[ARTIKEL Ke-1000] Leluhur Suku Sunda dan “Salakanagara”, Kerajaan Tertua Nusantara

Leluhur Suku Sunda dan “Salakanagara”, Kerajaan Tertua di Nusantara

Prolouge:

Ini adalah artikel ke-1000 di IndoCropCircles yang akhirnya berhasil kami rilis. Sebenarnya, artikel ini sudah mulai dibuat sejak tahun 2015 silam, namun masih bersanding dengan ratusan artikel lainnya yang belum kami rilis tentang misteri, sejarah, kontroversi dan konspirasi lainnya.

Karena pada umunya, penundaan artikel-artikel tersebut terjadi karena belum lengkap data dan informasi tentangnya. Ini pun kami rasa belum terlalu komplit, walau agak panjang. Oleh karena agak panjang itulah, kami memilih artikal ini sebagai artikel ke-seribu yang kami rilis. Kami haturkan terimakasih banyak atas kunjungannya Anda selama ini, dan selamat membaca. 🙂


Adalah Kerajaan Salakanagara yang belakangan ini dikenal sebagai kerajaan pertama di Nusantara, jauh lebih dulu dari Kerajaan Kutai di Kalimantan yang sebelumnya ditetapkan sebagai kerajaan tertua dan pertama di Nusantara.

Namun sebagian masyarakat masih menganggap bahwa Kerajaan Salakanagara hanya mitos, namun setelah membaca artikel ini, Anda boleh berpikiran apapun karena itu adalah hak Anda.

Dari artefak-artefak kuno sejak zaman pra-sejarah, telah terbukti bahwa wilayah Nusantara, memang sudah didiami oleh kelompok-kelompok manusia sejak ribuan tahun sebelum Masehi, bahkan sebelum zaman es terjadi. Namun belum ada peneliti di jagat ini yang tahu dengan pasti, dari peradaban apa mereka, dari kerajaan apa mereka, atau dari mana asal mereka.

Jauh sebelum Kutai, jauh sebelum Salakanagara, jauh sebelum Gunuug Padang Cianjur, jauh sebelum Atlantis, jauh sebelum Lemurian atau jauh lagi sebelumnya, bisa jadi sudah ada kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara, karena wilayah ini terdapat sinar matahari yang selalu menerangi sepanjang tahun, yang dapat membuat tumbuhan dan hewan dapat hidup.

Namun bukti adanya sebuah kelompok, kerajaan atau sejenisnya, harus tetap dapat dibuktikan secara ilmiah, walau kerajaan itu sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Tapi hal itu masih sulit bagi peneliti dunia karena artefak-artefaknya yang sudah hilang dan info mengenainya sangat-teramat minim, masih penuh tanda tanya, bahkan tak ada lagi yang tersisa.

Pada artikel yang agak panjang pada kali ini, akan menyeret Anda ke ruang dan waktu masa lampau, masa silam, kuno, dimana kerajaan pertama di Nusantara mulai berdiri.

Daerah itu bernama Salaka untuk kemudian menjadi sebuah kerajaan awal di wilayah Nusantara. Bernama: Salakanagara, berdasarkan Naskah Wangsakerta – Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta), Salakanagara berdiri pada abad-1 Masehi yang diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara!

Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, hal dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad.

Dan yang memperkuat lagi adalah kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara. Disamping itu ditemukan bukti lain berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan waktu/jam yang juga berbahasa Sunda.

Situs dan Artefak awal berdirinya Kerajaan Salakanagara

Awal berdirinya Kerajaan di abad-1 ini, berada di daerah Teluk Lada, Pandeglang (sekarang masuk provinsi Banten), kota yang ketika terkenal dengan hasil logamnya. Salakanagara artinya “Negara Perak”, didirikan pada tahun 52 Saka (130/131 Masehi).

kerajaan-salakanagara

Tokoh awal yang berkuasa di Salakanagara adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus pada tahun 150, yang terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang (kini provinsi Banten).

Pandeglang dalam bahasa Sunda merupakan singkatan dari kata-kata “panday” dan “geulang” yang artinya pembuat gelang.

Pada masa kini Pandeglang merupakan wilayah administrasi kabupaten di provinsi Banten.

Seorang sejarawan Sunda, Dr. Edi S. Ekajati, memperkirakan bahwa letak ibukota kerajaan tersebut adalah kota Merak sekarang. Dalam bahasa Sunda, Merak artinya “membuat perak”.

Tatar Pasundan memang memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, nama ahli dan sejarawan yang membuktikannya antara lain adalah Husein Djajadiningrat, Tubagus H. Achmad, Hasan Mu’arif Ambary, Halwany Michrob dan lain-lainnya.

Banyak sudah temuan-temuan mereka disusun dalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Belum lagi nama-nama seperti John Miksic, Takashi, Atja, Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Claude Guillot, Ayatrohaedi, Wishnu Handoko dan lain-lainnya.

Semua itu menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya dibuat baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.


Salaka Nagara (130 -362)

Salaka Nagara (130 -362), diyakini sebagai kerajaan pertama di wilayah Nusantara, khususnya di Pulau Jawa

Pendiri Salakanagara adalah Dewawarman. Sedangkan pendiri kerajaan sesudahnya yaitu Tarumanagara, adalah Maharesi Jayasingawarman, pengungsi dari wilayah Calankayana, Bharata, karena daerahnya dikuasai oleh kerajaan lain.

Kerajaan Salakanegara ini sudah ada pada abad pertama tahun masehi dan diyakini merupakan kerajaan pertama di Nusantara. Pendiri Salakanagara berasal dari Aki Tirem, yang kemudian dikenal pada masa kini sebagai Aki Tirem Luhur Mulia atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Angling Dharma dalam nama Hindu dan Wali Jangkung dalam nama Islam.

Sementara itu, seorang bernama Dewawarman adalah duta keliling, pedagang, sekaligus perantau dari Kerajaan Pallawa (kerajaan dinasti Palawa / Pallava Empire), di Bharata (India) yang akhirnya menetap.

Di Salakanagara, kelompok marga atau wangsa Warman itu berinteraksi dengan warga setempat, dan terjadilah akulturasi kebudayaan, termasuk akulturasi sistem pemerintahan dan akhirya ia menikah dengan puteri penghulu, Aki Tirem.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c0/Pallava_territories.png

Wilayah Palawa, India, asal keturunan Salakanagara.

