[‘Amaliyah ‘Ashifah al Hazm] Ketika Israel Bersorak Saksikan Koalisi Serang Yaman

war

[Operation Decisive Storm] Ketika Israel Bersorak Saksikan Koalisi Arab Serang Yaman

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/44/Yemen_division_2012-3-11.svg/640px-Yemen_division_2012-3-11.svg.png

Daerah Yaman yang lebih luas dikendalikan oleh kelompok pemberontak bersenjata daripada pemerintah pusat. (wikimedia).

Pada bulan Maret – April 2015, para pemimpin Zionis Israel sedang bersukacita. Penyebabnya tak lain dan tidak bukan adalah operasi militer koalisi sepuluh negara pimpinan Arab Saudi untuk menghantam milisi al Khauthi di Yaman. Operasi itu bernama “Operasi Badai Tegas” alias ‘Amaliyah ‘Ashifah al Hazm atau Operation Decisive Storm.

Dinamakan demikian, barangkali untuk menegaskan kepada dunia, terutama milisi al Khauthi, bahwa operasi kali ini tidak main-main. Bila milisi al Khauthi dan siapa pun yang mendukungnya berani macam-macam, misalnya mengancam keamanan negara-negara Teluk, maka mereka akan disikat dengan tegas oleh operasi yang bagaikan badai besar bergulung-gulung.

Israel Merasa Tak Khawatir

Sebagai catatan, daratan Yaman di Jazirah Arabia berbatasan langsung dengan Saudi di sebelah utara, dan Oman di sebelah timur.

Meskipun operasi ini bernama Badai Tegas, namun koalisi militer sepuluh negara ini justeru disambut Zionis Israel dengan tempik sorak-sorai. Ya, mereka bisa menyaksikan pesawat tempur koalisi menyerang sasaran-sasaran militer al Khauthi sambil minum kopi di pagi hari. Santai dan nyaman.

Marilah kita simak tulisan kolomnis Yahudi Zvi Bar’el di media Israel Haaretz edisi 30 Mei lalu. Katanya, sejumlah negara Arab sedang membentuk sebuah kekuatan (koalisi) militer yang besar nan kuat dan, untuk pertama kalinya, Israel tidak merasa khawatir.  ‘‘Bukan hanya tidak khawatir, tapi sebenarnya Israel juga gembira,’’ tulis Bar’el.

sunni syiah conflict

Perang konflik antara Sunni vs. Syiah mirip ketika terjadi perang konflik Kristen antara Katolik dan Protestan di Irlandia Utara di era 80-90an. Semua agama diadu domba.

Menurut Zvi Bar’el, selama beberapa generasi strategi pertahanan Israel didasarkan pada satu fokus, yaitu untuk menangkal setiap koalisi militer Arab ketimbang militer negara-negara Arab secara individu.

Namun, lanjutnya, Israel justeru melihat koalisi yang sekarang sebagai elemen yang tak terpisahkan dari kebijakan pertahanan Israel sendiri. Bahkan meskipun tidak terlibat dalam koalisi itu, Israel telah mengambil keuntungan dari koalisi militer Arab itu.

Hal yang sama dinyatakan pengamat Israel lainnya, Prof Eyal Zisser. Dalam makalahnya di media Israel Hayom (Israel Today) pada awal April 2015 lalu, ia mengatakan koalisi militer pimpinan Saudi itu adalah ‘sesuatu yang menggembirakan’.

Saudi Arabia obey Israel

Saudi and Zionist relationships

The Jewish Press yang terbit di Amerika Serikat pekan lalu menyebutkan alasan mengapa Israel menyambut dengan suka cita terhadap koalisi bentukan Arab Saudi tersebut.

Menurut media yang meyuarakan kepentingan Yahudi itu, koalisi militer Arab untuk menyerang Israel yang dulu pernah dibentuk sejak 65 tahun lalu, kini telah dihidupkan kembali.

Namun, kali ini bukan untuk menyerang Israel, tapi untuk membendung pengaruh Syiah di Jazirah Arabia.

‘‘Negara-negara Arab Sunni yang menentang Arab Spring adalah mereka yang kini memimpin perang melawan pengaruh Syiah di Timur Tengah,’’ tulis The Jewish Press.

