Mengapa Google Membuat Badan Agen NSA? (Google PART-2)

(Google PART-2) Mengapa Google Membuat Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat NSA?

Ini adalah artikel panjang, membutuhkan waktu yang lebih untuk membacanya. Waktu baca: satu jam.


“How the CIA made Google: Inside the secret network behind mass surveillance, endless war, and Skynet—
by: Nafeez Ahmed

Intelligence Insurge, sebuah proyek jurnalisme investigatif yang didanai oleh banyak orang, memecahkan cerita eksklusif tentang bagaimana komunitas intelijen Amerika Serikat mendanai, memelihara dan menginkubasi Google sebagai bagian dari dorongan untuk mendominasi dunia melalui kontrol informasi.

Author: Nafeez Ahmed, Investigative journalist, recovering academic, tracking the Crisis of Civilization patreon.com/nafeez


(BACA PART-1: Bagaimana Badan Intelijen CIA Membuat Google?)

Dari konferensi keamanan nasional, menjadi Dewan Keamanan Nasional (National Security Council / NSC), menjadi Badan Keamanan Nasional (Natioanl Security Agency / NSA)

Benih pembiayaan oleh NSA dan CIA, yaitu Google, hanyalah yang pertama diantara banyak perusahaan swasta yang dikooptasi oleh intelijen AS untuk mempertahankan ‘keunggulan informasi’ atau information superiority.

Asal-usul strategi cerdik ini melacak kembali ke kelompok rahasia yang disponsori Pentagon, bahwa selama dua dekade terakhir telah berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah AS dan elit di sektor bisnis, industri, keuangan, korporasi, dan media.

Kelompok ini telah memungkinkan beberapa kepentingan khusus yang paling kuat di perusahaan Amerika untuk secara sistematis menghindari akuntabilitas demokratis dan aturan hukum untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, serta opini publik di AS dan di seluruh penjuru dunia. Hasilnya menjadi bencana, yaitu: pengawasan massa oleh NSA, keadaan perang global permanen, dan inisiatif baru untuk mengubah militer AS menjadi Skynet.

Pengawasan massal atau mass surveillance adalah tentang kontrol atau pengendalian. Para promulgator atau penyebar informasi, mungkin mengklaim dan bahkan percaya, bahwa ini adalah tentang kontrol untuk kebaikan yang lebih besar, suatu kontrol yang diperlukan untuk menjaga batas atas ketidakteraturan, untuk sepenuhnya waspada terhadap ancaman berikutnya.

National Security Agency (NSA)

Tetapi dalam konteks korupsi politik yang merajalela, melebarnya kesenjangan ekonomi, dan meningkatnya stres terhadap sumber daya karena perubahan iklim dan ketidakstabilan energi, maka pengawasan massa dapat menjadi alat kekuasaan hanya untuk mengabadikan dirinya, pada biaya publik dan masyarakat.

Fungsi utama dari pengawasan massa yang sering terlihat adalah mengetahui musuh sedemikian rupa, sehingga mereka dapat dimanipulasi menjadi terlihat kalah.

Masalahnya adalah, bahwa musuh bagi mereka bukan hanya teroris. Tapi itu termasuk Anda dan saya. Sampai hari ini, peranan perang informasi atau information warfare sebagai propaganda telah berjalan lancar, meskipun secara sistematis diabaikan oleh sebagian besar media seluruh dunia.

Di sini, Intelligence Insurge atau “aksi protes intelijen” menyingkapkan bagaimana kerjasama raksasa teknologi Pentagon Highlands Forum kooptasi raksasa teknologi seperti Google untuk mengejar pengawasan massal, telah memainkan peran kunci dalam upaya rahasia untuk memanipulasi media sebagai bagian dari perang informasi melawan pemerintah Amerika, rakyat Amerika, dan seluruh dunia: untuk membenarkan perang tanpa akhir, dan ekspansionisme militer tanpa henti.

Mesin perang (The war machine)

Pada bulan September 2013 silam, situs web dari Montery Institute for International Studies’ Cyber Security Initiative (MIIS CySec) memposting versi terakhir dari makalah tentang ‘cyber-deterrence’ oleh konsultan CIA Jeffrey Cooper, wakil presiden dari kontraktor pertahanan AS, SAIC dan anggota pendiri Forum Dataran Tinggi Pentagon atau “the Pentagon’s Highlands Forum”. Makalah ini disampaikan kepada Direktur NSA Jenderal Keith Alexander pada sesi Forum Dataran Tinggi berjudul ‘Cyber ​​Commons, Engagement and Deterrence’ pada tahun 2010.

Jenderal Keith Alexander (tengah), yang menjabat sebagai direktur NSA dan kepala Central Security Service dari tahun 2005 hingga 2014, serta komandan Komando Siber AS dari 2010 hingga 2014, di Forum Highlands 2010 pada sesi pencegahan siber (cyber-deterrence).

MIIS CySec secara resmi bermitra dengan Forum Dataran Tinggi Pentagon (Pentagon’s Highlands Forum) melalui MoU yang ditandatangani antara provost (pejabat tinggi atau rektor) dan presiden Forum, Richard O’Neill, sementara inisiatif itu sendiri didanai oleh George C. Lee: eksekutif Goldman Sachs yang memimpin valuasi bernilai milyaran dolar pada Facebook, Google, eBay, dan perusahaan teknologi lainnya.

Perjanjian “pembuka mata” Cooper itu tidak lagi tersedia di situs MIIS, tetapi versi terakhirnya tersedia melalui log dari konferensi keamanan nasional publik yang diselenggarakan oleh American Bar Association. Saat ini, Cooper adalah chief innovation officer di SAIC/Leidos, yang merupakan salah satu konsorsium perusahaan teknologi pertahanan termasuk Booz Allen Hamilton dan lainnya yang dikontrak untuk mengembangkan kemampuan pengawasan NSA.

Brifing dari The Highlands Forum untuk chief NSA ditugaskan dibawah kontrak oleh wakil menteri pertahanan untuk intelijen, dan berdasarkan konsep yang dikembangkan pada pertemuan Forum sebelumnya. Hal itu disampaikan kepada Jenderal Alexander pada “sesi tertutup” The Highlands Forumi yang dimoderatori oleh direktur MIIS Cysec, Dr. Itamara Lochard, di Pusat Studi Strategis dan Internasional atau Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC.

Jeffrey Cooper dari SAIC/Leidos (tengah), anggota pendiri Pentagon’s Highlands Forum (Forum Dataran Tinggi Pentagon), mendengarkan Phil Venables (kanan), mitra senior di Goldman Sachs, pada sesi tentang pencegahan cyber di CSIS pada Forum di tahun 2010.

Seperti peta jalan IO milik Rumsfeld, briefing NSA oleh Cooper menggambarkan “sistem informasi digital” (digital information systems) sebagai “sumber kerentanan” (great source of vulnerability) dan “alat dan senjata yang kuat” (powerful tools and weapons) untuk “keamanan nasional” (national security).

Dia menganjurkan perlunya intelijen siber AS untuk memaksimalkan “pengetahuan secara mendalam” (in-depth knowledge) dari musuh potensial dan aktual, sehingga mereka dapat mengidentifikasi “setiap titik potensial yang berpengaruh” (every potential leverage point) yang dapat dimanfaatkan untuk pencegahan atau pembalasan.

“Jaringan pencegahan” atau networked deterrence membutuhkan komunitas intelijen AS untuk mengembangkan “pemahaman mendalam dan pengetahuan khusus tentang jaringan tertentu yang terlibat dan pola hubungan mereka, termasuk jenis dan kekuatan obligasi”, serta menggunakan ilmu kognitif dan perilaku untuk membantu memprediksi pola.

Makalahnya dilanjutkan yang pada dasarnya menetapkan sebuah teori arsitektur untuk pemodelan data yang diperoleh dari pengawasan dan penambangan media sosial pada “adversaries” (lawan) yang potensial dan “counterparty” (para rekanan).

Setahun setelah pengarahan ini dengan chief NSA, Michele Weslander Quaid, delegasi Highlands Forum lainnya, bergabung dengan Google untuk menjadi chief technology officer, meninggalkan peran seniornya di Pentagon yang biasa menasihati wakil Menteri Pertahanan untuk intelijen.

Dua bulan sebelumnya, satuan tugas Dewan Ilmu Pertahanan atau the Defense Science Board (DSB) tentang Intelijen Pertahanan (Task Force on Defense Intelligence) membuat “Operasi Kontra Pembunuhan” atau Counterinsurgency (COIN), dan “Laporan Intelijen, Pengawasan dan Pengintaian” atau Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (IRS). Chief NSA, Michele Weslander Quaid, adalah salah satu pakar intelijen pemerintah AS yang menyarankan dan memberi penjelasan kepada DSB dalam menyiapkan laporan tersebut.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f1/DSB_Logo_gold_stars.gif/240px-DSB_Logo_gold_stars.gif

The Defense Science Board (DSB)

Dewan Ilmu Pertahanan atau The Defense Science Board (DSB) adalah komite ahli sipil yang ditunjuk untuk memberi nasihat kepada Departemen Pertahanan AS tentang hal-hal ilmiah dan teknis. Badan ini didirikan pada tahun 1956.

Ahli lain yang memberi penjelasan kepada Task Force atau Satuan Tugas adalah veteran Forum Highlands, Linton Wells. Laporan DSB sendiri telah ditugaskan oleh Bush yang diangkat James Clapper, kemudian wakil Menteri Pertahanan untuk intelijen – yang juga telah memerintahkan briefing di the Highlands Forum-nya Cooper, kepada Jenderal Alexander.

James Clapper pernah menjabat Direktur Intelijen Nasional (Director of National Intelligence) presiden Obama, di mana kapasitas dia boleh berbohong dibawah sumpah pada Kongres AS dengan mengklaim pada Maret 2013, bahwa NSA tidak mengumpulkan data sama sekali pada warga Amerika.

Rekam jejak Michele Quaid di seluruh komunitas intelijen militer AS adalah manyuruh agar agen-agen bertransisi kepada “menggunakan alat-alat web dan teknologi cloud” (cloud technology). Jejak ide-idenya jelas dalam bagian-bagian laporan kunci Satuan Tugas DSB (DSB Task Force), yang menggambarkan tujuannya untuk “mempengaruhi keputusan investasi” di Pentagon “dengan merekomendasikan kemampuan intelijen yang tepat untuk menilai pemberontakan, memahami populasi di lingkungan mereka, dan mendukung operasi COIN atau Counterinsurgency (Operasi Kontra Pembunuhan)”.

Laporan tersebut menyebutkan ada 24 negara di Asia Selatan dan Tenggara, Afrika Utara dan Barat, Timur Tengah dan Amerika Selatan, yang akan menimbulkan “kemungkinan tantangan COIN” bagi militer AS di tahun-tahun mendatang. Ini termasuk Pakistan, Meksiko, Yaman, Nigeria, Guatemala, Gaza/Tepi Barat, Mesir, Arab Saudi, Lebanon, diantara autocratic regimes atau “rezim otokratis” lainnya.

Laporan ini menyatakan bahwa, “krisis ekonomi, perubahan iklim, tekanan demografis, kelangkaan sumber daya, atau buruknya pemerintahan dapat menyebabkan negara-negara ini (atau yang lain) gagal atau menjadi sangat lemah sehingga menjadi sasaran bagi agresor/pemberontak”.

Google is Watching You

Dari sana, “infrastruktur informasi global”dan “media sosial”, dapat dengan cepat “memperkuat kecepatan, intensitas, dan momentum peristiwa” dengan implikasi regional.

“Daerah-daerah seperti itu bisa menjadi tempat perlindungan untuk memulai serangan terhadap tanah air AS, merekrut personel, membiayai, melatih, dan menyuplai operasi.”

Keharusan dalam konteks ini adalah untuk meningkatkan kapasitas militer untuk operasi “kiri”, sebelum perlunya komitmen pasukan bersenjata besar, untuk menghindari pemberontakan mereka, atau sebelumnya, saat masih dalam tahap baru.

Laporan ini kemudian menyimpulkan bahwa “Internet dan media sosial adalah sumber penting dari data analisis jaringan sosial dalam masyarakat yang tidak hanya melek huruf, tetapi juga terhubung ke Internet”. Hal ini membutuhkan “pemantauan blogosfer dan media sosial lainnya dibanyak budaya dan bahasa yang berbeda”, untuk mempersiapkan “operasi populasi-sentris” (population-centric operations).

Pentagon juga harus meningkatkan kapasitasnya untuk “pemodelan perilaku dan simulasi” untuk dapat “lebih memahami dan mengantisipasi tindakan populasi” berdasarkan “data fondasi pada populasi, jaringan manusia, geografi, dan karakteristik ekonomi dan sosial lainnya.”

Seperti operasi-sentris juga akan semakin diperlukan dalam “konflik sumber daya baru”, apakah berdasarkan krisis air, menipisnya hasil pertanian, tekanan lingkungan, atau penyewaan jasa, dari efek sumber daya mineral. Ini harus mencakup pemantauan demografi populasi sebagai bagian organik dari kerangka sumber daya alam.

Area lain sebagai penambahan adalah “pengawasan video dimana-mana, data medan beresolusi tinggi, kemampuan komputasi awan (cloud computing capability), perpaduan data untuk semua bentuk kecerdasan dalam kerangka spatio-temporal yang konsisten untuk mengatur dan mengindeks data, mengembangkan kerangka ilmu sosial yang dapat “mendukung pengkodean dan analisis spatio-temporal, “mendistribusikan teknologi otentikasi biometrik multi-bentuk (seperti sidik jari, scan retina dan sampel DNA), ke titik layanan dari proses administrasi yang paling dasar dalam rangka untuk mengikat identitas untuk semua transaksi individu.”

Google is Watching You

Selain itu, akademi harus dibawa untuk membantu Pentagon mengembangkan “antropologi, sosial-budaya, sejarah, geografis manusia, pendidikan, kesehatan masyarakat dan banyak jenis sosial lainnya, serta data dan informasi ilmu perilaku untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang populasi.”

Beberapa bulan setelah bergabung dengan Google, Quaid mewakili perusahaan pada Agustus 2011 lalu di Forum Pelanggan dan Industri pada Dinas Pertahanan Pentagon atau Pentagon’s Defense Information Systems Agency (DISA).

Forum akan memberikan “Layanan, Komando Tempur, Agen, pasukan koalisi”, sebuah kesempatan untuk secara langsung dapat terlibat dengan industri pada teknologi inovatif untuk mengaktifkan dan memastikan kemampuan dalam mendukung ‘pejuang perang’ atau Warfighters kami.”

Peserta dalam acara tersebut telah menjadi bagian integral dari upaya untuk menciptakan “lingkungan informasi bagi perusahaan pertahanan”, didefinisikan sebagai “platform terintegrasi yang mencakup jaringan, komputasi, lingkungan, layanan, jaminan informasi, dan kemampuan NetOps” yang memungkinkan para “pejuang perang” untuk terhubung, mengidentifikasi diri mereka, menemukan dan berbagi informasi, serta berkolaborasi di seluruh spektrum yang penuh operasi militer. Sebagian besar panelis forum adalah pejabat Departemen Pertahanan AS atau (Department of Defense (DoD), kecuali hanya empat panelis industri, termasuk Google-nya Quaid.

Pejabat DISA juga telah menghadiri Highlands Forum, seperti Paul Friedrichs, seorang direktur teknik dan chief engineer Kantor DISA dari kepala eksekutif jaminan informasi (Chief Information Assurance Executive).