Adalah Aki Tirem (Sang Aki Luhur Mulya), penghulu atau penguasa kampung setempat ini yang akhirnya menjadi mertua Dewawarman ketika puteri Aki Tirem yang bernama Dewi Pwahaci Larasati (Pohaci Larasati) diperisteri oleh Dewawarman.

Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman akhirnya menikah dengan wanita setempat dan tak ingin kembali ke kampung halamannya di Palawa, India.

Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan yang kemudian menerima warisan untuk memimpin kelompok Salaka dan mendirikan kerajaan yang lebih bercorak India, bernama Salakanagara (Negeri Perak) pada tahun 130 Masehi, beribukota di Rajatapura.

Jadi, tokoh awal yang berkuasa di daerah Salaka ini adalah orang lokal bernama Aki Tirem. Konon, kota Rajatapura inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus pada tahun 150, yang terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang, kini di sebelah barat provinsi Banten.

Kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan Kerajaan Salakanagara

Setelah Kerajaan Salakanagara terbentuk, kemudian mulailah terbentuk beberapa kerajaan-kerajaan kecil lain yang berada disekelilingnya, mereka berkoalisi, yang mana diantaranya bisa jadi bermula dari seorang sesepuh yang dituakan atau yang berpengaruh, pemuka agama atau tuan tanah, hingga dari keturunan Raja Dewawarman sendiri.

Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya ini, akhirnya berhasil bergabung dengan Kerajaan Salakanagara dan sekaigus menjadi daerah kekuasaannya pula. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki julukan atau sebutan sebagai “Mandala” yaitu kerajaan atau daerah bawahan, diantaranya adalah:

1. Kerajaan Agnynusa (Pulau Krakatau)

Kerajaan Mandala Agny Nusa (Nusa Api / Negeri Api) merupakan kerajaan kuno yang terletak di Pulau Krakatau, Selat Sunda, atau tepat di kaki Gunung Krakatau.

Tidak jelas mengenai asal-usul kerajaan di Pulau Krakatau, yang berada di Selat Sunda ini.

Peninggalan kerajaan ini pastinya sudah musnah karena letusan besar Krakatau pada tahun 1882 yang akhirnya membuat pulau itu terpecah-pecah dan menjadi Kepulauan Krakatau(baca juga: Letusan Krakatau Tertulis di Kitab Ronggowarsito: Kitab Raja Purwa)

2. Kerajaan Aghrabinta (Pulau Panaitan)

Kerajaan Mandala Aghra Binta adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Pulau Panaitan, yang berada di Selat Sunda.  Nama ibukotanya adalah Aghrabintapura.

Pulau ini berada di bagian selatan Selat Sunda yang berjarak hanya sekitar 10 km dari pesisir Ujung Kulon, Pulau Jawa.

Memiliki panjang sekitar 19 km dengan lebar sekitar 12 km dan menjadikannya sebagai pulau yang terbesar di Selat Sunda.

Dari data arkeologi dari Pulau Panaitan ditemukan arca Siwa, Ganesha dan Lingga Semu/Lingga Patok. Arca Shiwa dari Panaitan pernah raib dicuri, namun kemudian arca tersebut dapat diamankan.

Sekarang arca itu disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981. Tidak jelas mengenai asal-usul kerajaan yang berada di Pulau Panaitan yang berada di Selat Sunda dekat lepas pantai Ujung Kulon ini.

3. Kerajaan Nusamandala / Mandalanusa (Pulau Sangiang)

Kerajaan Mandala Nusa / Nusa Mandala ini merupakan sebuah kerajaan Hindu yang berkedudukan di Pulau Sangeang (kini disebut: Pulau Sangiang).

Pulau ini juga masih berada di Selat Sunda, tepatnya di sebelah barat lepas pantai kota kota Cilegon.

Pulau Sangiang memiliki panjang sekitar 4,7 km dan lebar 3,5 km, yang berada sekitar 10 km dari lepas pantai kota Cilegon di Pulau Jawa.

Jadi, jika Anda sedang menaiki kapal Ferry menyebrang dari Jawa ke Sumatera, pulau yang terlihat agak besar ini akan tampak disebelah kiri ketika Anda sedang berada ditengah-tengah pelayaran. Tidak jelas juga mengenai asal-usul kerajaan di Pulau Sangeang yang berada di Selat Sunda ini.

4. Kerajaan Hujung Kulon (daerah Ujung Kulon)

Kerajaan Mandala  Hujung Kulon adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berkedudukan di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten. Berdiri sekitar abad 2 Masehi dengan wilayah kekuasaan sekitar Kabupaten Pandeglang sekarang.

Dari buku “Sejarah Jawa Barat” (Yuganing Rajakawasa) karya Drs. Yoseph Iskandar, bahwa raja daerah Kerajaan Hujung Kulon yang pertama adalah Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, adiknya Dewawarman I. Sementara adik dari Dewawarman yang seorang lagi, yaitu Sweta Liman Sakti diangkat menjadi raja daerah di Tanjung Kidul.

Tidak diketahui banyak mengenai kerajaan Hujung Kulon ini. Penamaannya hingga kini masih dipakai sebagai nama daerah bernama Ujung Kulon sebagai cagar alam untuk Badak Jawa.

5. Kerajaan Tanjung Kidul (daerah Ciracap, Sukabumi)

Kerajaan Mandala Tanjung Kidul adalah sebuah Kerajaan bercorak Hindu yang didirikan di Selatan Jawa Barat, hingga Cianjur sekarang. Rajanya ialah Swetalimansakti, adik dari Senapati Bahadura dan Dewawarman I.

Jika dilihat dari kata “Tanjung Kidul” yang berarti “ujung selatan”, maka bisa jadi pada masa kini daerah itu bernama “Ujung Genteng” yang berada di Ciracap, dekat Pelabuhan Ratu, yang pada masa kini masuk Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Beberapa peneliti juga mengatakan bahwa kekuasaan Salakanagara sampai juga hingga ke seberang Selat Sunda, yaitu di Pulau Sumatera. Seperti di wilayah pulau-pulau yang berada di Teluk Lampung dan pesisir Lampung,  seperti di Bakauheuni, Rajabasa, Panjang dan sekitarnya.

Dari kerajaan-kerajaan yang ada dibawah kendalinya tersebut, itu artinya seluruh Selat Sunda berhasil dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari “Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara” atau “Raja Penguasa Gerbang Lautan” (Yogaswara, 1978:38).

Wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara yang mulai menguasai beberapa kerajaan di pulau-pulau kecil wilayah Selat Sunda hingga ke bagian selatan Jawa Barat bahkan sampai daerah Cianjur. Beberapa peneliti juga mengatakan bahwa kekuasaan Salakanagara sampai ke pantai pesisir di Lampung, Pulau Sumatera. (Pict: ©IndoCropCircles.com)

Kerajaan Salakanagara yang dibentuk dari tahun 130 sampai dengan tahun 362 dan mulai menguasai beberapa kerajaan-kerajaan kecil ini, memiliki beberapa Raja setelah sepeninggalan Aki Tirem, dengan nama gelar raja yang sama, yaitu dari Dewawarman-I sampai dengan Dewawarman-IX.

Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I – IX). Kerajaan Salakanagara berdiri selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi.

Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra.

Dari daerahnya di pesisir barat pulau Jawa ke wilayah timur, jika dimaknai dari penamaannya, Negara “Salaka”, mungkin saja daerah ini kemudian menjadi penamaan untuk Gunung Salak hingga saat sekarang, sebagai tanda batas timur dari sebuah Kerajaan bernama Salaka Nagara atau Negara Salaka, sebagai batas dari Kerajaan Tarumanagara yang akhinya terbentuk kemudian, di wilayah timurnya.

Mungkinkah? Bisa jadi. Karena sebagian pemerhati kerajaan ini memperkirakan bahwa kerajaan tersebut terletak di sekitar Gunung Salak, berdasarkan pengucapan kata “Salaka” dan kata “Salak” yang hampir sama.

Gunung Salak, termasuk gunung purba. Mungkin penamaannya berasal dari Kerajaan atau wilayah bernama “Salaka” untuk kemudian menandakan batas wilayahnya dengan Kerajaan Tarumanagara.

Pada masa kini di daerah Banten, Dewawarman lebih dikenal oleh sebagian masyarakat setempat dengan nama Prabu Angling Dharma dan Wali Jangkung.

Beberapa peninggalan Kerajaan Salakanagara:

  • Batu Menhir, di wilayah Desa Cikoneng, Pandeglang
  • Situs di Pulosari, Pandeglang
  • Situs di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten Selatan
  • Situs Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang
  • Batu Menhir, di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang
  • Batu Menhir, di Kecamatan Mandalawangi lereng utara Gunung Pulosari.
  • Kolam pemandian purba, di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang
  • Tiga Batu Menhir, di sebuah mata air di Cihunjuran, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang
  • Batu Menhir, di Kecamatan Saketi lereng Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang
  • Situs Batu Dakon, di Kecamatan Mandalawangi. Batu ini memiliki beberapa lubang di tengahnya yang berfungsi sebagai tempat meramu obat-obatan. Diambil dari penamaan “Dakon” karena mirip salah satu jenis permainan tradisional dari papan/batu berlubang-lubang yang biasa dimainkan oleh anak-anak.
  • Situs Batu Dolmen (disebut juga: Batu Ranjang), terletak di kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Berbentuk sebuah batu datar panjang 250 cm, dan lebar 110 cm. Terbuat dari batu andesit yang dikerjakan sangat halus dengan permukaan yang rata dengan pahatan pelipit melingkar ditopang oleh empat buah penyangga yang tingginya masing-masing 35 cm.
  • Situs Batu Magnit, di puncak Rincik Manik (di puncak Gunung Pulosari), Desa Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, adalah sebuah batu yang cukup unik, karena ketika dilakukan pengukuran arah dengan kompas di sekeliling batu dari berbagai arah mata angin, jarum kompas selalu menunjuk pada batu tersebut.
  • Situs Batu Peta, di Banten Selatan, yang sampai saat ini belum ada satu orang pun yang dapat menerjemahkan isi peta tersebut.
  • Patung Ganesha dan patung Shiwa, di lereng Gunung Raksa, Pulau Panaitan. Dapatlah diduga bahwa masyarakatnya beragama Hindu Shiwa.

Plang petunjuk Situs Salakanagera di Desa Cikoneng Banten. (Pict: Widi Purnama@kompasiana)

Beberapa peneliti meyakini bahwa sebenarnya ada banyak situs dari kerajaan ini disepanjang pesisir pantai barat Banten, namun ksetelah Gunung Krakatau meletus, membuat banyak situs-situs itu musnah dan hanya menyisakan sedikit bukti peninggalannya.

Selain situs-situs tersebut, ada juga petilasan di lereng Gunung Pulosari, yaitu Air Terjun Curug Putri, yang menurut cerita rakyat, air terjun ini dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rincik Manik dan Ki Roncang Omas.

Beberapa situs tersebut sangat kuno bahkan terlihat seperti dari zaman megalithikum. Dan beberapa diantaranya berada di lereng sebelah barat laut Gunung Pulosari, tidak jauh dari kampung Cilentung, Kecamatan Pulosari (sekarang). Situs berupa batu tersebut, menyerupai batu prasasti Kawali II di Ciamis, dan prasasti Batutulis di Bogor.

Plang nama situs benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Salakanagara di Cihunjuran Banten (Pict: Widi Purnama@kompasiana)

Sedangkan dari data arkeologi dari Pulau Panaitan, ditemukan arca Siwa dan Ganesha di puncak Gunung Raksa. Arca tersebut diperkirakan dari abad pertama Masehi.

Arca Shiwa dari Panaitan pernah raib dicuri, namun kemudian arca tersebut dapat diamankan dan sekarang disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981.

Arca ini berukuran tinggi 76,5 cm, lebar dan tebal maksimum 32,5 cm dan 24 cm, dibuat dari batuan andezitik.

Arca Shiwa ini sering dikatakan berbentuk statik dan sederhana, tidak sama dengan penggambaran Dewa Shiwa pada umumnya. Hal lain dari arca ini ialah tangan belakang yang memegang Trisula, yaitu senjata utama dewa Siwa. Badannya dipahat langsung bersandar pada Prabhmandala (sandaran arca) di belakang kepala.

Makam yang diyakini warga setempat sebagai Makam Wali Jangkung Angling Dharma alias Dewawarman di Banten. (Pict: Widi Purnama@kompasiana)

Sikap duduk arca Siwa ini kakinya melipat dengan kedua telapak berhadapan diatas kepala Nandi.