The Arab Spring atau al Rabi’ al ‘Araby adalah revolusi rakyat Arab untuk menentang penguasa diktator otoriter yang berlangsung sejak empat tahun lalu.

whos next

Arab Berubah: Palestina bukan lagi prioritas utama bagi bangsa-bangsa Arab dan umat Islam

Kolomnis dan wartawan senior Mesir, Fahmi Huwaidi, sepakat dengan pandangan The Jewish Press. Dalam media Aljazeera.net pada 08/04/2015 lalu, ia menyatakan kawasan Timur Tengah kini memang sedang berubah.

Apalagi bila dibandingkan dengan tahun-tahun 1950-an hingga 1970-an. Tahun-tahun ketika Liga Arab atau Arab League dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) didirikan.

Waktu itu salah satu tujuan utama dari pendirian kedua organisasi atau lembaga itu adalah membantu perjuangan bangsa Palestina memperoleh kemerdekaan dan kedaulatan di tanah airnya sendiri.

Arab USA IsraelTanah air yang telah dighasab oleh Zionis Israel. Namun, kini nasib bangsa Palestina bukan lagi prioritas utama bagi bangsa-bangsa Arab dan umat Islam.

Walau iya pun, sudah bukan prioritas, bahkan bisa jadi semuanya hanya sandiwara belaka.

Lihat video dibawah halaman ini, This is How Middle East Countries Support Israel to Destroying Gaza Palestine.

Mengutip Huwaidi, ada dua perubahan mendasar yang terjadi pada bangsa-bangsa Arab:

Pertama, para pemimpin Arab kurang atau bahkan tidak peduli lagi pada nasib bangsa Palestina. Suasana politik, keamanan, dan bahkan kebatinan bangsa-bangsa Arab sekarang ini bahwa musuh utama mereka adalah pengaruh Syiah  dan bukan lagi Zionis Israel.

Kedua, kekhawatiran terhadap pengaruh Syiah telah mengakibatkan konflik yang tadinya bernuansa politik kini berubah menjadi konflik antarmazhab atau paham keagamaan. Tepatnya antara Sunni dan Syiah. Konflik yang demikian bisa saja melampaui batas-batas negara Arab dan merembet ke negara-negara Islam (mayoritas berpenduduk Muslim) seantero jagad dunia, dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

‘‘Hal inilah yang menenangkan Zionis Israel dan memunculkan rasa suka cita,’’ ujar Huwaidi.

Contoh lain mengenai perubahan negara-negara Arab yang menguntungkan Zionis Israel adalah  dalam kasus Mesir. Menurut Mohammad al Minsyawi, pakar politik tentang Amerika dan direktur di Lembaga al Shuruq di Washington, selama puluhan tahun ‘akidah’ atau doktrin militer Angkatan Bersenjata Mesir adalah ‘musuh utama mereka adalah Zionis Israel’.

Tzipi Livni PM Israel and arabs

Arabs dan Tzipi Livni, Menteri Urusan Luar Negeri Israel dan Wakil Perdana Menteri Israel.

Namun, lanjut al Minsyawi, doktrin tersebut kini sudah tidak banyak dibicarakan lagi di kalangan militer Mesir.

Hal ini bisa terjadi, katanya seperti dikutip Aljazeera.net, adalah bentuk dari pengaruh Gedung Putih dari satu presiden ke presiden lainnya.

Pengaruh yang acap kali dibungkus dalam bentuk bantuan militer Washington ke Kairo.

Mesir hingga kini dianggap sebagai salah satu negara paling berpengaruh di Timur Tengah. Baik dari segi jumlah penduduk, politik, sosial/agama maupun militernya. Bahkan militer Mesir kini merupakan yang  paling kuat di antara negara-negara Arab lainnya.

Ada empat rambu yang selalu digariskan AS dalam memberikan bantuan persenjataan/militer ke Mesir, yaitu:

  1. Untuk memerangi teroris,
  2. Menjaga perbatasan,
  3. Mengawal serta menjaga keamanan laut, dan terakhir
  4. Memelihara  keamanan Sinai.

Menurut al Minsyawi, senjata bantuan dari Amerika tidak mungkin dipergunakan untuk menghadapi lawan-lawan yang tidak didukung Gedung Putih. Artinya, peralatan militer AS, termasuk persenjataannya, tidak mungkin digunakan untuk membantu bangsa Palestina menyerang Israel.

Perubahan berikutnya yang juga disambut dengan suka cita oleh Zionis Israel  adalah beralihnya peta kekuatan di negara-negara Arab. Terutama menyangkut kekuatan ekonomi, militer, dan kemudian politik.

you go to the war we will stay herePada era 1980-1990-an, kekuatan dibagi banyak negara. Ada Irak, Suriah, Libya, Mesir, dan Aljazair.