Pengetahuan adalah kekuatan (Knowledge is Power)

Mengingat semua ini, tidak mengherankan bahwa pada tahun 2012, beberapa bulan setelah ketua Highlands Forum, Regina Dugan, meninggalkan DARPA untuk bergabung dengan Google sebagai eksekutif senior, kemudian kepala NSA Jenderal Keith Alexander mengirim email ke eksekutif pendiri Google, Sergey Brin untuk membahas pembagian informasi untuk keamanan nasional.

Dalam email tersebut, yang diperoleh berdasarkan Kebebasan Informasi (Freedom of Information) oleh jurnalis investigatif Jason Leopold, Jenderal Alexander menggambarkan Google sebagai “anggota kunci dari Pangkalan Industri Pertahanan atau Defense Industrial Base oleh militer AS” posisi Michele Quaid tampaknya berkonsolidasi.

Hubungan dekat Brin dengan mantan kepala NSA sekarang sangat masuk akal mengingat bahwa Brin telah berhubungan dengan perwakilan CIA dan NSA, yang sebagian mendanai dan mengawasi pembuatan mesin pencari Google, sejak pertengahan 1990-an.

Pada bulan Juli 2014, Quaid berbicara di panel Angkatan Darat AS tentang penciptaan “rapid acquisition cell” atau “akuisisi sel yang cepat” untuk memajukan “kemampuan siber” Angkatan Darat AS sebagai bagian dari inisiatif transformasi Force 2025.

Dia mengatakan kepada para pejabat Pentagon bahwa “banyak tujuan teknologi 2025 oleh Angkatan Darat AS dapat diwujudkan dengan teknologi komersial yang tersedia atau dalam pembangunan saat ini” menegaskan kembali bahwa “industri siap bermitra dengan Angkatan Darat dalam mendukung paradigma baru”.

Sekitar waktu yang sama, sebagian besar media menyerukan bahwa Google berusaha menjauhkan diri dari pendanaan Pentagon, tetapi dalam kenyataannya, Google telah beralih taktik untuk secara mandiri mengembangkan teknologi komersial yang akan memiliki aplikasi militer dari tujuan transformasi Pentagon.

Namun Quaid bukanlah satu-satunya titik dalam hubungan Google dengan komunitas intelijen militer AS. Satu tahun setelah Google membeli perangkat lunak pemetaan satelit Keyhole dari firma modal ventura CIA, In-Q-Tel, pada tahun 2004, direktur penilaian teknis In-Q-Tel, Rob Painter, yang memainkan peran kunci dalam investasi Keyhole In-Q-Tel di tempat pertama, pindah ke Google.

In-Q-Tel

Di In-Q-Tel, karya Painter berfokus untuk mengidentifikasi, meneliti, dan mengevaluasi “perusahaan teknologi baru yang diyakini menawarkan nilai luar biasa bagi CIA, the National Geospatial-Intelligence Agency (NGA), dan Badan Intelijen Pertahanan (the Defense Intelligence Agency)“, NGA telah mengkonfirmasi bahwa kecerdasannya yang diperoleh melalui Keyhole digunakan oleh NSA untuk mendukung operasi AS di Irak mulai tahun 2003 dan seterusnya.

Seorang mantan perwira intelijen operasi khusus Angkatan Darat AS, Painter, pada pekerjaan barunya di Google pada Juli 2005 adalah manajer federal dari apa yang akhirnya menjadi Keyhole, yaitu: Google Earth Enterprise. Pada tahun 2007, Painter telah menjadi ketua teknologi federal di Google.

Tahun itu, Painter mengatakan kepada Washington Post bahwa Google “pada tahap awal” telah menjual versi produk rahasianya ke pemerintah AS.

Google telah meningkatkan kekuatan penjualannya di kawasan Washington pada tahun lalu (maksudnya tahun 2006) untuk menyesuaikan produk teknologinya dengan kebutuhan militer, lembaga sipil dan komunitas intelijen,” tulis Washington Post.

Pentagon sudah menggunakan versi Google Earth yang dikembangkan dalam kemitraan dengan Lockheed Martin untuk “menampilkan informasi untuk militer di tanah Irak”, termasuk “memetakan tampilan wilayah utama negara” dan menguraikan peta “Sunni dan Syiah di Baghdad, serta pangkalan militer AS dan Irak di kota. Baik Lockheed maupun Google tidak akan mengatakan bagaimana agensi geospasial menggunakan data”. Google bertujuan untuk menjual ke pemerintah AS berupa “versi baru Google Earth” yang disempurnakan dan “mesin pencari yang dapat digunakan secara internal oleh agensi”.

Catatan Gedung Putih bocor pada 2010 menunjukkan bahwa eksekutif Google telah mengadakan beberapa pertemuan dengan para pejabat senior Dewan Keamanan Nasional (National Security Council) AS, Alan Davidson, direktur Google urusan pemerintahan, yang mengadakan setidaknya tiga pertemuan dengan para pejabat Dewan Keamanan Nasional pada tahun 2009, termasuk direktur senior Gedung Putih untuk urusan Rusia, Mike McFaul, dan penasihat Timur Tengah, Daniel Shapiro.

Hal ini juga muncul dari aplikasi paten Google bahwa perusahaan itu sengaja mengumpulkan ‘payload’ data dari jaringan wifi pribadi yang akan memungkinkan identifikasi “geolokasi.”

Google Earth Enterprise

Pada tahun yang sama, kita sekarang tahu, bahwa Google telah menandatangani perjanjian dengan NSA yang memberikan akses terbuka (open-ended access) informasi pribadi penggunanya kepada agen, serta perangkat keras dan perangkat lunaknya, atas nama keamanan cyber – sebuah perjanjian yang membuat Jenderal Alexander sibuk mereplikasi dengan ratusan CEO telekom di seluruh negeri AS.

Dengan demikian, bukan hanya Google yang merupakan kontributor utama dan fondasi kompleks industri militer AS: tapi semua itu adalah seluruh Internet, dan berbagai perusahaan sektor swasta, banyak dipelihara dan didanai di bawah mantel komunitas intelijen AS ( atau pemodal kuat yang tertanam di komunitas itu) – yang menopang internet dan infrastruktur telekomunikasi; termasuk juga segudang start-up yang menjual teknologi canggih ke firma ventura CIA, In-Q-Tel, dimana mereka kemudian dapat diadaptasi dan dimajukan untuk aplikasi di seluruh komunitas intelijen militer.

Pada akhirnya, aparat pengawasan global dan alat-alat rahasia yang digunakan oleh lembaga seperti NSA untuk mengelolanya, hampir seluruhnya dibuat oleh peneliti eksternal dan kontraktor swasta seperti Google, yang beroperasi di luar Pentagon.

Struktur ini, yang tercermin dalam cara kerja the Pentagon’s Highlands Forum (Forum Dataran Tinggi Pentagon), memungkinkan Pentagon untuk dengan cepat memanfaatkan inovasi teknologi yang tidak akan dilewatkan, sementara juga menjaga sektor swasta dengan perpanjangan tangan, setidaknya seolah-olah, untuk menghindari pertanyaan yang tidak nyaman tentang; sebenarnya untuk apa teknologi tersebut digunakan.

Tapi benarkah semua sudah menjadi jelas? Pentagon adalah tentang perang, entah terang-terangan atau terselubung. Dengan membantu membangun infrastruktur pengawasan teknologi untuk NSA, perusahaan seperti Google terlibat dalam industri militer terbaik yang kompleks: bunuh untuk dapat uang tunai.

Seperti yang dinyatakan oleh sifat pengintaian massal, targetnya bukan hanya teroris, tetapi dengan perluasan, ‘tersangka terorisme’ dan ‘teroris potensial’, akibatnya adalah bahwa seluruh populasi – terutama aktivis politik – harus ditargetkan oleh pengawasan intelijen AS untuk mengidentifikasi aktif dan ancaman dimasa depan, dan untuk waspada terhadap hipotetis populis  pemberontakan baik di dalam maupun di luar negeri AS. Analisis prediktif dan profil perilaku memainkan peranan yang penting di sini.

In-Q-Tel dan NSA.

Pengawasan massal dan penambangan data, sekarang juga memiliki tujuan operasional yang khas dalam membantu pelaksanaan operasi khusus yang mematikan, memilih target untuk daftar serangan pesawat drone tak berawak CIA melalui algoritme yang meragukan, misalnya, ketersediaan informasi geospasial dan lainnya untuk komandan kombatan di darat, udara dan laut, diantara banyak fungsi lainnya.

Satu pos media sosial di Twitter atau Facebook yang cukup untuk memicu, ditempatkan pada daftar pantauan terorisme rahasia, semata-mata karena firasat atau kecurigaan yang samar-samar; dan bahkan berpotensi “mendaratkan tersangka dalam daftar pembunuhan”.

Dorongan untuk pengawasan massa yang tidak pandang bulu dan komprehensif oleh kompleks industri militer, yang mencakup Pentagon, badan intelijen, kontraktor pertahanan, dan raksasa teknologi – yang seharusnya ramah seperti Google dan Facebook – oleh karena itu bukan tujuan itu sendiri, tetapi instrumen kekuasaan, yang tujuannya adalah pengabadian diri. Tetapi ada juga pembenaran yang membenarkan-diri untuk tujuan ini: ketika menjadi bagus untuk kompleks industri militer, yang hal itu juga seharusnya, bagus untuk orang lain.

‘Perang panjang’ (The ‘long war’)

Tidak ada ilustrasi yang lebih baik dari ideologi yang sangat patriotisme yang agresif berlebihan (chauvinis), narsistik, dan kekuatan ucapan selamat pada diri sendiri (self-congratulatory of power) di jantung kompleks industri militer adalah sebuah buku “The Pentagon’s New Map” oleh delegasi Highlands Forum, Dr. Thomas Barnett.

Barnett adalah asisten untuk masa depan yang strategis di the Pentagon’s Office of Force Transformation (Kantor Transformasi Angkatan Pentagon) dari tahun 2001 hingga 2003, dan telah direkomendasikan kepada presiden Forum, Richard O’Neill, oleh atasannya, Wakil Laksamana Arthur Cebrowski. Selain menjadi buku terlaris New York Times, buku Barnett telah dibaca secara luas di militer AS, oleh para pejabat pertahanan senior di Washington dan komandan tempur yang beroperasi di Timur Tengah.

Barnett pertama kali menghadiri Pentagon Highlands Forum pada tahun 1998, kemudian diundang untuk memberikan penjelasan tentang pekerjaannya di Forum pada 7 Desember 2004, yang dihadiri oleh pejabat senior Pentagon, ahli energi, pengusaha internet, dan wartawan. Barnett menerima ulasan cemerlang di Washington Post dari temannya di the Highlands Forum, David Ignatius seminggu kemudian, dan dukungan dari teman Forum lain, Thomas Friedman, yang keduanya membantu meningkatkan kredibilitas dan pembacanya secara besar-besaran.

Visi dari Barnett adalah neokonservatif sampai ke akar. Dia melihat dunia terbagi menjadi dua wilayah:

  • The Core, yang terdiri dari negara-negara maju yang bermain dengan aturan globalisasi ekonomi (AS, Kanada, Inggris, Eropa dan Jepang) bersama dengan negara-negara berkembang yang berkomitmen untuk menuju ke sana (Brazil, Rusia, India, China, dan beberapa lainnya);
  • The Gap, yang meliputi seluruh dunia, yaitu pada negara-negara dengan situasi berbeda seakan terjadi “kesenjangan / terputus” yang terdiri dari negara-negara tak stabil, berbahaya dan tanpa hukum yang didefinisikan secara fundamental dengan kata “Gap” atau “terputus” dari keajaiban globalisasi. Ini termasuk sebagian besar Timur Tengah dan Afrika, sebagian besar Amerika Selatan, serta sebagian besar Asia Tengah dan Eropa Timur. (lihat video: Tom Barnett” 2011 – Pentagon’s new map

Adalah tugas Amerika Serikat untuk “mengecilka n kesenjangan” tersebut, dengan menyebarkan “serangkaian aturan” budaya dan ekonomi globalisasi yang mencirikan The Core, dan dengan menegakkan keamanan di seluruh dunia untuk memungkinkan “pengaturan aturan” untuk menyebar.

Dua fungsi kekuasaan AS ini ditangkap oleh konsep-konsep Barnett tentang “Leviathan” dan “Administrator Sistem”. Yang pertama adalah tentang pengaturan aturan untuk memfasilitasi penyebaran pasar kapitalis, yang diatur melalui hukum militer dan sipil. Yang terakhir adalah tentang memproyeksikan kekuatan militer ke dalam The Gap dalam misi global terbuka untuk menegakkan keamanan dan terlibat dalam pembangunan bangsa. Bukan “membangun kembali”, dia ingin menekankan, tetapi membangun “negara baru.”

Bagi Barnett, dari pemerintahan Bush tahun 2002 memperkenalkan Patriot Act, menghancurkan habeas corpus (surat perintah yang mewajibkan seseorang yang ditangkap untuk dibawa ke hadapan pengadilan, terutama untuk menjamin pembebasan seseorang kecuali alasan hukum ditampilkan untuk penahanan mereka), dan Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy) di luar negeri, mencegah serangan / pra-pemberontakan sepihak (pre-emptive war), mewakili awal dari penulisan ulang yang diperlukan dari setting / aturan di The Core untuk memulai “misi mulia” Bush ini.

Ini adalah satu-satunya cara bagi AS untuk mencapai keamanannya, tulis Barnett, karena selama The Gap masih ada, hal itu akan selalu menjadi sumber kekerasan dan kekacauan tanpa hukum. Satu paragraf secara khusus meringkas visinya:

“Amerika sebagai polisi global menciptakan keamanan. Keamanan menciptakan aturan umum. Aturan menarik investasi asing. Investasi menciptakan infrastruktur. Infrastruktur menciptakan akses ke sumber daya alam. Sumber daya menciptakan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan menciptakan stabilitas. Stabilitas menciptakan pasar. Dan setelah Anda menjadi bagian dari pasar global yang stabil dan berkembang, maka Anda adalah bagian dari The Core. Misi selesai.”

Banyak dari apa yang diprediksi Barnett akan terjadi untuk dapat memenuhi visi ini, meskipun condong neokonservatifnya, dan masih dikejar di bawah pemerintah Obama. Dalam waktu dekat, Barnett telah memperkirakan, pasukan militer AS akan dikirim di luar Irak dan Afghanistan ke tempat-tempat seperti Uzbekistan, Djibouti, Azerbaijan, Afrika Barat Laut, Afrika Selatan dan Amerika Selatan.

Brifing Pentagon oleh Barnett disambut dengan antusiasme yang nyaris universal. Forum bahkan telah membeli salinan bukunya dan membagikannya kepada semua delegasi Forum, dan pada bulan Mei 2005, Barnett diundang kembali untuk berpartisipasi dalam keseluruhan Forum yang bertemakan seputar konsep “SysAdmin” -nya.

