Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m². Penduduk setempat mengaitkannya dengan Prabu Siliwangi, meskipun sebenarnya situs tersebut jauh lebih tua dari  buyutnya Siliwangi itu sendiri.

Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris, berbeda dengan punden berundak simetris seperti Borobudur, juga berbeda dengan punden berundak simetris lainnya yang ditemukan di Jawa Barat seperti situs Lebak Sibedug di Banten Selatan.

Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap.

Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 06°59,522′ LS dan 107°03,363 BT. Situs Gunung Padang terdiri atas lima teras (tingkatan). Dasar situs terdapat di ketinggian 894 m dpl, data setiap teras adalah sebagai berikut:

1. Teras pertama (1st terrace) berada pada ketinggian 983 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,

2. Teras kedua (2nd terrace) berada pada ketinggian 985 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 337° UT,

3. Teras ketiga (3rd terrace) berada pada ketinggian 986 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,

4. Teras keempat (4th terrace) berada pada ketinggian 987,5 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 330° UT,

5. Teras kelima (5th terrace) berada pada ketinggian 989 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 345° UT.

Penampang atas Gunung Padang

Untuk lebih jelasnya mengenai teras-teras tersebut, anda bisa membaca dibagian bawah artikel tentang kelima teras-teras di Gunung Padang Cianjur tersebut.

Berdasarkan data di atas, tinggi punden berundak situs Gunung Padang adalah 95 meter dengan arah utama teras menuju utara baratlaut dengan rata-rata azimut 336,40 ° UT.

Seluruh teras situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sejauh sekitar 25 km dari situs ini.

Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm.

Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon).

Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi.

penemu gunung padang NJ Krom Dutch Arkeolog founder

NJ Krom arkeolog Belanda yang menemukan Gunung Situs Megalith Padang pada tahun 1914

Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya.

Sedangkan Teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.

Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom.

Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie).

N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala.

gunung padang Tropen Museum 1940

Reruntuhan di dekat perkebunan karet dan teh dekat Gunung Manik Lampegan. (Foto koleksi Tropen Museum Belanda tahun 1940) – Ruïne in het bos bij de rubber- en theeplantage Goenoeng Manik omgeving Lampegan – Ruin in the woods near the rubber and tea plantation near Gunung Manik Lampegan.

Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Pada waktu itu, situs megalith ini dikenal oleh penduduk dengan nama “Goenoeng Manik Lampengan“.

Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.

Pengamatan di lapangan; pengukuran posisi, ketinggian dan azimut setiap teras, pengolahan data posisi situs menggunakan program astronomi (arkeoastronomi), memperhatikan semua keterangan para interpreter serta diskusi-diskusi para ahli telah membawa kepada sebuah kesimpulan yang pada intinya adalah bahwa situs megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan dan dibangun pada posisi yang telah memperhatikan geomantik dan astromantik.

Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia

Tentang umurnya, ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau (maung) pada dua bilah batu.

Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya adalah 1500 tahun sebelum Masehi (SM) bahkan mungkin lebih dari 5000 tahun sebelum masehi.

tapak maung_Gunung_Padang

Tanda pada batu yang dimitoskan oleh penduduk sebagai Tapak Harimau (Maung) di batu megalith Gunung PAdang.

Kesimpulan itu berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda, Bujangga Manik, yang semasa dengan Prabu Siliwangi, menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda.

Dan, tidak mungkin Bujangga Manik tidak tahu kalau situs ini dibangun oleh Kerajaan Sunda sebab ia pun seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda.

Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Kebanyakan artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada saat Kebudayaan Dongson (500 SM) berlangsung (Sukmono, 1977, 1990).

Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geologi sebab ia dibangun dengan memanfaatkan sebuah bukit punggungan/ puncak oleh lava andesit basaltik dan lava basaltik berumur era Pliosen (2,1 juta tahun) yang pernah dipetakan secara geologi oleh Mang Okim pada 1973, direvisi 2003 dan lembar Sindangbarang.

Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia

Pada lembaran peta, situs itu terbuat dari tiang-tiang batuan andesit dan basal yang telah terlepas secara alami karena retakan oleh pendinginan lava (kekar tiang, columnar jointing). Batu-batu tiang ini kemudian ditambang oleh manusia pada zaman itu untuk membangun punden berundak-undak.

Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geomantik untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede.

Gunung dalam kosmologi agama purba Jawa adalah personifikasi pemberi dan pengambil (Magnis-Suseno, 2006). Ia pemberi kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman untuk dimakan, tetapi ia juga adalah sang pengambil yang letusannya bisa membinasakan siapa saja. Maka gunung harus disembah agar ia tak marah dan selalu memberi berkah.

Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia

Bahwa situs ini dipakai untuk tempat penyembahan dengan orientasi sang penguasa Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras situs ini dari yang paling rendah (teras 1) sampai yang paling tinggi (teras 5) selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT.

Pembangunan situs ini juga, terutama di teras 1 telah cukup memperhatikan masalah kelabilan area ini yaitu dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling menumpuk untuk penguatan.

Dalam hubungannya dengan penyembahan, situs ini pun dapat dibangun untuk maksud agar manusia dijauhkan dari bencana gempa atau gunung api yang memang sumber-sumbernya tidak jauh dari Gunung Padang.

Teras-1, terdapat batu-batu berwarna abu-abu berbentuk kolom yang masih tersusun rapi membentuk ruang persegi panjang. Batu-batuan di Gunung Padang adalah batuan jenis andesit basaltis yang merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Karena pengaruh proses alam, batu-batuan ini membentuk dirinya menjadi kolom-kolom poligonal segi empat, lima, enam, delapan, yang permukaannya sangat halus sehingga banyak orang yang mengira batu-batuan ini merupakan hasil karya tangan manusia jaman dahulu. (courtesy: Cornel Aji)

Di teras 2 terdapat dua menhir dan satu dolmen kecil yang kelihatannya dipakai untuk duduk, dan itu tepat mengarah ke puncak Gunung Gede. Arah azimut rata-rata ini pun membentuk kelurusan dengan semua bukit/gunung yang ada di sekitar Gunung Padang yaitu : Pasir Pogor, Gunung Kancana, Gunung Gede, Gunung Pangrango.

Situs Gunung Padang pun secara geologi berada pada area yang secara kegempaan cukup aktif, yaitu tidak jauh dari Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri adalah sesar besar yang memanjang dari Teluk Pelabuhanratu sampai sekitar Padalarang.

Bila ada pengaktifan gaya geologi di sekitar Teluk Pelabuhanratu atau Jawa Barat Selatan, maka sesar ini sering menjadi media penerus gaya goncangan gempa. Beberapa menhir yang terguling dan patah di area situs ini diperkirakan diakibatkan gempa.

Teras-2, Megalith Padang Hills Gunung Padang West Java Indonesia

Tidak seperti banyak situs megalitikum lainnya (seperti Piramida, Stonehenge, Machu Picchu) yang dibangun untuk menyembah atau mengindahkan (dewa) Matahari, situs Gunung Padang dibangun untuk diorientasikan seluruhnya kepada Gunung Gede.

Ini nampak dari pola bangunan punden berundaknya yang asimetris, tidak dibangun simetris ke semua sisi seperti Candi Borrobudur, tetapi hanya ke satu sisi, yaitu Gunung Gede. Dengan demikian, Gunung Gede menempati posisi geomantik yang sangat kuat bagi situs Gunung Padang.

Gunung Padang Sound Stone. Saat dipukul, batu megalitik ini dapat mengeluarkan nada tertentu.

Yang unik dari situs megalitik Gunung Padang adalah ditemukannya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik. Ini adalah penemuan pertama di Indonesia.

Dahlan dan Situngkir (2008) dari Bandung Fe Institute berbekal alat perekam dan analisis Fourier transform pernah meneliti musikologi situs ini dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga bilah batu yang bisa mengeluarjan nada musik dengan dentingan (pitch) berfrekuensi dari 2600-5200 kHz selaras dengan nada-nada f”’, g”’, d”’, a”’.

Jika batu basal kecil dipukul-pukulkan ke alat musik batu ini, maka akan terdengar dentingan yang tinggi dan teratur dari batu ini. Dapat dibayangkan bahwa manusia pada zaman dahulu ini melakukan penyembahan dengan iringan musik-musik batu. Menurut cerita, konon penduduk kampung di bawah situs ini masih suka mendengarkan riuh musik dari bukit ini pada malam-malam tertentu.