Negara-negara Teluk pada saat itu bisa dikatakan hanyalah anak bawang. Kini negara-negara Teluk yang justru menjelma menjadi kekuatan utama Liga Arab, selain Mesir.

Salah satu contoh pengaruh negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, adalah pembentukan koalisi militer untuk menyerang milisi al Khauthi di Yaman. Dengan pengaruh politik dan ekonominya, Arab Saudi telah berhasil menjadikan isu keamanan negaranya menjadi masalah keamanan Teluk dan bahkan Liga Arab.

Mengutip pandangan Fahmi al Huwaidi, Liga Arab sekarang ini sebenarnya adalah Liga Teluk (Dewan Kerja Sama Teluk/Majelis at Ta’awun li Duali al Khalij al ‘Arabiyah). Pengaruh negara-negara Teluk yang kuat tentu akan menguntungkan Israel. Sebab, negara-negara yang tergabung dengan Dewan Kerja Sama Teluk selama ini dikenal dekat dengan Barat/AS, sementara Barat adalah pendukung utama eksistensi Zionis Israel.

Semua perubahan yang terjadi di negara-negara Arab itulah yang kemudian disambut Zionis Israel dengan suka cita. Sebaliknya, kasihan pada nasib bangsa Palestina.

freedom for palestine 001

Inikah Penyebab Arab Takut Lawan Israel?

Melihat serangan koalisi Arab Saudi terhadap pemberontak Houthi di Yaman, memunculkan beragam pertanyaan. Koalisi tersebut lebih memilih menyerang Houthi yang berafiliasi ke Syiah Iran, ketimbang membungihanguskan Israel penjajah sejati. Lantas, benarkah ketidakberanian Arab terhadap Israel itu dipicu trauma atas kekalahan mereka perang melawan Israel sepanjang sejarah?

Sejarah mencatat, Arab harus menelan kekalahan terus menerus melawan Israel. Dalam Perang Arab-Israel Pertama, menyusul pendirian negara Israel 14 Mei 1948 di bawah pimpinan David Ben Gurion, aliansi negara Arab takluk di hadapan Israel.

Dalam perang yang berlangsung selama hampir 10 bulan itu (sejak 15 Mei 1948 hingga 10 Maret 1949—Red), pasukan Yordania, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, dan Arab Saudi bergerak ke Palestina untuk menduduki daerah-daerah yang diklaim sebagai wilayah ‘negara Israel’. Ada sekitar 45 ribu tentara yang dikerahkan oleh negara-negara Arab tersebut pada waktu itu.

“Sementara, di pihak Israel sendiri awalnya hanya diperkuat oleh 30 ribu prajurit, namun pada Maret 1949 meningkat jumlahnya menjadi 117 ribu tentara,” ungkap Yoav Gelber dalam buku Palestine 1948: War, Escape and the Emergence of the Palestinian Refugee Problem.

arab jews yahudi israelPerang Arab-Israel Pertama berakhir dengan kekalahan di pihak negara-negara Arab. Menurut catatan, jumlah tentara Arab yang gugur mencapai 7.000 orang.

Perang itu juga menewaskan 13 ribu warga Palestina. Di samping itu, berdasarkan hasil penghitungan resmi PBB, ada 711 ribu orang Arab yang menjadi pengungsi selama pertempuran berlangsung.

Sebagai akibat dari kemenangan Israel tersebut, setiap orang Arab yang mengungsi selama Perang Arab-Israel Pertama, tidak diizinkan untuk pulang ke kampung halaman mereka yang kini sudah diklaim Zionis sebagai wilayah negara Israel.

“Oleh karenanya, para pengungsi Palestina yang kita jumpai hari ini adalah keturunan dari orang-orang Arab yang meninggalkan tanah air mereka ketika terjadinya perang 1948-1949,” tutur Erskine Childers lewat tulisannya,  The Other Exodus The Spectator, yang dipublikasikan dalam buku The Israel-Arab Reader: A Documentary History of the Middle East Conflict,(1969).

Perang Arab-Israel kembali meletus ketika Mesir melakukan nasionalisasi terhadap Terusan Suez pada 1956. Kebijakan yang digawangi oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu mendorong Israel  untuk menginvasi Semenanjung Sinai, sehingga menyebabkan peristiwa yang dikenlan sebagai ‘Krisis Suez’.