Dengan demikian The Highlands Forum memainkan peran utama dalam mendefinisikan seluruh konseptualisasi Pentagon tentang ‘perang melawan teror’ atau the war on terror. Irving Wladawsky-Berger, seorang wakil presiden IMB yang pensiun, yang memimpin Ketua Komite Penasihat Teknologi Informasi dari 1997 hingga 2001, menggambarkan pengalamannya dari salah satu rapat Forum di tahun 2007 dalam istilah-istilah:

“Kemudian ada the War on Terror (Perang Melawan Teror), yang mulai disebut DoD sebagai the Long War (Perang Panjang), sebuah istilah yang pertama kali saya dengar di Forum. Tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan keseluruhan konflik dimana kita sekarang menemukan diri kita sendiri. Ini adalah konflik yang benar-benar global… konflik yang kita hadapi sekarang jauh lebih terasa daripada pertempuran antar peradaban atau budaya, yang mencoba menghancurkan cara hidup kita dan memaksakan kehendak mereka sendiri. ”

Masalahnya adalah bahwa diluar kesepakatan yang “klik” dan dituanrumahi oleh Pentagon yang kuat ini, tidak semua orang setuju. “Saya tidak yakin bahwa “penyembuhan ala Barnett” akan lebih baik daripada penyakitnya,” tulis Dr. Karen Kwiatowski, mantan analis senior Pentagon pada seksi Timur Dekat (Near East) dan Asia Selatan, yang membocorkan tentang bagaimana departemennya dengan sengaja membuat informasi palsu (manufactured false information) menjelang Perang Irak. “Itu pasti akan jauh lebih mahal dalam kebebasan Amerika, demokrasi konstitusional dan darah, daripada nilai yang sesungguhnya.”

Namun, persamaan “penyusutan The Gap” dengan mempertahankan keamanan nasional dari The Core ibarat mengarah ke lereng yang licin. Ini berarti bahwa AS dilarang memainkan peran kepemimpinannya sebagai global cop atau “polisi global” maka celah atau The Gap akan melebar, dan The Core akan menyusut, dan seluruh tatanan global bisa terurai.

Dengan logika ini, maka AS tidak dapat memberikan dukungan kepada pemerintah atau opini publik untuk menolak legitimasi misinya. Jika itu terjadi, maka akan memungkinkan The Gap tumbuh di luar kendali, merusak The Core dan berpotensi menghancurkannya, bersama dengan pelindung The Core, yaitu Amerika Serikat.

Oleh karena itu, “mengecilkan celah” (shrinking The Gap) bukan hanya keharusan keamanan: ini adalah prioritas eksistensial, sehingga harus didukung dengan perang informasi untuk menunjukkan kepada dunia legitimasi terhadap keseluruhan proyek.

Google dan NSA.

Berdasarkan prinsip-prinsip informasi perang ala presiden Forum, Richard O’Neill, sebagaimana diartikulasikan dalam US Navy brief di tahun 1989, target perang informasi bukan hanya populasi di The Gap, tetapi populasi domestik di The Core, dan pemerintah mereka: termasuk pemerintah AS.

Brifing rahasia itu, yang menurut mantan pejabat intelijen senior AS, John Alexande,r dibaca oleh pimpinan puncak Pentagon, dan berpendapat bahwa perang informasi harus ditargetkan pada: musuh, untuk meyakinkan mereka tentang kerentanan mereka; mitra potensial di seluruh dunia, sehingga mereka menerima “the cause as just” atau “penyebabnya sebagai hanya”; dan akhirnya, penduduk sipil dan kepemimpinan politik, sehingga mereka percaya bahwa “biaya” dalam bentuk pertumpahan darah dan harta, sesuai dengan nilai dan harganya.

Karya Barnett disodorkan oleh Pentagon’s Highlands Forum karena sesuai dengan undang-undang, dalam memberikan ideologi “terasa nyaman” yang menarik untuk membuat US military-industrial complex, atau kompleks industri militer AS.

Namun ideologi neokonservatif, tentu saja hampir tidak berasal dari Barnett, dirinya hanyalah pemain yang relatif kecil, meskipun karyanya sangat berpengaruh di seluruh Pentagon. Pemikiran regresif dari pejabat senior yang terlibat dalam the Highlands Forum dapat terlihat dari jauh sebelum Tragedi 9/11, “yang dihentikan oleh aktor yang terkait dengan Forum” sebagai kekuatan yang memungkinkan kemampuan yang kuat, yang melegitimasi arah kebijakan luar negeri dan intelijen AS yang semakin agresif.

Yoda dan Soviet

“Ideologi” yang diwakili oleh the Highlands Forum sudah di dapat jauh sebelum pendiriannya pada tahun 1994, pada saat Marshall the Office of Net Assessment  (ONA), Andrew ‘Yoda’, adalah sebagai “raja belalang” pada kegiatan Pentagon untuk perencanaan di masa depan.

Andrew ‘Yoda’ Marshall, kepala Kantor Penilaian Bersih Pentagon atau Pentagon’s Office of Net Assessment (ONA) dan ketua bersama Highlands Forum (Forum Dataran Tinggi), difoto pada awal “Highlands event” atau pertemuan Dataran Tinggi pada tahun 1996 di Santa Fe Institute, Marshall pensiun pada Januari 2015.

Sejak 1973, Andrew Marshall yang dijuluki ‘Yoda”‘ itu telah memimpin salah satu lembaga Pentagon yang paling kuat, the Office of Net Assessment  (ONA), sebuah ‘think tank‘ internal menteri pertahanan AS yang melakukan penelitian yang sangat rahasia tentang perencanaan masa depan untuk kebijakan pertahanan di seluruh militer AS dan komunitas intelijen.

Sebuah mitos yang dipegang luas pernah diumumkan oleh wartawan keamanan nasional selama bertahun-tahun adalah bahwa reputasi ONA sebagai “mesin oracle” para anggota Pentagon pandangannya menjadi menurun secara analitis akibat dari sutradara yang diketuai sang Marshall ‘Yoda’.

Seharusnya, dia adalah salah-satu dari sedikit orang yang mengakui bahwa ancaman Soviet telah dilebih-lebihkan oleh komunitas intelijen AS. Dia, dalam hal ini, menjadi satu-satunya, tetapi suara tanpa henti di dalam Pentagon, meminta para pembuat kebijakan untuk mengevaluasi kembali proyeksi mereka dari kekuatan militer USSR (Soviet).

Kecuali ceritanya tidak benar. ONA bukanlah tentang analisis ancaman sederhana, tetapi tentang ancaman-ancaman paranoid yang membenarkan ekspansionisme militer. Kebijakan Luar Negeri Jeffrey Lewis menunjukkan bahwa jauh dari menawarkan suara adalah alasan yang menyerukan penilaian yang lebih seimbang dari kemampuan militer Soviet, Marshall mencoba mengecilkan temuan ONA yang menolak hype di sekitar ancaman Soviet dimasa yang akan datang.

Setelah menugaskan sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa AS telah melebih-lebihkan agresivitas Soviet, Marshall mengedarkan catatan penutup yang menyatakan dirinya “tidak terbujuk” oleh temuan-temuannya.

Lewis memetakan bagaimana pola pikir proyeksi ancaman Marshall diperluas untuk menugaskan penelitian absurd yang mendukung narasi neokon pokok tentang hubungan (Saddam-al-Qaeda) yang tidak ada, dan bahkan laporan terkenal oleh konsultan RAND Corp. yang menyerukan untuk menggambar kembali peta Timur Tengah, yang disodorkan kepada Dewan Kebijakan Pertahanan Pentagon (Pentagon’s Defense Policy Board) atas undangan Richard Perle pada tahun 2002.

Jurnalis Investigasi Jason Vest juga menemukan dari sumber Pentagon bahwa selama Perang Dingin, Marshall telah lama menghantam ancaman Soviet, dan memainkan peran kunci dalam memberikan sebuah kelompok penekan neokonservatif, Komite Bahaya Saat Ini atau the Committee on the Present Danger, mengakses ke data rahasia intelijen CIA (classified CIA intelligence data) untuk kembali menulis “National Intelligence Estimate on Soviet Military Intentions” (Perkiraan Inteligen Nasional pada Intensi Militer Soviet).

Ini adalah sebagai pendahulu untuk manipulasi intelijen setelah Tragedi 9/11 untuk membenarkan invasi dan pendudukan Irak. Mantan staf ONA menegaskan bahwa Marshall menjadi ganas tentang adanya ancaman Soviet yang akan datang sampai masa terakhir.

Mantan ahli sovietologi di CIA, Melvin Goodman, misalnya, ingat bahwa Marshall juga berperan dalam mendorong para mujahidin Afghanistan diberi rudal Stinger, sebuah langkah yang membuat perang semakin brutal, mendorong Rusia untuk menggunakan taktik “bumi hangus”.

Enron Corporation, Taliban dan Irak

Periode pasca Perang Dingin memperlihatkan bahwa Pentagon membentuk Highlands Forum pada 1994 di bawah sayap mantan menteri pertahanan William Perry – mantan direktur CIA dan pendukung awal ide-ide neocon seperti perang preventif.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3f/Logo_de_Enron.svg/243px-Logo_de_Enron.svg.png

Enron Corporation

Anehnya, peran meragukan Forum sebagai jembatan pemerintah-industri dapat secara jelas dilihat dalam kaitannya dengan godaan oleh Enron Corporation dengan pemerintah AS.

Sebagai tambahan, Enron Corporation adalah sebuah perusahaan energi Amerika yang mempekerjakan sekitar 21.000 orang pegawai dan merupakan salah satu perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang listrik, gas alam, bubur kertas dan kertas, dan komunikasi. Enron kemudian bangkrut pada akhir 2001.

Sama seperti Forum yang telah menyusun kebijakan mengintensifkan Pentagon pada pengawasan massa, hal itu secara bersamaan memberi umpan langsung ke pemikiran strategis yang memuncak dalam perang di Afghanistan dan Irak.

Kemudian pada 7 November 2000, George W. Bush ‘memenangkan‘ pemilihan presiden AS. Enron dan karyawannya telah memberikan lebih dari US$ 1 juta untuk kampanye Bush secara total. Itu termasuk memberikan kontribusi US$ 10.500 kepada komite penghitungan ulang Bush di Florida, dan tambahan US$ 300.000 untuk perayaan perdana sesudahnya.

Enron juga menyediakan jet perusahaan untuk mengantar para pengacara partai Republik di sekitar Florida dan Washington dan melobi atas nama Bush, untuk penghitungan ulang bulan Desember. Dokumen pemilihan federal kemudian menunjukkan bahwa sejak tahun 1989, Enron telah membuat total US$ 5,8 juta dalam donasi kampanye, yang mana 73% persen untuk Partai Republik dan 27% persen untuk Demokrat – dengan sebanyak 15 pejabat senior pemerintahan Bush memiliki saham di Enron, termasuk menteri pertahanan Donald Rumsfeld, penasihat senior Karl Rove, dan sekretaris militer Thomas White.

Namun hanya sehari sebelum pemilihan kontroversial itu, Presiden pendiri Pentagon Highlands Forum, Richard O’Neill menulis surat kepada CEO Enron, Kenneth Lay, mengundangnya untuk memberikan presentasi di Forum tentang modernisasi Pentagon dan Angkatan Darat. Email dari O’Neill ke Lay dirilis sebagai bagian dari Enron Corpus, email diperoleh oleh Federal Energy Regulatory Commission, tetapi tetap tidak diketahui sampai sekarang.

Email dimulai dengan kalimat “On behalf of Assistant Secretary of Defense (C3I) and DoD CIO Arthur Money” (Atas nama Asisten Menteri Pertahanan (C3I) dan DoD CIO Arthur Money),

Dan mengundang Lay: “to participate in the Secretary of Defense’s Highlands Forum” (untuk berpartisipasi dalam the Highlands Forum dari Sekretaris Pertahanan), yang digambarkan O’Neill sebagai “kelompok lintas disiplin terkemuka cendekiawan, peneliti, CEO / CIO / CTO dari industri, dan para pemimpin dari media, seni dan profesi, yang telah bertemu selama enam tahun terakhir untuk memeriksa bidang-bidang yang menarik bagi kita semua.

Presiden Highlands Forum, Richard O’Neill.

Dia menambahkan bahwa sesi-sesi Forum meliputi “seniors from the White House, Defense, and other agencies of government (we limit government participation to about 25%).” (Para senior dari Gedung Putih, Departemen Pertahanan, dan lembaga pemerintah lainnya (kami membatasi partisipasi pemerintah hingga sekitar 25%)).”

Di sini, O’Neill mengungkapkan bahwa Pentagon Highlands Forum, pada dasarnya, adalah tentang menjelajahi (exploring) bukan hanya sebagai “tujuan pemerintah”, tetapi kepentingan para pemimpin industri yang berpartisipasi seperti Enron.

Di Pentagon, dimana O’Neill melanjutkan karirnya, ingin agar Lay memberi umpan ke “pencarian informasi/strategi transformasi untuk Departemen Pertahanan atau Department of Defense (DoD) dan pemerintah pada umumnya” terutama dari perspektif bisnis yaitu transformasi, produktivitas, dan keunggulan kompetitif.

Dia memberikan pujian yang tinggi terhadap Enron sebagai “contoh transformasi yang luar biasa dalam industri yang sangat tegar, industri yang diatur, yang telah menciptakan model baru dan pasar yang baru. “

O’Neill menjelaskan bahwa Pentagon ingin Enron memainkan peran penting dalam masa depan Departemen Pertahanan, bukan hanya dalam penciptaan “strategi operasional yang memiliki keunggulan informasi” tetapi juga dalam kaitannya dengan “perusahaan bisnis global besar” DoD yang dapat mendapat manfaat dari banyak praktik terbaik dan ide dari industri. ”

ENRON sangat menarik bagi kami. Apa yang kami pelajari dari Anda dapat sangat membantu Departemen Pertahanan karena ia bekerja untuk membangun strategi baru. Saya harap Anda memiliki waktu pada jadwal sibuk Anda untuk bergabung dengan kami di the Highlands Forum seperti yang mana Anda dapat menghadirinya dan berbicara dengan grup”, tegas O’Neill.

Pertemuan the Highlands Forum tersebut dihadiri oleh pejabat senior Gedung Putih dan intelijen AS, termasuk wakil direktur CIA Joan A. Dempsey, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten Menteri Pertahanan untuk intelijen, dan pada tahun 2003 ditunjuk oleh Bush sebagai direktur eksekutif dari Dewan Penasehat Presiden untuk Intelijen Asing (the President’s Foreign Intelligence Advisory Board), di mana ia memuji kapasitas berbagi informasi ekstensif oleh NSA dan NGA setelah Tragedi 9/11.

Joan A. Dempsey kemudian menjadi wakil presiden eksekutif di Booz Allen Hamilton, kontraktor besar Pentagon di Irak dan Afghanistan, yang antara lain, menciptakan Database Otoritas Koalisi Sementara (the Coalition Provisional Authority’s database) untuk melacak apa yang kita ketahui sekarang, adalah proyek rekonstruksi yang sangat korup di Irak.

Hubungan Enron dengan Pentagon sudah dalam ayunan seirama sejak tahun sebelumnya. Thomas White, yang kemudian menjadi wakil ketua layanan energi di Enron, telah menggunakan koneksi militernya yang luas untuk mengamankan kesepakatan prototipe di Fort Hamilton untuk memprivatisasi pasokan listrik di pangkalan militer. Enron adalah satu-satunya penawar untuk kesepakatan itu.

Tahun berikutnya, setelah CEO Enron diundang ke the Highlands Forum, Thomas White memberikan pidato pertamanya pada bulan Juni hanya “dua minggu setelah dia menjadi sekretaris Angkatan Darat”, dimana dia “bersumpah untuk mempercepat pemberian kontrak seperti itu”, bersama dengan itu lebih lanjut melakukan “privatisasi cepat” dari layanan energi untuk Angkatan Darat. “Secara potensial, Enron dapat mengambil manfaat dari percepatan dalam memberikan kontrak, seperti otang lain biasanya yang dapat mencari bisnis,” kata USA Today.

Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan AS 2001-2006) dan George Bush Jr

Bulan itu, atas otoritas sekretaris pertahanan Donald Rumsfeld, yang memiliki saham signifikan di Enron, Pentagon-nya Bush mengundang eksekutif Enron lainnya dan salah satu penasihat keuangan eksternal senior Enron untuk menghadiri sesi rahasia Forum Tinggi.

Sebuah email dari Richard O’Neill tertanggal 22 Juni diperoleh melalui Enron Corpus, menunjukkan bahwa Steven Kean, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden eksekutif dan kepala staf Enron, akan memberikan presentasi lain di Highlands pada hari Senin tanggal 25.

“Kami mendekati Secretary of Defense-sponsored Highlands Forum (Sekretaris Pertahanan yang disponsori Forum Highlands) dan sangat menantikan partisipasi Anda,” tulis O’Neill, menjanjikan Kean bahwa ia akan menjadi ‘pusat diskusi’. “Pengalaman Enron sangat penting bagi kami karena kami secara serius mempertimbangkan perubahan transformatif di Departemen Pertahanan”, tambah O’Neil.

Steven Kean sekarang adalah presiden, COO dan CEO dari Kinder Morgan, salah satu perusahaan energi terbesar di Amerika Utara, dan pendukung utama proyek pipa Keystone XL yang kontroversial.

Karena menghadiri sesi Highlands Forum yang sama dengan Kean adalah Richard Foster, maka mitra senior di konsultan keuangan adalah McKinsey. “Saya telah memberikan salinan buku baru Dick Foster, “Creative Destruction”, kepada Wakil Sekretaris Pertahanan serta Asisten Sekretaris,” kata O’Neill dalam emailnya. Dan kasus Enron yang dia uraikan membuat diskusi menjadi penting. “Kami bermaksud membagikan salinan kepada para peserta di Forum”, tambah O’Neill dalam emailnya.0

Perusahaan Foster, McKinsey & Company telah memberikan nasihat keuangan strategis kepada Enron sejak pertengahan 1980-an. Joe Skilling, yang pada Februari 2001 menjadi CEO Enron ketika Kenneth Lay pindah ke kursi kepemimpinan, telah menjadi kepala bisnis konsultan energi McKinsey sebelum bergabung dengan Enron pada tahun 1990.

Richard Foster & McKinsey Co

McKinsey dan kemudian mitranya Richard Foster, sangat erat terlibat dalam menyusun strategi manajemen keuangan inti Enron yang bertanggung jawab untuk tumbuh cepatnya perusahaan, tetapi penipuanlah, yang justru tumbuh pada perusahaan.

Ketika McKinsey selalu menyangkal untuk menyadari bahwa “akuntansi cerdik” yang menyebabkan kematian Enron, namun dokumen perusahaan internal menunjukkan bahwa Foster telah menghadiri pertemuan komite keuangan Enron sebulan sebelum sesi the Highlands Forum untuk membahas “kebutuhan untuk kemitraan swasta dari luar untuk membantu mendorong pertumbuhan yang eksplosif pada perusahaan” – inilah kemitraan investasi yang sangat bertanggung jawab atas runtuhnya Enron.

Dokumen McKinsey menunjukkan bahwa perusahaan “sepenuhnya menyadari penggunaan dana off-balance-sheet Enron yang ekstensif”. Sebagai editor ekonomi The Independent, Ben Chu, menyatakan, “McKinsey sepenuhnya mendukung metode akuntansi yang meragukan,” yang menyebabkan inflasi pada penilaian pasar Enron dan “yang menyebabkan perusahaan meletus pada tahun 2001, alias bangkrut.”

Memang, Foster sendiri secara pribadi menghadiri enam rapat dewan Enron dari Oktober 2000 hingga Oktober 2001. Periode itu kira-kira bertepatan dengan pertumbuhan pengaruh Enron terhadap kebijakan energi pemerintahan Bush, dan perencanaan Pentagon untuk Afghanistan dan Irak.

Tetapi Foster juga merupakan peserta reguler di Pentagon Highlands Forum – profil LinkedIn-nya, menggambarkan dia sebagai anggota Forum sejak tahun 2000, tahun dimana dia meningkatkan keterikatannya dengan Enron. Dia juga menyampaikan presentasi perdana di Island Forum (Forum Pulau) di Singapura pada tahun 2002.

Rencana pemerintah AS tahun 2001 menginvasi Afghanistan dan Irak, dimotivasi oleh kendali atas minyak dunia.

Keterlibatan Enron di Cheney Energy Task Force (Gugus Tugas Energi Cheney) tampaknya terkait dengan rencana pemerintah George Bush 2001 untuk invasi ke Afghanistan dan Irak, yang dimotivasi oleh kendali atas minyak.

Seperti dicatat oleh Prof. Richard Falk, mantan anggota dewan Human Rights Watch dan mantan penyidik ​​PBB, Kenneth Lay Enron “adalah konsultan rahasia utama yang diandalkan oleh Wakil Presiden Dick Cheney selama proses yang sangat rahasia dalam menyusun laporan yang menguraikan kebijakan energi nasional, secara luas dianggap sebagai elemen kunci dalam pendekatan AS terhadap kebijakan luar negeri secara umum,  dan pada dunia Arab pada khususnya.”

Pertemuan rahasia yang intim antara eksekutif senior Enron dan pejabat pemerintah AS tingkat tinggi melalui Pentagon Highlands Forum, dari November 2000 hingga Juni 2001, memainkan peran sentral dalam membangun dan memperkuat hubungan yang semakin simbiotik antara perencanaan Enron dan Pentagon. Peran Forum adalah, seperti yang selalu dikatakan O’Neill, berfungsi sebagai “laboratorium ide” untuk mengeksplorasi kepentingan bersama oleh industri dan pemerintah.

Perencanaan perang Enron dan Pentagon (Enron and Pentagon war planning)

Pada bulan Februari 2001, ketika para eksekutif Enron termasuk Kenneth Lay mulai berpartisipasi bersama-sama dalam Cheney Energy Task Force, sebuah dokumen rahasia Dewan Keamanan Nasional atau National Security Council (NSC) menginstruksikan staf NSC untuk bekerja dengan satuan tugas dalam “menggabungkan” isu-isu yang sebelumnya terpisah, yaitu: “kebijakan operasional terhadap negara-negara nakal” dan “tindakan terkait penemuan ladang minyak dan gas baru, dan yang sudah ada ladang minyaknya.”

Menurut sekretaris perbendaharaan presiden Bush, Paul O’Neill, sebagaimana dikutip oleh Ron Suskind di “The Price of Loyalty” (2004), pejabat kabinet membahas invasi ke Irak dalam pertemuan NSC pertama mereka, dan bahkan telah menyiapkan peta untuk menandai ladang minyak Irak pasca-perang. Pada waktu itu pesan dari Presiden Bush adalah bahwa para pejabat harus “find a way to do this” atau “temukan cara untuk melakukan ini.”

National Security Council

rDokumen Cheney Energy Task Force yang diperoleh oleh Judicial Watch dibawah Freedom of Information mengungkapkan bahwa pada bulan Maret, dengan masukan industri yang luas, satuan tugas telah menyiapkan peta negara Teluk dan khususnya ladang minyak Irak, saluran pipa, dan kilang, bersama dengan daftar berjudul ‘Foreign Suitors for Iraqi Oilfield Contracts.’ (Pelamar Asing untuk Kontrak Ladang Minyak Irak).

Pada bulan April, laporan “think-tank” yaitu istilah sebuah badan ahli yang memberikan saran dan ide tentang masalah politik atau ekonomi tertentu, ditugaskan oleh Cheney, diawasi oleh mantan sekretaris negara James Baker, dan disatukan oleh Komite Industri Energi dan ahli keamanan nasional, mendesak pemerintah AS “untuk melakukan tinjauan kebijakan segera terhadap Irak termasuk militer, energi, ekonomi dan politik/penilaian diplomatik, “untuk menangani” pengaruh destabilisasi Irak “pada aliran minyak ke pasar global. Laporan itu termasuk rekomendasi dari delegasi Highlands Forum dan ketua Enron, Kenneth Lay.

Tapi Cheney’s Energy Task Force juga sibuk mendorong rencana ke depan untuk Afghanistan yang melibatkan Enron, yang telah bergerak dibawah Clinton. Melalui akhir 1990-an, Enron bekerja dengan perusahaan energi AS yang berbasis di California, Unocal, untuk mengembangkan saluran pipa minyak dan gas yang akan menyadap cadangan di cekungan Kaspia Basin, dan mengangkut minyak dan gas melewati Afghanistan, memasok Pakistan, India, dan pasar potensial lainnya.

Upaya itu mendapat restu resmi dari pemerintahan Clinton, dan kemudian pemerintahan Bush, mengadakan beberapa pertemuan dengan perwakilan Taliban untuk menegosiasikan syarat-syarat untuk kesepakatan pemasangan pipa sepanjang tahun 2001.

Taliban, yang menaklukan Afghanistan, telah menerima bantuan rahasia dari AS dibawah Clinton, menerima pengakuan resmi sebagai pemerintah Afghanistan yang syah, sebagai imbalan untuk mengizinkan pemasangan pipa-pipa minyaknya.

Enron membayar US$ 400 juta untuk studi kelayakan pada saluran pipa, yang sebagian besar dana itu disedot untuk sogokan kepada para pemimpin Taliban, dan bahkan menyewa agen CIA untuk membantu memfasilitasi mereka.

Kemudian pada musim panas 2001, sementara pejabat Enron sedang berhubungan dengan pejabat senior Pentagon di Highlands Forum, the White House’s National Security Council (Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih) menjalankan ‘kelompok kerja’ lintas departemen yang dipimpin oleh Rumsfeld dan Cheney untuk membantu menyelesaikan proyek Enron yang sedang berlangsung di India, yaitu pembangkit listrik senilai $ 3 miliar di Dabhol.

Pembangkit listrik itu dijadwalkan untuk menerima energinya dari pipa Trans-Afghanistan (Trans-Afghan pipeline). NSC’s ‘Dabhol Working Group,’ dipimpin oleh penasihat keamanan nasional presiden Bush Condoleeza Rice, menghasilkan berbagai taktik untuk meningkatkan tekanan pemerintah AS pada India untuk menyelesaikan tekanan pembangkit listrik Dabhol yang terus berlanjut hingga awal November. Proyek Dabhol, dan jalur pipa Trans-Afghan, sejauh ini merupakan kesepakatan luar negeri Enron yang paling menguntungkan.

Sepanjang tahun 2001, pejabat Enron, termasuk Ken Lay, berpartisipasi dalam Cheney’s Energy Task Force, bersama dengan perwakilan di seluruh industri energi AS. Mulai dari Februari, tak lama setelah pemerintahan Bush mengambil alih kantor, Enron terlibat dalam sekitar setengah lusin rapat mengenai Energy Task Force ini.

Setelah salah satu hasil dari pertemuan rahasia ini, draft proposal energi diubah untuk memasukkan ketentuan baru yang mengusulkan agar meningkatkan produksi minyak dan gas alam secara dramatis di India dengan cara yang hanya berlaku untuk pembangkit listrik Enron ke Dabhol. Dengan kata lain, memastikan aliran gas dengan harga murah ke India melalui pipa Trans-Afghan, kini menjadi masalah keamanan nasional nasional AS.

Satu atau dua bulan setelahnya, pemerintahan Bush memberi Taliban US$ 43 juta dibenarkan, terhadap produksi opium, meskipun sanksi PBB oleh tindakan kerasnya diberlakukan untuk mencegah bantuan kepada kelompok itu, karena tidak menyerahkan Osama bin Laden.

Kemudian pada Juni 2001, di bulan yang sama ketika wakil presiden eksekutif Enron, Steve Kean menghadiri the Pentagon Highlands Forum, harapan perusahaan itu untuk proyek pembangkit Dabhol jadi hancur, ketika pipa Trans-Afghanistan gagal terwujud, dan sebagai konsekuensinya, pembangunan pembangkit listrik Dabhol akhirnya diberhentikan.

Kegagalan proyek senilai US$ 3 miliar berkontribusi pada kebangkrutan Enron pada bulan Desember 2001. Di bulan itu, para pejabat Enron bertemu dengan sekretaris perdagangan Bush, Donald Evans, tentang pembangkit itu, dan Cheney melobi partai oposisi utama India tentang proyek Dhabol. Ken Lay juga dilaporkan telah menghubungi pemerintahan Bush sekitar waktu ini untuk memberitahu para pejabat tentang masalah keuangan perusahaan.

Grafik kebangkrutan Enron pada Desember 2001

Pada bulan Agustus, terjadi kekecewaan untuk melakukan kesepakatan, para pejabat AS mengancam perwakilan Taliban dengan perang jika mereka menolak untuk menerima istilah Amerika, yaitu: untuk menghentikan pertempuran dan bergabung dalam aliansi federal dengan oposisi Aliansi Utara; dan menyerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gas lokal.

Pada tanggal 15 Agustus, pelobi Enron, Pat Shortridge, mengatakan kepada penasihat ekonomi Gedung Putih, Robert McNally, bahwa Enron sedang menuju krisis keuangan yang dapat melumpuhkan pasar energi negara.

Pemerintahan Bush harus mengantisipasi penolakan Taliban terhadap kesepakatan itu, karena mereka telah merencanakan perang terhadap Afghanistan mulai awal Juli. Menurut menteri luar negeri Pakistan, Niaz Naik, yang telah berpartisipasi dalam perundingan AS-Taliban, para pejabat AS mengatakan kepadanya bahwa mereka berencana untuk menyerang Afghanistan pada pertengahan Oktober 2001.

Tidak lama setelah perang dimulai, duta besar Bush untuk Pakistan, Wendy Chamberlain, menyebut Menteri Perminyakan Pakistan, Usman Aminuddin, untuk membahas “proyek pipa gas Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan yang diusulkan,” menurut Frontier Post, sebuah spreadsheet Pakistan berbahasa Inggris. Mereka dilaporkan setuju bahwa “proyek akan membuka jalan baru kerjasama regional multi-dimensi, terutama mengingat perkembangan geo-politik baru-baru ini di kawasan ini.”

Dua hari sebelum Tragedi 9/11, Condoleeza Rice menerima rancangan resmi “National Security Presidential Directive” (Peraturan Presiden tentang Keamanan Nasional), bahwa Bush diharapkan segera menandatanganinya. Arahan rancangan itu berisi rencana komprehensif untuk meluncurkan perang global terhadap al-Qaeda, termasuk invasi “yang akan datang” ke Afghanistan untuk menggulingkan Taliban.

Perintah itu disetujui oleh tingkat tertinggi Gedung Putih dan pejabat Dewan Keamanan Nasional (National Security Council /NSC), termasuk tentu saja Rice dan Rumsfeld. Para pejabat NSC yang sama secara bersamaan menjalankan  Dhabol Working Group (Kelompok Kerja Dhabol) dan bersepakat mengamankan pembangkit listrik India untuk proyek pipa Trans-Afghan oleh Enron. Keesokan harinya, atau satu hari sebelum Tragedi 9/11, pemerintahan Bush secara resmi menyetujui rencana untuk menyerang Taliban.