Terlihat posisi beberapa alat musik dari batu di Gunung Padang

Secara astronomis, situs Gunung Padang pun mempunyai harmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis astronomi menggunakan program ‘planetarium’ menunjukkan bahwa posisi situs ini pada pada masa prasejarah (pemrograman dilacak sampai ke tahun 100 M) berada tepat di bawah bagian tengah lintasan padat bintang di langit berupa jalur Galaksi Bima Sakti.

Dan, lokasi situs Gunung Padang pun di sisi atas dan bawah kaki langitnya masing-masing ‘dikawal’ oleh dua rasi yang merupakan penguasa dunia bawah (Bumi) yaitu rasi Serpens (ular) dan dunia atas (Langit) yaitu rasi Aquila (elang). Secara kosmologis, para pembangun situs ini telah memperhatikan tata langit di atasnya.

Bila situs ini benar dibangun pada masa prasejarah, pembangunannya adalah ras Austronesia yang merupakan pendatang pertama di Indonesia. Mereka melintasi Nusantara dari tanah asalnya dengan cara berlayar, dan penguasaan ilmu perbintangan/falak adalah salah satu hal mutlak dalam pelayaran antarpulau. Mungkin juga bahwa situs ini digunakan untuk menjadi tempat pengamatan bintang pada masa lalu.

Situs Gunung Padang ini adalah situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Asia – Pasifik!

Tak disangka situs yang terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiusitas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit. Begitu hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia dimasa lalu hingga situs berharga ini bagaikan dunia yang hilang lalu ditemukan dan kini mulai diselidiki.

Lebih Dekat Dengan Lima Teras di Gunung Padang Cianjur.

Puncak Situs Megalitikum Gunung Padang di kabupaten Cianjur, Jawa Barat memiliki 5 teras. Masing-masing teras memiliki susunan menhir rapi dari batuan andesit yang berbobot ratusan kilogram.

Bagaimana gambaran detil masing-masing teras di situs yang diduga piramida yang lebih tua daripada piramida di Mesir ini? Mari kita melihat tiap teras situs seluas 4.000 meter persegi yang berada di ketinggian 885 mdpl itu.

gunung_padang_teras teracce illustration

Berikut kelima teras yang ada di Gunung Padang tersebut:

Teras 5 (5th terrace)

Di teras tertinggi ini terdapat begitu banyak susunan batuan andesit. Ada satu susunan batu yang berbentuk kotak. Di dalam kotak terlihat batuan tersusun tidur menyerupai teras. Sementara tiap sisi dikelilingi menhir. Belum diketahui apa fungsi susunan batu tersebut untuk manusia periode megalitikum saat itu.

Menurut Zaenudin (30), salah seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI), saat ditemui detikcom di lokasi, ruangan kotak tersebut biasa digunakan untuk pandaringan (tempat istirahat). Terdapat tapak bulat untuk sandaran kepala yang menghadap ke utara ke arah Gunung Gede.

Teras 4 (4th terrace)

Di teras ini terdapat ruang kotak yang dikelilingi menhir. Posisi ruang tersebut berada di bagian timur situs. Di bagian tengah ruang terdapat menhir. Para penjaga situs menyebutnya sebagai ‘batu gendong’.

“Barang siapa yang mampu mengangkat batu itu, permohonannya akan terkabul,” ucap Dadi (50), salah satu penjaga situs yang sudah bekerja selama hampir 11 tahun.

Teras 3 (3rd terrace)

Teras ini pun serupa dengan teras 4. Terdapat ruang kotak yang dikelilingi menhir di tiap sisinya. Letaknya pun sama, berada di bagian timur situs. Sementara batuan lain yang berada di teras ini tidak jelas bentuknya, sebagian berdiri tegak sebagian lagi melintang.

Teras 2 (2nd terrace)

Di tingkat situs megalitikum ini terlihat jumlah menhir yang ada lebih banyak dari puncak. Namun tidak terlihat bentuk ruang kotak seperti yang ditemukan di teras 3, 4, dan 5.