Sikap duduknya digambarkan kurang lazim, bukan Yogamudra atau Semi-Yogamudra, karena kedua telapak kaki dipertautkan dalam posisi bersila dengan ujung-ujung jari kaki “jinjit” di atas kepala Nandi.

Patung Siwa ini tanpa Candrakapala, dan hanya memakai mahkota berbunga dan anting-anting panjang berupa untaian Bunga Padma.

Kedua tangan bergelang dan kelat bahu pada kedua tangan, bagian depan bersikap Varadamudra dan memegang Bunga Padma.

Arca Siwa ini memakai Upawita (tali kasta) yang berbentuk ular dengan selempang berpola pita lebar yang diselempangkan pada badan serta berikat pinggang. Gambaran keseluruhan raut mukanya tampak halus. Kedua matanya tampak Samadi (tertutup) dengan mulut tersenyum.

Arca Siwa yang ditemukan dari Pulau Panaitan, Selat Sunda di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981.

Arca Siwa tersebut diduga oleh para arkeolog berasal dari abad ke-1 – 7 Masehi, suatu abad memuncaknya kesenian Hindu di pesisir utara Jawa Barat (Cibuaya) dan pedalaman (Cangkuang).

Sementara itu, arca Ganesha di Pulau Panaitan meskipun digambarkan tanpa mahkota, namun penggambaran bagian-bagian utama/umum, tubuhnya cukup lengkap.

Arca Ganesha ini digambarkan dalam ukuran yang tidak proporsional, duduk di atas Batur. Belalainya menjuntai kemudian melengkung ke arah tangan kiri.

Selain kedua arca tersebut, di Pulau Panaitan juga ditemukan Lingga Semu / Lingga Patok, namun tidak didapati atribut sebagai salah satu lambang emanasi Shiwa, sehingga Lingga di Pulau Panaitan ini dianggap hanya berfungsi sebagai patok batas tanah.

Pulau Panaitan merupakan pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda, luasnya sekitar 17.500 Ha yang termasuk kawasan pelestarian/suaka alam Taman Nasional Ujung Kulon.

Penelitian geologi di Pulau Panaitan, menunjukkan bahwa pulau ini telah ada sejak ±26 juta tahun lalu, apabila dilihat dari umur batuan yang paling tua. Pada berbagai singkapan, tampak bahwa pulau ini tersusun dari jenis-jenis batuan andezite, tuffa, gamping dan yang termuda batuan aluvial.

Kolam purba yang menjadi sumber pengairan sawah, di dalamnya terdapat batu menhir sisa Kerajaan Salakanagara di Desa Cikoneng Banten. (Pict: Widi Purnama@kompasiana)


Kerajaan Tarumanagara (358–669)

Kerajaan Tarumanagara (358–669) mulai berdiri, Kerajaan Salakanegara menjadi “kerajaan daerah”

Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman IX atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara, yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman.

Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII dan IX, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Patung Arca Ganesha yang ditemukan di Pulau Panaitan.

Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman IX.

Ia sendiri seorang Maharesi dari Calankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.

Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah hanya menjadi Kerajaan Daerah dibawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara.

Kerajaan Tarumanagara berdiri dari abad 4 sampai 7 Masehi atau selama 311 tahun yaitu dari tahun 358–669 Masehi, dipimpin oleh Raja-raja sebagai berikut: Jayasingawarman (358-382), Dharmayawarman (382-395), Purnawarman (395-434), Wisnuwarman (434-455), Indrawarman (455-515), Candrawarman, 515-535), Suryawarman (535-561), Kertawarman (561-628), Sudhawarman (628-639), Hariwangsawarman (639-640), Nagajayawarman (640-666) dan Linggawarman (666-669).

Tampak dari nama raja-raja Tarumanagara diatas masih memiliki darah wangsa Warman yang berasal dari raja-raja di Kerajaan Salakanagara sejak masa sebelumnya. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Wilayah Kerajaan Salakanagara dan Kerajaan Tarumanagara beserta wilayah kekuasaanya di pulau Jawa. Kerajaan Salakanagara menjadi kerajaan daerah yang berada dibawah kekuasaaan Tarumanagara. (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Bukti adanya Kerajaan Tarumanagara yang tersisa hingga kini:

Beberapa prasasti dari sisa Kerajaan Tarumanagara, yaitu:

  • Prasasti Kebonkopi I / Prasasti Tapak Gajah (foto), ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor.
  • Prasasti Kebonkopi II (hilang)
  • Prasasti Ciaruteun (foto), ditemukan ditepi sungai Ciarunteun dekat muara sungai Cisadane Bogor, prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta
  • Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
  • Prasasti Cidanghiyang / Prasasti Lebak / Prasasti Munjul, ditemukan di Kampung Lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten pada tahun 1947. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
  • Prasasti Jambu / Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Purnawarman.
  • Prasasti Pasir Awi (foto), ditemukan di daerah Sukamakmur Jonggol , juga tertulis gambar ranting pohon dan buah yang dihiasi sepasang telapak kaki sang raja.
  • Prasasti Tugu (foto), ditemukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain.

Salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara yang terkenal adalah Prasasti Kebonkopi I dan Kebonkopi II, namun Prasasti Kebonkopi II sudah hilang dicuri.

Prasasti Kebonkopi I dinamai juga sebagai “Prasasti Tapak Gajah” karena terdapat pahatan tapak kaki gajah, yang mungkin merupakan tunggangan raja Purnawarman, yang disamakan dengan gajah Airawata, wahana Dewa Indra.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8e/Kebon_kopi_I_140101-0074_cia.JPG/320px-Kebon_kopi_I_140101-0074_cia.JPG

Prasasti Kebonkopi I (wikimedia)

Hingga kini prasasti tersebut masih berada di tempatnya ditemukan (in situ). di Kampung Muara, termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor.

Prasasti ini berada pada koordinat 06°31′39.8″S 106°41′25.2″E dengan ketinggian 320 m di atas permukaan laut.

Area situs ini merupakan kawasan pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Ciaruteun di selatan, Sungai Cisadane di timur, Sungai Cianten di barat, serta muara Sungai Cianten yang bertemu dengan Sungai Cisadane di utara.

Prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang disusun ke dalam bentuk seloka metrum Anustubh yang diapit sepasang pahatan gambar telapak kaki gajah.