Tak lama berselang, pasukan Inggris dan Prancis juga mendarat di Pelabuhan Suez. Keikutsertaan dua negara Eropa itu dalam konflik tersebut seolah-olah untuk memisahkan pihak yang bertikai. Namun, motivasi mereka sebenarnya pada waktu itu hanya untuk melindungi kepentingan investor di negara-negara yang terkena dampak nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir.

Perang Arab-Israel yang kedua ini berakhir dengan kesepakatan damai. Mesir setuju untuk membayar jutaan dolar kepada Suez Canal Company—selaku pemegang otoritas Terusan Suez sebelum dinasionalisasi oleh Presiden Nasser.

war is profit

Pada dekade berikutnya, hubungan Israel dengan negara-negara tetangga Arab tidak pernah sepenuhnya normal. Menjelang Juni 1967, ketegangan antara Mesir dan Israel kembali meningkat. Mesir memobilisasi pasukannya di sepanjang perbatasan Israel di Semenanjung Sinai.

Sementara, Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap lapangan udara Mesir pada 5 Juni. Peristiwa itu menimbulkan Perang Arab-Israel Ketiga yang berlangsung selama enam hari.

Dalam perang tersebut, Mesir juga dibantu oleh sejumlah negara Arab lainnya, yaitu Yordania dan Suriah. Di samping itu, Arab Saudi, Kuwait, Libya, Maroko, dan Pakistan juga ikut mendukung Mesir dalam pertempuran tersebut.

Hasilnya, Mesir dan koalisi negara-negara Arab kembali menelan kekalahan. Menurut catatan, ada sekitar 19 ribu tentara Arab yang hilang atau gugur di medan perang kala itu.

The Sunni-Shia divide

Meski berulangkali menderita kekalahan, upaya yang dilakukan Arab Saudi, Mesir, Yordania, Suriah, Irak, dan Lebanon untuk membela Palestina di masa lalu menunjukkan betapa tingginya rasa solidaritas mereka sebagai sesama bangsa Arab pada waktu itu.

Catatan sejarah tersebut menjadi ironis, mengingat hari ini negara-negara Arab saling menuduh kafir dan memerangi saudara mereka sendiri di Yaman (lihat video teks Indonesia).

Seperti panjangnya sejarah para kaum religius atau agamais selama ribuan tahun, fakta nyata ada kaum yang memang selalu memerangi para Nabi-Nabi dan pengikutnya, ketika pengikut ajaran Hebrew dipecah belah oleh kaum satanis, begitu pula dengan kaum Nasrani dipecah belah menjadi beberapa golongan, begitu pula yang akan terjadi dan bahkan telah terjadi pada kaum Muslim, mereka akan selalu dipecah belah, menjadi golongan-golongan, hingga akhir zaman!

Dulunya, semua golongan itu tak ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Waktu beliau ada, Islam hanya SATU. Tak ada Islam A, Islam B, Islam C atau Islam Z. Namun seiring waktu, mereka melahirkan sempalan-sempalan itu. Para pemuka agama mulai bersimbah darah politik, semakin menyukai keduniawian, semakin materialis, dan juga saling merasa golongannya adalah yang paling benar.

Padahal, semua takdir ini telah ditetapkan olehNYA, ingatlah Rukun Iman yang kelima, tinggal bagaimana kita dapat menyadarinya. Mereka ada dalam bentuk apapun untuk memecah belah kaum religi, selalu dan selalu. Maka mereka akan bersorak, oleh karenanya ingatlah dan sadarlah…. selalu.

(sumber: republika.co.id, Ikhwanul Kiram Mashuri, Ahmad Islamy Jamil, Nasih Nasrullah / berbagai sumber lain / edited: IndoCropCircles)

Pustaka:

– republika.co.id, Ketika Israel Bersorak Saksikan Koalisi Serang Yaman.
– jpost.com, Israel benefiting from Saudi‘dirty’ war on Houthi rebels,senior Iranian politician says.
– RT.com, EXCLUSIVE: MoD confirms Britain is arming Saudi Arabia in Yemen conflict.
– stopwar.org.uk, Stop arming Saudi Arabia: anti-war activists protest UK-backed airstrikes in Yemen.

politicians want warswar quotes 01racism wars  by zionism perang rasishappy-israelis

VIDEO:

Illuminati Satanic Behind Conflict Sunny vs. Syiah (Text Indonesia)

This is How Middle East Countries Support Israel to Destroying Gaza Palestine

Capitalism Make Radicalism and Terrorism

Akar Konflik Palestina vs Israel (Text Indonesia) (6 Part Auto) : Part-1, Part-2, Part-3, Part-4, Part-5

Artikel Lainnya:

[ISIS Part-1] ISIS Dibuat Oleh CIA dan Mossad Untuk Memecah Islam?