Ada yang menarik, salah satu batu terdapat guratan menyerupai kujang. Menurut arkeolog UI yang meneliti gunung Padang ini, Ali Akbar, guratan tersebut merupakan murni bagian dari proses alam dan bukan karya tangan manusia.

Di teras ini pun terdapat batu duduk yang menghadap ke utara. Kursi batu itu juga memiliki sandaran, namun sandaran kursi batu tersebut sekarang condong ke belakang. “Akibat pohon yang ditebang, jadinya condong ke belakang,” kata Zaenudin.

Teras 1 (1st terrace)

Inilah teras yang biasa disebut teras penyambutan setelah pengunjung bersusah payah menaiki anak tangga berjumlah 300-an.

Di bagian ini terdapat gundukan menhir, di sebelah timur terdapat batu gong dan batu gamelan. Disebut demikian karena batuan ini berbeda dengan batuan yang ada, keduanya mengeluarkan nada bila dipukul dengan batu ukuran sekepal. Yang pasti, nada yang dikeluarkan bukan do re mi fa so la si do.

gunung padang Ruang PertunjukanTidak jauh dari dua batu bernada, terdapat ruang kotak. Saat pengunjung berhasil menapaki teras pertama, serasa diarahkan masuk ke ruang berbentuk kotak yang tiap sisinya tersusun menhir.

Terdapat gerbang masuk dan keluar yang tidak jauh dari batu gong dan gamelan.

“Katanya ruangan itu untuk penyambutan mereka yang naik ke sini. Sambil sesaji ada alunan musiknya,” terang Zaenudin.

Sementara gundukan menhir, lanjut Zaenudin, biasa disebut gunung masjid. “Karena diperkirakan ibadahnya dulu di sini,” ujarnya.

Untuk menaiki tiap teras, terdapat tangga-tangga yang terbuat dari susunan batu. Dari teras pertama ke teras dua akan disambut oleh gundukan menhir.

“Dulu gunungan ini bisa dibilang paling tinggi dan paling sakral, sehingga orang yang naik ke teras dua harus berbelok dan tidak menginjak gunungan itu,” ujar Zaenudin.

Susunan menhir ini, memang langsung berhadapan ke Gunung Gede. Ini berbeda dengan teras lainnya yang terhalang ketika menghadap ke utara. (geologi.iagi.or.id/kaskus.us/detiknews/icc.wp.com)

gunung_padang_teras teracce pyramidstruktur Piramida Gunung Padang 3d lava neck

VIDEOS:

VIDEO: Largest megalithic site in Asia Pacific (2 mnts)

VIDEO: Gunung Padang – Sejarah atau Prasejarah? (3 mnts)

VIDEO: Situs Megalitik Gunung Padang, Kab. Cianjur, Jawa Barat (6 mnts)

VIDEO: Megalithic Gunung Padang +20,000 B.C. (English)

VIDEO by MegalithomaniaUK: Gunung Padang: Exploration of 20,000 year old Hilltop Pyramid Site in Java – Andrew Collins (26 mnts)

VIDEO by Earth Ancients: Gunung Padang : The Mysterious Ancient Pyramid In Indonesia (1 hr 16mnts)

Artikel Gunung Padang Cianjur Sebelumnya:

Hah?? Situs Gunung Padang Cianjur Berusia 109 Abad Sebelum Masehi? (Gunung Padang – PART 2)

Lima Makam Tua Ditemukan di Situs Gunung Padang (PART 3)

Wow!! Konstruksi Gunung Padang Dirancang Arsitek Purba Ulung! (PART 4)

Situs Megalith Gunung Padang Cianjur Akhirnya di Ekskavasi (PART 5)

Riset Selesai, Gunung Padang Bisa Ubah Peta Peradaban Dunia! (PART 6)

Situs Gunung Padang Akan Dibuat Wisata Seperti Borobudur (Gunung Padang – PART 7)

Waduh! Lebih Tua Dari Machu Picchu, Gunung Padang Dipaculi Asal-Asalan! (Gunung Padang – PART 8)

Artefak-Artefak Gunung Padang Cianjur Yang Misterius (Gunung Padang – PART 9)

Ditemukan: Batu Dolmen, Lantai dan Lorong Misterius di Situs Gunung Padang (Gunung Padang – PART 10)

Gila! Semakin Mendunia, Riset Gunung Padang Cianjur Ditawar 12 Triliun! (Gunung Padang – PART 11)

Misteri Batuan di Gunung Padang Mengandung Listrik (Gunung Padang – PART 12)

*

Artikel Terkait Piramida Indonesia:

Ternyata, Indonesia memiliki beberapa Piramida!