Teks:

~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam

Terjemahan:

“Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan”

Diawali pada tahun 1863, Jonathan Rig, seorang tuan tanah pemilik perkebunan kopi di dekat Buitenzorg (kini Bogor). Kemudian ia melaporkan penemuan prasasti di tanahnya. Penemuan prasasti ini dilaporkan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional Indonesia) di Batavia (kini Jakarta).

Prasasti Kebonkopi I adalah salah satu dari tiga buah prasasti di kawasan ini yang penting nilainya bagi kesejarahan Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5-7 M). Dua prasasti peninggalan Tarumanagara lainnya adalah Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Muara Cianten, keduanya ditemukan tidak jauh dari prasasti Kebonkopi-I ini. Itulah beberapa bukti keberadaan Kerajaan Tarumanagara.


Kerajaan Kendan/Kelang (536–612)

Kerajaan Kendan/Kelang (536–612) dibawah Tarumanagara mulai berdiri

Pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanagara yang berdiri selama 311 tahun, pada kekuasaan di tahun ke 178 atau pada tahun 536 Masehi, berdirilah Kerajaan Kendan yang hanya bertahan selama 76 tahun (536–612) dan memiliki wilayah yang kecil.

Kerajaan Kendan didirikan oleh Sang Resiguru Manikmaya, sebagai raja pertama yang datang dari Jawa Timur. Resiguru Manikmaya menjadi raja karena ia menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan, suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung, lengkap dengan rakyat dan tentaranya.

Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri. Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat.

Wilayah kecil dari Kerajaan Kendan, yang masih dibawah kekuasaan Tarumanagara berada di suatu wilayah perbukitan Nagreg yang pada saat ini daerah tersebut berada di Kabupaten Bandung daerah tenggara, (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Isi surat dari Maharaja Suryawarman, raja Tarumanagara tersebut adalah: Keberadaan Rajaresi Manikmaya di Kendan, harus diterima dengan baik. Sebab, ia menantu Sang Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang Resiguru Kendan itu, seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.

Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya Raja Kendan memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 tahun (536-568 Masehi). Ia memperoleh keturunan beberapa orang putra dan putri. Salah seorang di antaranya bernama Rajaputera Suraliman. Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman dikenal tampan dan mahir ilmu perang.

Setelah Resiguru Manikmaya wafat, Sang Baladika Suraliman menjadi raja menggantikan ayahnya menjadi Raja bergelar Senapati Kendan, kemudian diangkat pula menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.

Sang Suraliman terkenal selalu unggul dalam perang dan menikahi putri Bakulapura dari Kerajaan Kutai Kalimantan dari keturunan Kudungga yang bernama Dewi Mutyasari kemudian mempunyai seorang putra dan seorang putri.

Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan. Adiknya diberi nama Sang Kandiawati. Sang Kandiawan disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang, sedangkan Sang Kandiawati, bersuamikan seorang saudagar dari Pulau Sumatra, dan tinggal bersama suaminya.

Candi Cangkuang, salah satu warisan dari Kerajaan Kendan hingga Kerajaan Sunda-Galuh.

Sang Suraliman menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 568-597 M).

Kemudian ia digantikan oleh anaknya Sang Kandiawan yang ketika itu telah menjadi raja di daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa Kendan, ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati (Kemungkinan di wilayah Cangkuang, Garut).

Penyebabnya adalah karena Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu. Sedangkan wilayah Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di Bojong Menje oleh Balai Arkeologi Bandung terkait dengan keagamaan masa silam di Kendan.

Bukti adanya Kerajaan Kendan yang tersisa hingga kini:

  • Situs di Citaman, Nagreg, Cicalengka
  • Kampung Pasir Dayeuh kolot  / disebut Kampung Kendan dikenal dengan Kampung Kelang di Bukit yang letaknya 15 km sebelah tenggara Cicalengka Jawa Barat.
  • Ditemukannya Arca Manik, Arca Durga, Pusaka Naga Sastra, Naskah berbahasa Sansekerta yang disimpan di Museum Nasional Pusat Jakarta.
  • Candi Cangkuang di desa Bojong Mente, Cicalengka, Garut, Jawa Barat.
  • Situs Makam Keramat Sanghyang Anjungan, Situs Makam Keramat Embah Singa, Situs Makam Keramat Eyang Cakra, Situs Makam Keramat Kiara Jenggot.
  • Batu Cadas Pangeran di Nagreg Jawa Barat.
  • Sedangkan Komplek Keraton Baleeh Gedeh untuk Pertemuan  dan Baleeh Bubut untuk kediaman Raja sudah tidak ditemukan lagi karena Rumah Panggung tersebut terbuat dari Kayu dan sudah lapuk termakan usia jaman, hanya tersisa batu-batu besar di Perbukitan Citaman Nagreg.
  • Carita Parahyangan.
  • Kabuyutan Sanghiyang Tapak.
  • Baru Bertuliskan Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menyebutkan Ibu Kota Kerajaan Taruma Nagara.

Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja. Ia punya lima putra, masing-masing bernama Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandanggreba, dan Wretikandayun.

Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah di Kulikuli, Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. Kemungkinan, lokasi kerajaan bawahan Kendan tersebut berada di sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.


Kerajaan Galuh (669–1482)

Kerajaan Galuh (669–1482) yang masih kecil, dibawah Tarumanagara mulai terbentuk, kemudian Tarumanagara runtuh karena kalah pamor dengan Galuh

Sang Kandiawan menjadi raja Kendan hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 612 Masehi, ia mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi pertapa di Layuwatang Kuningan. Sebagai penggantinya, ia menunjuk putra bungsunya Sang Wretikandayun, yang waktu itu sudah menjadi Rajaresi di daerah Menir, menjadi Raja di Kerajaan Kendan.

Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir, namun ia mendirikan pusat pemerintahan baru yang kemudian diberi nama Galuh (permata).

Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Tarumanagara saat itu adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M). Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah tetap sebagai raja bawahan Kerajaan Tarumanagara.

Kerajaan Kendan dan Kerajaan Galuh (awal) yang keduanya berada dibawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua aliran sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, barada di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri dari seorang putri pendeta Resi Makandria bernama Manawati yang dinobatkan sebagai permaisuri dengan nama Candraresmi.

Dari perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara (lahir tahun 624 M).

Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja Galuh, dibawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M), yang semuanya masih dalam kekuasaan Kerajaan Tarumanagara.

