Bukan Kerajaan Perlak, Kerajaan Jeumpa Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara

Bukan Kerajaan Perlak, Kerajaan Jeumpa Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara

Selama ini, Kerajaan Perlak (Kesultanan Peureulak) diangap sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Namun menurut penelitian dan data arkeologi dari para peneliti Aceh, Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Jeumpa.

Dari dulu, masyarakat di Biereun di Aceh, sering mendengar Hikayat Raja Jeumpa. Sejak kapan hikayat itu ada, dan apa agama yang dianut oleh raja tersebut, sampai kini masih menjadi tanda tanya.

Malah ada yang menyebutkan Hikayat Raja Jeumpa hanya legenda atau tambo belaka. Benar atau tidak, lagi-lagi sampai kini masih jadi tanda tanya. Namun dari penelusuran para peneliti dan bukti-bukti yang pernah ditemukan, banyak pihak meyakini bahwa Raja Jeumpa dan kerajaannya memang benar-benar pernah ada.

Kerajaan Jeumpa adalah kerajaan yang diyakini ada, yaitu kerajaan Islam pertama yang wilayahnya kecil, yang pada masa kini ada di wilayah sekitar kota Bireun, Aceh. Wilayah Kerajaan Jeumpa pada sekitar awal abad ke VIII Masehi, berada di sekitar daerah perbukitan.

Wilayahnya mulai dari pinggir Sungai Peudada di sebelah barat, sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Hal ini berdasarkan “Ikhtisar Radja Jeumpa” yang ditulis Ibrahim Abduh, mantan guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 10 Bireuen, yang disadurnya dari “Hikayat Radja Jeumpa”.

Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pinto Ubeut. Masa itu Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa.

Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke Pinto Rayek (Pintu Besar).

Situs Kerajaan Jeumpa, Bireun, Aceh.

Sebelum kedatangan Islam

Sebelum kedatangan Islam, di daerah Jeumpa sudah berdiri sebuah kerajaan Hindu yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah. Pada saat itu kerajaan ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lain-lain.

Pada awal abad VIII seorang pemuda bernama Abdullah dari India belakang, memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng melalui laut dengan kapal niaga lewat Kuala Jeumpa.

Abdullah kemudian tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tertarik dengan perilakunya. Abdullah kemudian dinikahkan dengan puteri raja bernama Ratna Kumala (Ratna Keumala).

Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara

Di kemudian hari, Abdullah dinobatkan menjadi raja menggantikan bapak mertuanya, yang kemudian wilayah kekuasaannya dia berikan nama: Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di India Belakang (Persia) yang bernama Champia, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sementara Bireuen sebagai ibukotanya, yang berarti kemenangan.

Bungöng Jeumpa atau “Bunga Jeumpa”, atau Bunga Cempaka Wangi (Magnolia champaca) dalam bahasa Inggris: Champak, atau di Jawa dikenal sebagai Bunga Kantil (credit: wikimedia).

Hingga kini, Bunga Cempaka Wangi (Magnolia champaca) dalam bahasa Inggris: Champak, atau di Jawa dikenal sebagai Bunga Kantil yang aslinya dari India, tempat asal Abdullah, di Aceh disebut sebagai Bungöng Jeumpa atau Bunga Jeumpa”

Bunga Jeumpa sebenarnya adalah nama Kerajaan Islam pertama, sesuai dengan asal bunga ini dari India Belakang (Persia) yang di bawa ke wilayah ini, yang mana bunga tersebut terkenal sangat harum, wangi dan semerbak.

Hingga kini, Bunga Cempaka (Jeumpa) menjadi bunga khas dari Provinsi Aceh Darussalam.

Berdasarkan silsilah keturunan sultan-sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa pada 154 Hijriyah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang pangeran dari Persia yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman.

Kemudian ia menikah dengan Puteri Mayang Seuludong (Dialek Bireuen: Manyam Seuludang) dan memiliki beberapa anak, antara lain Syahri Duli, Syahri Tanti, Syahri Nawi, Syahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu dari sultan pertama Kerajaan Islam Perlak (Kesultanan Peureulak, yang selama ini diketahui sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara), yaitu Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan dari Tiongkok, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupueng.