Krisis Suriah: AS, Inggris, Israel, Uni Eropa VS Rusia (Krisis Suriah Part-1)

Rusia Siap Invasi Ukraina, Kiev Peringatkan Perang! Inikah Awal Perang Dunia-III? (Krisis Ukraina-1)

Krisis Mesir: Lawan Kudeta Militer, Rakyat Diadu Domba, Caranya? Puluhan Gereja Dibakar!

Setelah Mesir, Libya, Kini Suriah, Target AS Selanjutnya Adalah: Papua?

Sejarah Bisu: USS Liberty, Kapal Perang AS Yang Dibombardir Israel, 34 Tewas Ratusan Luka

Wanita Pemberani Bongkar Kemunafikan AS di Mimbar PBB, Pidatonya Langsung Diputus!

Canggihnya Perang “Asymmetric Warfare Strategies (AWS)”

Fakta Sejarah: 10 Senjata Kimia Yang Dipakai AS dan Sekutunya Yang Mereka Tak Ingin Anda Mengetahuinya

Penempatan 60% Tentara AS di Australia : 8 Tahun Lagi, Perang Beralih ke Asia Pasifik!

[VIDEO] Siap Kiamat, Illuminati Buat Bunker di Bawah Bandara Denver

=>Puluhan Artikel Terkait Konspirasi Perang dan Konflik<=

Artikel ini juga di forward oleh forum viva.co.id

Operation Decisive Storm Ketika Israel Bersorak Saksikan Koalisi Arab Serang Yaman

*****

http://wp.me/p1jIGd-6nh

((( IndoCropCircles.wordpress.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Konspirasi Perang. Tandai permalink.

3 Balasan ke [‘Amaliyah ‘Ashifah al Hazm] Ketika Israel Bersorak Saksikan Koalisi Serang Yaman

  1. SP berkata:

    teori konspirasi yang menarik,lugas tapi melupakan satu hal yakni kenyataan pahit yang dialami oleh umat Islam ( sunni ) bahwa musuh mereka selain yahudi juga ada syiah
    walaupun terkesan “mengekor” ke barat dan ujung2nya ke israel tapi tetap saja pengaruh syiah iran yang sedemikian hebat sejak era khomeini hingga saat ini tentu perlu di bendung mengingat track record syiah dari dulu yang selalu menusuk islam dari belakang, coba tengok sejarah kekhalifan abbasiah di iraq yang hancur oleh serangan bangsa mongol yg sejatinya dibantu oleh orang2 syiah yang tidak terima atas kehancuran dinasti fatimiyah di mesir..belum lagi pembantaian2 orang2 syiah di suriah di era modern terhadap muslim sunni

    sehingga saya kira siapapun pemerintahan islam di tim teng khususnya wajib menghalau pengaruh syiah itu yang membentang dari iran, bahrain, suriah,beirut hingga yaman

  2. rikal berkata:

    saya sependpt dgn bng sp….

  3. Endang berkata:

    Tidak benar Arab Saudi dan koalisinya berperang di Yaman dengan melupakan masalah Palestina. Ada satu pernyataan dari Jubir koalisi, yang menegaskan bahwa perang tersebut baru awal, nanti perang berlanjut ke Suriah dan Palestina. Sumbernya saya lupa, tapi anda bisa googling.
    Jadi kenapa Koalisi menyerang Yaman ? Kenapa himpunan kekuatan itu tidak untuk membebaskan Palestina saja yang sudah lama diduduki Yahudi ?
    Klo menurut sy yang awam…(…awam sekali, makanya suka nyari-nyari bacaan) koalisi Arab itu jangankan perangi Israel, bahkan perangi Iran saja tidak ( belum…) ada niatan. Kenapa ?
    Karena, menurut sy lagi yg awam, mungkin Pihak Koalisi mempertimbangkan hadits seperti dibawah ini. Perang diurut sesuai hadits tersebut…
    “Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

    Wallahualam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s