Peninggalan Prasasti-Prasasti dari masa Kerajaan Galuh yang ada hingga kini:

  • Prasasti Mandiwunga (ditemukan pada tahun 1985 di desa Cipadung, kecamatan Cisaga, Ciamis)
  • Prasasti Cikajang (ditemukan di daerah Perkebunan Teh Cikajang, di lereng barat daya Gunung Cikuray, tapi diragukan keasliannya)
  • Prasasti Rumatak (ditemukan di Gunung Gegerhanjuang, Desa Rawagirang, Singaparna)
  • Prasasti Galuh, disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.29.
  • Prasasti Huludayeuh, ditemukan di tengah persawahan di kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang – Cirebon.
  • Prasasti Pasir Datar, ditemukan di Perkebunan Kopi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872 (NBG 1872, al 165; 1873, hal 60 dan 94). Menurut N.J.Krom prasasti ini disimpan di Museum Nasional Jakarta (l914:60).

Pada waktu kedepannya, Kerajaan Tarumanagara yang menguasai beberapa kerajaan-kerajaan kecil dibawahnya termasuk Kerajaan Galuh, akhirnya kalah pamor, kalah manajemen dan kalah terkenal, lalu berganti nama menjadi Kerajaan Sunda, untuk kemudian pecah menjadi dua kerajaan besar yang berdiri sendiri secara inependen.

Salah satunya Kerajaan Galuh ini yang semakin besar wilayahnya, dan Kerajaan Sunda di pulau Jawa yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Ciserayu dan juga Cipamali (Kali Brebes) dibagian sebelah timur dari kerajaan.

Kerajaan ini adalah penerus dari peleburan dengan kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara. Kerajaan Galuh akhirnya dapat berdiri selama 813 tahun (669–1482) dan hingga mempunyai 31 orang raja.

Dimulai oleh raja pertama Wretikandayun (Rahiyangta ri Menir, 612-702) dan raja terakhir adalah raja ke-31 yaitu Maharaja Cipta Sanghyang Di Galuh (1528-1595). Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16.


Kerajaan Tarumanagara runtuh (669)

Kerajaan Tarumanagara runtuh, pecah menjadi dua: Kerajaan Galuh (669–1482) dan Kerajaan Sunda/Pasundan (932–1579). Kerajaan kecil melebur pada keduanya.

Kemudian ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Kerajaan Tarumanagara yang sudah pudar pamornya.

Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa, mengganti nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.

Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, Sang Tarusbawa ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di Purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670 Masehi, ia mengganti nama Kerajaan  Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.

Di tahun 669 Masehi, Sang Tarusbawa menggantikan kedudukan mertuanya yaitu Linggawarman, raja Tarumanagara yang terakhir. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh yang masih keluarga kerajaan Tarumanegara untuk memisahkan diri dari kekuasaan Tarusbawa.

Kerajaan Tarumanagara pecah menjadi dua, yaitu: Kerajaan Sunda, yang beribukota Pakuan Pajajaran yang sebelumnya berpindah-pindah dari Kawali (Galuh). dan di Saunggalah (Kuningan). Dan kerajaan kedua adalah Kerajaan Galuh yang beribokota juga berpindah-pindah yaitu Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis (612-702), Saunggalah (669-1311) dan Kawali (1311-1482). (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Dengan dukungan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan besar yang berdiri sendiri. Dukungan ini dapat terjadi karena putera mahkota Kerajaan Galuh bernama Mandiminyak yang berjodoh dengan Parwati, puteri Maharani Shima dari Kerajaan Kalingga.

Dalam posisi lemah dan ingin menghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Kerajaan Galuh itu. Di tahun 670, wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda disebelah barat dan Kerajaan Galuh disebelah timur, dengan Sungai Citarum sebagai batas keduanya.

Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara.


Kerajaan Sunda / Pasundan (932-1579)

Kerajaan Sunda / Pasundan (932-1579) mulai terbentuk

Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pasundan sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/62/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bruidspaar_uit_Bantam_West-Java_ze_zijn_verkleed_als_Hinduvorsten_en_worden_beschouwd_als_%27vorsten_voor_%C3%A9%C3%A9n_dag%27._TMnr_60003240.jpg/214px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bruidspaar_uit_Bantam_West-Java_ze_zijn_verkleed_als_Hinduvorsten_en_worden_beschouwd_als_%27vorsten_voor_%C3%A9%C3%A9n_dag%27._TMnr_60003240.jpg

Pakaian Pengantin Tradisional Suku Sunda bergaya Hindu di Banten, Jawa Barat sekitar tahun 1890-1900. (wikimedia)

Dari Ganggasari, dia memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda.

Sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang selanjutnya mendirikan Kerajaan Sriwijaya yang pada masa sekarang berada di sekitar daerah Palembang.

Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri.

Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini.

Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Tarusbawa dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M).

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a0/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Huizen_in_Papandak_TMnr_60050402.jpg

Rumah tradisional Sunda suhunan Julang Ngapak di Papandak, Garut. (wikimedia)

Sunda adalah kerajaan yang berada dibagian barat pulau Jawa (kini provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur). Kerajaan ini bahkan pernah menguasai wilayah bagian selatan Pulau Sumatera.

Tarusbawa memiliki gelar Tohaan di Sunda (Raja Sunda) dan menjadi cakal-bakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M. Kerajaan ini bercorak Hindu dan Buddha, kemudian sekitar abad ke-14, kerajaan ini beribukota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Kalapa dan Banten.

Peninggalan Kerajaan Sunda:

Prasasti dari masa Kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak, adalah prasasti kuno perangka tahun 952 saka (1030 M), terdiri dari 40 baris yang memerlukan 4 buah batu untuk menulisnya. Keempat batu prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.

Tiga diantaranya ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sementara sebuah lainnya ditemukan di Kampung Pangcalikan. Prasasti ini ditulis dalam huruf Kawi Jawa. Kini keempat batu prasasti ini disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97, dan D 98.


Kerajaan Sunda-Galuh (1030-1579)

Reunifikasi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh menjadi: “Kerajaan Sunda-Galuh” (1030-1579)

Kerajaan Sunda-Galuh adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara yang telah dibahas diatas, yang akhirnya bersatu kembali.

Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali di Kabupaten Ciamis. Namun banyak sumber peninggalan sejarah yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja.

Sebelum Kerajaan Galuh bersatu dengan Kerajaan Sunda, memiliki 13 orang raja. Sebagai raja pertama adalah Wretikandayun (670-702) sampai raja ke-13 adalah Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891).