Kini Giliran Jawa Timur, Ditemukan Bangunan Mirip Piramida!

Wow!! Ternyata di Indonesia Sudah Ada Beberapa Piramida!

Wah!! Ada Lagi, Mirip “Gunung Padang” Misterius di Cilacap!

Wah!! Ada Lagi Situs Megalitikum Ketiga, di Cibedug Banten!

Artikel ini juga ada sebagai rujukan di pranala luar wikipedia Indonesia mengenai Situs Gunung Padang

This article also forwarded by MysteriousUniverse.org and forum AboveTopSecret.com

*****

http://wp.me/p1jIGd-19a

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Indonesia dan tag , . Tandai permalink.

26 Balasan ke Ini Dia!! Megalith “Gunung Padang” Jabar, “Stone Henge” Versi Indonesia (Gunung Padang – PART 1)

  1. ananda divia berkata:

    kalo menurut saya itu mungkin sisa dari sebuah bagunan,batu yg dipilih dengan kualitas yg baik..

  2. Apank Arki berkata:

    sepertinya sudah terlihat hancur, bisakah disusun ulang seperti halnya candi borobudur?

  3. jacky berkata:

    the best for indonesia….

  4. indon3514 berkata:

    alam atau manusiakah yang mmebentuknya ?

  5. Putra Adnyana berkata:

    Pertama-tama izinkan saya menyampaikan rasa kagum dan syukur saya karena masih eksisnya situs Gunung Padang dengan kemajuan ilmu perbintangannya (Jyotisha). Ini sangat jelas dibentuk oleh manusia. Leluhur kita secara turun temurun dengan Agama yang dimilikinya, mempergunakannya dari zaman prasejarah. Itulah alasan mengapa situs Gunung Padang ini ada dari zaman prasejarah. Itu jelas ditunjukkan dari bentuk situs itu sendiri. Namun, dapat dikatakan Bangsa Indonesia pada saat itu sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. Mari menjadikan ini sebagai momentum untuk mengembalikan jati diri kita, siapa sebenarnya diri kita.

  6. utomo berkata:

    kami sangat mengagumi penemuan ini … berarti kita sebenarnya negara yang besar selamat semoga Indonesia menjadi MERCUSUARNYA DUNIA…dan bukan menjadi negara penonton..

  7. Swanddy berkata:

    Indonesia juga salah satu peradaban tertua didunia. .bnyk yg blm kt ketahui tentang siapa indonesia di mata dunia. .

  8. Donie Octora berkata:

    Mirip kaya situs Puma Punku di Peru.

  9. dojo berkata:

    seharusnya situs Gunung padang itu tidak hanya diteiti bagian permukaan saja, melainkan perlu digali lebih dalam kebawahnya …..

  10. Tulisan yang sangat mendidik bagi bangsa ini …………. dikala generasi muda bermadzhab kebarat, situs ini menulis kehebatan Indonesia, semoga bermanfaat bagi generasi mendatang ….. saluuuttttttttttttt !!!!!!

  11. prass berkata:

    blog yang bagus dan bermanfaat,thanks..

  12. charade berkata:

    Masya Allah…. komen saya tidak dipublikaskan…………..

  13. hayati berkata:

    masih mogok dgn anggaran pemugaran..ngga serius menelitinya

  14. adeng asgar berkata:

    BAGUSNYA NYA SEGERA DI ESKAVASI UNTUK MEMBUKTIKAN ADA TIDA NYA BANGUNAN BERBENTUK PIRAMID DAN UNTUK PEMERINTAH JANGAN TERLALU BIROKRATIS KARENA INI UNTUK MEMBUTIKAN JATI DIRI BANGSA

  15. PRAM berkata:

    KENAPA SITUS SEJARAH INDONESIA INI DITUTUPI BAHKAN BANYAK YANG TERKUBUR ? INILAH YANG HARUS DIBUKTIKAN BAHWA BANGSA INI PERNAH MENJADI PENGUASA DUNIA NAMUN KARENA KELALAIAN KESERAHKAHAN DAN KESOMBONGAN MEREKALAH YANG MENGUBUR DAN DIHANCURKAN . JIKA BANGSA INI BANGKIT KEMBALI DAN TIDAK BERADA DIJALAN ALLAH MAKA BANGSA INI AKAN DIHANCURKAN KEMBALI.