Semua latar belakang Pentagon Highlands Forum terkait dengan kepentingan yang terlibat dalam semua ini, hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak unik lagi bagi pemerintahan Bush, itulah sebabnya, ketika Obama mempersiapkan untuk menarik pasukan AS keluar dari Afghanistan, ia menegaskan kembali dukungan pemerintahnya untuk “Trans-Afghan pipeline project”  (Proyek pipa Trans-Afghanistan), dan keinginannya agar perusahaan AS membangunnya.

Pembenaran Propaganda Pentagon (The Pentagon’s propaganda fixer)

Selama periode ini, perang informasi memainkan peran sentral dalam menyulut dukungan publik untuk perang, dan the Highlands Forum memimpin jalannya.

Pada bulan Desember 2000, tepat dibawah satu tahun sebelum Tragedi 9/11 dan segera setelah kemenangan pemilihan George W. Bush, “anggota kunci” Forum itu berpartisipasi dalam sebuah acara di Carnegie Endowment for International Peace untuk mengeksplorasi dampak revolusi informasi, globalisasi, dan akhir Perang Dingin pada proses pembuatan kebijakan luar negeri AS. Daripada mengusulkan reformasi tambahan, pertemuan itu adalah untuk peserta yang mau “membangun dari awal dengan model baru yang dioptimalkan untuk sifat spesifik dari lingkungan global baru. “

Diantara isu-isu yang dipicu dalam pertemuan itu adalah Global Control Revolution (Revolusi Kontrol Global) yaitu: “Pendistribusian” alami dari revolusi informasi telah mengubah “dinamika kunci politik dunia dengan menantang keutamaan negara dan hubungan antar negara”.

Ini adalah “menciptakan tantangan baru untuk keamanan nasional, mengurangi kemampuan negara-negara terkemuka untuk mengendalikan perdebatan kebijakan global, menantang keampuhan kebijakan ekonomi nasional, dan lainnya.”

Dengan kata lain, bagaimana Pentagon dapat menemukan cara untuk memanfaatkan revolusi informasi untuk “mengendalikan perdebatan kebijakan global,” terutama pada “kebijakan ekonomi nasional”?

Pertemuan itu diselenggarakan bersama oleh Jamie Metzl, yang pada waktu itu bertugas di Dewan Keamanan Nasional Bill Clinton, dimana ia baru saja memimpin penyusunan “Clinton’s Presidential Decision Directive 68″ di International Public Information (IPI), sebuah rencana baru multi-agen untuk mengkordinatkan informasi publik diseminasi ke luar negeri. Selanjutnya melalui Directive 68 (Keputusan-68) tentang IPI, Metzl mengkoordinasikan IPI di Departemen Luar Negeri AS.

Tahun sebelumnya, seorang pejabat senior Clinton mengungkapkan kepada Washington Times bahwa IPI yang dikordinasikan Metz benar-benar ditujukan untuk “memutar publik Amerika”, dan telah muncul karena kekhawatiran bahwa publik AS telah menolak untuk mendukung kebijakan luar negeri Presiden Clinton.

International Public Information (IPI) akan menanamkan berita yang menguntungkan bagi kepentingan AS melalui TV, pers, radio dan media lain yang berbasis di luar negeri, dengan harapan itu akan diambil oleh media Amerika.

Dalihnya adalah bahwa “liputan berita di rumah telah terdistorsi  dan mereka harus melawannya dengan segala cara dengan menggunakan sumber daya yang bertujuan untuk memutar berita.” Metzl menjalankan operasi propaganda luar negeri IPI untuk Irak dan Kosovo.

Peserta lain dari pertemuan Carnegie pada bulan Desember 2000, termasuk dua anggota pendiri the Highlands Forum, Richard O’Neill dan Jeff Cooper dari SAIC – bersama dengan Paul Wolfowitz, seorang misolog (acolyte) dari Andrew Marshall lainnya yang akan bergabung dengan pemerintahan Bush yang akan datang, sebagai wakil sekretaris pertahanan Rumsfelds di DoD.

Juga hadir adalah sosok yang segera menjadi terkenal dalam propaganda di seputar agenda Afghanistan dan Perang Irak 2003: John W. Rendon, Jr., pendiri presiden The Rendon Group (TRG) dan anggota lama Pentagon Highlands Forum.

John Rendon (kanan) di Highlands Forum (Forum Dataran Tinggi), didampingi oleh pembawa acara BBC, Nik Gowing (kiri) dan Jeff Jonas, chief engineer IBM Entity Analytics (tengah)

The Rendon Group (TRG) adalah perusahaan komunikasi terkenal yang telah menjadi kontraktor pemerintah AS selama beberapa dekade. Rendon memainkan peran penting dalam menjalankan kampanye propaganda Departemen Luar Negeri di Irak dan Kosovo dibawah Clinton dan Metzl, termasuk menerima hibah Pentagon untuk menjalankan situs web berita, Pertukaran Informasi Balkan (the Balkans Information Exchange), dan kontrak Badan Pembangunan Internasional AS atau US Agency for International Development (USAID) untuk mempromosikan “privatisasi.”

Peran utama Rendon dalam membantu pemerintahan Bush memunculkan ancaman senjata pemusnah massal atau weapons of mass destruction (WMD) yang terbukti tidak ada, hanya untuk membenarkan invasi militer AS yang hingga sekarang sudah dikenal.

Seperti James Bamford yang terkenal ketika diekspos di seminar investigasi Rolling Stone, Rendon memainkan peran instrumental atas nama pemerintahan Bush dalam menyebarkan “manajemen persepsi” agar “menciptakan kondisi untuk menghilangkan Saddam Hussein dari kekuasaan” di bawah multi-juta dolar CIA dan Pentagon kontrak.

Diantara kegiatan Rendon adalah pembentukan Kongres Nasional Irak atau Iraqi National Congress (INC) di Chalhi atas nama CIA, merektrut sekelompok orang buangan Irak yang bertugas menyebarkan propaganda, termasuk banyak false intelligence atau intelijen palsu tentang WMD.

The Rendon Group (TRG) adalah perusahaan komunikasi terkenal yang telah menjadi kontraktor pemerintah AS selama beberapa dekade. Rendon memainkan peran penting dalam menjalankan kampanye propaganda Departemen Luar Negeri AS.

Proses itu telah dimulai secara bersamaan dibawah pemerintahan George H W. Bush, kemudian bergemuruh dibawah pimpinan Clinton dengan sedikit keriuhan, sebelum kemudian meningkat setelah Tragedi 9/11 dibawah presiden George W. Bush.

Rendon memainkan peran besar dalam pembuatan berita yang tidak akurat dan salah yang berkaitan dengan Irak di bawah kontrak CIA dan Pentagon yang menguntungkan – dan ia melakukannya dalam periode menjelang invasi 2003 sebagai penasihat National Security Council atau Dewan Keamanan Nasional Bush, yaitu: NSC yang sama, dan tentu saja, yang merencanakan invasi ke Afghanistan dan Irak, dicapai dengan memasukkan dari para eksekutif Enron yang secara bersamaan terlibat dalam Pentagon Highlands Forum.

Tapi itulah puncak gunung es. Dokumen yang tidak diklasifikasi menunjukkan bahwa Highlands Forum secara erat terlibat dalam proses rahasia, dimana para pejabat kunci merekayasa jalan untuk berperang di Irak, berdasarkan informasi peperangan.

Laporan 2007 yang disunting oleh Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS mengungkapkan bahwa salah satu kontraktor yang digunakan secara luas oleh the Pentagon Highlands Forum selama dan setelah Perang Irak, tidak lain adalah Kelompok Rendon (The Rendon Group).

The Rendon Group (TRG) dikontrak oleh Pentagon untuk mengatur sesi Forum, menentukan subjek untuk diskusi, serta untuk mengadakan dan mengkoordinasikan pertemuan Forum. Penyelidikan Inspektur Jenderal telah didorong oleh tuduhan yang diajukan di Kongres tentang peran Rendon dalam memanipulasi informasi untuk membenarkan invasi dan pendudukan Irak 2003. Menurut laporan Inspektur Jenderal:

“… Asisten Menteri Pertahanan untuk Jaringan dan Integrasi Informasi (Defense for Networks and Information) / Petugas Kepala Informasi mempekerjakan TRG untuk melakukan forum yang akan menarik bagi kelompok pemimpin lintas disiplin  yang dianggap secara nasional.

Forum-forum itu dalam kelompok-kelompok kecil yang membahas informasi dan teknologi dan pengaruhnya terhadap sains, organisasi dan proses bisnis, hubungan internasional, ekonomi, dan keamanan nasional.

TRG juga melakukan program penelitian dan wawancara untuk merumuskan dan mengembangkan topik untuk kelompok fokus di the Highlands Forum. Kantor Asisten Menteri Pertahanan untuk Jaringan dan Integrasi Informasi akan menyetujui subjek, dan TRG akan memfasilitasi pertemuan.”

TRG, cabang propaganda pribadi Pentagon, dengan demikian memainkan peran sentral secara harfiah dalam menjalankan  proses Pentagon Highlands Forum yang mempertemukan pejabat pemerintah senior dengan para eksekutif industri untuk “menghasilkan strategi perang informasi” bagi DoD.

Investigasi internal Pentagon membebaskan Rendon dari kesalahan apa pun. Tapi ini tidak mengherankan, mengingat konflik kepentingan yang dipertaruhkan: Inspektur Jenderal pada waktu itu adalah Claude M. Kicklighter, seorang nominator Bush yang secara langsung mengawasi operasi-operasi militer utama pemerintah. Pada tahun 2003, ia adalah direktur Pentagon  untuk Tim Transisi Irak (Pentagon’s Iraq Transition Team), dan tahun berikutnya ia diangkat ke Departemen Luar Negeri sebagai penasehat khusus untuk stabilisasi dan operasi keamanan di Irak dan Afghanistan.

The nexus surveilans-propaganda (The surveillance-propaganda nexus)

Bahkan lebih dalam untuk diinformasikan, dokumen Pentagon diperoleh Bamford untuk Rolling Stone-nya cerita yang mengungkapkan bahwa Rendon telah diberi akses ke data pengawasan rahasia NSA untuk melaksanakan tugasnya atas nama Pentagon. TRG, yang di dalam dokumen DoD dikatakan, berwenang “untuk meneliti dan menganalisis informasi yang diklasifikasikan hingga rahasia: Top Secret / SCI / SI / TK / G / HCS.”

SCI (Sensitive Compartmented Information) atau Informasi Kompartemen Sensitif, adalah data yang diklasifikasikan lebih tinggi dari Top Secret (Rahasia Teratas), sedangkan SI (Special Intelligence) atau Intelijen Khusus, yaitu komunikasi rahasia yang dihadang oleh NSA. TK (Talent/Keyhole), yaitu kode nama untuk citra dari pesawat pengintai dan satelit mata-mata, sementara ‘G‘ adalah singkatan dari Gamma, mencakup penyadapan komunikasi dari sumber yang sangat sensitif, dan HC’S (Humint Control System) adalah informasi yang didadpat dari sumber manusia yang sangat sensitif. Dalam kata-kata Bamford:

“Secara bersama-sama, akronim menunjukkan bahwa Rendon menikmati akses ke informasi paling rahasia dari ketiga bentuk pengumpulan intelijen: menguping (eavesdropping), pencitraan satelit (imaging satellites) dan mata-mata manusia (human spies)”.

Jadi Pentagon memiliki:

1. Mengontrak Rendon, sebuah perusahaan propaganda;

2. Memberikan Rendon akses ke informasi paling rahasia dari komunitas intelijen termasuk data dari pengawasan NSA;

3. Menugaskan Rendon untuk memfasilitasi pengembangan strategi operasi informasi DoD dengan menjalankan proses the Highlands Forum; dan lebih jauh lagi:

4. Menugaskan Rendon dengan mengawasi pelaksanaan konkrit dari strategi ini yang dikembangkan melalui proses the Highlands Forum, dalam operasi informasi aktual di seluruh dunia, di Irak, Afghanistan dan seterusnya.

Kepala eksekutif TRG, John Rendon, tetap terlibat erat dalam Pentagon Highlands Forum, dan operasi informasi DoD yang sedang berlangsung di dunia Muslim.

Biografi November 2014-nya untuk kursus ‘Emerging Leaders’ dari Harvard Kennedy School menggambarkannya sebagai peserta dalam organisasi yang berpikiran maju seperti the Highlands Forum salah satu pemimpin dalam pemikiran pertama yang “memanfaatkan kekuatan teknologi yang muncul untuk mendukung manajemen informasi real time. Dan seorang ahli tentang “dampak teknologi informasi yang muncul pada cara populasi berpikir dan berperilaku”.

Biografi Harvard Raffles juga memberinya penghargaan dengan merancang dan melaksanakan “inisiatif komunikasi strategis dan program informasi yang berkaitan dengan operasi, antara lain:

  • Operation Global War on Terrorism (GWOT)
  • Operation Odyssey Dawn (Libya),
  • Operation Unified Protector (Libya),
  • Operation Iraqi Freedom (Irak)
  • Operation Desert Fox (Irak)
  • Operation Enduring Freedom (Afghanistan),
  • Operation Allied Force and Operation Joint Guardian (Kosovo),
  • Operation Desert Shield, Operation Desert Storm (Kuwait),
  • Operation Just Cause (Panama), dan masih banyak lainnya.

Pekerjaan Rendon pada manajemen persepsi dan operasi informasi juga telah “membantu sejumlah intervensi militer AS” di tempat lain, serta menjalankan operasi informasi AS di Argentina, Kolombia, Haiti, dan Zimbabwe – pada kenyataannya, total ada 99 negara!

Sebagai mantan direktur eksekutif dan direktur politik nasional Partai Demokrat, John Rendon tetap menjadi figur kuat di Washington dibawah pemerintahan Obama.

Catatan Pentagon menunjukkan bahwa TRG telah menerima lebih dari US$ 100 juta dari Departemen Pertahanan sejak tahun 2000. Pada tahun 2009, pemerintah AS membatalkan kontrak ‘komunikasi strategis’ dengan TRG setelah mandat itu digunakan untuk menyingkirkan wartawan yang mungkin menulis cerita negatif tentang militer AS di Afghanistan, dan untuk semata-mata mempromosikan jurnalis yang mendukung kebijakan AS. Namun pada tahun 2010, pemerintahan Obama kembali mengontrak Rendon untuk menyediakan layanan bagi “penipuan militer” (military deception) di Irak.

Sejak itu, TRG telah memberikan saran kepada Pelatihan Angkatan Darat AS dan Komando Doktrin, Komando Operasi Khusus (US Army’s Training and Doctrine Command, the Special Operations Command), dan masih dikontrak ke Kantor Menteri Pertahanan (Secretary of Defense), Komando Komunikasi Elektronik Angkatan Darat AS (the US Army’s Communications Electronic Command), serta menyediakan “dukungan komunikasi” untuk Pentagon dan kedutaan AS dalam operasi kontra-narkotika atau counter-narcotics operations.

TRG juga membanggakan diri pada situs webnya bahwa ia menyediakan “Dukungan Perang Tidak Teratur” atau Irregular Warfare Support (IWS), termasuk “dukungan operasional dan perencanaan” yang “membantu pemerintah dan klien militer kami dalam mengembangkan pendekatan baru untuk melawan dan mengikis kekuatan, pengaruh dan kemauan musuh.” Sebagian besar isi dari dukungan ini  telah diperbaiki sesuai keadaan (fine-tuned) selama dekade terakhir atau lebih, di dalam Pentagon Highlands Forum.