Menurut penuturan M. Daud Tayeb, sesepuh desa Blang Seupeung, peperangan tersebut terjadi karena raja dari Tiongkok menculik permaisuri Raja Jeumpa, yaitu Meureudom Ratna.

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil dibawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudom Ratna berhasil dibawa pulang kembali ke Blang Seupeueng setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung Samalanga, berhasil mengalahkan Raja Tiongkok itu.

Tidak diketahui persis riwayat berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Jeumpa, begitu juga dengan penyebab mangkatnya Raja Jeumpa. Namun dari cerita turun-temurun, masyarakat disana meyakini pusara Raja Jeumpa terdapat di atas sebuah bukit kecil setinggi 40 meter, yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun.

Menurut Raffles

Berikut adalah tulisan tentang teori Champa (Jeumpa) menurut versi Raffles:

The History of Java by Thomas Stamford Raffles. Picture by George Francis Joseph, oil on canvas, in 1817. (credit: wikimedia)

Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Thomas Stamford Raffles (1781 – 1826, usia 44 tahun), dalam bukunya “The History of Java”, menyebutkan bahwa “Champa” yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kamboja sekarang, sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda.

Tapi, “Champa” adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa, adalah ucapan atau logat “Jeumpa” dengan dialek Jawa.

Jeumpa (Champa) biasanya dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Brawijaya-V yang memiliki seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Champa”.

Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang dalam dialek Jawa disebut sebagai Raden Patah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang pamannya yang dikenal dengan nama Sunan Ampel di Surabaya.

Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit. Jadi, kata “Jeumpa” yang dinyatakan Raffles, sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen, Aceh. Demikian menurut teori Raffles.

Menurut Penelitian

Menurut penelitian sejarawan Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, “Syahri” adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayyid, Syarif, Sunan, Teuku dan lainnya.

Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahri Banun, anak Maha Raja Persia terakhir. Syahr Nawi adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Perlak (Peureulak), yang selama ini dianggap sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Wilayah Kerajaan Islam pertama, Kesultanan Jeumpa (157 Hijriyah / 777 Masehi).

Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini disebutkan juga oleh Syekh Hamzah Fansuri, seorang Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Iskandar Muda.

Syahr Nawi bahkan dia dianggap sebagai arsitek pendiri kota pelabuhan Peureulak pada tahun 805 Masehi yang dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul Aziz.

Keberadaan Kerajaan Islam Jeumpa ini dapat pula ditelusuri dari pembentukan Kerajaan Perlak (Peureulak) yang dianggap sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kota Perlak pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai pedagang keturunan Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa, Pangeran Salman al-Parsi dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Syahr Nuwi.

Berdirinya Kerajaan Perlak (Kesultanan Peureulak)

Sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia, akibatnya masyarakat Muslim di daerah Perlak ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan Persia dengan putri-putri kota Perlak.

Wilayah Kerajaan Perlak (Ferlac) atau Kesultanan Peureulak (225 Hijriyah / 840 Masehi).

Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak pada hari Selasa 1 Muharram 225 Hijriyah, atau tahun 840 Masehi. Sultan pertama kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama “Maulana Abdul Azis Syah”, yang bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.

Menurut Wan Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi’ah. Wan Hussein Azmi dalam buku “Islam di Aceh” mengaitkan kedatangan mereka dengan Revolusi Syi’ah yang terjadi di Persia tahun 744-747 Masehi.

Data Arkeologi

Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan “Buket Teungku Keujruen” (Bukit Tengku Kejren), ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti Kolam Pemandian (petirtaan) kerajaan seluas 20 x 20 meter.

Ditemukan juga kaca jendela, porselin, dan juga semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut, dan anting sebesar gelang tangan.

Benda-benda tersebut oleh si penemunya yaitu Ustad Harun (almarhum) telah dibawa ke mesium Banda Aceh bersama cerana sirih.

Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya, yang berlokasi di dusun Teungku Keujreun desa Blang Seupeung, dan hanya ditandai dengan batu-batu besar yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya. Sedangkan makam istrinya, Meureudom Ratna, berada di Desa Kuala Jeumpa.