Wilayah kekuasaan dua Kerajaan di Tatar Sunda, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Gakuh, yang menyatu menjadi kerajaan yang lebih besar, yaitu Kerajaan Sunda-Galuh. (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Sementara itu, sebelum bersatu dengan Kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda memiliki 20 orang raja. Sebagai raja pertama adalah Maharaja Tarusbawa (669-723) sampai raja ke-20 adalah Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042).

Sri Jayabupati dari Kerqajaan Sunda mulai memerintah Kerajaan Sunda-Galuh untuk pertama kali, kedua kerajaan mulai memiliki hanya satu raja saja. Kemudian diikuti oleh raja-raja berikutnya. Seluruh raja dari Kerajaan Sunda-Galuh berjumlah 14 orang. Sebagai raja pertama adalah Darmaraja (1042-1065) sampai raja ke-14 adalah Prabu Susuktunggal (1475-1482).

Kemudian untuk kedepannya, berdirilah Zaman Kerajaan Pakuan-Pajajaran yang diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja hingga Ratu Jayadewata, yang memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521). Pada masa inilah Pakuan-Pajajaran mencapai puncak perkembangannya.


Kerajaan Pakuan-Pajajaran (1482-1579)

Sunda-Galuh kembali terpecah, reunifikasi menjadi Kerajaan Pakuan-Pajajaran (1482-1579)

Pada saat Prabu Niskala Wastu Kancana (raja Sunda-Galuh ke-13) wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).

Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal, kemudian menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, menjadi Kerajaan Pakuan-Pajajaran yang diambil dari nama ibukota kerajaan.

Namun biasanya, kedua kerajaan yang menyatu ini pada masyarakat awam lebih sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaran saja. Lokasi Pajajaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 dapat dilihat pada peta Portugis yang menunjukkan lokasi ibukotanya di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Kerajaan Pakuan-Pajajaran, penerus Kerajaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah ketika diperintah oleh Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh), kemudian disatukan kembali oleh Sri Baduga Maharaja yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal, (gambar: ©IndoCropCircles.com)

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Pakuan-Pajajaran:

Sumber utama sejarah yang mengandung informasi mengenai kehidupan sehari-hari di Pajajaran dari abad ke 15 sampai awal abad ke 16 dapat ditemukan dalam naskah kuno Bujangga Manik. Nama-nama tempat, kebudayaan, dan kebiasaan-kebiasaan masa itu digambarkan terperinci dalam naskah kuno tersebut.

Selain itu, ada beberapa prasasti tentang keberadaan Kerajaan pajajaran ini, salah satunya adlah Prasasti Batutulis di Bogor yang menyebutkan keagungan Sri Baduga Maharaja dalam sejarah. Prasasti Batutulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter.

Prasasti Batutulis dianggap terletak di situs ibu kota Pajajaran dan masih in situ, yakni masih terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini.[1] Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi).

Berikut adalah raja-raja yang memerintah di Pakuan-Pajajaran:

  1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
  2. Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
  3. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
  4. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
  5. Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  6. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9e/Prabu_Siliwangi_Portrait.jpg/210px-Prabu_Siliwangi_Portrait.jpg

Sri Baduga Maharaja / Sang Ratu Jaya Dewata atau yang populer dikenal sebagai Raja / Prabu Siliwangi. (wikimedia)

Kerajaan Sunda-Galuh runtuh setelah ibukota kerajaan ditaklukan oleh Maulana Yusuf (1570 – 1585), Sultan ke-3 dari Kesultanan Banten pada tahun 1579.

Sementara sebelumnya kedua pelabuhan utama Kerajaan Sunda yaitu Kalapa dan Banten, juga telah dikuasai oleh Kerajaan Demak pada tahun 1527.

Pelabuhan Kalapa ditaklukan oleh Fatahillah, dan Pelabuhan Banten ditaklukan oleh Maulana Hasanuddin.

Pelabuhan Kalapa dikenal juga sebagai Sunda Kalapa yang kemudian menjadi bernama Batavia sebagai cikal-bakal kota Jakarta.

Selama kejayaannya, Kerajaan Sunda memiliki 40 orang raja, dengan Raja pertama adalah Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 – 723) dan raja terakhir (raja ke-40) adalah Prabu Ragamulya atau yang lebih dikenal dengan Prabu Suryakancana (1567-1579).

Kerajaan Sunda-Galuh akhirnya runtuh oleh Kesultanan Banten (1526–1813) yang didirikan oleh Sultan Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati sebagai Sultan Banten pertama dan juga sekaligus sebagai Sultan ke-2 Kesultanan Cirebon.

Namun, setelah runtuhnya Kerajaan Sunda-Galuh, bekas dua kerajaan di tataran Sunda yang menyatu ini, tetap banyak yang menyebutnya sebagai Kerajaan Pajajaran yang banyak juga disebutkan pada prasasti-prasasti dan catatan-catatan kuno sejak masa lalu. sebagai Kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Pakuan-Pajajaran runtuh ketika Islam mulai masuk ke Nusantara dan semua Raja dan masyarakatnya mulai menjadi Muslim. Wilayahnya menjadi Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon.

Masih ada perdebatan peneliti antara Salakanagara dan Tarumanagara

Memang banyak para ahli yang masih memperdebatkan masalah institusi kerajaan sebelum Tarumanegara melalui berbagai sumber sejarah seperti catatan sejarah dari Cina dan bangsa Eropa atau naskah-naskah kuno.

Claudius Ptolemaeus, seorang ahli bumi masa Yunani Kuno menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Javadwipa atau Pulau Jawa.

Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai “Merak” yang hingga kini menjadi sebuah kota kecil di ujung barat laut Pulau Jawa.

Kemudian sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 menyebutkan wilayah Ye-tiao  yang sering diartikan sebagai Yawadwipa dengan rajanya Pien yang merupakan lafal Cina dari bahasa Sangsakerta yang berarti Dewawarman.

Namun tidak ada bukti lain yang dapat mengungkap kebenaran dari dua berita asing tersebut, kecuali artefak-artefak kuno pada masa tahun 1 Masehi hingga sekitar tahun 300-an masehi yang banyak ditemukan sebagai saksi bisu.

Artefak-artefak yang telah ditemukan, berupa berbagai menhir batu, arca, prasasti dan petilasan dari pulau-pulau kecil di Selat Sunda, di pesisir barat Banten, daerah Merak, Pandeglang, hingga Cianjur, Jawa Barat, belum banyak yang dapat mengungkapnya.