Perang tidak teratur dan terorisme pseudo (Irregular war and pseudo-terrorism)

Tautan terkait Pentagon Highlands Forum, melalui Rendon, terhadap operasi propaganda yang dilakukan dibawah Bush dan Obama untuk mendukung ‘Perang Panjang’, menunjukkan peran integral pengawasan massa, baik dalam peperangan tidak teratur dan ‘komunikasi strategis’.

Salah satu pendukung utama keduanya adalah Prof John Arquilla dari Naval Postgraduate School, analis pertahanan AS ternama yang dikreditkan dengan pengembangan konsep ‘netwar,’ yang hari ini secara terbuka mendukung perlunya pengawasan massal dan penambangan data besar untuk mendukung pre-emptive operations” untuk menggagalkan plot teroris. Kebetulan sekali Arquilla adalah “anggota pendiri” lainnya dari the Pentagon’s Highlands Forum.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/53/Rand_Corporation_logo.svg/480px-Rand_Corporation_logo.svg.png

RAND Corporation (“Research ANd Development”) adalah sebuah sebuah perusahaan AS yang memberikan saran dan ide tentang masalah politik atau ekonomi tertentu.

Sebagian besar karya Arquilla pada ide dan gagasan seperti ‘perang jaringan’ (networked warfare), ‘pencegahan jaringan’ (information warfare), ‘perang informasi’ (information warfare), dan mengerumuni (swarming), sebagian besar diproduksi untuk RAND Corporation, dibawah kontrak Pentagon, diinkubasi oleh Forum selama tahun-tahun awal, dan dengan demikian menjadi bagian integral dari “Strategi Pentagon”.

RAND Corporation (“Research ANd Development”) adalah sebuah “think-tank” (istilah sebuah badan ahli yang memberikan saran dan ide tentang masalah politik atau ekonomi tertentu), asal AS yang menjalankan kebijakan global nirlaba Amerika yang dibuat pada tahun 1948 oleh Douglas Aircraft Company untuk menawarkan penelitian dan analisis kepada Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Ini dibiayai oleh pemerintah AS dan sumbangan swasta, perusahaan, universitas, dan perorangan.

RAND Corp. telah berkembang untuk membantu pemerintah lain, organisasi internasional, perusahaan swasta dan yayasan, dengan sejumlah masalah pertahanan dan non-pertahanan

Misalnya, dalam penelitian RAND Corp. Arquilla tahun 1999, “The Emergence of Noopolitik: Toward an American Information Strategy” (Menuju Strategi Informasi Amerika), dia dan rekan penulisnya David Ronfeldt mengucapkan terima kasih kepada Richard O’Neill “untuk minat, dukungan dan bimbingannya”, dan kepada “anggota dari the Highlands Forum” untuk komentar mereka pada penelitian ini. Sebagian besar pekerjaan RAND-nya mengkreditkan the Highlands Forum dan O’Neill untuk dukungan mereka.

Karya Arquilla dikutip dalam studi National Academy of Sciences 2006 tentang masa depan ilmu jaringan yang ditugaskan oleh Angkatan Darat AS, yang ditemukan berdasarkan penelitiannya bahwa:

“Kemajuan dalam teknologi dan telekomunikasi berbasis komputer memungkinkan jejaring sosial yang memfasilitasi afiliasi kelompok, termasuk jaringan teroris.”

Studi ini menggabungkan risiko dari kelompok teror dan aktivis: “Implikasi dari fakta ini untuk jaringan kriminal, teror, protes dan pemberontakan telah dieksplorasi oleh Arquilla dan Ronfeldt (2001) dan merupakan topik umum diskusi oleh kelompok-kelompok seperti the Highlands Forum, yang menganggap bahwa Amerika Serikat sangat rentan terhadap gangguan jaringan kritis.”

Arquilla melanjutkan untuk membantu mengembangkan strategi perang informasi “untuk kampanye militer di Kosovo, Afghanistan dan Irak”, menurut sejarawan militer Benjamin Shearer di kamus biografinya, “Home Front Heroes” (2007) – sekali lagi menggambarkan peran langsung yang dimainkan oleh anggota kunci tertentu di Forum dalam melaksanakan operasi informasi Pentagon di “teater perang”.

Prof John Arquilla dari Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut, dan anggota pendiri the Pentagon Highlands Forum (Forum Pentagon Highlands).

Dalam buku hasil investigasinya New Yorker (2005), yang memenangi Pulitzer, Seymour Hersh, merujuk pada serangkaian artikel oleh Arquilla yang menguraikan strategi baru “melawan teror dengan pseudo-terror (teror palsu)”.

“Dibutuhkan jaringan untuk melawan jaringan,” kata Arquilla, mengacu pada tesis yang dipromosikannya di Pentagon melalui the Highlands Forum sejak didirikan:

“Ketika operasi militer konvensional dan pemboman gagal mengalahkan pemberontak Mau-Mau di Kenya pada 1950-an, Inggris membentuk tim-tim dari suku Kikuyu yang ramah dan pergi dengan berpura-pura menjadi teroris.

‘Geng pseudo’ ini, begitu mereka dipanggil, dengan cepat melempar Mau-Mau yang bersifat bertahan, baik dengan cara berteman dan kemudian menyergap gerombolan pemberontak, atau dengan cara membimbing pengeboman ke kamp-kamp teroris.”

Kemudian, Arquilla menganjurkan bahwa dinas intelijen pihak Barat selanjutnya harus menggunakan “taktik Inggris” tersebut sebagai model untuk menciptakan kelompok teroris “pseudo geng” baru, sebagai cara untuk merusak jaringan teror yang “nyata”:

“Apa yang berhasil di Kenya setengah abad yang lalu memiliki peluang bagus untuk merusak kepercayaan dan rekrutmen diantara jaringan teror saat ini. Membentuk geng semu baru, seharusnya tidak sulit.”

Pada dasarnya, argumen Arquilla adalah karena “hanya jaringan yang dapat melawan jaringan”, satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh yang melakukan peperangan tidak teratur (irregular warfare) adalah dengan menggunakan teknik peperangan tidak teratur (irregular warfare) juga terhadap mereka.

Pada akhirnya, faktor yang menentukan dalam kemenangan bukanlah kekalahan militer konvensional, tetapi sejauh mana arah konflik dapat dikalibrasi untuk mempengaruhi populasi dan menggalang oposisi mereka terhadap musuh. Strategi ‘pseudo-gang’ Arquilla adalah, Hersh melaporkan, “sudah dilaksanakan oleh Pentagon”:

“Di bawah pendekatan baru Rumsfeld, saya diberi tahu, para anggota militer AS akan diizinkan untuk tampil di luar negeri sebagai pengusaha asing yang korup yang ingin membeli barang selundupan yang dapat digunakan dalam sistem senjata nuklir.”

Dalam beberapa kasus, menurut penasihat Pentagon, warga setempat dapat direkrut dan diminta untuk bergabung dengan gerilyawan atau teroris…

Peraturan baru akan memungkinkan komunitas Pasukan Khusus untuk mengatur apa yang mereka sebut ‘tim aksi’ di negara-negara target di luar negeri yang dapat digunakan untuk menemukan dan menghilangkan organisasi teroris.

“Apakah Anda ingat regu eksekusi sayap kanan di El Salvador?” mantan perwira intelijen tingkat tinggi itu bertanya kepada saya, mengacu pada geng-geng yang dipimpin militer yang melakukan kekejaman di awal tahun sembilan belas delapan puluhan.

“Kami mendirikan mereka dan kami membiayai mereka,” katanya. ‘Tujuannya sekarang adalah merekrut penduduk setempat di area mana pun yang kami inginkan. Dan kami tidak akan memberi tahu Kongres tentang hal itu’.

Seorang mantan perwira militer, yang memiliki pengetahuan tentang kemampuan komando Pentagon, berkata, ‘Kami akan berkuda dengan anak-anak nakal.’

Pendukung resmi bahwa strategi ini sekarang beroperasi datang dengan kebocoran manual lapangan operasi khusus US Army tahun 2008. Militer AS, kata manual, dapat melakukan irregular and unconventional warfare (perang tidak teratur dan tidak konvensional) dengan menggunakan wakil kelompok non-negara seperti pasukan paramiliter (paramilitary forces), individu, bisnis, organisasi politik asing (foreign political organizations), organisasi perlawanan atau pemberontak (resistant or insurgent organizations), ekspatriat, musuh terorisme transnasional (transnational terrorism adversaries), anggota terorisme transnasional yang kecewa (disillusioned transnational terrorism members), pemasar gelap (black marketers), dan “orang yang tidak diinginkan” secara sosial atau politik lainnya.

Secara mengejutkan, panduan ini secara khusus mengakui bahwa operasi khusus AS dapat melibatkan baik kontra-terorisme dan “Terorisme,” serta: “Kegiatan kriminal lintas negara (transnational criminal activities), termasuk perdagangan narkotika (narco-trafficking), penjualan senjata ilegal (illicit arms-dealing), dan transaksi keuangan ilegal (illegal financial transactions).

”Tujuan dari operasi rahasia semacam ini, pada dasarnya adalah “pengendalian populasi” (population control) – mereka “secara khusus berfokus untuk memanfaatkan sebagian dari penduduk asli untuk menerima status-quo”, atau untuk menerima “hasil politik apa pun” yang dipaksakan atau dinegosiasikan.

Dengan logika yang dipelintir ini, terorisme dalam beberapa kasus dapat didefinisikan sebagai alat yang sah dari negara-negara bagian AS yang digunakan untuk mempengaruhi populasi agar menerima “hasil politik” tertentu – semua dalam nama memerangi terorisme.

Apakah ini yang dilakukan Pentagon dengan mengoordinasikan hampir US$ 1 miliar dana dari “Rezim Teluk” kepada pemberontak anti-Assad, yang sebagian besar menurut penilaian rahasia CIA sendiri, berakhir di pundi-pundi ekstremis Islam yang terkait dengan al-Qaeda, yang melanjutkan untuk menelurkan ‘Negara Islam’?

Dasar pemikiran rasional untuk strategi baru ini, pertama kali secara resmi ditetapkan dalam briefing pada bulan Agustus 2002 dalam “the Pentagon’s Defense Science Board”, yang menganjurkan pembentukan “Kelompok operasi proaktif, preemptif” atau ‘Proactive, Preemptive Operations Group’ (P2OG) dalam Dewan Keamanan Nasional (National Security Council). Preemptive dimaksudkan untuk mendahului atau mencegah sesuatu, terutama untuk mencegah serangan dengan melumpuhkan musuh.

P2OG ini diusulkan oleh Dewan, harus melakukan clandestine operations atau operasi klandestin (rahasia) untuk menyusup dan “merangsang reaksi” diantara jaringan teroris untuk memprovokasi mereka ke dalam tindakan, dan dengan demikian memfasilitasi penargetan mereka.

Dewan Sains Pertahanan atau Defense Science Board, seperti lembaga Pentagon lainnya, terkait erat dengan the Highlands Forum, yang pekerjaannya menjadi bahan penelitian Dewan, yang pada gilirannya secara teratur disajikan di Forum.

Menurut sumber-sumber intelijen AS yang berbicara kepada Hersh, Rumsfeld telah memastikan bahwa merk “Black Operations” atau ‘Operasi Hitam’ yang baru, akan dilakukan sepenuhnya dibawah yurisdiksi Pentagon, yang diperoleh dari CIA dan komandan militer regional AS, dan dieksekusi sendiri oleh secret special operations command atau komando operasi khusus rahasianya sendiri.

Rantai komando itu akan mencakup, selain dari sekretaris pertahanan sendiri, dua dari deputinya, termasuk wakil Menteri Pertahanan untuk intelijen: sebagai posisi mengawasi the Highlands Forum.

Komunikasi strategis: propaganda perang di dalam dan luar negeri (Strategic communications: war propaganda at home and abroad)

Dalam the Highlands Forum, teknik operasi khusus yang dieksplorasi oleh Arquilla telah diambil oleh beberapa orang lain dalam arah yang lebih terfokus pada propaganda – diantara mereka, Dr. Lochard, seperti yang terlihat sebelumnya, dan juga Dr. Amy Zalman, yang berfokus terutama pada gagasan tersebut, bahwa militer AS menggunakan ‘narasi strategis’ (strategic narratives) untuk mempengaruhi opini publik dan memenangkan perang.

Dr. Amy Zalman, seorang mantan ahli strategi SAIC, adalah CEO dari World Futures Society, dan delegasi lama Pentagon Highlands Forum berkonsultasi untuk pemerintah AS tentang komunikasi strategis (strategic communications) dalam peperangan tak teratur (irregular warfare).

Seperti rekannya, anggota pendiri the Highlands Forum Jeff Cooper, Dr. Amy Zalman disekolahkan “diperut” SAIC/Leidos.

Dari 2007 hingga 2012, Dr. Amy Zalman adalah seorang ahli strategi SAIC senior, sebelum menjadi Ketua Integrasi Informasi Departemen Pertahanan (Department of Defense Information Integration Chair) di National Army College AS, dimana dia berfokus pada “bagaimana memperbaiki propaganda untuk memperoleh tanggapan yang tepat, yang diinginkan dari kelompok sasaran, berdasarkan pemahaman yang lengkap tentang kelompok-kelompok itu. Pada musim panas tahun lalu, ia menjadi CEO World Futures Society.

Pada tahun 2005, tahun yang sama ketika Hersh melaporkan bahwa strategi Pentagon “merangsang reaksi” diantara para teroris dengan memprovokasi mereka sedang berlangsung,.. Zalman menyampaikan briefing ke the Pentagon Highlands Forum berjudul, ‘In Support of a Narrative Theory Approach to US Strategic Communication.’ (Mendukung Pendekatan Teori Naratif untuk Komunikasi Strategis AS).

Sejak itu, Zalman telah lama menjadi delegasi Highlands Forum delegate, dan telah mempresentasikan karyanya pada komunikasi strategis ke berbagai lembaga pemerintah AS, forum NATO, serta mengajar kursus dalam peperangan tidak teratur (irregular warfare) kepada tentara di Universitas Operasi Khusus Gabungan AS (the US Joint Special Operations University).

Pengarahan brifing Zalman pada Highlands Forum tahun 2005 tidak tersedia untuk umum, tetapi dorongan masukan Zalman ke dalam komponen informasi strategi operasi khusus Pentagon dapat diperoleh dari beberapa karyanya yang diterbitkan.

Pada tahun 2010, ketika dia masih terikat dengan SAIC, kertas makalah NATO-nya mencatat bahwa komponen kunci dari perang tidak teratur (irregular warfare) adalah “memenangkan dukungan emosional dari penduduk dengan mempengaruhi persepsi subyektif mereka.”

Dia menganjurkan bahwa cara terbaik untuk mencapai pengaruh semacam itu, jauh lebih maju daripada teknik propaganda dan olah pesan tradisional. Tentu saja, analis harus “menempatkan diri di kulit orang-orang yang sedang diamati”.

Zalman merilis makalah lain pada tahun yang sama melalui IO Journal, yang diterbitkan oleh Information Operations Institute, yang menggambarkan dirinya sebagai “kelompok berminat khusus” (special interest group) dari Associaton of Old Crows. Yang terakhir adalah asosiasi profesional untuk ahli teori dan praktisi operasi perang elektronik dan informasi, diketuai oleh Kenneth Israel, wakil presiden Lockheed Martin, dan wakil yang dipimpin oleh David Himes, yang pensiun beberapa tahun lalu dari posisinya sebagai penasihat senior dalam peperangan elektronik di US Air Force Research Laboratory (Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS).