Kerajaan Hindu Champa di Kamboja, baru Memeluk Islam pada Abad 10 Masehi

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/45/VietnamChampa1.gif/361px-VietnamChampa1.gif

Wilayah Champa sekitar tahun 1100 SM, digambarkan dalam warna hijau, terletak di sepanjang pantai Vietnam. Ke utara (warna kuning) terletak Đại Việt; ke barat (warna biru), Angkor. (Credit: Wikimedia)

Kerajaan Champa (192–1832) yang sekarang berlokasi di negara Kamboja, awalnya adalah kerajaan yang menganut agama Hindu, hal itu terjadi karena diadopsi melalui konflik dan penaklukan wilayah dari tetangga Funan pada abad ke-4 Masehi.

Keadaan tersebut pada akhirnya membentuk seni dan budaya kerajaan Champa selama berabad-abad lamanya, yaitu Hindu, seperti yang bisa disaksikan hingga kini oleh banyaknya patung Hindu Cham dan kuil bata merah yang menghiasi lanskap di tanah Cham (Champa).

Seperti di Mỹ Sơn, bekas pusat keagamaan Hindu di masa lampau, dan juga Hội An, salah satu kota pelabuhan utama Champa, yang sekarang menjadi Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Awal ibukota Kerajaan Champa tidak diketahui lokasinya, dan baru diketahui melalui artefak setelah abad-9, yang beribukota Indrapura (875-978), Vijaya (978-1485) dan Panduranga (1485-1832).

Tetapi pada saat ini, banyak orang Cham memeluk Islam, kapan hal ini bermulai? Kerajaan Cham mulai menganut Islam dalam sebuah konversi keyakinan yang dimulai pada abad ke-10, dengan msauknya Islam oleh para keluarga kerajaan yang telah sepenuhnya mengadopsi keyakinan tersebut pada abad ke-17 Masehi, dan mereka disebut sebagai “Bani” atau “orang dari keturunan” (Ni tục, dari bahasa Arab: Bani). (Parker, Vrndavan Brannon. “Vietnam’s Champa Kingdom Marches on”. Hinduism Today. Retrieved 21 November 2015).

image

Wanita membawa persembahan di kepala mereka di kuil Nha Trang. Wanita membawa persembahan di kepala mereka di kuil Nha Trang. (credit: hinduismtoday.com)

Namun demikian, ada wilayah bernama Bacam (Bacham, Chiêm tục) yang masih mempertahankan dan melestarikan kepercayaan, ritual, dan festival Hindu mereka.

Bacam adalah satu dari hanya dua masyarakat Hindu asli non-India, yang masih hidup di dunia, dengan budaya yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Yang lainnya dari masyarakat Hindu asli non-India, adalah Hindu Bali dari orang Bali di Indonesia.

Pada saat ini, warga Champa tersebar di seluruh Asia Timur. Mereka didominasi beragama Islam Sunni di Kamboja, Islam Syiah di Cina, dan Budha di Thailand.

Sejumlah kecil Cham Vietnam (juga dikenal sebagai Cham Timur) menganut Islam dan hanya sedikit yang mengikuti Buddha Mahayana, tetapi mayoritas beragama Hindu. Mereka ini disebut orang Balamon (Brahman). Diklaim bahwa 70% orang Balamon digolongkan sebagai kelas kshatriyas (ksatria). (2018 IndoCropCircles.com)

Pustaka:

Tangga masuk menuju situs Kolam Pemandian atau Petirtaan peninggalan Kerajaan Jeumpa, Bireun, Aceh.

Inilah dalamnya situs Kolam Pemandian atau Petirtaan peninggalan Kerajaan Jeumpa, Bireun, Aceh, yang sudah kering, penuh tanah dan ditumbuhi rumput.


Artikel Lainnya:

Leluhur Suku Sunda dan “Salakanagara”, Kerajaan Tertua Nusantara

Misteri “Lan Fang”, Negara Republik Pertama Di Indonesia Bahkan Asia Tenggara

Misteri “Negeri Ophir” Yang Kaya Emas Dalam Kitab, Apakah Di Sumatera?

Misteri Tanah Punt: Ada Hubungan Firaun dengan Suku di Bengkulu?

Ditemukan: Meriam Asal Indonesia Mengubah Catatan Sejarah Australia

Misteri Pada Masa Lalu, Ternyata Australia Pernah Jadi Bagian dari Nusantara

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Mungkinkah, Nusantara adalah The Atlantis yang Hilang dan Kini Dicari?