Namun yang jelas, semua “artefak bisu” dari beberapa situs itu, telah ada sebelum Tarumanagara berdiri. Selanjutnya, mau percaya bahwa Kerajaan Salakanagara memang ada sejak Abad-1, atau hanya sekedar mitos, semua itu terserah bagaimana Anda menanggapinya. Percaya atau tidak. (©IndoCropCircles.com)

Pustaka:


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f6/Tarumanagara_id.svg/640px-Tarumanagara_id.svg.png

Kerajaan Tarumanagara (358–669) dan Kerajaan Galuh (932-1579). (wikimedia)

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/81/Sunda_Kingdom_id.svg/640px-Sunda_Kingdom_id.svg.png

Pada tahun 669 M, Kerajaan Tarumanagara mengganti nama menjadi Kerajaan Sunda dan terjadi penyatuan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, menjadi Kerajaan Sunda-Galuh. (wikimedia)

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/88/Linguistic_map_West_Java.png/640px-Linguistic_map_West_Java.png

Peta linguistik Jawa Barat (wikimedia)


Artikel Lainnya:

Prasasti Heboh Bertulis: “Seluruh Manusia Akan Menghadapi Sesuatu” Menarik Perhatian Para Pejabat

Misteri “Batu Tulis” Desa Jabranti, Kuningan, Jawa Barat

Peradaban Prasejarah di Tepian Sungai Ciliwung Jakarta

Kekalahan memalukan tentara Mongol di tanah Jawa

Inilah Perang Terlama di Indonesia Yang Luput Dari Sejarah

Letusan Krakatau Tertulis di Kitab Ronggowarsito: Kitab Raja Purwa

Misteri Pulau Jawa: Bentuk Selatan Pulau Bingungkan Penjelajah Samudra Abad 16

Batu Ukir Berusia 1.000 Tahun Ditemukan di Ponorogo

Nama Asli Gunung-Gunung di Indonesia Dalam Bahasa Sansekerta

10 Misteri Indonesia Yang Mungkin Belum Pernah Anda Ketahui Sebelumnya

Konspirasi: “Mystery of The National Treasures of Indonesian Kingdoms”

32 Fakta-Fakta Unik Tentang Indonesia

Asal Mula Nama “Indonesia”

Ini Dia!! Megalith “Gunung Padang” Jabar, “Stone Henge” Versi Indonesia

Artefak-Artefak Gunung Padang Cianjur Yang Misterius!

Ada Lagi, Mirip “Gunung Padang” Misterius di Cilacap

Wah!! Ada Lagi Situs Megalitikum Ketiga, Kali Ini di Cibedug Banten!

Kini Giliran Jawa Timur, Ditemukan Bangunan Mirip Piramida

5 “Gunung Piramida” di Luar Jawa Yang Diselidiki

Wow!! Ternyata di Indonesia Sudah Ada Beberapa Piramida!

Situs Megalith Gunung Emas (Bukit Puncak Villa) di Suliki Sumatra Barat

10 Mata Uang Paling Tua di Indonesia

Bangunan Bata Peninggalan Majapahit Ditemukan di Halaman Rumah di Sidoarjo

Inilah Sejarah Majapahit Yang Terkubur dan Dilupakan

Harta Karun Era Majapahit Ditemukan di Pulau Nangka Malaysia

Ditemukan Keramik China Abad IX dan Pecahan Kaca Dari Persia di Dieng

Ada Misteri di Candi Bodobudur Indonesia

Wow! Ada Jejak Astronomis di Borobudur

Misteri Hilangnya Ratusan Kepala Arca Candi Borobudur

Borobudur Peninggalan Sulaiman Dan Yahudi Adalah Keturunan Bangsa Jawa?

Misteri Tanah Punt: Ada Hubungan Firaun dengan Suku di Bengkulu?

Madagaskar Ditemukan Oleh Wanita Indonesia

Ditemukan di Rembang: Perahu Tertua Abad-7 Zaman Mataram Hindu

Masih Bersifat Rahasia: Tim Istana Temukan Peradaban Kuno di Laut

Misteri Letusan Gunung Toba, satu-satunya Supervolcano di Indonesia

Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika

Konstruksi Gunung Padang Dirancang Arsitek Purba Ulung!

Arkeolog: Muarojambi, Bisa Jadi Ibukota Asli Kerajaan Sriwijaya

Aceh Heboh: Ribuan Koin Emas Era Samudera Pasai Ditemukan!

Geolog Teliti Info Kapal Kuno di Sumbawa

Ditemukan: Situs Candi Budha di Sleman Yogyakarta

Belum Sebulan, Sudah Tiga Situs Kuno Ditemukan di Demak

Ditemukan 2 Meter Dibawah Laut: Benteng VOC Misterius Di Daerah Pasar Ikan

Kisah Mistis Ditemukannya 2 Pedang Emas Era VOC di Aceh

Warga Heboh: Puluhan Bilah Keris Misterius Ditemukan Di Sungai “Jembatan 12” Pangkalpinang

Misteri Harta Karun Ribuan Ton Emas Rampasan Jepang di Indonesia

Ada Ratusan Ton Harta Karun Kapal Karam Seantero Indonesia!

Misteri: Wow! Struktur Mirip “Tembok” Lurus di Dalam Laut Utara Papua

Topeng Misterius Langka dari Goa Made Jombang Jatim, diteliti Peneliti Dunia

Ditemukan: Meriam Asal Indonesia Mengubah Catatan Sejarah Australia

Misteri Pada Masa Lalu, Ternyata Australia Pernah Jadi Bagian dari Nusantara!

Ilmuwan Kaget!! Fosil di Siberia “Kerabat” Orang Papua!

Wow! Manusia Jawa Purba Pernah Mendiami Eropa 700.000 Tahun Lalu!

Teori Evolusi Mungkin Berakar dari Indonesia

Hah?? Situs Gunung Padang Cianjur Berusia 109 Abad Sebelum Masehi?

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi?

Ilmuwan: Peradaban Dunia Berawal dari Indonesia!

Mungkinkah, Nusantara adalah The Atlantis yang Hilang dan Kini Dicari?

Temuan-Temuan Ini Sebut Peradaban Dunia Berasal dari Indonesia!


http://wp.me/p1jIGd-7Lb

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi Indonesia, Misteri Indonesia dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s