SAIC adalah perusahaan kontraktor pertahanan swasta utama AS yang dikontrak untuk menghasilkan propaganda.

Dalam makalah ini, berjudul ‘Narrative as an Influence Factor in Information Operations’ (Narasi sebagai Faktor Pengaruh dalam Operasi Informasi), Zalman menyesalkan bahwa militer AS telah “menemukan kesulitan untuk membuat narasi yang menarik – atau cerita – baik untuk mengekspresikan tujuan strategisnya, atau untuk berkomunikasi dalam situasi yang berbeda, seperti kematian warga sipil.

”Pada akhirnya, Zalman menyimpulkan bahwa “masalah kompleks kematian warga sipil ”harus didekati bukan hanya dengan “permintaan maaf dan kompensasi” – yang hampir tidak terjadi – tetapi dengan menyebarkan narasi yang menggambarkan karakter dengan siapa audiens menghubungkan (dalam hal ini, ‘penonton’ menjadi ‘populasi di zona perang’). Hal ini untuk memudahkan audiens menyelesaikan perjuangan dengan “cara positif,” yang tentu saja, oleh kepentingan militer AS.

Dengan cara ini terlibat secara emosional  dengan “orang yang selamat dari mereka yang mati” dari tindakan militer AS mungkin “terbukti menjadi bentuk pengaruh empati.” Selama ini, Zalman tidak mampu mempertanyakan legitimasi tujuan strategis AS, atau mengakui bahwa dampak dari tujuan tersebut dalam akumulasi kematian warga sipil, justru sebagai masalah yang perlu diubah – yang bertentangan dengan cara mereka secara ideologis dibingkai, kepada populasi yang dibantai dan menjadi sasaran aksi militer. Disini, ‘Empati’ hanyalah alat untuk memanipulasi.

Pada 2012, Zalman menulis artikel untuk The Globalist berusaha menunjukkan bagaimana penggambaran yang kaku dari ‘kekuatan keras’ (hard power) dan ‘kekuatan lunak’ (soft power) perlu diatasi, untuk mengakui bahwa penggunaan kekuatan membutuhkan efek simbolis dan budaya yang tepat untuk menjamin kesuksesan:

“Selama pertahanan dan diplomasi ekonomi tetap berada di dalam kotak berlabel ‘kekuatan keras‘, kita gagal untuk melihat seberapa besar kesuksesan mereka yang bergantung pada efek simbolis mereka serta dampak materi mereka.

Sepanjang upaya diplomatik dan budaya disimpan dalam kotak bertanda ‘kekuatan lunak‘, kita gagal melihat cara-cara dimana mereka dapat digunakan secara paksa atau menghasilkan efek seperti yang dihasilkan oleh kekerasan.”

Mengingat keterlibatan SAIC yang mendalam dalam the Pentagon Highlands Forum, dan melalui pengembangan strategi informasi dalam pengawasan (the development of information strategies on surveillance), peperangan tidak teratur (irregular warfare), dan propaganda, hampir tidak mengherankan bahwa SAIC adalah perusahaan pertahanan swasta utama lainnya yang dikontrak untuk menghasilkan propaganda menjelang Irak Perang 2003, bersama TRG.

“Eksekutif SAIC telah terlibat di setiap tahap … perang di Irak,” lapor Vanity Fair, ironisnya, dalam hal sengaja menyebarkan klaim palsu tentang WMD, dan kemudian menyelidiki ‘kegagalan intelijen’ di sekitar klaim WMD palsu.

Delegasi di the Pentagon Highlands Forum ke-46 (Pentagon’s 46th Highlands Forum) pada Desember 2011, dari kanan ke kiri: John Seely Brown, kepala ilmuwan/direktur di Xerox PARC dari 1990-2002 dan anggota dewan awal In-Q-Tel; Ann Pendleton-Jullian, co-author / penulis bersama Brown dari naskah, “Design Unbound” (Desain Tak Terbatas); Antonio dan Hanna Damasio, seorang ahli saraf dan ahli neurobiologi yang merupakan bagian dari proyek yang didanai DARPA dalam propaganda.

David Kay, misalnya, yang telah dipekerjakan oleh CIA pada 2003 untuk memburu Saddam WMD sebagai kepala Iraq Survey Group (Kelompok Survei Irak), hingga Oktober 2002, seorang wakil presiden SAIC senior seakan menggetok palu pada “ancaman yang diajukan Irak” dibawah kontrak Pentagon. Ketika WMD gagal muncul, komisi Presiden Bush untuk menyelidiki ‘kegagalan intelijen’ AS ini termasuk tiga eksekutif SAIC, diantaranya anggota pendiri Highlands Forum, Jeffrey Cooper.

Tahun pengangkatan Kay ke Iraq Survey Group, menteri pertahanan Clinton, William Perry – adalah orang yang dibawah perintahnya the Highlands Forum yang telah diatur – bergabung dengan dewan SAIC. Penyelidikan oleh Cooper dan semua membiarkan pemerintahan Bush bebas dari propaganda manufaktur untuk melegitimasi perang – tidak mengherankan, mengingat peran integral Cooper dalam jaringan Pentagon yang memproduksi propaganda itu.

SAIC juga termasuk diantara banyak kontraktor yang mendapat untung besar dari kesepakatan rekonstruksi Irak, dan kembali dikontrak setelah perang untuk mempromosikan narasi pro-AS di luar negeri. Dalam nada yang sama dengan karya Rendon, idenya adalah bahwa cerita yang ditanam di luar negeri akan diambil oleh media AS untuk konsumsi domestik.

DARPA

Tetapi promosi Pentagon Highlands Forum tentang teknik propaganda mutakhir tidak eksklusif hingga ke intinya, misalnya delegasi yang sudah lama, seperti Rendon dan Zalman. Pada tahun 2011, Forum tersebut menjadi tuan rumah bagi dua ilmuwan yang didanai DARPA, Antonio dan Hanna Damasio, yang merupakan peneliti utama dalam proyek ‘Neurobiologi Narrative Framing’ di University of Southern California.

Membangkitkan penekanan pada Zalman tentang perlunya operasi psikologis Pentagon untuk menyebarkan “pengaruh empati”, proyek baru yang didukung DARPA bertujuan untuk menyelidiki bagaimana narasi sering kali memiliki daya tarik “ke nilai-nilai yang kuat dan sakral untuk membangkitkan respons emosional”, tetapi dengan cara yang berbeda di seluruh perbedaan budaya.

Unsur yang paling mengganggu dari penelitian ini adalah fokusnya untuk mencoba memahami bagaimana meningkatkan kapasitas Pentagon untuk menyebarkan narasi yang memengaruhi pendengar dengan cara yang menimpa penalaran konvensional dalam konteks tindakan yang dipertanyakan secara moral.

Deskripsi proyek menjelaskan bahwa reaksi psikologis terhadap peristiwa-peristiwa yang dinarasikan adalah “dipengaruhi oleh bagaimana narator membingkai peristiwa, menarik nilai, pengetahuan, dan pengalaman pendengar yang berbeda.”

Pembatasan naratif yang menargetkan nilai-nilai sakral dari pendengar, termasuk inti nilai-nilai pribadi, nasionalistik, dan/atau agama, sangat efektif dalam memengaruhi penafsiran pendengar dari peristiwa-peristiwa yang dinarasikan, karena nilai-nilai suci semacam itu terkait erat dengan psikologi identitas, emosi, pengambilan keputusan moral, dan kognisi sosial.

Rosemary Wenchel (kiri) dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS bersama Jeff ‘Skunk’ Baxter, mantan musisi dan sekarang konsultan pertahanan AS yang telah bekerja untuk kontraktor seperti SAIC dan Northrup Grumman. Tampak pula Eksekutif SAIC/Leidos Jeff Cooper ada di belakang mereka.

Dengan menerapkan framing sakral bahkan untuk masalah duniawi, isu-isu seperti itu “dapat memperoleh sifat dari nilai-nilai sakral dan menghasilkan keengganan yang kuat untuk menggunakan penalaran konvensional untuk menafsirkannya”.

Kedua Damasios dan tim mereka, sedang mengeksplorasi peran apa “mekanisme linguistik dan neuro-psikologi” bermain dalam menentukan efektivitas pembingkaian cerita menggunakan nilai-nilai sakral dalam mempengaruhi tafsiran pendengar pada peristiwa.”

Penelitian ini didasarkan pada penggalian cerita dari jutaan weblog Amerika, Iran, dan Cina, dan menjadikannya sebagai analisis wacana otomatis untuk membandingkannya secara kuantitatif di tiga bahasa.

Para peneliti kemudian menindaklanjuti dengan menggunakan percobaan perilaku dengan pembaca/pendengar dari budaya yang berbeda untuk mengukur reaksi mereka yang berbeda cerita, dimana setiap cerita membuat daya tarik ke nilai suci untuk menjelaskan atau membenarkan perilaku yang dipertanyakan secara moral dari penulis.

Akhirnya, para ilmuwan menerapkan pemindaian MRI neurobiologis untuk menghubungkan reaksi dan karakteristik pribadi subjek dengan respons otak mereka.

Mengapa riset pendanaan Pentagon menyelidiki bagaimana mengeksploitasi “nilai-nilai sakral” orang-orang untuk memadamkan kapasitas mereka untuk penalaran logis, dan meningkatkan keterbukaan emosional mereka terhadap “perilaku yang dapat dipertanyakan secara moral”?

Fokus pada bahasa Inggris, bahasa Farsi, dan bahasa China juga dapat mengungkapkan bahwa kekhawatiran Pentagon saat ini sangat banyak mengenai pengembangan operasi informasi terhadap dua musuh utama, Iran dan China, yang cocok dengan ambisi lama untuk memproyeksikan pengaruh strategis di Timur Tengah, Asia Tengah dan Asia Tenggara.

Sama, penekanan pada bahasa Inggris, khususnya dari weblog Amerika, lebih lanjut menunjukkan bahwa Pentagon khawatir tentang memproyeksikan propaganda, untuk mempengaruhi opini publik di rumah.

Jangan-jangan orang mengira bahwa keinginan DARPA untuk menambang jutaan weblog Amerika sebagai bagian dari penelitian neurobiology of narrative framing (neurobiologi narasi naratif) adalah satu-satunya kasus pemilihan acak, penambahan ketua dari Pentagon Highlands Forum dalam beberapa tahun terakhir adalah Rosemary Wenchel, mantan direktur cyber capabilities dan operations support di Kantor Sekretaris Pertahanan AS.

Dalam foto diatas, tampak Wenchel sedang berbicara dengan Jeff Baxter, konsultan pertahanan dan intelijen AS. Sejak 2012, Wenchel telah menjadi asisten sekretaris deputi untuk strategi dan kebijakan di Departemen Keamanan Dalam Negeri (the Department of Homeland Security).

John Rendon, CEO The Rendon Group, pada sesi Forum Dataran Tinggi (Highlands Forum) pada tahun 2010.

Karena pendanaan propaganda Pentagon yang luas di Irak dan Afghanistan menunjukkan, bahwa pengaruh penduduk dan propaganda sangat penting, tidak hanya di banyak pertujukan yang berjauhan di luar negeri atau di wilayah strategis, tetapi juga di rumah, untuk memadamkan risiko opini publik dan domestik yang merusak legitimasi kebijakan Pentagon.

Pada bulan September 2005, Baxter adalah bagian dari kelompok studi “independen” (diketuai oleh kontraktor NSA, Booz Allen Hamilton) yang ditugaskan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang merekomendasikan peran yang lebih besar bagi satelit mata-mata AS dalam memantau populasi domestik.

Sementara itu, Zalman dan Rendon, keduanya tetap terlibat dalam Pentagon Highlands Forum, terus didekati oleh militer AS untuk keahlian mereka dalam operasi informasi.

Pada bulan Oktober 2014, keduanya berpartisipasi dalam konferensi Strategic Multi-Layer Assessment (Pengkajian Multi-Lapisan Strategis), yang disponsori oleh Departemen Pertahanan AS dan Kepala Staf Gabungan,

Konferensi itu bertemakan: ‘A New Information Paradigm? From Genes to “Big Data” and Instagram to Persistent Surveillance… Implications for National Security.’ (Paradigma Informasi Baru? Dari Gen ke “Data Besar” dan Instagram ke Pengawasan Persisten… Implikasi untuk Keamanan Nasional). Delegasi lainnya mewakili pejabat senior militer AS, eksekutif industri pertahanan, pejabat komunitas intelijen, think-tank Washington, dan akademisi.

Rendon dan SAIC/Leidos, dua perusahaan yang sangat penting bagi evolusi strategi operasi informasi Pentagon melalui keterlibatan penting mereka di Forum Highlands, terus dikontrak untuk operasi utama di bawah pemerintahan Obama.

SAIC/Leidos

Sebuah dokumen Administrasi Layanan Umum AS, misalnya, menunjukkan bahwa Rendon diberikan kontrak besar 2010–2015 yang menyediakan layanan dukungan media dan komunikasi umum di seluruh lembaga federal.

Demikian pula, SAIC/Leidos memiliki kontrak US$ 400 juta 2010-2015 dengan US Army Research Laboratory untuk “Expeditionary Warfare; Irregular Warfare; Special Operations; Stabilization and Reconstruction Operations (Operasi Stabilisasi dan Rekonstruksi) – kontrak yang sedang dipersiapkan sekarang untuk dikompilasi ulang.”

Kerajaan menyerang kembali (The empire strikes back)

Dibawah Obama, hubungan korporasi, industri, dan kekuatan keuangan yang diwakili oleh kepentingan yang berpartisipasi dalam the Pentagon Highlands Forum telah mengkonsolidasikan dirinya ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Secara kebetulan, pada hari Obama mengumumkan pengunduran diri Hagel, Departemen Pertahanan mengeluarkan rilis media yang menyoroti bagaimana Robert O. Work, wakil menteri pertahanan Hagel yang ditunjuk oleh Obama pada tahun 2013, berencana untuk meneruskan Inisiatif Inovasi Pertahanan yang baru saja diumumkan Hagel seminggu sebelumnya. Inisiatif baru ini difokuskan untuk memastikan bahwa Pentagon akan menjalani transformasi jangka panjang untuk mengikuti perkembangan teknologi disruptif di seluruh operasi informasi.

Apa pun alasan sebenarnya untuk ejekan Hagel, ini adalah kemenangan simbolis dan nyata bagi Marshall dan visi the Highlands Forum. Ketua Highlands Forum Andrew Marshall, kepala ONA, mungkin memang akan pensiun. Tetapi pos-Hagel Pentagon sekarang dikelola dengan para pengikutnya.

Robert Work, yang sekarang memimpin skema transformasi DoD baru, adalah seorang misnet Marshall yang setia yang sebelumnya mengarahkan dan menganalisis game perang untuk Kantor Penilaian Bersih. Seperti Marshall, Wells, O’Neill dan anggota Forum Highlands lainnya, Work juga robot fantasist yang memimpin studi, Preparing for War in the Robotic Age, diterbitkan awal tahun lalu oleh Pusat Keamanan Baru Amerika atau Center for a New American Security (CNAS).