Kisah Pembantaian Di Aceh Oleh Belanda Tahun 1904

Aceh Heboh: Ribuan Koin Emas Era Samudera Pasai Ditemukan!

Ditemukan: Gua Yang Mengungkap Sejarah Tsunami di Aceh

Kisah Mistis Ditemukannya 2 Pedang Emas Era VOC di Aceh

6 Fakta Merah Putih Telah Berkibar di Masa Lampau, Bahkan Sejak 13 Abad Lalu

Kekalahan memalukan tentara Mongol di tanah Jawa

Madagaskar Ditemukan Oleh Wanita Indonesia

[Project Seal] Tsunami Aceh Sumatra 2004: Bom Nuklir Bawah Laut

Kapal Selam AS Ini Dicurigai Berperan Sebagai Pembuat Tsunami Aceh

Lebih Dari 2000 Tewas: Tsunami Ambon dan Pulau Seram 1674

9 Gempa di Indonesia Yang Tercatat Dengan Jumlah Korban Ribuan

Ditemukan: Gunung Raksasa Sumatra Diameter 50 Km Tinggi 4,6 Km!

Terkuak: Letusan Samalas (Rinjani Purba), Lebih Besar Dari Krakatau Bahkan Tambora!

Misteri Letusan Gunung Toba, Satu-Satunya Supervolcano di Indonesia

Misteri: Wow! Struktur Mirip “Tembok” Lurus di Dalam Laut Utara Papua

9 Artefak Gunung Padang Cianjur Yang Misterius

Piramida Lalakon dan Sadahurip

Wah!! Ada Lagi, Mirip “Gunung Padang” Misterius di Cilacap!

Wah!! Ada Lagi Situs Megalitikum Ketiga, Kali Ini di Cibedug Banten!

Kini Giliran Jawa Timur, Ditemukan Bangunan Mirip Piramida!

Arkeolog: Muarojambi, Bisa Jadi Ibukota Asli Kerajaan Sriwijaya

Misteri “Suku Kurcaci” Sumatra: Suku Mante dan Orang Pendek

Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika!

Misteri Wentira: Salah Satu Wilayah Paling Mistis di Indonesia

Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Jakarta

Wow! Ditemukan Batu-Batu “Gong” Misterius Di Wonosobo

Heboh Temuan Arca Terbesar Tinggi 1,8 Meter Yang Misterius Di Kediri

Ilmuwan Melongo, Ditemukan Peralatan Tangan Prasejarah Berusia 1 Juta Tahun Di Flores!

Inilah Sejarah Majapahit Yang Terkubur dan Dilupakan

Babad Diponegoro dan Nagarakretagama, masuk UNESCO Memory of the World

Naskah Kuno Nusantara Dibahas dalam Simposium Internasional

Topeng Misterius Langka dari Goa Made Jombang Jatim, diteliti Peneliti Dunia

Homo Erectus Sumatra di Goa Harimau Diyakini Moyang Indonesia

Letusan Krakatau Tertulis di Kitab Ronggowarsito: Kitab Raja Purwa

Ditemukan: Situs Candi Budha di Sleman Yogyakarta

Belum Sebulan, Sudah Tiga Situs Kuno Ditemukan di Demak

Batu Ukir Berusia 1.000 Tahun Ditemukan di Ponorogo

10 Misteri Indonesia Yang Mungkin Belum Pernah Anda Ketahui Sebelumnya

10 Mata Uang Paling Tua di Indonesia

[Alor Alien Sightings 1959] 6 Alien Terlihat di Pulau Alor dan Pantar, Baku Tembak Dengan Polisi Indonesia

Menguak Misteri: Mengapa Masa Keemasan Dan Kejayaan Islam Di Bidang Sains Pada Masa Lalu Bisa Runtuh?

Bahas Tuntas: “Pembantaian Glodok” Tahun 1740 (Tragedi Angke / Geger Pacinan)

Prasasti Heboh Bertulis: “Seluruh Manusia Akan Menghadapi Sesuatu” Menarik Perhatian Para Pejabat

Konspirasi: “Mystery of The National Treasures of Indonesian Kingdoms”


https://wp.me/p1jIGd-a4H

IndoCropCircles.com
– telling you the truth –

Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Indonesia, Misteri Indonesia dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.