    BANYAK YG BILANG INDONESIA INI ADALAH BANGSA NUH , BANGSA ATLANTIS , BANGSA SABA’ , BANGSA NUSANTARA ATAU MUNGKIN ADA LAGI UNTUK SEBUTAN BANGSA INDONESIA YG KITA CINTAI INI . DAN DARI SEMUANYA SAMA BANGSA INI DIHANCURKAN KARENA SEBAB YG DI ATAS.

    KITA SEMUA KETURUNAN DARI BANGSA INI HARUS MEMPERHATIKAN.
    BANGGA BOLEH KARENA LELUHUR KITA HEBAT2 TAPI KITA JUGA HARUS LEBIH HEBAT DARI MEREKA

  16. Flito berkata:

    Hmmm…..
    kayak-a Pyramid
    So kl penciteraan satelit ternyata batuan keras sampai d bawah bukit, bisa dpastikan kl itu adalah Pyramid…
    kalo ga’ salah y..

  17. ade burhan berkata:

    bukan sekedar ukuranya 900meter persegi itumah teori jadul tingalan jaman menurut penelitian modern canggih jaman sekarang luas bangunannya lima belas kali candi borobudur dan tinggi bangunannya sekitar 100meter dan bukan hasil bentukan alam murni buatan manusia dan teori yang mengatakan bahwa situs gn padang hasil bentukan alam adalah teori tahun 1990han ketika saya masih sd ketika ilmuwan ind. masih mengandalkan teori belum mengenal alat alat canggih seperti sekarang abad 21 lagi pula tak ada hubungan nya dengan kepercayaan agama purba jawa situs gn padang adalah tempat pemujaan masarakat sunda kuno atau purba dan sejarah telah membuktikan bahwa pradaban atau kerjaan tertua di ind. adanya di tatar sunda. TETAPI tiap ada inggalan sit. purba di ind. selalu orang jawa punya walau bukan di jawa ada situsnya . dasr.

  18. Roheng berkata:

    kenapa bukan kita sendiri yang mendukung dengan bentuk gerakan “modal bersama” untuk eskavasi lanjutan gunung padang kalau memang alasannya adalah dana atas lambatnya proses penggalian situs ini.
    sebagai bagian dari bangsa ini tidakkah kalian terpanggil … ?
    bukankah sebatang pohon tak kan menjadi besar jika hanya bergantung pada daunnya yang menaungi … begitu juga negeri ini …

  19. Dedi Irwansyah berkata:

    Informasi yang sangat bermanfaat untuk pengetahuan

  20. Tatang Ruchiat berkata:

    selat sunda adalah pintu gerbang bangsa atlantis menuju benua sundaland dimana gunung krakatau adalah benteng penghalang menahan air laut dari arah samudra indonesia sebagai pelabuhan bangsa atlantis yang terletak di selat sunda kalo gunung krakatau ini meletus maka air laut dari samudra indonesia akan masuk membanjiri benua sundaland sebagai tsunami besar melalui selat sunda ini menuju bagian dalam benua sundaland sehingga membentuk pulau pulau nusantara kita seperti sekarang sebagai banjir besar nabi Nuh dimasa lalu . Atlantis adalah sundaland dengan penduduk nya orang sunda atau disebut juga atlantis.

  21. anonymous berkata:

    Mengapa leluhur atau nenek moyang pada menyembah mengarah ke gunung?
    Pada zaman dulu gunung adalah merupakan tempat dimana manusia dapat bertemu dengan Tuhan Sang Pencipta, kita lihat di dalam Alkitab tuntunan dari zaman purba Keluaran 19
    naskahnya berkata:
    Tuhan menampakkan diri di gunung sinai.
    Jadi penyembahan yg mengarah ke gunung itu bukan suatu bentuk
    penyembahan benda atau kepercayaan animisme yang selama ini dipelajari
    di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s