Pekerjaan juga ditujukan untuk menentukan masa depan ONA, dibantu oleh strategistnya Tom Ehrhard dan DoD undersecretary untuk intelijen Michael G. Vickers, yang di bawah otoritasnya the Highlands Forum saat ini berjalan. Ehrard, seorang advokat dari “mengintegrasikan teknologi mengganggu di DoD”, sebelumnya menjabat sebagai asisten militer Marshall di ONA, sementara Mike Vickers – yang mengawasi lembaga pengawasan seperti NSA – juga sebelumnya dipekerjakan oleh Marshall untuk berkonsultasi untuk Pentagon.

Vickers juga merupakan pendukung utama irregular warfare (peperangan tidak teratur). Sebagai asisten menteri pertahanan untuk operasi khusus dan konflik intensitas rendah di bawah mantan menteri pertahanan Robert Gates di pemerintahan Bush dan Obama, visi perang Vickers yang tidak teratur mendorong untuk “operasi terdistribusi di seluruh dunia,” termasuk “di sejumlah negara dengan AS. tidak berperang, “sebagai bagian dari program” perang jaringan konter “menggunakan” jaringan untuk melawan jaringan “- strategi yang tentu saja memiliki the Pentagon Highlands Forum diatasnya. Dalam peran sebelumnya di bawah Gates, Vickers meningkatkan anggaran untuk operasi khusus termasuk operasi psikologis, transportasi siluman, penyebaran drone Predator dan “menggunakan pengawasan dan pengintaian teknologi tinggi untuk melacak dan menargetkan teroris dan pemberontak.”

Untuk menggantikan Hagel, Obama dinominasikan Ashton Carter, mantan wakil menteri pertahanan dari 2009 hingga 2013, yang keahliannya dalam anggaran dan pengadaan menurut Wall Street Journal “diharapkan untuk meningkatkan beberapa inisiatif yang diperjuangkan oleh wakil Pentagon saat ini, Robert Work, termasuk upaya untuk mengembangkan strategi dan teknologi baru untuk mempertahankan keuntungan AS di medan perang.”

 

Kembali pada tahun 1999, setelah tiga tahun sebagai asisten menteri pertahanan Clinton, Carter turut menulis sebuah penelitian dengan mantan menteri pertahanan William J. Perry menganjurkan bentuk baru ‘perang dengan kendali jarak jauh’ atau war by remote control yang difasilitasi oleh “teknologi digital dan aliran informasi yang konstan” (digital technology and the constant flow of information).

Salah satu kolega Carter di Pentagon selama masa jabatannya saat itu adalah Ketua Highlands Forum Linton Wells; dan tentu saja itu adalah Perry, bahwa sebagai menteri pertahanan kemudian menunjuk Richard O’Neill untuk mendirikan the Highlands Forum sebagai think-tank IO Pentagon pada tahun 1994.

Highlands Forum mentuankan Perry untuk bergabung dengan dewan SAIC, sebelum akhirnya menjadi ketua kontraktor pertahanan raksasa lainnya, Global Technology Partners (GTP). Dan Ashton Carter berada di dewan GTP dibawah Perry, sebelum dicalonkan menjadi menteri pertahanan oleh Obama.

Selama Pentagon sebelumnya dibawah pimpinan Obama, Carter bekerja erat dengan Work dan wakil menteri pertahanan setelahnya, Frank Kendall. Sumber-sumber industri pertahanan bersukacita bahwa tim Pentagon baru akan “secara dramatis meningkatkan” peluang untuk “mendorong proyek-proyek reformasi besar” di Pentagon, hingga garis finish.

Memang, prioritas Carter sebagai calon ketua pertahanan adalah mengidentifikasi dan memperoleh “teknologi pengganggu” (disruptive technology) komersial baru untuk meningkatkan strategi militer AS – dengan kata lain, mengeksekusi rencana Skynet DoD.

Asal muasal inisiatif inovasi baru Pentagon dapat ditelusuri kembali ke ide-ide yang beredar luas di Pentagon beberapa dekade yang lalu, tetapi gagal berakar penuh hingga sekarang. Antara 2006 dan 2010, periode yang sama dimana ide-ide tersebut dikembangkan oleh para ahli the Highlands Forum seperti Lochard, Zalman dan Rendon, diantara banyak lainnya, the Office of Net Assessment menyediakan mekanisme langsung untuk menyalurkan ide-ide ini ke dalam strategi dan pengembangan kebijakan yang konkret melalui The Quadrennial Defense Reviews, dimana masukan dari Marshall terutama ysng bertanggung jawab untuk perluasan dunia “hitam” yaitu:

  • Operasi Khusus (special operations),
  • Peperangan Elektronik (electronic warfare), dan
  • Operasi Informasi (information operations).

Andrew Marshall, pensiunan kepala Kantor Pusat Pengkajian dan ketua the Highlands Forum dari Departemen Pertahanan, pada sesi Forum pada tahun 2008.

Visi Marshall pra-9/11 dengan jaringan penuh (fully networked) dan sistim militer otomatis (automated military system), menemukan hasilnya dalam penelitian Skynet oleh Pentagon yang dirilis oleh National Defence University pada September 2014, yang ditulis bersama oleh rekan Marshall di Forum Highlands, Linton Wells. Banyak dari rekomendasi Wells sekarang yang akan dieksekusi melalui Defense Innovation Initiative yang baru oleh para veteran dan afiliasi dari Forum ONA dan the Highlands Forum.

Mengingat bahwa makalah putih Wells menyoroti minat Pentagon dalam memonopoli riset AI untuk memonopoli “peperangan robot jaringan otonom” (autonomous networked robot warfare), tidak mengherankan sepenuhnya, bahwa mitra sponsor Forum di SAIC/Leidos menampilkan kepekaan yang ganjil dan aneh, tentang penggunaan publik dari kata ‘Skynet.

Pada entri di Wikipedia berjudul Skynet (fictional), orang-orang yang menggunakan komputer SAIC menghapus beberapa paragraf di bawah bagian ‘Trivia‘ yang menunjukkan ‘Skynet‘ dunia nyata (real-world Skynets), seperti sistem satelit militer Inggris, dan berbagai proyek teknologi informasi lainnya.

Keberangkatan Hagel membuka jalan bagi para pejabat Pentagon terkait dengan the Highlands Forum untuk mengkonsolidasikan pengaruh pemerintah. Para pejabat ini berada cukup lama dalam jaringan bayangan pejabat politik, industri, media, dan perusahaan yang duduk di belakang kursi pemerintahan, namun secara harfiah menulis kebijakan dalam hal keamanan nasional luar negeri dan domestiknya, baik itu pemerintahannya dari Demokrat atau Republik, dengan menyumbangkan ‘gagasan’ dan menjalin hubungan antara pemerintah-industri.

Ini adalah jaringan tertutup yang telah membuat suara Amerika tidak ada gunanya. Jauh dari melindungi kepentingan publik atau membantu memerangi terorisme, pemantauan komprehensif komunikasi elektronik telah secara sistematis disalahgunakan untuk memberdayakan kepentingan pribadi dalam energi, pertahanan, dan industri TI.

Keadaan perang global permanen yang dihasilkan dari aliansi Pentagon dengan kontraktor swasta dan keahlian informasi yang tidak akuntabel, tidak membuat siapa pun lebih aman, tetapi telah melahirkan generasi baru teroris dalam bentuk apa yang disebut ‘Negara Islam’ (Islamic State) – yang sebenarnya adalah merupakan produk buatan “Frankenstein” (Frankenstein by-product) dari kombinasi kebrutalan Assad dan operasi rahasia AS yang telah berlangsung lama di wilayah tersebut.

Keberadaan “Frankenstein” ini sekarang secara sinis dieksploitasi oleh kontraktor swasta yang berusaha mendapatkan keuntungan secara eksponensial dari perluasan aparat keamanan nasional, pada saat ketika kegembiraan ekonomi telah menekan pemerintah untuk memangkas belanja pertahanan.

Menurut Securities and Exchange Commission, dari 2008 hingga 2013, lima kontraktor pertahanan terbesar AS kehilangan 14 persen dari karyawan mereka, karena meredanya perang AS di Irak dan Afghanistan, yang menyebabkan kurangnya bisnis dan pendapatan yang terhambat.

Berlanjutnya ‘Perang Panjang’ yang dipicu oleh ISIS, untuk saat ini, telah membalikkan nasib mereka. Perusahaan yang mendapat keuntungan dari perang baru termasuk banyak yang terhubung dengan the Highlands Forum, seperti Leidos, Lockheed Martin, Northrup Grumman, dan Boeing. Memang, perang adalah, usaha penipuan atau racket.

Tidak ada bayangan lagi (No more shadows)

Namun dalam jangka panjang, para imperialis informasi telah gagal. Investigasi ini didasarkan sepenuhnya pada teknik open source, yang sebagian besar dibuat untuk dapat bertahan dalam konteks revolusi informasi yang sama, yang diaktifkan oleh Google.

Investigasi telah didanai sepenuhnya oleh anggota masyarakat, melalui pendanaan bersama-sama. Dan investigasi telah diterbitkan dan didistribusikan di luar sirkuit media tradisional, tepatnya untuk membuat poin, bahwa di era digital yang baru ini, konsentrasi kekuasaan dari atas ke bawah yang terpusat, tidak dapat mengalahkan kekuatan masyarakat, kecintaan mereka pada kebenaran dan keadilan, dan keinginan untuk berbagi.

Apa pelajaran dari semua ironi ini? Sungguh sederhana: Revolusi informasi secara melekat atau inharen, jangan desentralisasi atau tersentral atau terdesentralisasi. Karena hal itu tidak dapat dikontrol dan dikooptasi oleh Big Brother. Upaya mereka untuk melakukannya, pada akhirnya akan selalu gagal, dan dengan cara yang pada akhirnya justru mengalahkan diri mereka sendiri.

Inisiatif gegabah dan gila oleh Pentagon yang terbaru adalah untuk mendominasi dunia melalui kontrol informasi (control of information) dan teknologi informasi (information technologies), bukanlah tanda sifat yang kuat dari jaringan bayangan (shadow network), tetapi justru merupakan “gejala keputusasaan terdelusi mereka”, karena upaya itu untuk menangkal percepatan penurunan inti utama (hegemonic decline) mereka sendiri.

Tapi penurunannya sedang dalam proses dan sedang berjalan. Dan kisah yang banyak infonya ini, seperti sebelumnya pada PART-1, adalah salah satu nukti dari fakta dan tanda-tanda kecil bahwa peluang ini adalah untuk memobilisasi revolusi informasi untuk kepentingan semua orang, terlepas dari upaya kekuatan untuk bersembunyi dalam bayang-bayang, akan lebih kuat dari sebelumnya.

(©IndoCropCircles.com, from: Why Google made the NSA Inside the secret network behind mass surveillance, endless war, and Skynet— (PART-2) – by Nafeez Ahmed)

(BACA PART-1: Bagaimana Badan Intelijen CIA Membuat Google?)


Author: Nafeez Ahmed, Investigative journalist, recovering academic, tracking the Crisis of Civilization patreon.com/nafeez. Dr Nafeez Ahmed is an investigative journalist, bestselling author and international security scholar.

Dr Nafeez Ahmed adalah jurnalis investigasi, pengarang buku terlaris dan pakar keamanan internasional. Sebagai mantan penulis Guardian, ia menulis kolom ‘Pergeseran Sistem’ untuk Motherboard VICE, dan juga seorang kolumnis untuk Middle East Eye. Dia adalah pemenang penghargaan tahun 2015 dalam “Project Censored Award ” untuk Outstanding Investigative Journalism dari karyanya di Guardian.

Nafeez juga menulis untuk The Independent, Sydney Morning Herald, The Age, The Scotsman, Foreign Policy, The Atlantic, Quartz, Prospect, New Statesman, Le Monde diplomatique, New Internationalist, Counterpunch, Truthout, , antara lain. Dia adalah penulis Panduan Pengguna A untuk Crisis of Civilization: Dan Cara Menyimpannya (2010), dan novel scifi thriller ZERO POINT , di antara buku-buku lain. Karyanya tentang akar masalah dan operasi rahasia yang terkait dengan terorisme internasional secara resmi berkontribusi pada Komisi 11/9 dan Penyelidikan 7/7 Koroner.


Pustaka:


Artikel Lainnya:

Bagaimana Badan Intelijen CIA Membuat Google? (Google PART-1)

Cek Akun Facebook Anda: 87 Juta Data Pengguna Facebook Bocor!

Peneliti: Awas! Smartphone Adalah Alat Sadap Yang Tak Anda Sadari

Awas “Big Brother” Israel Sadap Telepon Anda!

Big Brother’s Watching You: Pengguna Internet Diawasi Intelijen

Big Brother Indonesia? Provider Mulai Intai Pelanggan!

Wow!! Jutaan Data Pelanggan Telkomsel & Indosat Disadap NSA

Wow! NSA Dapat Sadap Seluruh Ponsel Dunia

Gila! Intelijen AS dan Israel Bisa Sadap Komputer Tanpa Koneksi Internet!

WikiLeaks: CIA Bisa Ubah TV Jadi Alat Dengar Hingga Kendalikan Mobil Dari Jauh

Tahukah Anda? Hardisk Komputer Anda Sudah Ditanam Spyware Oleh NSA!

Lebih Dekat, ‘Cyber Forces’ Korea Utara Bisa Tembus 90% Pertahanan Internet Sejagad!

Edward Snowden : NSA, Project PRISM dan Illuminati Awasi Internet (Snowden Part-1)

Punya Akun Facebook Sama Saja Bekerja untuk CIA Tanpa Dibayar

Vatikan dan Paus Fransiskus Ikut Dimata-matai NSA, Untuk Apa?

Para Ahli Keamanan Ungkap Beberapa “Spy Cyber” Tingkat Tinggi!

Gila, e-KTP Sudah Tak Aman! Seluruh Data Penduduk Indonesia “Diberikan” ke Pihak Asing

Waspada! Begini Cara Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan AS Menyadap Indonesia!

[Sejarah Peretasan Terburuk] Gary McKinnon Peretas NASA Dan Militer Temukan Teknologi Alien

[Project IDEALIST] Tak Terdeteksi: Pesawat Intai AS Ini Sering Terbang Diatas Indonesia

Inilah Mereka, Hacker-Hacker Yang Paling Ditakuti Amerika!

Ini Dia, 20 Virus Komputer Paling Berbahaya Dalam Sejarah Internet!


https://wp.me/p1jIGd-93r

((( IndoCropCircles.com | fb.com/IndoCropCirclesOfficial )))

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Konspirasi Teori, Sadap (Spying & Tapping) dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengapa Google Membuat Badan Agen NSA? (Google PART-2)

  1. Dwi Okta Nugroho berkata:

    Kemudahan dan perkembangan teknologi informasi memang menyimpan berbagai dinamika termasuk kepentingan politik dan intelejen. Yin Dan Yang.. tetap waspada

  2. dinomichael70 berkata:

    Yang tidak (mau) diperhatikan indocropcircles : para hacker Rusia merusakkan 500 router dgn malware : http://www.newsweek.com/russian-hackers-infected-500000-devices-and-plan-more-cyber-attacks-941480
    Indocrop senangnya hanya menyudutkan pihak barat,sedangkan Rusia yg jelas2 melakukan serangan siber mulai dr Crimea,Ukraina,hingga Amerika (pilpres Donald Trump) tidak dipedulikan indocrop sama sekali,Enggak fair !! Yah begitulah umumnya orng Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.